MENGINTERNASIONALKAN

06.26


Pada tanggal 28-31 Oktober 2013 yang lalu, saya berkesempatan menjadi salah satu peserta Kongres Bahasa Indonesia X yang ditaja Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di Hotel Grand Said Jaya, Jakarta. Kongres yang terdiri atas Sembilan siding pleno panel, dan 104 makalah siding kelompok panel dengan delapan subtema itu menghasilkan 33 butir Rekomendasi Kongres Bahasa Indonesia X bagi pemerintah.

Oleh: Niduparas Erlang

               Tema besar “Penguatan Bahasa Indonesia di Dunia Internasional” dalam kongres itu sendiri dijabarkan ke dalam delapan subtema yang masing-masing dibahas dalam siding keompok panel. Kedelapan subtema itu adalah (1) Bahasa Indonesia sebagai penghela ilmu pengetahuan dan wahana iptek; (2) Bahasa Indonesia sebagai jati diri dan media pendidikan karakter bagsa dalam memperkukuh NKRI; (3) Diploma kebahasan sebagai upaya penguatan jati diri dan pemartabatan bangsa; (4) Industri kreatif berbasis Bahasa dan sastra dalam meningkatkan daya saing bangsa; (5) Bahasa daerah dan Bahasa asing sebagai pendukung Bahasa Indonesia; (6) Membawa sastra Indonesia sebagai warga sastra dunia; (7) Optimalisasi peran edia massa dalam pemartabatan Bahasa dan sastra Indonesia; dan (8) Perkembangan Bahasa dan studi Indonesia di luar negeri.
               Namun, tema besar yang diusung dalam kongres itu saya piker begitu ambisius. Betapa tidak, sebab Bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari yang kita hadapi, artinya penggunaan Bahasa Indonesia di dalam negeri ini sendiri, masih menampakkan gejala kesimpangsiuran atau kekarutmarutan dalam penggunaannya. Apalagi, masyarakat kita yang semestinya menghidupi Bahasa Indonesia, tampaknya tidak begitu bangga menggunakan Bahasa Indonesia karena sebagian cenderung berbangga diri ketika bertutur dalam Bahasa asing. Hal demikian dapat kita temui dengan mudah.
               Dan coba kita merenung sejenak tentang butir-butir Pancasila, misalnya, dan mengujinya dengan menggunakan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Butir pertama, Ketuhanan yag Maha Esa. Coba perhatikan baik-baik: dalam KBBI edisi empat, Ketuhanan adalah sifat keadaan Tuhan; atau segala sesuatu yang berhubungan dengan Tuhan. Jadi, jika kita menggunakan pengertian harfiah menurut KBBI ini, yang Maha Esa itu ternyata bukan “Tuhan” melainkan sifat kedaan Tuhan atau segala sesuatu yang berhubungan dengan Tuhan, yaitu “Ketuhanan”. Padahal kita tahu belaka bahwa sifat apalagi segala sesuatu yang berhubungan dengan Tuhan itu tidak mungkin tunggal, tidak mungkin esa. Begitupun pada butir ke-4, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan / Perwakilan. Kata “kerakyatan” dalam KBBI adalah segala sesuatu yang mengenai rakyat; demokrasi; atau kewarganegaraan. Kalau kita menggunakan pengertian ini, maka yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan…. bukanlah rakyat sebab rakyat adalah segenap penduduk suatu negara (sebagai imbangan pemerintah); orang kebanyakan; orang biasa; atau pasukan (bala tentara). Tampaknya para penggagas Pancasila, para bapak bangsa kita, begitu terpesona dengan imbuhan ke-an sehingga yang seharusnya adalah kata “Tuhan” dan “Rakyat” malah menjadi “Ketuhanan” dan “Kerakyatan”? Atau barangkali , para sarjana kitalah yang telah “mengacaukan” pengertiannya sehingga KBBI memberikan penjelasan seperti itu? Saya kurang tahu pasti. Maka, saya piker, kita tidak dapat menerapkan penggunaan KBBI dalam menguji kebahasaan butir-butir Pancasila, sebab jika itu terpaksa dilakukan pastilah kita dihadang masalah yang tak tertangguhkan, atau mendapat cercaan dari berbagai kalangan penyokong NKRI – padahal kita sendiri adalah bagian di dalamnya.
               Ah, tema besar untuk menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa dalam pergaulan internasional ini sebenarnya berangkat dari klaim bahwa Bahasa Indonesia memiliki penutur terbesar keempat di dunia, di pelajari di 45 negara dengan 174 lembaga penyelenggara Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) di benua Asia, Australia, Eropa, Amerika, dan Afrika, dan merupakan bahasa asing kedua setelah Bahasa Inggris, serta menjadi bahasa populer keempat di Australia, juga dalam kurikulum 2013 yang belakangan mulai diberlakukan di beberapa sekolah telah mendudukan bahasa Indonesia sebagai penghela ilmu pengetahuan.
               Pertanyaannya, apakah dengan memiliki jumlah penutur yang cukup banyak itu Bahasa Indonesia akan mampu menjadi bahasa yang menginternasional? Saya pikir, belum tentu bisa seperti itu. Sebab perihal bahasa tidak serta merta ditentukan oleh banyaknya (secara kuantitas) jumlah penutur Bahasa tersebut, namun juga oleh banyak hal yang bertalian dengannya. Faktor eksternal malah lebih sering menentukan. Sekalipun Bahasa Indonesia telah dipelajari lebih dari 45 negara, kiranya tidak sedikit warga Negara di sebuah Negara yang mempelajari Bahasa asing itu justru dengan motif di luar Bahasa itu sendiri, tapi terkait-hubung dengan faktor ekonomi, social, politik, dan sebagainya. Sebagai contoh misalnya, sebuah lowongan menjadi dosen Bahasa Indonesia di sebuah sekolah untuk para taruna angkatan bersenjata, tepatnya di Universitas New South Wales di Akademi Pertahanan Australia, di Canberra, bukan semata untuk mempelajari bahasa  dan sastra Indonesia. Melainkan, menurut Nabbs-Keller, salah seorang ahli masalah Indonesia, keahlian warga Australia mengenai Indonesia sangat penting berkenaan dengan tindak terorisme dan bencana alam.
               “Ketika terjadi bom Bali 2002, dan juga berbagai penggerebekan terhadap anggota masyarakat Indonesia di Perth, Sydney, dan Merlbourne, Dinas Keamanan Australia harus mengandalkan pihak luar untuk menganalisa data intelejen yang disita. Tidak ada satupun dinas di bagian dinas keamanan Australia yang memiliki ahli Indonesia untuk membantu,” kata Nabbs-Keller.
               Nah, di Australia, ternyata motif mempelajari Bahasa Indonesia bukan lantaran kebudayaan, sastra, ekonomi, dan lain-lain yang membanggakan Indonesia sebagai sebuah negara kesatuan. Tapi lebih kepada kekacauan; terorisme.
               Pada negara-negara lain, saya kira, kasusnya tak akan jauh berbeda. Tapi, sekalipun begitu, masih bolehlah kita berharap, kelak, di masa yang mungkin datang, Bahasa Indonesia benar-benar menginternasional setelah seluruh warga Indonesia memiliki “kebanggaan” ketika bertutur atau menulis atau mencipta dengan menggunakan Bahasa Indonesia. Semoga.  ***

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »