KFF: Membingkai Lingkungan

15.10

Iye Rambu Anarki

Serang-Banten Muda, Komunitas Fotografi FISIF (KFF) bekarja sama dengan Laboratorium Multimedia dan Fotografi FISIF Untirta, Serang, menggelar pameran fotografi pada 24—27 Februari 2014. Pameran yang merupakan agenda tahunan KFF yang rutin diadakan semenjak 2012 lalu, kali ini mengambil tema “lingkungan” sebagai respons para anggota KFF terhadap isu lingkungan di Banten. Ada 22 karya fotografi dari 13 fotografer dan 1 karya fotografi dari Komunitas Sparkling yang ditampilkan pada pameran yang digelar di depan gedung FISIF Untirta, Serang, ini. 

“Kali ini KFF mengangkat tema lingkungan, karena kami merasa semakin hari lingkungan di Banten semakin semrawut. Sampah, limbah, jalanan berlubang dan macet, dan lain-lain. Kami ingin memberikan penyadaran kepada masyarakat melalui fotografi, dan ini dimulai dari masyarakat di dalam kampus ini sendiri,” tutur Iye Rambu Anarki selaku sekretaris KFF yang sekaligus juga panitia penyelenggara pameran. 




Menurut Iye, KFF sendiri terbentuk sejak 2011 lalu. Pembentukan komunitas yang disokong oleh mayoritas mahasiswa FISIF Untirta ini berawal dari mata kuliah fotografi pada semester lima. “Hanya saja, perkuliahan kan hanya memberikan pengetahuan mendasar tentang fotografi. Setelah itu tidak ada kelanjutannya lagi. Sementara, tidak sedikit dari para mahasiswa itu yang kemudian mencintai fotografi dan memiliki kemauan untuk menggali potensi dan mengekplorasi dunia fotografi. Nah, dari sanalah akhirnya KFF dibentuk untuk mengakomodasi mereka dan berbagi pengetahuan di bidang fotografi,” papar Iye. 

Karena itu, menurut Iye, aktivitas KFF yang dicanangkan menjadi salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) ini lebih banyak diisi dengan diskusi-diskusi tentang fotografi, workshop, hunting foto bersama, penerbitan majalah fotografi dalam bentuk digital, dan pameran. “Untuk menjadi UKM sebetulnya KFF sudah mendapat dukungan penuh dari Dekan, Pembantu Dekan I, Kepala Lab., hingga Kepala Jurusan Komunikasi,” imbuhnya. 

Mereka yang mengabadikan momen dan membingkai lingkungan pada pameran kali ini adalah Sebastian Adven, Ayip Iqbal Waladi, Tb. A. Maulana, M. Ilham Rinaldi, M. Hashemi, Fhasa Bahari, Anton, Gilang, Hegar, Jevry, M. Setia, Putut Wiroreksono, Ryan Hardeanto. [*] [Niduparas Erlang]

FOSIL HADIRI SOSIALISASI PEMILU 9 APRIL 2014

11.03


Fierly Murdlyat Mabrurri, SIP
SERANG, BANTEN MUDA – Dalam rangka memberdayakan kesadaran masyarakat khususnya para pemilih pemula untuk menggunakan hak pilihnya secara cerdas pada Pemilu tanggal 9 April 2014 mendatang, Banten Muda Community menyelenggarakan sosialisasi dan pendidikan pemilih pada hari Minggu (23/02) di bilangan Ciceri – Bunderan, Serang.  Acara yang diikuti oleh perwakilan pengurus OSIS dari berbagai sekolah yang tergabung dalam Forum Silaturrahim OSIS Kota Serang (FOSIL) itu menghadirkan narasumber Fierly Murdlyat Mabrurri, SIP dari KPU Kota Serang.

Pada kesempatan tersebut, Fierly memaparkan kepada peserta sosialisasi bagaimana menjadi pemilih yang cerdas dan cermat. Mengenali jejak rekam politik dari calon legislatif yang akan manggung pada 9 April 2014 nanti wajib dilakukan oleh para pemilih. “Yang juga patut menjadi perhatian khusus adalah bagaimana kita saling mengingatkan untuk mencegah terjadinya politik uang,” jelasnya.


Dikatakan oleh Fierly, KPU tidak henti-hentinya mengingatkan soal pentingnya integritas kepada para penyelenggara pemilu seperti para Komisioner KPU, teman-teman KPK di Kecamatan, teman-teman PPS di Desa / Kelurahan, dan teman-teman di KPPS (Kelompok Penyelenggara Pemungut Suara)  yang nantinya akan bekerja di TPS-TPS khususnya di Kota Serang, “Kita bekali mereka agar menjaga sikap supaya tidak ‘berselingkuh’. Untuk itu dibutuhkan peran masyarakat untuk mengawasi dan menghindari politik uang dengan cara menjadi pemilih yang cerdas,” tegasnya.

Sosialisasi ini menjadi menarik ketika FOSIL juga memiliki cita-cita untuk  menciptakan generasi pemimpin yang bertanggung jawab. Hal ini terungkap ketika Hasbiyansah, Ketua Forum Osis Banten (FOB) yang juga turut hadir dalam acara itu mengutarakan bahwa FOSIL saat ini sedang mempersiapkan kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK).  Menurutnya dengan adanya LDK diharapkan lahir generasi muda yang disiplin, bertanggung jawab, dan berjiwa kepemimpinan.

Hasbiyansah mengkritisi para pemimpin saat ini yang menyalahgunakan jabatanya sehingga dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Hal ini diamini oleh Fierly dan berharap masyarakat berpartisipasi dalam memilih pemimpin yang baik. Dalam demokrasi itu sebenarnya vonisnya jelas, pemimpin yang terpilih sebelumnya dan tidak mampu membuktikan diri sebagai pemimpin yang baik, maka pada pemilu berikutnya tidak perlu dipilih kembali.


Ditambahkan oleh Fierly, dibandingkan pemilih dari kalangan perempuan, keagamaan dan penyandang disabilitas, yang dianggap paling berpotensi Golput adalah pemilih pemula dan kelompok marjinal yang kecewa terhadap kinerja pemerintah selama ini. KPU memiliki peran sangat penting untuk merangkul dan meyakinkan mereka. “Melalui Banten Muda, saya mewakili lembaga KPU Kota Serang menghimbau kepada anak-anak muda khususnya pemilih pemula di Kota Serang, mari kita berperan aktif dengan kesadaran penuh untuk menggunakan hak pilihnya secara cerdas pada hari Rabu, tanggal 9 April 2014. Cermati dan tentukan pilihan yang tepat dan laporkan segera ke KPU apabila melihat kejadian praktek politik  uang. Rakyat Cerdas Pemilu Sukses. (DERA)

Berjalan Menelusuri Kota Tua Jakarta

08.56

Jakarta- Banten Muda Suguhan mata akan terlihat ketika memasuki wilayah kota Tua Jakarta, pemandangan megah nan eksotis akan memanjangan mata dengan bangunan-bangunan tua yang kokoh peninggalan belanda yang di bangun sekitar abad ke-19 dan 20.

Berwisata sejarah di Oud Batavia atau yang bisa kita kenal kota tua yang merupakan saksi dari sejarah kota jakarta.  Sejarah kota tua dimulai dari sebuah pelabuan yang  kita kenal sebagai sunda kelapa, di masa lalu menjadi kota rebutan yang merupakan simbol kejayaan bagi siapa saja yang mampuh menguasainya. Tak heran jika mulai dari kerajaan Tarumanegara, Kerajaan Sunda – Pajajaran, Kesultanan Banten – jayakarta, Werenigde Oost-indische Compagnie (VOC), Pemerintahan Jepang, hingga kini Republik Indonesia melalui Pemerintahan DKI Jakarta, terus berupaya mempertahankanya menjadi kota nomor satu di negara ini.

Sebagai kawasan wisata , kota Tua Jakarta terbagi menjadi beberapa area. Area 1 merupakan area sunda kelapa yang terdiri dari pelapuan sunda kelapa, Museum Bahari, Menara Syahbandar, dan Gedung VOC. Area 2 merupakan Area Fatahillah yang di sekitarnya terdapat Museum Bank Mandiri, Museum Bank indonesia, Museum Wayang, Museum Fatahilah, Stasiun jakarta Kota dan masih banyak temp[at sejarah yang bisa kita telusuri sejarahnya di Kota Tua Jakarta ini.


Pusat keramaia Kota Tua Jakarta terletak di depan Museum Fatahilah. Tepat di halaman museum tersebut sudah terpancar aura keramaian. Mulai dari sepedah warna-warni yang berjejeran untuk disewakan, pengunjung yang berlalu-lalang baik dengan berjalan kaki maupun bersepedah, hingga pedagang kaki lima yang menjual souvenir, makanan dan minuman. Selain itu terdapat pula seniman-seniman jalanan yang menghibur bagi para pengunjung. Halaman yng cukup luas serta banyaknya museum yang bisa di kunjungi dari satu tempat ke tempat yang lain akan meberikan kita bnayak pengetahuan dan menabah wawasan.

Kalian ingin berwisata ke Kota Tua? Dan berkeliling  untuk menambah wawasan dan pengetahuan sejarah? Kota Tua Jakarta ini terletak di Kelurahan Pinangsia Kecamatan Tamansari Kotamadya Jakarta Barat. Tidak perlu khawatir kita bisa menikmati bangunan sejarah dan jejak sejarah tanpa harus merngeluarkan banyak biaya, pokoknya pas deh buat kantong pelajar dan mahasiswa . (Dera)

CEPP FISIP Unsera: Pemilih Pemula Pemilih Cerdas

15.21


Pesta demokrasi akan segera digelar. Para pemilih pemula yang—di Provinsi Banten saja—jumlahnya mencapai 30 persen dari total Daftar Pemilih Tetap (DPT) adalah potensi suara yang luar biasa. Namun, tak semua pemilih pemula yang merupakan para pelajar SMA dan mahasiswa itu mengerti dan peduli dengan pemilihan umum. Maka untuk pembelajaran bagi para pemilih pemula, CEPP FISIP Unsera bekerja sama dengan Ditjen Kesbangpol Kemendagri menggelar kegiatan Rock the Vote Indonesia dengan tema “Memilih Tak Gentar Membela yang Benar”, di Auditorium Kampus Unsera, Rabu (19/2/2014). Rock the Vote Indonesia adalah ajang belajar untuk mempersiapkan para pemilih pemula agar terlibat aktif dalam pesta demokrasi 9 April 2014 mendatang.

MENGINTERNASIONALKAN

06.26


Pada tanggal 28-31 Oktober 2013 yang lalu, saya berkesempatan menjadi salah satu peserta Kongres Bahasa Indonesia X yang ditaja Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di Hotel Grand Said Jaya, Jakarta. Kongres yang terdiri atas Sembilan siding pleno panel, dan 104 makalah siding kelompok panel dengan delapan subtema itu menghasilkan 33 butir Rekomendasi Kongres Bahasa Indonesia X bagi pemerintah.

Oleh: Niduparas Erlang

               Tema besar “Penguatan Bahasa Indonesia di Dunia Internasional” dalam kongres itu sendiri dijabarkan ke dalam delapan subtema yang masing-masing dibahas dalam siding keompok panel. Kedelapan subtema itu adalah (1) Bahasa Indonesia sebagai penghela ilmu pengetahuan dan wahana iptek; (2) Bahasa Indonesia sebagai jati diri dan media pendidikan karakter bagsa dalam memperkukuh NKRI; (3) Diploma kebahasan sebagai upaya penguatan jati diri dan pemartabatan bangsa; (4) Industri kreatif berbasis Bahasa dan sastra dalam meningkatkan daya saing bangsa; (5) Bahasa daerah dan Bahasa asing sebagai pendukung Bahasa Indonesia; (6) Membawa sastra Indonesia sebagai warga sastra dunia; (7) Optimalisasi peran edia massa dalam pemartabatan Bahasa dan sastra Indonesia; dan (8) Perkembangan Bahasa dan studi Indonesia di luar negeri.
               Namun, tema besar yang diusung dalam kongres itu saya piker begitu ambisius. Betapa tidak, sebab Bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari yang kita hadapi, artinya penggunaan Bahasa Indonesia di dalam negeri ini sendiri, masih menampakkan gejala kesimpangsiuran atau kekarutmarutan dalam penggunaannya. Apalagi, masyarakat kita yang semestinya menghidupi Bahasa Indonesia, tampaknya tidak begitu bangga menggunakan Bahasa Indonesia karena sebagian cenderung berbangga diri ketika bertutur dalam Bahasa asing. Hal demikian dapat kita temui dengan mudah.
               Dan coba kita merenung sejenak tentang butir-butir Pancasila, misalnya, dan mengujinya dengan menggunakan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Butir pertama, Ketuhanan yag Maha Esa. Coba perhatikan baik-baik: dalam KBBI edisi empat, Ketuhanan adalah sifat keadaan Tuhan; atau segala sesuatu yang berhubungan dengan Tuhan. Jadi, jika kita menggunakan pengertian harfiah menurut KBBI ini, yang Maha Esa itu ternyata bukan “Tuhan” melainkan sifat kedaan Tuhan atau segala sesuatu yang berhubungan dengan Tuhan, yaitu “Ketuhanan”. Padahal kita tahu belaka bahwa sifat apalagi segala sesuatu yang berhubungan dengan Tuhan itu tidak mungkin tunggal, tidak mungkin esa. Begitupun pada butir ke-4, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan / Perwakilan. Kata “kerakyatan” dalam KBBI adalah segala sesuatu yang mengenai rakyat; demokrasi; atau kewarganegaraan. Kalau kita menggunakan pengertian ini, maka yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan…. bukanlah rakyat sebab rakyat adalah segenap penduduk suatu negara (sebagai imbangan pemerintah); orang kebanyakan; orang biasa; atau pasukan (bala tentara). Tampaknya para penggagas Pancasila, para bapak bangsa kita, begitu terpesona dengan imbuhan ke-an sehingga yang seharusnya adalah kata “Tuhan” dan “Rakyat” malah menjadi “Ketuhanan” dan “Kerakyatan”? Atau barangkali , para sarjana kitalah yang telah “mengacaukan” pengertiannya sehingga KBBI memberikan penjelasan seperti itu? Saya kurang tahu pasti. Maka, saya piker, kita tidak dapat menerapkan penggunaan KBBI dalam menguji kebahasaan butir-butir Pancasila, sebab jika itu terpaksa dilakukan pastilah kita dihadang masalah yang tak tertangguhkan, atau mendapat cercaan dari berbagai kalangan penyokong NKRI – padahal kita sendiri adalah bagian di dalamnya.
               Ah, tema besar untuk menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa dalam pergaulan internasional ini sebenarnya berangkat dari klaim bahwa Bahasa Indonesia memiliki penutur terbesar keempat di dunia, di pelajari di 45 negara dengan 174 lembaga penyelenggara Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) di benua Asia, Australia, Eropa, Amerika, dan Afrika, dan merupakan bahasa asing kedua setelah Bahasa Inggris, serta menjadi bahasa populer keempat di Australia, juga dalam kurikulum 2013 yang belakangan mulai diberlakukan di beberapa sekolah telah mendudukan bahasa Indonesia sebagai penghela ilmu pengetahuan.
               Pertanyaannya, apakah dengan memiliki jumlah penutur yang cukup banyak itu Bahasa Indonesia akan mampu menjadi bahasa yang menginternasional? Saya pikir, belum tentu bisa seperti itu. Sebab perihal bahasa tidak serta merta ditentukan oleh banyaknya (secara kuantitas) jumlah penutur Bahasa tersebut, namun juga oleh banyak hal yang bertalian dengannya. Faktor eksternal malah lebih sering menentukan. Sekalipun Bahasa Indonesia telah dipelajari lebih dari 45 negara, kiranya tidak sedikit warga Negara di sebuah Negara yang mempelajari Bahasa asing itu justru dengan motif di luar Bahasa itu sendiri, tapi terkait-hubung dengan faktor ekonomi, social, politik, dan sebagainya. Sebagai contoh misalnya, sebuah lowongan menjadi dosen Bahasa Indonesia di sebuah sekolah untuk para taruna angkatan bersenjata, tepatnya di Universitas New South Wales di Akademi Pertahanan Australia, di Canberra, bukan semata untuk mempelajari bahasa  dan sastra Indonesia. Melainkan, menurut Nabbs-Keller, salah seorang ahli masalah Indonesia, keahlian warga Australia mengenai Indonesia sangat penting berkenaan dengan tindak terorisme dan bencana alam.
               “Ketika terjadi bom Bali 2002, dan juga berbagai penggerebekan terhadap anggota masyarakat Indonesia di Perth, Sydney, dan Merlbourne, Dinas Keamanan Australia harus mengandalkan pihak luar untuk menganalisa data intelejen yang disita. Tidak ada satupun dinas di bagian dinas keamanan Australia yang memiliki ahli Indonesia untuk membantu,” kata Nabbs-Keller.
               Nah, di Australia, ternyata motif mempelajari Bahasa Indonesia bukan lantaran kebudayaan, sastra, ekonomi, dan lain-lain yang membanggakan Indonesia sebagai sebuah negara kesatuan. Tapi lebih kepada kekacauan; terorisme.
               Pada negara-negara lain, saya kira, kasusnya tak akan jauh berbeda. Tapi, sekalipun begitu, masih bolehlah kita berharap, kelak, di masa yang mungkin datang, Bahasa Indonesia benar-benar menginternasional setelah seluruh warga Indonesia memiliki “kebanggaan” ketika bertutur atau menulis atau mencipta dengan menggunakan Bahasa Indonesia. Semoga.  ***

STIE BINA BANGSA GELAR WISUDA KE IV

17.27

Pada hari sabtu tanggal 28 Desember 2013, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Bina Bangsa melaksanakan acara Wisuda Sarjana ke IV dan Dies Natalis ke-7, yang diselenggarakan di Hotel the Royale Krakatau Hotel Conversation Cilegon. 

Pada Sambutannya Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Bina Bangsa, Bpk, Dr. H. Furtasan Ali Yusuf, SE, S.Kom ,MM, menyampaikan bahwa untuk tahun 2013 ini, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi mendapatkan kepercayaan Masyarakat, bahwa pendaftar yang ada saat ini mencapai 2000 mahasiswa, dan ini menandakan bahwa masyarakat begitu antusias untuk menimba ilmunya di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Bina Bangsa, kemudian di tahun 2013 ini pula mahasiswa STIE Bina Bangsa mewisuda sebanyak 369 mahasiswa yang teridiri dari 251 Program Studi Manajemen, dan 118 Program Studi Akuntansi.


Dalam kesempatan itu, Ketua STIE Bina Bangsa memberikan pesan kepada wisudawan bahwa jangan terpaku untuk mengejar PNS ataupun mencari lapangan pekerjaan, namun Seorang Wisuda harus mampu menciptakan lapangan pekerjaan, pada kesempatan pelaksanaan wisuda itu pula STIE Bina Bangsa mengadakan kerjasama antara STIE Bina Bangsa dengan Penerbit Andi Ofset, IAI (Ikatan Akuntansi Indonesia) dan MES (Masyarkat Ekonomi Syariah), dan rencana untuk pengembangan dari Sekolah Tinggi Menjadi Universitas ini adalah memberikan banyak pilihan program studi yaitu Fakultas Ekonomi, Fakultas Hukum, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Fakultas Teknik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Fakultas Kesehatan dan Fakultas Ilmu Komputer.