Falansa 2013 SMA Perguruan Buddhi : Bersama Memaknai Kata

02.46

Kota Tangerang, Banten Muda – Bahasa menjadi salah satu bagian penting dalam kehidupan keseharian, karena setiap orang akan menggunakan bahasa dalam proses komunikasi. Namun terkadang, tak sedikit orang yang sekedar berkata-kata tanpa benar-benar memahami makna kata dalam bahasa yang diucapkannya. Itulah yang mendasari alasan SMA Perguruan Buddhi, pada 28 Oktober lalu mengadakan Festival Bulan Bahasa atau Falansa 2013. Selain untuk memperingati hari Sumpah Pemuda dan merayakan bulan bahasa, Falansa SMA Perguruan Buddhi juga ingin mengajak kawan remaja khususnya pelajar untuk lebih peka terhadap setiap kata yang dituturkan. Sebab, kata tak akan lepas dari makna. Maka itu, tagline acara Falansa yang baru memasuki tahun pertama itu adalah ‘Bersama Memaknai Kata’.
            “Butir ketiga isi sumpah pemuda adalah; kita berbahasa satu, bahasa Indonesia. Jadi, ini adalah momen yang pas untuk merayakan bulan bahasa dan mendalami butir ketiga tersebut. Sesungguhnya Falansa dibuat bukan sebagai perayaan, lalu selesai begitu saja. Tapi Falansa ingin hadir sebagai pendalaman dan perkenalan bahwa bahasa Indonesia bukan untuk dianggap remeh. Melainkan untuk dibanggakan, jika bukan kita yang membanggakannya, siapa lagi?” tukas Ibu Dian Nofita Sari, S.Pd, salah satu guru pembimbing dalam kepanitiaan acara Falansa.
         
   Falansa sendiri menawarkan sejumlah lomba yang mewadahi kreativitas pelajar SMA dalam bidang bahasa dan sastra, seperti lomba pidato tiga bahasa (Indonesia-Inggris-Mandarin), scrabble (mengutak-atik kata), menulis cerpen, membuat majalah dinding hingga musikalisasi puisi. Seluruh perlombaan dilaksanakan secara serentak setelah pengguntingan pita oleh kepala sekolah SMA Buddhi, Drs. Setia Budi.
            “Tiap lomba diharapkan mampu menyampaikan pesan pada teman-teman jika berbahasa dan mendalami sastra itu bisa menarik, tidak melulu memusingkan. Contohnya saja musikalisasi puisi, puisi-puisi sastra yang biasanya membuat mereka mengerutkan dahi, kali ini dibalut dengan musik menjadi lantunan lagu yang indah, menyenangkan dan mudah diserap,” tutur ketua pelaksana Falansa, Gabriella Moureen Naomi, ketika ditemui di akhir acara.
            Tak hanya lomba, Falansa juga diwarnai dengan sesi talkshow bersama Ibu Ade Fitri, salah satu guru bahasa-sastra Indonesia yang berbagi pengalamannya selama mengikuti program SM-3T di Kupang. Beliau juga banyak bercerita mengenai perkembangan bahasa di sekolah-sekolah di Kupang, NTT.
            Acara akhirnya selesai tepat pukul setengah dua siang. Ditutup dengan serangkaian penampilan band yang memeriahkan puncak festival.

            “Lima kata buat Falansa; seru, mendidik, keren, berbobot, menarik! Paling suka lomba pidato tiga bahasa, selain mendalami kekayaan bahasa, kita juga diminta berlatih berkomunikasi di depan umum. Falansa itu ajang belajar bahasa-sastra dengan aysik,” komentar Mila Mareta, salah satu pengunjung Falansa itu dengan semangat. (ver/ft.ver)




Share this

Related Posts

Previous
Next Post »