Journalism Through Cinematography and Photography

17.19


Kota Tangerang, Banten Muda – SMAN 2 Kota Tangerang pada Jumat, 18 Oktober 2013 lalu menyelenggarakan pelatihan jurnalistik yang terbuka bagi umum sebagai rangkaian kegiatan dari acara tahunan sekolah, D’sparted. Pelatihan jurnalistik yang bertajuk ‘Journalism through Cinematography and Photography’ itu menghadirkan dua pembicara, yakni Bapak Zidny Ilman Nafian dan Bapak Widhias. Dasar-dasar jurnalistik yang diperbincangkan siang itu adalah jurnalistik pada sinematografi atau film pendek, serta jurnalistik foto.
            Materi pertama dengan tema sinematografi/film pendek dibawakan oleh Bapak Zidny Ilman Nafian dengan slide-slide presentasi. Beliau banyak memberikan pengarahan mengenai tips-tips membuat film pendek yang memiliki nilai jurnalistik.
            “Langkah pertama untuk bikin film pendek dimulai dari menentukan cerita atau kisah. Lalu mulai dipikirkan mengenai cara penyajiannya, serta mempertimbangkan penting dan tidaknya sebuah kisah diangkat jadi film. Mulai dari hunting lokasi, casting, rehearsal hingga shooting, harus diperhatikan dengan baik. Satu lagi, dalam prosesnya kita juga harus jujur pada diri sendiri,” papar Bapak Zidny dengan bersemangat. Para peserta yang kebanyakan berseragam putih abu-abu dari sekolah-sekolah di Kota Tangerang, terlihat menyimak dengan serius. Dalam pemaparannya, Bapak Zidny juga berkesempatan mengurai kronologis perkembangan film pendek di Indonesia, yang sempat mengalami diskriminasi, sebab film pendek hanya dianggap sebagai pembelajaran bagi sineas baru.
          
  Selain jurnalistik sinematografi yang menjadi materi pembuka, ada juga sesi kedua yang mendalami mengenai jurnalistik foto. Materi kedua itu diisi oleh Bapak Widhias. Pada kesempatannya, beliau menjelaskan teknik-teknik saat mengambil foto dalam peliputan berita. Beliau juga mempraktekkan cara penggunaan kamera; mulai dari pengaturan sensor, pengambilan angle, mengatur diafragma kamera hingga ketajaman lensa.
            “Hal terpenting ketika akan memotret, sesungguhnya ada dua; sharpness dan speed. Ketajaman dan kecepatan ini diperlukan untuk mendapat kualitas foto jurnalistik yang baik. Dasarnya, jangan cari angle dulu, yang penting dapat fotonya,” jelas Bapak Widhias. Banyak peserta mengaku pelatihannya berlangsung interaktif dan asyik. Hal itu dikomentari oleh Vania Wibowo, salah satu peserta pelatihan jurnalistik yang dengan seru mendengarkan sejak awal.
            “Aku paling suka materi jurnalistik foto, itu oke banget. Seru dan keren. Kalau yang materi sinematografi, rasanya terlalu banyak slide-slide presentasi, jadi sedikit mengantuk. Tapi, tetap aja bagus dan bermanfaat banget!”
            Pelatihan jurnalistiknya sediri berakhir pada pukul lima sore. Tiap peserta yang mengikuti pelatihan pun pulang dengan membawa bekal limu jurnalistik yang asyik. (ver/ft.ver)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »