BPCB Banten Gelar Lawatan Jejak Budaya

21.19


Serang, Banten Muda— Kebudayaan adalah warisan leluhur bangsa yang harus dijaga, dipertahankan, dan dilestarikan. Dalam rangka meningkatkan pelestarian dan apresiasi masyarakat terhadap peninggalan budaya masa lampau, Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Provinsi Banten gelar Lawatan Jejak Budaya, berupa kegiatan berkunjung langsung ke situs –situs peninggalan kepurbakalan, Rabu (30/10). Peserta pada kegiatan ini terdiri dari berbagai kalangan, diantaranya: guru dan siswa Sekolah Menengah Atas (SMA), serta berbagai komunitas yang ada di Provinsi Banten.

Dengan Serang sebagai sasaran utama penulusuran budaya kegiatan ini, para peserta berkesempatan untuk dapat menyaksikan langsung berbagai peninggalan sejarah, mulai dari bangunan kolonial yang ada di Serang, seperti Gedung Joeang 45, Kantor Residen Banten (sekarang kantor Guberbur Banten), dan Gedung Osvia (sekarang Markas Polres serang). Selain  itu para peserta itu dapat melihat dan merasakan secara langsung kharismatik dari Kota Kuno Banten Lama, diantaranya, Istana Sorosowan Banten, Masjid Agung Banten, Istana Kaibon, Benteng Spellwijk, Danau Tasikardi, Meriam Ki Amuk, Pelabuhan Karangantu, dan Vihara Avalokitesvara. Tidak hanya itu, naik ke atas mercusuar anyer juga merupakan kesempatan yang sangat langka dan luar biasa pada kegiatan ini. Tentu saja berbagai materi dan diskusi interaktif mengenai sejarah yang disampaikan dan dipimpin oleh Bapak Pahlawan selaku narasumber juga menjadi bagian yang sangat diminati oleh para peserta. 


Dikatakan oleh Judi Wahyudi selaku Kepala BPCB Provinsi Banten bahwa kgiatan ini bertujuan untuk meningkatkan rasa kecintaan masyarakat kepada budaya atau peninggalan-peninggalan masa lampau, “Demi terciptanya generasi yang cinta dan siap untuk menjaga dan melestarikan budaya, karena budaya bukan hanya tanggung jawab satu pihak, melainkan tanggung jawab kita.” Ujarnya.

Judi Wahyudi berharap, semoga dengan adanya kegiatan ini, masyarkat terutama para peserta tidak hanya mengetahui tentang berbagai peninggalan budaya yang ada di Provinsi Banten, tetapi, juga dapat memahami nilai-nilai penting dari peninggalan kebudayaan tersebut (AR. Syifa)


SMP BK-3 Kota Tangerang : Gebyar Sumpah Pemuda 2013

23.27


Kota Tangerang, Banten Muda – Dengan penuh semangat dan diselingi riuh tepuk tangan penonton, acara ‘Gebyar Sumpah Pemuda’ yang diadakan oleh SMP BK-3 (Badan Kerjasama Kegiatan Kristen) Kota Tangerang resmi dibuka. Acara yang bertempat di panggung utama City Mall Tangerang pada Minggu, 27 Oktober 2013 itu diawali dengan kata sambutan hangat dari kepalah sekolah, Drs. Sp. Hardana, MM. Pada kesempatan itu, beliau menuturkan harapannya agar para muda-mudi khususnya kalangan pelajar, mampu memupuk kreativitas dan menampilkannya di depan umum sebagai cermin semangat sumpah pemuda masa kini.
            “Dalam pelaksanaannya yang sudah memasuki tahun ke-empat, Gebyar Sumpah Pemuda diharapkan bisa membangun semangat kepemudaan dalam bidang kreativitas berkarya, tanpa melupakan jiwa nasionalisme. Dahulu, pemuda-pemudi melakukan sumpah pemuda untuk persatuan negeri ini, maka di masa sekarang, pemuda-pemudi bisa meneruskannya dengan berani berkreativitas untuk negeri,” tutur beliau antusias, yang disambut meriah oleh peserta lomba dan penonton yang hadir.
            Acara yang mengusung tema ‘Pemuda Harapan Bangsa’ itu, menawarkan berbagai lomba, seperti tari daerah, paduan suara, solo vocal hingga fashion show pakaian adat daerah. Kontes fashion show pakaian adat adalah salah satu ajang lomba yang paling ditunggu, karena tiap peserta lomba diharuskan mengenakan baju adat yang berbeda dari pelbagai daerah di nusantara. Untuk solo vocal dan paduan suara, panitia pun mewajikan peserta lomba menyanyikan lagu nasional ‘Doa untuk Ibu’ serta satu pilihan lagu daerah. Perlombaan yang menonjolkan keindahan budaya nusantara Indonesia juga terlihat pada kompetisi tarian adat yang menampilkan tari Saman, tari Piring hingga tari Tor-Tor.
            “Harapan kita dari setiap lomba yang ada, semoga muda-mudi terutama yang masih pelajar, bisa memaknai perbedaan sebagai suatu keindahan yang dimiliki persatuan Indonesia,” ujar Bapak Ig. Sunardi, S.Pd selaku Ketua Pelaksana acara yang ditemui di tengah acara berlangsung. Acaranya sendiri berlangsung begitu meriah dan semarak. Para peserta yang berasal dari sekolah SMP di kota Tangerang serta dari SMP BK-3, saling unjuk bakat dan memamerkan ragam kultur Indonesia.
            “Bangga banget bisa ikutan acara ini. Walau baru pertama kali, tapi ini sudah jadi pengalaman berkesan buatku, soalnya sebelumnya belum pernah pakai baju adat Betawi,” komentar Yehezkiel, salah satu siswa kelas 3 SMP BK-3 Kota Tangerang yang mengikuti kontes fashion show pakaian adat. Tak hanya Yehezkiel, salah satu siswi SMP peserta fashion show pakaian adat lainnya bernama Cahaya, mengaku begitu bersemangat mengikuti acara dan tak sabar untuk menunjukkan baju adat daerah Jawa Tengah yang dipakainya.
            Serangkaian acara dan perlombaan ‘Gebyar Sumpah Pemuda’ pun usai pada pukul lima sore, ditutup dengan penyerahaan piala penghargaan bagi para pemenang lomba. Selamat hari Sumpah Pemuda untuk kita semua, salam semangat untuk pemuda-pemudi Indonesia! (ver/ft.ver)

Mahasiswa Cibaliung di Kota Serang Deklarasikan Kumaung

22.04


Serang, Banten Muda - Untuk mengakomodir mahasiswa asal Cibaliung Pandeglang,yang sedang menuntut ilmu di Kota Serang, dibentuklah Keluarga Mahasiswa Cibaliung (Kumaung), Senin (28/10/2013) di Kampus IAIN SMH Banten,kota Serang. Diharapkan keberadaan Kumaung bisa menjawab persoalan-persolan yang ada di Cibaliung. 

Diantara 75 orang yang hadir dalam deklarasi tersebut, tampak Ibnu Adam Avicenna Presiden Rumah Dunia  asal Ciwangun, Usep Saepudin  warga Cigorondong, Nedi mahasiswa IAIN, serta mahasiswa asal kawasan Cibaliung lainnya yang sedang mengenyam pendidikan di berbagai universitas di kota Serang.

Presidium Kumaung Munawir Syahidi dalam sambutannya mengatakan, Kumaung  berdiri untuk mengakomodir mahasiswa Cibaliung. "Istilahna nyiar duduluran, supaya bisa memberikan manfaat untuk mahasiswa sendiri dan masyarakat Cibaliung.” ujarnya.

Dengan dideklarasikan Kumaung, lanjut Munawir, Kumaung dan anggotanya adalah mahasiswa yang notabene mempunyai pendidikan tinggi, bisa  mencerdaskan masyarakat agar bisa berfikir tentang kebenaran.

"Dengan adanya kawasan ekonomi khusus yang akan hadir di Cibaliung, maka diharapkan mahasiswa Cibaliung sendiri dapat mengawal dan berperan serta aktif dalam pembangunannya,” jelas Munawir.

Sementara itu,  Usep Saepudin dalam sambutannya menjelaskan, mahasiswa dari Cibaliung harus tahu apa yang ada di Cibaliung. Mulai  dari kekayaan alam, jumlah penduduk dan persoalannya. Usep juga berharap, mahasiswa asal Cibaliung bukan hanya mengikat persaudaraan saja, tapi harus cerdas secara ilmiah menyikapi permasalahan yang terjadi di Cibaliung.

"Mahasiswa asal Cibaliung juga harus tahu, wajib tahu, apa saja yang ada di Cibaliung, ketimpangan-ketimpangan apa saja yang terjadi Cibaliung. Apalagi adanya rencana pemisahan diri Cibaliung dari Pandeglang," kata Usep.
           
Dalam sambutannya, Ibnu Adam Avicena menegaskan apa yang dimaksud oleh Usep, “Mahasiswa asal Cibaliung sangat perlu  menginventarisir sekecil apapun mengenai Cibaliung. Mulai dari jumlah mahasiswa asal Cibaliung di kota Serang, alamat tempat tinggal di Cibaliungnya, kekayaan alam di Cibaliung, dan permasalahan-permasalahan di Cibaliung," kata Ibnu.


Menurut Ibnu, tanpa mengetahui data-data tentang Cibaliung, Kumaung tidak akan bisa menjawab persoalan-persoalan yang terjadi di Cibaliung. " Kita tidak tahu masalah yang terjadi di masyarakat, maka kita tidak bisa membantu masyarakat, tukasnya. (LLJ)

Journalism Through Cinematography and Photography

17.19


Kota Tangerang, Banten Muda – SMAN 2 Kota Tangerang pada Jumat, 18 Oktober 2013 lalu menyelenggarakan pelatihan jurnalistik yang terbuka bagi umum sebagai rangkaian kegiatan dari acara tahunan sekolah, D’sparted. Pelatihan jurnalistik yang bertajuk ‘Journalism through Cinematography and Photography’ itu menghadirkan dua pembicara, yakni Bapak Zidny Ilman Nafian dan Bapak Widhias. Dasar-dasar jurnalistik yang diperbincangkan siang itu adalah jurnalistik pada sinematografi atau film pendek, serta jurnalistik foto.
            Materi pertama dengan tema sinematografi/film pendek dibawakan oleh Bapak Zidny Ilman Nafian dengan slide-slide presentasi. Beliau banyak memberikan pengarahan mengenai tips-tips membuat film pendek yang memiliki nilai jurnalistik.
            “Langkah pertama untuk bikin film pendek dimulai dari menentukan cerita atau kisah. Lalu mulai dipikirkan mengenai cara penyajiannya, serta mempertimbangkan penting dan tidaknya sebuah kisah diangkat jadi film. Mulai dari hunting lokasi, casting, rehearsal hingga shooting, harus diperhatikan dengan baik. Satu lagi, dalam prosesnya kita juga harus jujur pada diri sendiri,” papar Bapak Zidny dengan bersemangat. Para peserta yang kebanyakan berseragam putih abu-abu dari sekolah-sekolah di Kota Tangerang, terlihat menyimak dengan serius. Dalam pemaparannya, Bapak Zidny juga berkesempatan mengurai kronologis perkembangan film pendek di Indonesia, yang sempat mengalami diskriminasi, sebab film pendek hanya dianggap sebagai pembelajaran bagi sineas baru.
          
  Selain jurnalistik sinematografi yang menjadi materi pembuka, ada juga sesi kedua yang mendalami mengenai jurnalistik foto. Materi kedua itu diisi oleh Bapak Widhias. Pada kesempatannya, beliau menjelaskan teknik-teknik saat mengambil foto dalam peliputan berita. Beliau juga mempraktekkan cara penggunaan kamera; mulai dari pengaturan sensor, pengambilan angle, mengatur diafragma kamera hingga ketajaman lensa.
            “Hal terpenting ketika akan memotret, sesungguhnya ada dua; sharpness dan speed. Ketajaman dan kecepatan ini diperlukan untuk mendapat kualitas foto jurnalistik yang baik. Dasarnya, jangan cari angle dulu, yang penting dapat fotonya,” jelas Bapak Widhias. Banyak peserta mengaku pelatihannya berlangsung interaktif dan asyik. Hal itu dikomentari oleh Vania Wibowo, salah satu peserta pelatihan jurnalistik yang dengan seru mendengarkan sejak awal.
            “Aku paling suka materi jurnalistik foto, itu oke banget. Seru dan keren. Kalau yang materi sinematografi, rasanya terlalu banyak slide-slide presentasi, jadi sedikit mengantuk. Tapi, tetap aja bagus dan bermanfaat banget!”
            Pelatihan jurnalistiknya sediri berakhir pada pukul lima sore. Tiap peserta yang mengikuti pelatihan pun pulang dengan membawa bekal limu jurnalistik yang asyik. (ver/ft.ver)