Sarung dan Kekuasaan Tubuh

21.39
Oleh Naufil Istikhari Kr*
SEIRING laju mode yang kian mengencang, sarung mulai tak dipandang. Kehadirannya ibarat segmen mitologis yang mencegah sempurnanya kilau modernitas. Sarung segera terhapus dari katalog mode dewasa ini. Ia ada tak lebih sebagai penanda tradisionalisme masyarakat desa yang jauh dari modernisme kota.
Sarung sesungguhnya menebar pesona kekuasaan atas tubuh, atas realitas yang berjarak dalam gulungan-gulungan kecil itu. Sosiawan Leak justru terinspirasi dari sarung saat menampilkan monolog di Berlin, Jerman. Baginya, sarung menggambarkan pembatas realitas samar-samar di dalam dengan realitas terang-benderang di luar. Kala sarung terkoyak, sebentuk pembatas kekuasaan turut meruyak. 
Sejarah mencatat, sarung mula-mula merupakan pakaian orang Yaman yang dalam istilah setempat disebut futah. Ensiklopedi Britanica (1801) menyebut masyarakat tradisional Yaman sudah lama memakai dan mengenalkan sarung ke beberapa kebudayaan lain.
Ahmad Y. Al-Hassan dan Donald R. Hill dalam buku Islamic Technology: An Illustrated History (1987) menegaskan kemajuan industri tekstil masyarakat Islam di awal abad pertengahan mampu memberikan kontribusi besar bagi kemajuan Barat. Di masa itu, kawasan Semenanjung Arab sudah mengenal semacam standarisasi tekstil berkualitas ekspor. Salah satunya: sarung.
Sarung masuk ke Indonesia baru sekitar abad ke-14 saat pedagang dari Gujarat secara gradual menyebarkan agama Islam. Sejak inilah budaya luar merasuk, dan kaum bersarung segera tebentuk. Lalu apa istimewanya kain sederhana ‘berjudul’ sarung?
Simbol Per(l/k)awanan
Jangan salah, sarung memiliki arti filosofis yang amat penting. Secara antropologis, sarung—yang khusus jadi penanda identitas keislaman di Indonesia—tidak saja dipakai semata untuk beribadah, tetapi juga berfungsi perajut solidaritas masyarakat Islam yang oleh Gertz disebut santri. Sarung menjelma tali penyambung satu santri dengan santri lainnya hingga terbentuklah kaum sarungan.
Kaum sarungan tidak serta merta warisan antropologis yang hampa. Ia lahir dari pergolakan arus mode, tradisi, budaya, dan tak lupa, agama. Sintesis dari pergolakan itu memadat dalam bentuk perkawanan kaum sarungan yang, pada gilirannya, turut menyumbang peran besar dalam skenario pengusiran penjajah.
Sarung sebagai realitas antropologis dengan sendirinya melahirkan spirit ganda: dari perkawanan berbuah perlawanan. Sarung larut dalam eksentuasi politik: simbol perlawanan terhadap Belanda. KH. Wahab Chasbullah misalnya, beliau secara konsisten menolak kerja sama dengan Belanda, dan dengan tegas mewajibkan memakai sarung serta melarang mengenakan celana.
Bahkan pasca kemerdekaan, saat beliau diundang Presiden Soekarno dalam upaca kenegaraan, beliau tetap memakai sarung meski sudah diinstruksikan memakai sepatu dan celana. Kiai-kiai di Jawa Timur yang terlibat perang mengusir penjajah selalu memakai sarung sebagai “jimat” perlawanan.
Bergesernya Makna
Kini, setelah setengah abad merdeka, sarung lamat-lamat tampak semakin terkurung. Terkurung oleh kuatnya trend mode dalam menawarkan kebaruan: modernitas. Di kota-kota, sarung sudah “disahkan” sebagai penanda eksterior yang berarti sempit dan formalistis. Sarung adalah pakaian ibadah-ibadah tertentu: Idul Fitri, Idul Adha, Juma’atan, dan selebihnya, dilipat rapi di lemari.
Dari sorot mata orang kota, sarung dipandang sebagai pakaian kuno, tidak modern, kolot, tradisional hingga paling parah, simbol keterbelakangan. Keberadaan sarung yang kian bermakna murung terjadi akibat hantaman bedil-bedil modisme yang meruncing pada penuhanan tubuh oleh aksesori-aksesori mahal bermerk luar negeri.
Dalam esai berjudul “Sarung: Menenun Islam dan Lokalitas” yang termuat di buku Rahasia Perempuan Madura (2013) A. Dardiri Zubairi mengatakan bahwa memakai sarung butuh keahlian tersendiri. Selain itu, sarung bukan sekadar pakaian. Sarung melampaui fungsinya. Ia mengajarkan kearifan berupa kesederhanaan. Filosofi ini, untung, masih bertahan di Madura.
Berbeda jauh dengan di Mesir dan Turki yang menjadikan sarung tak lebih sebagai selimut tidur, di Madura misalnya, sarung adalah pakaian multifungsi. Tidak saja mau ibadah, ke sawah, ke pasar, ke kota hingga ke mana pun, memakai sarung di kalangan orang Madura sudah biasa. Di sana, sarung melampaui historisitasnya.
Joko Pinurbo dalam sajak Di Bawah Kibaran Sarung (1999) menggambarkan kesederhaan dalam kemegahan sebuah sarung: /Di bawah kibaran sarung anak-anak berangkat tidur/ ke haribaan malam. Tidur mereka seperti tidur yang baka./…//Di bawah kibaran sarung/rumah adalah kampung/ kampung kecil di mana kau/ bisa mengintip yang serba gaib/…//Ayo temuai aku di bawah kibaran sarung/di tempat yang jauh terlindung/. Sarung disajakkan sebagai ornamen kerinduan kepada Yang Baka. Dari situ lahir permenungan atas tubuh-tubuh yang “berkuasa” atas darah yang mengalir di dalamnya. Sarung membuat orang berkuasa. Bukan takluk buta pada bujuk rayu iklan pakaian model baru.  
Akan tetapi, yang namanya pergeseran makna jauh lebih riuh ketimbang nilai filosofi yang masih terjaga. Saya sendiri, di Jogja, sering diolok-olok teman kost jika pakai sarung saat mau beli nasi. Bahkan mereka tidak mau bonceng saya keluar saat pakai sarung. Tak jarang mereka bilang “pasti orang Madura” kala melihat orang bersarung di hari-hari biasa. Menurut mereka, sarung khusus untuk shalat. Tak lebih.
Adakalanya, sesuatu yang dulu bermakna kemajuan, simbol peradaban, perkawanan. Kekuasaan tubuh hingga perlawanan sekarang tak lebih sebagai olok-olok karena dianggap visualisasi keterbelakangan. Sirene kematian sarung mulai terdengar. Padahal sarung adalah simbol identitas yang tak pernah getas. Sarung memanjakan tubuh sekaligus memberi arti yang utuh. [*]

*Aktif di Lingkaran Metalogi, UIN Yogyakarta

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »