Menjadi Guru Pencetak Juara

21.10
Judul : Tips-tips Jitu Mencetak Siswa Juara Olimpiade Sejak Dini
Penulis : Sitiatava Rizema Putra
Penerbit : Diva Press, Yogyakarta
Cetakan : I, Januari 2013
Tebal : 186 Halaman

SETIAP guru pasti mengharapkan siswa-siswanya sukses di pelbagai bidang. Mampu menorehkan prestasi dalam setiap olimpiade, baik nasional maupun internasional. Melalui kerja keras dan usaha seorang guru membina siswa-siswanya, kemungkinan besar mereka akan meraih sukses dalam berbagai bidang. Para siswa tidak hanya mampu membuat bangga orangtua, tetapi juga guru dan sekolah akan bangga jika ada di antara siswanya ada yang berhasil meraih juara.

Buku ini akan mendedah rahasia bagaimana mencetak siswa menjadi juara dalam berbagai olimpiade yang dilaksanakan di tingkat nasional ataupun internasional. Lewat buku ini, penulisnya ingin menegaskan bahwa peran guru untuk memunculkan siswa berprestasi sangat penting.

Dalam pengantarnya, penulis menjelaskan salah satu olimpiade yang biasa dilaksanakan di tingkat nasional. Olimpiade Sains Nasional (OSN) adalah program yang merupakan salah satu wahana bagi siswa guna menumbuhkembangkan kompetensi akademik untuk mendorong keberanian bersaing secara sehat dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan. Ada beberapa bidang yang dikembangkan dalam olimpiade ini, antara lain Matematika, Biologi, Fisika, dan IPS. Sementara yang menjadi sarana kegiatan OSN adalah semua siswa SMP, termasuk SMP Terbuka, SD-SMP Satu Atap, negeri/swasta, SMA, bahkan perguruan tinggi (halaman 6).

Minimnya jumlah siswa yang berhasil berkompetensi di olimpiade setidaknya membuka pikiran para pendidik untuk lebih serius menyiapkan siswa mengikuti berbagai olimpiade. Memang, untuk mencapai itu semua dibutuhkan ketekunan, kesabaran, serta pengorbanan dari seorang guru untuk mengenali potensi siswanya, lalu membimbingnya, sehingga kelak bisa bersaing dalam sebuah olimpiade.

Hal pertama yang harus dimiliki seorang guru agar bisa mencetak siswa-siswi juara olimpade sejak dini adalah kemampuan mengenali potensi siswa-siswanya. Setiap siswa memiliki potensi yang berbeda. Potensi antara siswa A berbeda dengan siswa B, begitu seterusnya. Misalnya, si A mempunyai kecenderungan keahlian di bidang Matematika, si B di bidang Fisika, si C di bidang Kimia, dan seterusnya.

Jika seorang guru dapat memilah dan memilih siswa berdasarkan potensinya, kemudian guru mendidik dan mengajarnya dengan baik (mengembangkan potensinya), niscaya ia bisa menjadi siswa yang berprestasi dan juara olimpiade (halaman 52).

Menurut penulis buku ini, dalam upaya mencetak siswa juara olimpiade, guru tidak hanya berbekal kemampuan dalam memahami dan mengetahui potensi siswa. Tetapi, guru juga dituntut untuk memiliki kompetensi. Dalam upaya meningkatkan prestasi belajar siswa (mutu pendidikan), sehingga siswa dapat bersaing di ajang olimpiade, kompetensi guru menjadi salah satu faktor yang sangat penting. Karena itu, seorang guru harus benar-benar mengasah kompetensinya sebagai guru.

Mengenai kompetensi guru, pemerintah telah merumuskan empat jenis kompetensi guru, sebagaimana tercantum dalam Penjelasan Peraturan Pemerintah No. 14 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.

Pertama, kompetensi pedagogik. Kompetensi ini merupakan kemampuan yang berkaitan dengan pemahaman peserta didik dan pengelola pendidikan yang mendidik dan dialogis. Secara substansi, kompetensi ini mencakup kemampuan pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, serta pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.

Kedua, kompetensi personal/kepribadian. Kompetensi kepribadian adalah kemampuan personal yang mencerminkan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, berwibawa, menjadi teladan bagi siswa dan berakhlak mulia (halaman 69-72).

Ketiga, kompetensi sosial. Kompetensi sosial merupakan kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi lisan dan tertulis, menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional, bergaul secara efektif (dengan siswa, sesama guru, tenaga kependidikan, dan orangtua atau wali siswa), serta bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar.

Keempat, profesional. Kompetensi profesional merupakan kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam meliputi konsep, struktur, dan metode keilmuan/teknologi/seni yang menaungi/koheren dengan materi ajar, materi ajar yang ada dalam kurikulum sekolah, hubungan konsep antar-mata pelajaran terkait dan penerapan konsep-konsep keilmuan dalam kehidupan sehari-hari (halaman 74-77).

Dengan mengenali potensi siswa dan kompetensi-kompetensi guru yang ada dalam buku setebal 186 halaman ini, diharapkan para guru dan penyelenggara pendidikan bisa lebih bersemangat dan serius mempersiapkan siswa-siswanya menjadi juara olimpiade. Karena prestasi yang berhasil ditorehkan siswa merupakan salah satu bukti nyata keberhasilan sekolah dalam mendidik para siswa. Apalagi, bagi sekolah-sekolah swasta, prestasi merupakan syarat mutlak yang harus dicapai agar dapat dikenal oleh masyarakat dan tetap survive dalam dunia pendidikan global.

Buku ini sangat layak direkomendasikan dan menjadi referensi bagi guru yang ingin mencetak siswa yang berprestasi di tingkat dunia. Para siswa tidak akan lagi menjadi “jago kandang” yang hanya mampu bersaing di sekolah sendiri. [*]

Untung Wahyudi
Peresensi adalah alumnus IAIN Sunan Ampel, Surabaya. Tinggal di Sumenep, Madura.


Share this

Related Posts

Previous
Next Post »