Soul Travel Kontingen PMI Banten *)

23.59

Temu Karya Nasional Relawan, harus diyakini sebagai  salah satu strategi pembinaan dan pengembangan relawan dari berbagai minat, budaya, dan pendidikan untuk bersama-sama belajar, bertukar pengalaman, memantau dan mengevaluasi proses pembinaan dan kepemimpinan relawan, sekaligus merancang peran dan kegiatan yang berkesinambungan. Jika pada saat normal relawan harus melakukan pelayanan kesiapsiagaan, dan ketika terjadi bencana memberikan pelayanan tanggap darurat.


Oleh : Ali Faisal

Relawan PMI adalah asset bangsa, yerdiri dari Korps Sukarela (KSR), dan Tenaga Sukarela (TSR) serta Donor Darah Sukarela (DDS), dalam rangka menjalankan tugas kemanusiaannya, Relawan di tuntut untuk professional, dan salah satu medium up-grading membangun sikap professional dimaksud adalah melalui ajang Temu Karya Nasional Relawan.

(Jum’at 21 Juni 2013),  Keberangkatan Kontingen Relawan PMI Banten, terbagi tiga tahap rombongan, pertama. tim Advance, tim ini berangkat pada tanggal 19 Juni dengan menggunakan tiga mobil, membawa berbagai keperluan pokok kontingen, dikawal langsung oleh Bu Embay sebagai Kepala Markas, sedangkan tim kedua sebanyak 38 orang menggunakan kereta api, dan sisanya menggunakan Pesawat terbang. Kami yang menggunakan jasa kereta api, telah bersiap sejak pukul 09.00 pagi hari jum’at, dan tepat pukul 10.00 kami berangkat dari markas PMI Provinsi Banten, menuju Stasiun Pasar Senen menggunakan Bus Pemprov Banten. Sekira Pukul 15.15 kami berangkat dari Stasiun Pasar Senen menuju Stasiun Kota Lama Malang, perjalanan kami menuju Kota Malang harus ditempuh dengan melewati sedikitnya enam belas stasiun, yaitu:  1)Stasiun Cirebon Peranjakan, 2)Stasiun Losari, 3)Stasiun Tegal, 4)Stasiun Pekalongan, 5) Stasiun Kali Bodri, 6) Stasiun Tawang, 7)Stasiun Alas Tua, 8)Stasiun Walikukun, 9)Stasiun Paron, 10)Stasiun Madiun, 11)Stasiun Caruban, 12)Stasiun Nganjuk, 13)Stasiun Kediri, 14)Stasiun Tulung Agung, 15)Stasiun Blitar dan 16)Stasiun Wlingi, setelah Stasiun Wlingi, barulah kami sampai di Stasiun Malang.  

Kereta kami terus melaju, hingga sampai stasiun Cikampek pukul 16.30 sore, memang sedari awal keberangkatanku ke Malang sudah aku niatkan untuk membaca buku, sahabatku yang “sufi kecil” dengan rela meminjamkan travel bag merk polo, dan beberapa buku, diantaranya novel 5cm nya Donny Dhirgantoro, buku ini sebenarnya sudah lama aku kenal, pernah membaca dengan sekilas dan aku telah menangkap sinopsisnya, tetapi setelah aku membaca hingga hatam di atas kereta, sungguh perasaanku bercampur baur, karena dapat meneliti tahap demi tahap ceritera yang, sungguh suatu pelajaran berharga, bagaimana kekuatan niat, ajaran tentang keagungan persahabatan, dan kebahagiaan akan ketulusan, Arial, Riani, Zafran, Ian dan Genta, “kamu adalah guruku” dan orang yang dengan rela telah meminjamkan travel bag dan novel ini, “adalah maha guruku” ujarku dalam hati. Entah disengaja atau tidak cerita ini saya baca di kereta, berangkat dari pasar senen menuju Malang, dan dalam cerita dalam novel inipun demikian. “Genta mengajak bertemu di Stasiun Senen untuk memulai petualangan baru dengan naik kereta hingga sampai ke Malang, selanjutnya mereka menuju kekawasan pendakian Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Inilah pendakian pertama kali para sahabat menuju puncak tertinggi pulau Jawa, Puncak Mahameru.

“gue udah taruh puncak itu dan kita semua disini” Arial berkata sambil membawa jari telunjuk kearah keningnya dengan jarak dekat 5 cm

“kalau begitu, yang kita perlukan sekarang cuma kaki yang berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menaap lebih lama dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat keatas, hati yang bekerja lebih keras dari biasanya serta mulut yang akan selalu berdoa” timpal mereka bergantian yang ditutup dengan senyum Dinda.

Sedangkan kereta terus melaju hingga stasiun Madiun pukul 03.00 dini hari, rombongan kami  langsung disambut pedagang nasi pecel di daun pisang seharga Rp.3000,- ditambah rempeyek kacang ijo seharga Rp.4000,- kami lahap menyantapnya, ibarat orang yang melaksanakan sahur, karena besok akan puasa, kereta terus melaju, dan, 22 menit berikutnya tiba di stasiun nganjuk, tepat jam 07.30 pagi, terus melaju di Stasiun Blitar, jam 08.50 tiba di stasiun Kepanjen, sesaat lagi rombongan tiba di Stasiun Lama Kota malang.



 Setibanya di stasiun Malang, rombongan kontingen Banten berhamburan mencari sarapan pagi, sementara mobil elf dari panitia Temu Karya Nasional telah siap membawa kami ke Selorejo, Kabupaten Malang. Sebagian kawan-kawan memilih sarapan ke beberapa kedai masakan Jawa, ada juga yang menyantap aneka jenis masakan Padang, sementara saya, eji dan Joni dan beberapa peserta kontingen lain, lebih memilih menikmati soto, alasannnya, selain lebih dekat dengan pintu keluar Stasiun, dan juga saya melihat kedai soto itu begitu laris, tandanya orang banyak mengantre untuk membeli, nyata saja, setelah saya memesan tiga porsi, tidak begitu lama menunggu pesanan kami datang, alamak...soto di Jawa memang agak berbeda dengan yang sering kita makan di Banten, soto dengan kuah yang menggoda di satukan dengan nasi putih dalam satu mangkuk bersamaan, sementara di piring yang lainnya di sajikan goreng tempe, berkedel kentang, rempeyek dan telur asin, telur asin yang biasa kita lihat berwarna biru langit, tapi ini warnannya hijau keputihan tetapi rasanya sama dengan telur asin pada umumnya, ma’nyusss. Lahap menikmati soto yang oleh pemiliknya di beri nama “Soto Basket”. ternyata telah terkenal seantero Kota Malang, di buka pertama kali pada tahun 1951 di dekat lapangan basket, makanya dinamakan Soto Basket, dan sejak beberapa tahun belakangan pindah di sebelah Stasiun Kota Malang, demikian di katakan Bu Hj. Khadijah yang melanjutkan usaha yang dulu dikelola oleh ayahnya.

Selesai menikmati Soto Basket, kami beranjak menuju lokasi TKRN di Selorejo, menyusuri suasana pegunungan yang berkelok, turun naik persis daerah puncak di Jawa Barat, sepanjang mata memandang kami di manjakan oleh pemandangan alam Jawa yang menakjubkan. Udaranya sangat sejuk sebelah kanan jalan kami melihat air terjun gerobogan sewu, Setelah lebih kurang 2 jam, mobil elp yang kami naiki sampai di Kecamatan Pujon, satu kecamatan lagi kita sampai di Kecamatan Ngantang, tempat dilaksanakannya temu karya.

Sementara spanduk-spanduk ucapan selamat datang berjejer sepanjang kecamatan Pujon menuju Kecamatan Ngantang, spanduk yang kami baca beragam mulai dari pemerintah setempat, hingga beberapa perusahaan sponsor yang telah ikut andil dalam gelaran Temu Karya, dan diantara ucapan-ucapan selamat datang kami sempat membaca tulisan Kabupaten Malang “MADEP MANTEB”, kata-kata ini menjadi ikon tanda seperti di Provinsi Banten tertulis “Iman Taqwa” atau Kabupaten Serang “Sepi Ing Pamrih Rame Ing Gawe”, lama kami mencari artinya, ya, walaupun tidak sama persis dengan bahasa Jowo yang priyayi seperti inggil dan kromo inggil, kami pun di Serang menggunakan bahasa Jawa atau orang menyebutnya bahasa Jaseng atawa Jawa Serang, sungguh kedua bahasa ini berbeda pada beberapa suku kata dan istilahnya, atau banyak yang menyebut bahasa Jawa Serang dengan bahasa Jawa kasar, mirip sama dengan bahasa Cirebon atau Inderamayu,  ma’lum, berdasrkan riwayatnya, beberapa daerah yang baru di sebut merupakan daerah-daerah dengan perjalanan historis yang hampir sama, di tandai dengan penyebaran agama Islam di jaman Maulana Syarief hidayatullah sampai sultan Maulana Hasanudin. Kembali pada cerita Madep Manteb, satu-satunya sumber oral kami dapatkan dari mbak yayuk, dia adalah kontingen Banten yang asli orang jawa, menurutnya Madep mantep itu artinya, benar-benar mantap, “katanya”, yo wis mba, saget..saget..jawabku, karena belum ada pembenaran pembanding, jadi sementara jawaban mba yang paling benar.

Lagu-lagu, mulai dari lagu Stasiun Balapan, hingga lagu lawas yang berirama madu-racun dengan syair Jawa, terus berputar-putar dinyanyikan artis eksentrik Didi Kempot. “Tau gak, kalau di Malang jika kita makan nasinya ga di hitung?”..jelas pak Agus Jatnika memulai candaannya, ya iya lah, kalau setiap makan nasinya di hitung kebayang kali berapa lama untuk melayani satu pelanggan. “Di Malang itu buah yang paling terkenal buah apel, tapi sayang kalau mau beli ga boleh sama kiloan”, haahahahaha...meledak tawa kami serentak, ya iyalah....la wong kiloan cuman satu ko mau di beli, terus?...terus?...selepas duhur kami sampai di daerah wisata air Bendungan Selorejo, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang, home stay Provinsi Banten paling dekat dengan lokasi kampung relawan, sebelahan dengan Puskesmas pembantu Ngantang.

Selepas sholat duhur, perut terasa lapar, pas sekali, di depan home stay kontingen Banten, atas seijin kami yang mengontrak rumahnya, pemilik rumah membuka warung nasi dadakan berikut dengan berbagai dagangan alat-alat kebutuhan harian yang lain, kami memesan makan dengan lauk ikan wader dan udang goreng yang dimakan dengan sambal terasi, mantap tak terkira.

Selesai makan kami berkonsentrasi di tenda kontingen Banten, tenda kontingen Banten berada di urutan kedua dari pintu masuk kampung relawan, urutan pertama sayap kanan di tempati kontingen Jawa Tengah, kedua Banten, ketiga Kalimantan Selatan, depan tenda kontingen Banten, dari sayap kiri di tempati oleh Kontingen Kepulauan Riau, Kontingen Riau pada urutan kedua dan kalimantan Barat, selanjutnya berjajar tenda-tenda dari 33 Provinsi di Indonesia. Pemantapan desain dan susunan ornamen pada tenda terus kami benahi hingga malam hari, sampai merasa indah di pandang mata, tak kalah dengan atribut dan ornamen dari tenda relawan Provinsi lain Malam menjelang kami para pendamping kembali ke home stay, sementara peserta tetap berada di tenda kontingen sambil melakukan perbaikan-perbaikan kecil, atau sekadar berbincang ringan antar peserta.

(Minggu, 23 Juni 2013). Kabar bahwa ketua PMI Provinsi Banten, Ibu Hj. Ratu Tatu Chasanah sedang dalam perjalanan, menjadi penantian kami di Selorejo, Ibu sudah di Bandara Malik Shaleh, pesan via sms dari mba Hani ajudan Ibu Hj. Ratu Tatu Chasanah, yang juga wakil Bupati Serang.

Menjelang duhur Ibu Ibu Hj. Ratu Tatu Chasanah tiba di Selorejo, seperti biasanya, gayanya yang hoby blusukan, di terapkan saat meninjau lokasi kontingen relawan, beberapa pertanyaan tentang tata letak dan hal-hal teknis lainnya menjadi salah satu diskusi di tenda kami, setelah dianggap cukup memberikan motivasi, pengarahan dan bersenda gurau dengan kontingen Banten.

Beberapa saat kemudian, Ibu Hj. Ratu Tatu Chasanah menyambut ketua umum Palang Merah Indonesia yang juga Mantan Wakil Presiden Republik Indonesia, Bapak Jusuf Kalla, bapak Jusuf kalla menerima bingkisan miniatur Leuit (bentuk lumbung padi masyarakat suku Baduy), dan seikat Lomar (ikat kepala masyarakat Suku Baduy), setelah menerima Bapak Jusuf Kalla Ibu Hj. Ratu Tatu Chasanah melakukan silaturrahmi, kami sedikit tahu maksudnya, ibu sedang melakukan studi komparatif dengan berbagai kontingen untuk diterapkan di kontingen Banten, satu demi satu tenda-tenda kontingen beliau datangi dan berdialog ringan, percaya atau tidak, saya yang mengantar di belakang beliau ketika jalan-jalan menyusuri perkampungan relawan, setiap langkah beliau selalu di elu-elukan dan di sapa dengan hangat, “Ibu Ratu...Ibu Ratu...” mereka menyapa, sambil bergegas minta foto bersama.

Obrolan terjadi sangat seru sekali, antara ibu Ibu Hj. Ratu Tatu Chasanah dengan Bapak Haji Bambang, ketua Kontingen Provinsi Bali, Haji Bambang adalah relawan yang tak kenal lelah, cerita soal kepahlawanan dalam hal jiwa relawannya ini, telah di bukukan dan terbit di Bali, beliau menceritakan kenangan indah sewaktu mengikuti Temu Karya Nasional Relawan ke empat di Provinsi Banten, “ikan bakarnya enak sekali bu” kami puas di jamu disana” ujarnya, di susul dengan cerita keseruan lainnya, manakala pada saat berada di Banten,  bersamaan pula dengan eksekusi mati Imam Samudera alias Abdul Aziz, dan pembicaraan di ahiri dengan kata sepakat, bahwa PMI Bekerja untuk kemanusiaan, dengan berpegang teguh pada 7 Prisnsip palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional. Sore hari Ibu Hj. Ratu Tatu Chasanah, kembali ke hotel yang berada di Kota Batu, lebih kurang 1,5 jam perjalanan dari Selorejo.

(Senin, 24 Juni 2013). Sekitar 1650 peserta aktif dari 33 Provinsi di Indonesia, di tambah ribuan pendamping dan peninjau serta  perwakilan dari 15 negara tumpah ruah di lapangan Bendungan Selorejo, persiapan pembukaan Temu Karya Nasional Relawan PMI ke-5, telah terasa dari pagi hari, dimana ratusan Tentara, Polisi dan Paspampres wura-wiri mengatur beberapa hal sesuai dengan mekanisme protokol kenegaraan,  “Banten....Yiiihaaaa...Yiiihaaaa...Banten..Banten” begitu pekik perjuangan kami, ketika melewati panggung kehormatan, yang di depannya melambai-lambai Bapak Boediono (Wakil Presiden RI), Bapak Jusuf Kalla (Ketua PMI Pusat), beberapa Menteri Kabinet Indonesia Bersatu jilid dua, Wakil Gubernur Jawa Timur (Bapak Saefulloh Yusuf), Pimpinan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah Provinsi Jawa Timur dan Para Ketua PMI Provinsi se-Indonesia, termasuk Ibu Hj. Ratu Tatu Chasanah selaku Ketua PMI Provinsi Banten.

 “Eksistensi PMI dapat diukur dari kiprahnya dalam menolong sesama, dan saya bangga dengan peran dari PMI saat ini” demikian sepenggal sambutan Wakil Presiden dalam sambutan pembukaan Temu Karya Nasional Relawan PMI ke-5 di Selorejo, Malang

Beberapa Memorandum of Understanding (MoU) ditandatangani antara PMI dengan Kementerian Koperasi dan UMKM, Tentang Pengembangan Kewirausahaan Relawan, PMI dengan Kementrian Kehutanan, PMI dengan Kementrian Pemuda dan Olahraga, PMI dengan Badan Penanggulangan Bencana dan lain-lain.

Agenda inti kegiatan Temu Karya Nasional,  terbagi dalam pertama, Bidang Temu: Meliputi, Sarasehan Bela Negara, Sarasehan Kemitraan, Sarasehan Kewirausahaan, Sarasehan Pengembangan Kegiatan Kepelang Merahan di Institusi Pendidikan, Sarasehan Peran Relawan Perempuan dalam Penanggulangan Bencana, anti kekerasan, diskriminasi dan menghargai perbedaan, Sarasehan Penanggulangan Sosial Media untuk Komunikasi, Publikasi, dan Pengembangan Citra Organisasi. Sarasehan Sistem Informasi Manajemen, Sarasehan Peran Relawan dalam Bidang Kesehatan pada Program Berbasis Masyarakat. Sarasehan Undang-undang Kepalangmerahan, Pertemuan Relawan Nasional. Pertemuan Relawan Lintas Negara. Pertemuan Pengurus Bidang Relawan dan Kepala Markas. Kedua, Bidang Persahabatan: meliputi, Galeri Karya Relawan, Olah Raga Persahabatan, Seni Budaya, Kehidupan Masyarakat dan Sejarah Bangsa,  Jejaring dan Anjangsana, Outbond, Kontingen Favorit, Relawan Favorit. Ketiga, Bidang Pengembangan Kapasitas: meliputi, Latihan Gabungan, Best Practice Volunteer “Berbagi Pengalaman”, Lintas Terampil, Ajang Kreativitas Relawan. Keempat Bidang Karya: meliputi, Non Fisik, terdiri dari: Sosialisasi dan Donor Darah sukarela, Advokasi dan Sosialisasi Ayo Siaga Bencana, Promosi dan Pelayanan Kesehatan, Upaya Pengurangan Resiko Bencana, Pelatihan Singkat Pertolongan Pertama. Sedangkan yang Non Fisik, meliputi: Bakti Sosial, Penyediaan Air Bersih, Perbaikan Jalan dan Perbaikan Rumah.

Lima Belas Negara ikut serta ambil bagian dalam Temu Karya ini, dan Kami Tenda Kontingen Banten dititipi delegasi dari Japanes Red Cross, relawan laki-laki bernama Takayushi Furuhashi, sedangkan yang perempuan bernama Yuko Yoshida, mereka sangat bersahabat, Takayushi paling suka memakai lomar Banten yang kami berikan, sedangkan Yuko paling suka makan kue Gipang yang kami suguhkan dalam waktu singkat, kami seakan telah berkeliling Nusantara, dari Sabang sampai Merauke, dan lima belas negara, diantaranya: Australia, Arab Saudi, Malaysia, Thailand, Laos, Kamboja, Jepang, Pakistan, Korea dan lain-lain, 

Berkat team work yang kuat, komitmen dan tekad yang bulat, untuk memberikan yang terbaik bagi Provinsi Banten, perjuangan selama dua belas hari di ajang Temu Karya Nasional, Kontingen Relawan PMI Provinsi Banten telah melaksanakan seluruh amanat dengan sebaik-baiknya, ahirnya kini kita bangga, Kontingen Provinsi Banten menduduki Peringkat Pertama Urutan keempat, setelah Jawa Barat, Bali, dan DKI Jakarta. dalam perhelatan  besar relawan lima tahunan.     

Siammo Tutti Fratelli, Kita Semua Bersaudara. 

***


*) Temu Karya Nasional Relawan PMI ke-5, 
   Selorejo, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur
   23-30 Juni 2013


Share this

Related Posts

Previous
Next Post »