Sokrates; Menertawakan Kekuasaan Lewat Sastra

18.32

SERANG, BANTEN MUDA – Karya sastra merupakan medium utama untuk menegoisasikan identitas suatu bangsa. Nilai-nilai nasionalisme dan cinta tanah air dapat ditanamkan secara halus lewat karya sastra. Setidaknya itulah yang coba dilakukan oleh Toto St. Radik lewat buku kumpulan cerpennya Sokrates; atawa Telunjuk Miring di Kening. Bertempat di Taman Budaya Rumah Dunia, Minggu (9/6/2013), buku kumpulan cerpen yang memuat 11 cerita pendek Toto dibedah oleh Muhyi Mohas, dosen Universitas Sultan Ageng Tirtasaya.
Muhyi menilai, cerpen-cerpen Toto dapat membuka ruang kreatif dengan gaya bertutur penulisnya yang bermetafor. “Toto St. Radik seperti sedang ngeledek dan menertawakan kekuasaan, contohnya dalam cerpen Petruk jadi Bupati, di mana pekerjaan pokok si tokoh utama adalah seorang penjual surabi, ” ujarnya.
“Dari keseluruhan cerita Sokrates, saya menangkap sebuah penjelajahan jiwa yang dilakukan Toto, yang mungkin juga mewakili kita semua atas kerinduan penataan kehidupan untuk menengok kembali sisi kemanusiaan kita,” tutur Muhyi menambahkan.
Dalam acara yang dipandu Wahyu Arya ini, penulis juga menceritakan proses kreatifnya dalam menyusun buku kumpulan cerpen Sokrates. Toto St. Radik mengaku bahwa dia membutuhkan waktu sekitar dua tahun untuk menyelesaikan bukunya ini. “Sokrates sudah saya impikan untuk terbit dan dibaca banyak orang sejak 2011 lalu, meski sebenarnya cerpen-cerpen yang dimuat dalam buku ini ada yang saya tulis pada tahun 2005.” Pemilihan judul buku yang relatif panjang, Toto mengaku terispirasi dari naskah drama yang dibacanya. “Saya sengaja memakai kata atawa dalam judul buku ini. Selain kata itu merupakan bahasa lokal, saya sangat terinspirasi dari judul-judul naskah pementasan yang pernah saya baca,” imbuhnya.
Toto St. Radik juga menjelaskan bahwa ide cerpen-cerpen yang dia tulis bersumber dari orang-orang  di sekelilingnya. Seperti cerpen Ayat Perempuan yang ditulisnya ketika menyadari bahwa dia hidup di tengah-tengah banyak perempuan; ibu, istri, dan kedua putrinya. Begitupun dalam cerpen Gigi Goyang Dombret yang terinspirasi ketika melihat gigi anaknya belum tumbuh saat usia dua tahun. [*]
Setiawan Chogah

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »