RESENSI: Merenung Bersama Para Mbambung Lagi

01.28

Oleh Anas Al Lubab
Judul    : Markesot Bertutur Lagi
Penulis : Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)
Penerbit  : Mizan
Tahun  : 1 Februari 2013 (Edisi Baru)
Tebal   : 342
Saya bertemu Markesot lagi pada Jumat (5/4) kemarin di Rumah Dunia. Lalu saya boyong ia untuk menemani saya mengurus rawat jalan adik ipar pasca-operasi usus buntu di RSUD Serang. Ditemani Markesot benar-benar mengasyikan. Keganjilan sikap dan tutur katanya mengingatkan saya pada tingkah polah Abu Nuwas atau Kabayan yang lucu, polos, sekaligus mencerahkan.
Markesot memosisikan dirinya sebagai media hiburan sekaligus pil penyadaran bagi siapa pun yang bersinggungan dengannya. Tutur kata dan prilakunya sama sekali bukan berdasarkan vested interest pribadinya. Markesot makan, mandi, tidur, berpakaian, menunjukkan ekspresi mimik wajah, berteriak atau diam, benar-benar melalui seleksi perhitungan yang matang untuk kemaslahatan.
Markesot sadar betul bahwa tugas pokok dirinya sebagai manusia hanyalah untuk bersungguh-sungguh memanusiakan manusia yang kian hari kian terbius oleh hal-hal remeh-temeh yang kian menjauhkan manusia dari nilai-nilai kemanusiaannya.
Walaupun begitu, Markesot sadar betul bahwa kapasitas dirinya sebagai manusia mbambung tidak cukup kompeten untuk menjadi cermin teladan sendirian bagi banyak orang. Oleh karenanya, kadang ia sengaja menuturkan hal-hal yang patut kita renungi dan dijadikan teladan dari “Mar, Mar” yang lain—Markempot, Markemon, Markenyot, Markendil dan banyak Mar lagi—atau dari berbagai kejadian yang bisa kita serap sebagai bahan pelajaran, karena bagi Markesot apa yang dihadapinya itulah gurunya merenungi kehidupan.
Semenjak bersinggungan dengan Markesot, saya sudah mulai menduga-duga bahwa Cak Nun sebagai “penciptanya” menempatkan Markesot bukan hanya tokoh ideal imajiner rekaannya, melainkan ia ambil dari tokoh nyata di sekitar kehidupan yang melingkarinya. Dalam pengantarnya berjudul Manusia Markesot, Cak Nun mengakui bahwa kadang ia mencungkil satu dua pengalaman pribadinya dan dinisbahkan kepada sosok Markesot. Dan kolom-kolom Markesot yang pernah terbit berkala di harian Surabaya Post ini, Cak Nun tulis sebagai upaya menyubsidi kegiatan sekolah di dusun di sekitar tempat tinggalnya.
Tindak tanduk Markesot bagi orang yang baru bersinggungan dengannya memang terkesan absurd bin ganjil. Bagaimana misalnya saat saya duduk ngantre di apotek sambil menghadapi layar televisi, Markesot memilih “memejamkan mata” dan membalikkan punggung membelakangi televisi. Saat saya tanya alasannya, Markesot bilang “Teve itu penjara, semakin kecanduan nonton kamu akan kesepian tanpa teve. Dan semakin konsumtif terhadap isi siaran-siarannya. Akhirnya, seluruh alam pikiran, bingkai kejiwaan, selera budaya, konsumsi hidup, segala sesuatu yang dikerjakan sangat teve-oriented. Padahal isi televisi bukan informasi mengenai hal-hal hakiki yang dibutuhkan manusia melainkan iklan-iklan dan konsumsi kapitalistik…” (hlm. 127). Markesot mengajak saya berpuasa dari hal-hal yang remeh-temeh dan hanya mengambil sesuatu yang benar-benar kita membutuhkan sebagai manusia.
Hampir satu jam mengantre obat, Markesot juga ikut mengkritisi situasi; ia menyatakan situasi yang terbalik-balik. Seharusnya para pekerja apoteker yang kita bayar dari pajak itu melayani kita, bukan kita yang melayani ke-lelet-an pelayanan mereka. setelah mendapat obat saya ajak Markesot mengambil sesuatu yang ketinggalan di kontrakan.
Sepanjang perjalanan, Markesot pun begitu rajin mengkritisi setiap yang ia temui. Saat melihat baliho besar-besar, dan Markesot berdecak kagum: “kok ada ya manusia yang berambisi pada kekuasaan yang tidak mengenakkan. Padahal kebaikan kerap dianggap sebagai pencitraan, dan keburukan menjadi bahan caci maki dan olok-olokan.
Menanggapi baliho besar tersebut, Markesot pun menceritakan anekdot Imelda Marcos—mantan ibu Negara Filipina—setelah di-laundry di neraka dan diizinkan memasuki surga, malaikat yang menyambutnya menyalaminya tanpa beranjak dari kursi yang didudukinya. Sehingga malaikat lain menegur atas sikap malaikat penyambut surga yang dinilai diskriminatif terhadap Imelda. Malaikat yang bertahan duduk memberi alasan begini “Ssss! Jangan main-main. Hamba yang satu ini, dulu kalau tidak karena dijatuhkan, tidak akan mau berhenti memerintah. Bahkan sudah menjadi maling pun dia masih kepingin jadi pemerintah lagi. Lha, sekarang ini kalau saya berdiri, jangan-jangan kursi saya nanti dia rebut dan dia duduki…,” (hlm.: 241)
Melewati mal-mal yang berdiri megah dengan lalu lalang muda-mudi mengenakan pakaian seksi, Markesot pun mengoceh sendiri: “Supermarket, Mcdonald’s, Kentucky, Honda, Bellini di-byuk-an ke kampung-kampung kita, tapi supaya adil, warung pecel, celurit, jajanan rondo kemul, bol cino, gledekan, cikar, gludug menduro tak usah dipopulerkan di Kyoto dan Stockholm.”
“Maksud kamu, Sot,” tanyaku tak paham.
“…pokoknya, globalisasi itu edisi berikutnya dari westernisasi, baju baru dari hegemoni kekuatan utara, retorika baru dari keadikuasaan yang menimpa kita semua.” (hlm.: 134)   
Di pinggir jalan, saya melihat orang gila dengan pakaian kusut-masai. Markesot malah memaksa saya menghentikan laju motor dan mengajak saya menyalaminya dan ngobrol-ngobrol sebentar seakan orang gila tersebut kawan akrabnya. Setelah kembali pergi, saya bertanya: “Sot, kamu gak risih, dia kan gila dan kotor begitu.” Markesot menjawab enteng: “Apa kau kira kau yang rutin mandi dua kali sehari menjamin kebersihan dirimu? Untuk apa kamar mandi bagus berkilat-kilat, air melimpah-limpah, pakai pancuran, pakai air hangat atau segala macam, kalau yang bersih akhirnya hanya badan. Sementara jiwanya kacau, kelakuannya balau. Moralnya merusak nasib orang lain. Suka membersihkan rezeki orang lain. Seneng ngrampok. Badannya kelihatan bersih, tapi makanannya kotoran-kotoran!” (hlm.: 45). Orang yang saya anggap gila tersebut, ternyata menurut Markesot jauh lebih waras dan bersih dari orang kebanyakan.
Pokoknya, bergaul dengan Markesot benar-benar mencerahkan. Ia akan mengajak kita melangkah dari tangga materi menuju tangga ruhani. Membimbing kita bagaimana menemukan kebahagiaan hakiki. Menyingkap pandangan mata kita dari hal-hal imanen ke dimensi transenden. Sebagaimana Cak Nun bilang bahwa profesi Markesot adalah tukang bengkel sehingga wajar jika apa pun yang ditemuinya akan ia hadapi dan renungi agar kembali normal dan wajar.
Bagi saya, Markesot adalah guru filsafat hidup, tukang guyon cerdas, kritikus bijak, pribadi yang polos tanpa tendensi. Jika tak percaya bacalah sendiri! Bergaulan dengan Markesot-markesot di sekelilingmu. Wallahu ‘alam. [*]

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »