Komunitas Film Rolling Action; Begini Bikin Film yang Benar

01.36

Setiap Minggu sore, sejumlah anak muda berpakaian hitam-hitam tampak duduk-duduk melingkar di Alun-alun Timur Kota Serang. Mereka bukan jawara, sebab tak tampak kesan jumawa pada wajah-wajahnya, malah sesekali terdengar derai tawa. Juga bukan perguruan silat yang sedang mempelajari jurus-jurus kanuragan sebab tak ada gerakan-gerakan meninju atau menikam. Salah satu yang menandai mereka hanyalah kalimat Roll and Action yang tertera pada kaus keempat orang itu, yang sedari tadi berbicara secara bergantian. Ya, mereka adalah Rolling Action, salah satu komunitas pembuat film yang eksis di Kota Serang.

Berangkat dari keprihatinan terhadap banyaknya anak muda yang memiliki minat untuk terjun dalam bidang perfilman, namun tidak menemukan wadah yang cocok untuk belajar. Sementara itu, dengan bangkitnya perfilman Indonesia, minat para remaja untuk menjadi seorang movie maker tampak semakin tinggi. Sebagian lainnya berambisi untuk menjadi aktris atau actor film.

Bagi yang ingin menjadi aktris atau aktor, saat ini cukup banyak lembaga pendidikan yang membuka kursus acting. Namun, bagi mereka yang ingin menjadi seorang movie maker, agak sulit untuk mendapatkan tempat belajar yang menyenangkan. Kalaupun ada tempat belajar, dapat dipastikan bahwa biayanya cukup mahal. Tak hanya itu, beberapa komunitas film di Banten yang sudah menelurkan beberapa karyanya, dapat dinilai cenderung instan, tanpa melalui proses dan tahapan yang seharusnya dalam membuat film.

Inilah yang menjadi semangat bagi RG Kedung Kaban, Yayan Hadianto, Ade Ridwan, dan Rosihan dalam membentuk sebuah komunitas bernama Rolling Action. Komunitas tersebut dibangun sebagai wadah bagi para movie maker muda yang ingin belajar bagaimana teknik pembuatan film yang baik dan benar berdasarkan keilmuan sinematografi. “Miris melihat potensi anak muda Banten yang tinggi, namun minim wadah untuk mengasah kreativitas mereka,” ungkap RG Kedung Kaban.

Dalam dunia perfilman, keempat orang tersebut memang bukan orang baru. RG Kedung Kaban atau yang biasa dipanggil Igun ini adalah penulis skenario untuk beberapa film televisi di RCTI. Ade Ridwan, selain sebagai movie maker juga salah satu editor video di TV One. Sementara Yayan Hadianto, selain sebagai kameraman, juga pendiri komunitas film pertama di Banten, yaitu Sinten, yang sudah menelurkan beberapa karya berupa film pendek. Pun Rosihan yang sebelumnya sempat bekerja dan menimba ilmu di salah satu Production House sebagai video editor.

“Rolling Action berdiri pada Juli 2012 lalu. Awal sih cuma obrolan iseng di warung kopi. Tapi akhirnya, kami seriusi juga dan mendirikan komunitas ini,” ujar Igun.

Fokus komunitas ini adalah memberikan pelatihan kepada para pelajar dan mahasiswa. Igun menegaskan, keinginan terbesar komunitasnya adalah untuk mengajak generasi muda Banten yang memiliki jiwa kreatif, agar lebih memahami bahwa dalam membuat film bukanlah pekerjaan instan atau serba-cepat. Tidak berarti bahwa hanya dengan memiliki kamera, ada pemain, sudah langsung bisa membuat sebuah film. “Kebetulan di Banten minus Tangerang belum banyak generasi muda yang paham tata cara membuat film, dan menghasilkan film yang baik itu seperti apa,” lanjutnya.

Igun menjelaskan, sebetulnya semua orang bisa membuat film. Tapi membuat film dengan tata cara yang baik sesuai dengan kaidah-kaidah perfilman tidak semuanya mampu. Sebab film merupakan tempat bertemunya banyak unsur seni di luar film itu sendiri, seperti seni peran, seni rupa, musik, sastra, dan seni lainnya. Maka proses pembuatan film menjadi demikian kompleks.

“Artinya, dalam membuat film itu ada ilmunya. Ada persiapan seperti pra-produksi, produksi, dan pasca-produksi. Paling tidak, ada yang harus mengerti bahasa untuk pembuatan skenarionya, dan ada yang harus mengerti sinematografi. Intinya, film yang baik tidak dibuat dengan asal-asalan. Otodidak boleh, tapi tidak boleh berhenti di situ. Harus dibarengi dengan memahami ilmunya. Jangan sampai pernah belajar sekali terus selesai. Untuk itu, Rolling Action di sini menempatkan diri sebagai wadah mengasah diri para anggotanya masing-masing,” jelas Igun.

Hal senada dikatakan Ade Ridwan, salah satu pentolan Rolling Action. Menurutnya, mereka berempat bukan orang yang paling bisa. Namun hanya ingin terus mengasah kreativitas agar ilmu yang mereka miliki tidak pudar, sekaligus hendak berbagi dengan kawan-kawan yang menyukai dunia perfilman. “Terjun ke dunai kreatif seperti ini, bukan berarti kami orang yang paling bisa, tapi untuk mengasah kreativitas agar terus tajam. Dan kami harap begitu juga dengan anak-anak muda lainnya,” imbuhnya.

Terkait industri kreatif, menurutnya, Banten masih tertinggal dibandingkan dengan kota-kota lainnya di Indonesia. Bagi Ade, hal itu disebabkan oleh kurangnya ruang-ruang untuk mengasah kreativitas bagi anak muda di Banten. “Untuk itu, yang harus ditanamkan dalam benak generasi muda adalah iklim kreativitas yang harus terus diasah. Intinya, iklim kreatif dulu yang kita ciptakan. Setelah itu industri kreatif pasti mengikuti,” tandasnya.

Meskipun komunitas ini sudah membuat puluhan film dokumenter dan company profil, baik swasta maupun pemerintah, namun untuk film yang diproduksi atas nama Rolling Action itu sendiri baru sampai pada tahap persiapan pra-produksi. “Dalam tahun ini ada tiga film yang rencananya akan kita garap, yaitu Jawara, Negeri Pasar, dan Bunglon,” tambah Yayan.

Untuk ide ceritanya sendiri, lanjut Yayan, diangkat dari cerita pendek yang ditulis oleh RG Kedung Kaban yang sekaligus akan membuatkan skenarionya. “Karena kerja kolektif, kami bekerja dengan tugas dan dana sesuai kapasitasnya masing-masing. Sehingga masing-masing individu ada peran di situ,” terangnya.
Ada harapan besar yang dicita-citakan Rolling Action, yakni ingin membuat Festival Film Banten secara reguler tiap tahunnya, seperti halnya yang dilakukan di Kota Bandung, Jakarta, dan Surabaya. “Mungkin suatu saat nanti akan kami wujudkan. Sekarang kami akan fokus dulu membuat karya yang bisa dinikmati oleh anak-anak muda sebagai sumber inspirasi dalam berkarya,” tandasnya. [*]

Minhatul Ma’arif

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »