Generasi Melek Politik

16.45
 

SERANG, BANTEN MUDA – Setiap menjelang pesta demokrasi, pemutakhiran Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang memiliki hak suara sebagai penentu kemenangan para wakil rakyat baik di lagislatif maupun eksekutif selalu diverifikasi ulang. Hal itu dilakukan karena DPT cenderung bertambah dari tahun ke tahun, dan kerap menjadi salah satu pemicu permasalahan dalam setiap pemilihan umum jika terjadi kekeliruan dalam pendataan.

Dari daftar yang terus diperbarui tersebut, pada 2009 saja, 40 persen pemilih pemula yang memiliki hak suara itu adalah generasi muda. Namun, ada indikasi bahwa para generasi muda sebagai pemilih pemula tersebut cenderung apatis terhadap pemilihan umum, dan bahkan tak mau peduli dengan hak pilihnya, yang sebenarnya akan sangat menentukan masa depan bangsa, sedikitnya untuk lima tahun setelah masa pemilu. Sikap apatis dan cenderung tidak peduli seperti ini disinyalir karena generasi muda belum melek politik.

Atas dasar itu, Himpunan Mahasiswa Administrasi Negara (Himanura) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Serang Raya (Unsera), menggelar diskusi publik bertajuk “Membangun Generasi Muda yang Melek Politik”, pada Sabtu 15 Juni 2013, di Gedung B Kampus Unsera, dengan menghadirkan pembicara Ali Faisal, S.H., M.H., (Pegiat Banten Muda Community) dan Mahdiduri, S.Pd. (Anggota Panwaslu Kota Serang), yang dimoderatori oleh Ketua Program Studi Ilmu Administrasi Negara Heru Wahyudi, S.IP.

Diskusi yang dimulai dari pukul 9.00 WIB itu dibuka oleh Dekan FISIP Abdul Malik, M.Si., yang sekaligus menyampaikan bahwa kesadaran mahasiswa terhadap dunia politik harus dibentuk melalui diskusi-diskusi yang konstruktif. “Mahasiswa jangan menjadi objek politik, tetapi harus menjadi subjek politik. Dan melalui diskusi gerakan melek politik seperti ini diharapkan agar mahasiswa dapat memahami dunia perpolitikan yang sesungguhnya,” ujar Abdul Malik dalam sambutannya.

Sementara itu, Ali Faisal, sebagai salah satu mantan aktivis mahasiswa, mendorong mahasiswa FISIP Unsera untuk terlibat dengan dunia politik dan menyaran agar generani muda tidak apatis terhadap perpolitikan pada saat ini. Untuk menghindarkan sikap apatis tersebut, menurut Ali Faisal, tentu saja para mahasiswa tidak boleh hanya berdiam diri, melainkan harus terus mempelajari dunia politik baik secara teoretis di ruang-ruang kelas maupun secara praktis di lapangan, mau membaca, berdiskusi terbuka, dan menyikapi perpolitikan yang tengah berlangsung kini secara kritis. “Anak muda tidak boleh ragu untuk memasuki organisasi politik, apalagi sampai takut untuk berbicara tentang politik, tentang partai politik, atau tentang masa depan politik. Sebab politik akan menjadi baik jika dikerjakan dengan ketulusan dan keikhlasan, dan semata-mata demi kepentingan orang banyak,”  kata Ali Faisal bersemangat.

Bahkan, untuk memperbaiki kebijakan-kebijakan pemerintah yang dirasa membebani rakyat, selain terlibat dalam pergerakan oposisi yang mengingatkan pemerintah melalui aksi demonstrasi, misalnya, mahasiswa juga harus menjadi bagian dari perpolitikan pada saat ini. “Masuki ranah-ranah politik itu, dan warnai parlemen Indonesia dengan menjadi bagian di dalamnya,” lanjut Ali Faisal.

Di tengah sedikitnya 40 orang peserta yang menghadiri diskusi publik itu, Mahdiduri, sebagai salah seorang anggota Panitia Pengawas Pemilu (Panwalu), lebih banyak menyoal penyelenggaraan pesta demokrasi yang akan dimulai dengan Pemilukada Kota Serang yang akan berlangsung pada 5 September 2013 mendatang, dan mengharapkan peran aktif mahasiswa dalam berbagai bidang. Namun, menurut Mahdiduri, sebelum turut berperan aktif dalam penyelenggara pemilu atau dunia perpolitikan, mahasiwa harus terlebih dahulu memiliki pemahaman yang memadai terkait dunia politik dan sungguh-sungguh memperlajari. “Karena setelah paham, mahasiswa dapat menentukan pilihannya sendiri; baik untuk terlibat menjadi pelaku yang langsung cebur dalam ranah politik maupun menjadi akademisi sebagai pengamat politik,” katanya.


Di sisi lain, Noni Sukmawati selaku ketua Himanura, berharap dengan digelarnya diskusi publik yang menghadirkan pembicara dari para praktisi ini dapat mendambah wawasan para peserta diskusi, khususnya mahasiswa FISIP Unsera. “Diskusi ini juga sebagai ajang silaturahim agar Himanura lebih maju, para anggotanya solid dan berguna bagi kampus, serta untuk terus memperbaiki kinerja Himanura baik secara internal maupun eksternal,” ujarnya. [Niduparas Erlang/BieM]

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »