Bedah Buku Merawat Kesetiakawanan Sosial

01.39
Soleh Hidayat dan Firman Venayaksa membedah buku Merawat Kesetiakawanan Sosial; Karang Taruna di Bawah Kepemimpinan Andika Hazrumy. Minggu (16/6)


SERANG, BANTEN MUDA – Buku merupakan sebuah karya pemikiran. Lewat buku seseorang bebas menyuarakan ide, kegelisahan, gagasan, juga inspirational stories tentang dirinya maupun lingkungannya sendiri. Hal inilah yang dilakukan Maksis Sakhabi, penulis buku Merawat Kesetiakawanan Sosial; Karang Taruna di Bawah Kepemimpinan Andika Hazrumy.
Bertempat di ballroom Hotel Ratu Bidakara, Serang, buku ini dibedah dalam rangkaian acara Rapat Kerja Daerah III 2013 Karang Taruna Provinsi Banten, Minggu (16/6). Buku ini menggambarkan profil Ketua Karang Taruna Banten, Andika Hazrumy. Buku karya Maksis Sakhabi dan Kusma Supriatna ini diharapkan bisa menjadi pendorong bagi anggota Karang Taruna untuk lebih termotivasi melakukan gerakan di masyarakat.
Hadir dalam acara ini, Rektor Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Soleh Hidayat sebagai pembicara yang didampingi Firman Venayaksa, budayawan sekaligus dosen Untirta.
Soleh Hidayat mengatakan buku tersebut menggambarkan gerakan pemuda ternyata tidak hanya berupa aksi tapi lebih pada upaya intelektual untuk memahami masyarakat. "Gerakan pemuda secara fisik maupun upaya intelektual terangkum dalam buku ini dan kita dapatkan pada sosok Andika Hazrumy. Sosok ini memiliki kriteria sebagai leader," urainya.
Di mata Soleh, kiprah Andika memang layak untuk dituliskan dalam sebuah buku. Mengingat Andika adalah salah satu anak muda dengan pencapaian gemilang di beberapa organisasi dan jabatan di pemerintahan.
Sementara itu, Firman Venayaksa mengkritisi isi buku yang dinilainya kurang lengkap untuk disebut sebagai sebuah biografi. “Sebagai aktivis literasi, saya menyambut baik apapun yang dibukukan. Bagi saya, orang-orang yang menulis dan membukukan gagasan apapun adalah investasi masa depan. Begitupun dengan buku ini, hanya saja, saya tidak menemukan entitas buku biografi di sini.”
Menurut Firman, sebuah buku biografi lazimnya memuat hal-hal yang humanis, merekonstruksi fase kronologis subjek dan menggali momen-momen dramatis dan refletif dalam kehidupan subjek sehingga pembaca bisa belajar dari pengalaman hidupnya,” terang Firman.
Firman menyebut, buku setebal 160 halaman ini lebih tepat disebut sebagai buku propaganda organisasi. “Buku ini lebih mengekspos sejarah, deskripsi kerja, pencapaian organisasi serta manfaat-manfaat tertentu di mana Karang  Taruna di Banten dijabarkan secara mendalam,” imbuhnya. Firman menambahkan, bahwa tidak ada gading yang tidak retak, begitupun dengan sebuah karya dalam bentuk dokumentasi tulisan. “Saya sangat mengapresiasi penulis yang sudah bersusah payah menorehkan artefak peradaban dalam bentuk buku. Percikan intelektual semacam ini harus terus ditumbuhkan di kalangan anak muda sehingga tidak hanya meninggalkan jejak di masa lalu tetapi mendokumentasikannya untuk masa depan.” [*]


Share this

Related Posts

Previous
Next Post »