Wanita dan Bahasa

01.37
Oleh Adek Dwi Oktaviantina

Sobat muda, pada bulan April kita memperingati hari kelahiran seorang pahlawan nasional yaitu Raden Ajeng Kartini. Beliau adalah seorang pahlawan yang merupakan simbol kemandirian dan kebebasan wanita untuk memperoleh kesetaraan dan hak belajar. Sosoknya menginspirasi wanita untuk bangkit dan mau mengejar cita-citanya. Pada masa kini, wanita telah mendapatkan hak sepenuhnya untuk beraktualisasi. Wanita mampu berkarya serta belajar meraih ilmu setinggi-tingginya saat ini.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menghargai pahlawannya. Dengan mempelajari kesejarahan tokoh-tokoh bangsa, kita mampu meningkatkan potensi dan daya saing bangsa. Sebagai generasi muda, kita meneladani pahlawan agar mampu berprestasi lebih baik karena termotivasi dengan perjuangan mereka. Pada bulan April ini, tepatnya pada tanggal 21 April, bangsa Indonesia memperingati hari kelahiran Raden Ajeng Kartini, yang melalui surat-suratnya telah menunjukkan bahwa salah satu tokoh wanita pada masa itu mampu berpikir secara progresif dan benar-benar memikirkan nasib wanita pada zamannya. Surat yang disimpan oleh H.J. Abendanon itu menyuarakan kegelisahannya akan kondisi wanita di sekitarnya yang kurang mendapatkan pelayanan di bidang pendidikan karena ketidaktahuan dan kebodohan. Kesadaran Raden Ajeng Kartini di saat bangsa masih tertidur merupakan langkah awal terhadap kesadaran pendidikan wanita pada masa itu.

Melalui suratnya itulah, Raden Ajeng Kartini membuka horizon pandang bangsa Indonesia yang saat itu masih menganggap bahwa wanita tidak diperbolehkan mencari ilmu dan wanita tidak mampu memikirkan nasibnya sendiri. Sebenarnya, wanita bisa berkreasi dan berjuang dengan kemampuannya meskipun berada di samping laki-laki. Sejajar kedudukannya dan berhak atas kesempatan yang sama. Dalam banyak hal, Raden Ajeng Kartini mengajarkan tentang kemandirian bangsa. Bangsa yang hebat selalu memiliki wanita hebat yang menjadi warga negaranya. Seorang wanita merupakan pendidik utama dalam keluarga. Jika wanita-wanita dalam sebuah negara berpendidikan baik, generasi bangsa yang dicetak akan menjadi generasi penerus yang super. Demikian pula sebaliknya, sebuah  bangsa  akan  sulit maju jika wanita dalam suatu bangsa hanya mengalami pembodohan dan dianggap marjinal. Bangsa Indonesia akan bangkit jika memperhatikan pendidikan wanita sebagai salah satu pendukung kemajuan bangsa.

Wanita menjadi sosok utama dalam pelestarian kebudayaan dan pengembangan pendidikan dalam lingkungan, mulai dari lingkungan terkecil hingga lingkungan nasional. Keberadaan wanita dalam lingkungan kerja dan rumah merupakan bukti nyata bahwa keberadaannya sangat berpengaruh positif dalam pembentukan generasi bangsa. Wanita berperan sebagai ibu, pendidik, penyuluh, pemerhati, serta berbagai peran lainnya yang menjadikannya sosok penting dalam pendidikan.

Pendidikan yang kali pertama diajarkan adalah bahasa. Tanpa bahasa, sebuah ilmu tidak mungkin tersampaikan dengan baik. Bahasa merupakan pintu awal masuknya wawasan dan pengetahuan. Pada anak usia dini, bahasa adalah hal yang kali pertama dipelajari selain gerakan motorik. Pada usia balita, manusia belajar untuk menggerak-gerakkan alat ucap dan menghasilkan bunyi pertamanya. Saat lahir, manusia memang sudah dibekali peranti mahacanggih berupa peranti pemerolehan bahasa atau LAD (Language Acquisition Device) di otaknya. Namun, manusia tidak akan bisa berbahasa tanpa stimulus dari lingkungan. Manusia yang dibesarkan oleh serigala dan anjing hutan, dalam beberapa kasus yang ditemukan, tidak mampu berkomunikasi karena tidak ada stimulus dari lingkungannya.

Seorang ibu sangat berperan penting dalam pemerolehan bahasa pertama untuk anaknya. Oleh karena itu, bahasa yang dikuasai kali pertama oleh anak disebut bahasa ibu. Dalam proses pemerolehan bahasa itu, pelatihan berupa pengulangan-pengulangan bahasa sederhana yang diucapkan oleh ibu sebagai lingkungan awal manusia. Anak, pemilik tabularasa yang masih kosong, mendapatkan pengaruh bahasa dari lingkungan yang memberikan rangsangan bahasa mulai dari bentuk pengucapan termudah, vokal dan konsonan bilabial seperti mama dan baba. Setelah anak memperoleh pengucapan bahasa, anak memperoleh makna bahasa dari kebiasaan-kebiasaan yang ada di lingkungan. Setelah mendapatkan makna, anak menggunakan bahasa dalam kehidupannya untuk berinteraksi.

Dalam proses pemerolehan bahasa itu, ibu menjadi sosok yang sangat berperan dalam pemberian stimulus pada anak. Seorang ibu yang memiliki pengetahuan lebih dalam penguasaan bahasa bisa memberikan rangsangan bahasa yang lebih kaya untuk anaknya. Pada usia puncak perkembangan otaknya, anak mampu menyerap lebih dari satu bahasa. Jika anak dibesarkan dalam lingkungan dwibahasa, anak akan mampu berkomunikasi dengan dwibahasa pula. Kosakata yang dikuasai anak akan bertambah dengan stimulus bahasa yang diberikan oleh ibu. Oleh karena itu, wanita yang berperan sebagai ibu merupakan sosok yang sangat penting dalam pemerolehan bahasa anak.

Perjuangan yang dimulai oleh Raden Ajeng Kartini seharusnya dilanjutkan hingga sekarang. Wanita masa kini seharusnya mampu mengoptimalkan fungsinya sebagai pebelajar dan pengajar bahasa yang lebih baik. Wanita masa kini menguasai banyak wawasan dan pengetahuan berbahasa serta diharapkan memanfaatkan kesempatan yang diperoleh dengan sebaik-baiknya. Wanita yang mampu berbahasa dengan baik diharapkan akan mencetak generasi penerus bangsa yang mampu berbahasa dengan baik dan benar. [*]

Penulis adalah Tenaga Teknis di Kantor Bahasa Provinsi Banten

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »