Waisak di Padumuttara

11.24
Oleh Veronica Gabriella

Pagi ini, ketika angka di kalender bertanggal 25 Mei 2013, Hari Raya Trisuci Waisak 2557 BE diperingati di sejumlah tempat di kawasan Tangerang, salah satunya yang paling meriah adalah penyambutan detik-detik Waisak di Vihara Padumuttara, vihara yang berlokasi di daerah Pasar Lama. Peringatan yang mengusung tema ‘Laksanakanlah Dhamma Sang Buddha Setiap Saat’ tersebut dihadiri lebih dari 2.000 umat Buddhis setiap tahunnya. Para umat tak hanya berasal dari sekitaran Tangerang Raya, tapi juga dari luar Tangerang, seperti Bogor. Pukul 9.00 menjadi waktu dimulainya acara, namun, umat sudah terlihat berdatangan sejak pukul tujuh. Mereka terlihat bersemangat sambil membawa segenggam perlengkapan puja bhakti Waisak berupa sebatang dupa, setangkai bunga sedap malam dan sepotong lilin merah.

Hari Raya Trisuci Waisak sediri adalah peringatan hari besar keagamaan umat Buddha yang jatuh pada hari purnama siddhi di bulan Waisak. Disebut “Trisuci” karena memperingati tiga peristiwa penting dalam kehidupan Buddha Sidharta Gotama, yakni; hari lahirnya Pangeran Siddharta Gotama, hari tercapainya kesempurnaan Pertapa Sidharta Gotama dan hari Buddha Sidharta Gotama telah Parinibbana (wafat). Maka, pada hari raya Trisuci Waisak, para umat Buddha akan berkumpul di vihara, melaksanakan penghormatan dan perenungan (puja bhakti) terhadap sifat-sifat luhur Sang Buddha.

Serangkaian acara untuk puja bhakti pun diadakan dalam menyambut detik-detik Waisak. Di Vihara Padumuttara, acara dibuka dengan Prosesi Altar, yaitu persembahan puja dengan lilin, air, dupa, bunga dan buah-buahan. Setiap perlengkapan puja memiliki arti/ refleksi tersendiri. Lilin berarti menerangkan jalan gelap. Air menggambarkan sifat manusia yang harus rendah hati seperti sifat air yang selalu mengalir ke tempat rendah. Dupa untuk mengharumkan. Bunga merefleksikan hidup yang tidak kekal. Buah-buahan mengartikan bahwa segala perbuatan pasti akan membuahkan hasil buruk/ baik.

“Setiap tahunnya, Padumuttara di bawah yayasan sosial keagamaan Boen Tek Bio, menggelar peringatan Waisak, dengan harapan, umat Buddhis mampu mempertahankan Dhamma yang telah dibabarkan Sang Buddha,” ujar Steven Joe, Ketua Panitia yang mengaku memerlukan waktu tiga bulan penuh untuk mempersiapkan peringatan besar ini. Keunikkan dari peringatan Waisak di Padumuttara ini adalah Pradaksina, penghormatan dengan mengelilingi altar vihara sebanyak tiga kali dengan menempuh jarak 6 km sambil menyalakan dupa dan lilin. Pradaksina dilakukan setelah waktu sudah memasuki detik-detik Waisak.

Setelah mendengar Dhammadesana (ceramah dari bikkhu), para umat diminta bermeditasi sejenak sambil merenungi detik-detik Waisak yang sebentar lagi datang. Tepat pukul 11.24.49, gema lonceng Trisuci Waisak di Vihara Padumuttara dibunyikan sebanyak tiga kali, memberitahu seluruh umat bahwa Waisak sudah tiba. Para umat saling melempar senyum, bersalaman memberikan ucapan selamat Waisak kepada sesama. Alunan lagu Waisak dan pembacaan Paritta Visakhapunamipuja Katha mewarnai Waisak yang baru saja dimulai. Semoga keagungan, makna dan berkah Waisak menyadarkan kita untuk selalu melaksanakan Dhamma Sang Buddha setiap saat dan saling membina kerukunan umat beragama. Selamat Hari Trisuci Waisak! [*]

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »