Suryatati A. Manan: Kalau Tidak Menulis Kita Akan Hilang

21.52
SERANG, BANTEN MUDA – Sebuah kehormatan bagi mahasiswa Administrasi Negara Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) pada khususnya, dan warga Banten pada umumnya yang berkesempatan hadir dalam bedah buku Perempuan Melayu yang Tak Pernah Layu karya Suryatati A. Manan di auditorium Untirta, Selasa (28/5).

Pasalnya, mantan walikota otonom Pangkalpinang ini merupakan pejabat teras yang berprestasi dan pernah meraih beberapa penghargaan dari pemerintah, antara lain tanda kehormatan Satyalencana Karya Satya 20 tahun dari Presiden RI tahun 2004, piagam penghargaan dari Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara tahun 2004,  penghargaan sebagai 60 tokoh terpopuler di Provinsi Riau dari Media Elemen Sa’riah Batam tahun 2005, dan penghargaan atas kepedulian dan jasa yang besar dalam pengembangan karang taruna dari Menteri Sosial RI tahun 2006. Walikota ini pun sukses mengantarkan kota pimpinannya untuk dalam peraihan penghargaan Adipura dari pemerintah serta beberapa kali tercatat di Museum Rekor Indonesia.  Diharapkan, generasi Banten mampu menyerap inspirasi secara langsung, melihat Banten adalah salah satu provinsi di Indonesia yang memberi ruang cukup luas untuk pemimpin perempuan.

Dalam acara bedah bukunya di Untirta, kemarin, Suryatati berbagi pengalaman tentang hidupnya selama bergulat di pemerintahan dengan tema acara Kisah Inspiratif Walikota Administratif Wanita Pertama di Indonesia. Kisah ini pun diurai dalam buku barunya yang terbit April 2013 dan untuk pertama kalinya dibedah di Untirta.

Ipah Erma Jumiati, Peneliti Kajian Wanita FISIP Untirta, sebagai salah satu pembedah mengatakan bahwa Suryatati menjadi istimewa dibanding kepada daerah perempuan lainnya karena beliau mampu menuliskan sejarah dirinya sendiri. Suryatati berhasil meluruskan anggapan negatif yang berkembang di kultur masyarakat Indonesia, bahkan dunia, bahwa perempuan dianggap kaum nomor dua dan dinilai tidak pantas jadi pemimpin. “Buku ini merupakan sebuah biografi yang merekam jejak perempuan yang bisa memotivasi perempuan lainnya untuk turut berprestasi,” ujarnya.

Meski dilatarbelakangi sejarahnya sebagai pejabat pemerintahan, buku yang ditulis Suryatati tidak serta-merta bercerita tentang politik. Layaknya buku autobiografi lainnya, buku ini juga memuat kisah Suryatati sebagai ibu rumah tangga, bahkan cerita masa kecilnya bersama ayah, ibu, dan saudara-saudaranya.

Buku setebal 478 ini mendapat apresiasi positif dari Tias Tatanka, pemilik sekaligus pengelola Pustakaloka Rumah Dunia. “Ibu Tati sukses menceritakan bahwa sukses itu diciptakannya dari kebahagiaannya sendiri. Buku ini sarat akan makna pendidikan, kekeluargaan, dan politik yang dikemas secara apik dengan citarasa Melayu.”

Di akhir acara, Suryatati berpesan bahwa menulis adalah sebuah upaya mengabadikan sejarah agar tidak lupa dan dapat dibagikan kepada orang banyak. “Kalau tidak menulis kita akan hilang!” tegasnya disambut tepuk tangan peserta. (IWN/ ft. FV)




Share this

Related Posts

Previous
Next Post »