Senja di Karangantu

01.41
Matahari membuat garis-garis cahaya di permukaan laut. Ada bangau yang sesekali terbang melintas, begitu putih dan anggun. Angin, yang menciptakan ombak-ombak kecil, menyentuh juga tubuh kecil anak-anak nelayan yang sedang bermain, dua orang lelaki yang sedang mencari kerang, dan dua lelaki lain yang sedang memancing. Sesekali, suara mesin perahu-perahu nelayan yang melintas—untuk pulang ataupun pergi melaut—ikut ambil bagian dalam sore yang menarik ini. Di sini, di Karangantu.
Kepiting-kepiting bercapit ungu memakan lumut-lumut yang menempel di batu-batu. Ukuran kepiting-kepiting itu beragam. Setiap ukuran memiliki kemenarikannya masing-masing. Yang kecil tampak begitu lincah, yang besar sangat menawan. Di bagian lain, bagian yang berupa lumpur (laut sedang surut saat ini), ratusan gelodok terlihat. Mereka bergerak-gerak dengan sirip yang seperti tangan: saling mengejar, kemudian masuk dan keluar permukaan lumpur. Ada garis-garis di permukaan lumpur yang tercipta dari gerakan para gelodok itu.
Tidak banyak yang datang ke sini, sebenarnya, untuk sengaja menghabiskan sore. Hanya warga Karangantu, beberapa lelaki yang memancing, dan sepasang muda-mudi. Lagipula, tempat ini memang tidak pernah ramai karena sebutan ‘objek pariwisata’ belum melekat padanya. Karangantu hanya dikenal sebagai pasar ikan, tempat memancing, atau tempat kapal-kapal transportasi menunggu penumpangnya yang ingin pergi ke pulau-pulau di seberang, yang jaraknya dua sampai tiga jam perjalanan; salah satunya adalah Pulau Tunda. Tetapi, itu tidak berarti bahwa Karangantu tidak memiliki keistimewaan.
Karangantu, sebagai salah satu wilayah bersejarah di Banten, memiliki daya tariknya sendiri, yaitu masa lalunya. Mari kita sedikit bernostalgia, sesuatu yang ingin sekali saya lakukan di ujung jalan kecil yang menjorok ke laut ini. Laut cukup tenang, gunung-gunung yang jauh bisa terlihat dari sini, sinar matahari sudah tidak menyengat, dan kita bisa merasa seperti dibawa ke masa-masa kesultanan; melihat Karangantu yang masih menjadi pelabuhan besar yang masyhur di kalangan lokal dan internasional.
Kapal-kapal besar yang berlayar dari Arab, Persi, Gujarat, Birma, Tiongkok, Perancis, Inggris, China, dan Belanda, memenuhi pelabuhan Karangantu ini. Di dalam kapal-kapal dagang itu, berat barang dagang bisa mencapai 300 ton. Di sini, mereka saling menjual dan membeli barang. Para saudagar lokal sibuk menjual beras dan lada, para saudagar internasional menjual kain, minyak, tembaga, permata, gading, peti berukir, dan lain-lain. Sebagai pelabuhan internasional yang penting, Karangantu telah membuka gerbang perdagangan yang luar biasa potensial di Banten.
Begitu panjang riwayat Karangantu. Sejak kerajaan Islam berdiri, di bawah pimpinan Sunan Maulana Hasanudin, dan pusat kekuasaan terletak di Banten Lama, Karangantu menjadi pelabuhan terpenting di Banten. Dari wajahnya yang dikelilingi tembok kota dan pasar Karangantu yang dibatasi pagar kayu dan bambu pada tahun 1598, mulai berdirinya perumahan-perumahan pada tahun 1725, sampai hanya berupa pelabuhan yang dikelilingi tambak ikan. Karangantu, barangkali, mulai kehilangan dirinya yang besar sejak pendudukan Belanda, dan bergesernya pusat-pusat perdagangan di Banten.
O, masa lalu, apa yang kau sisakan untuk hari ini? Kalau kita melihat Karangantu hari ini, kita bisa mengatakan bahwa semangat perdagangan itu hanya tertinggal sedikit saja. Perdagangan hanya diramaikan oleh penjualan ikan laut dan barang-barang sembako biasa yang bisa ditemui di mana saja. Apalagi, melihat infrastruktur yang sampai saat ini belum signifikan membaik, Karangantu jelas telah kehilangan banyak hal.  
Sementara itu, matahari mulai menyingsing. Garis-garis cahaya yang tadi berwarna cerah, kini mulai mengoranye. Ada sekawanan bangau yang terbang, pulang ke sarang mereka yang entah di mana. Suara mereka beradu dengan air laut yang membentur batu-batu, dan angin mulai terasa kencang menerpa tubuh. Tetapi, laut belum akan pasang. Seorang penjaga parkir memberitahu saya bahwa belakangan laut hanya akan pasang pada pukul sepuluh malam. Saya beranjak ke warung kopi, mengobrol dengan penjaga warung—sepasang suami istri yang sudah tua—dan sepasang suami istri yang tampaknya baru selesai memancing.
“Sebenarnya, Karangantu lumayan menarik kalau jadi objek wisata,” kata sang suami yang baru selesai memancing, ketika kami sudah memulai obrolan terkait Karangantu. Di plastik hitam yang dibawanya, beberapa ekor udang dan ikan kerapu sudah berkawan es batu.
“Tapi dibenerin dulu jalannya,” sambung Nenek penjaga warung.
Gelap malam merambati kami, tempat parkir, laut yang masih bisa kami lihat, dan kapal-kapal nelayan. Beberapa kapal baru akan melaut, yang hanya bermodal lampu utama yang digantung, senter, jala, dan perlengkapan lainnya. Jika kapal nelayan itu sudah jauh, kami hanya bisa melihat kerlip lampu utama itu, yang tampak menyerupai kunang-kunang raksasa yang terbang di atas permukaan laut. Ya, ucap saya dalam hati, Karangantu memang menarik. Andai saja Karangantu benar-benar dirapikan, maka orang-orang akan kembali berdatangan. Bukan tidak mungkin semangat berdagang masyarakat Karangantu akan tumbuh lagi, dan Karangantu—kelak—tak sekadar menjadi tempat pariwisata, tetapi juga titik perekonomian Banten. [*]

Na Lesmana

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »