PUISI: Jamal D. Rahman

01.53
Puisi-Puisi Jamal D. Rahman

ALIFLAMMIM MENETES DARI MATAKU

begini benar tanganku. beralif-alif siang menggapai tak jangkau, berlam-lam malam menderam tak sampai. bermim-mim rindu menjangkau tak gapai. aku pun merunduk: aliflammim tak henti-henti menetes dari mataku...

telah kukirimkan suara angin ke pucuk-pucuk langit yang selalu menderai, sebagai sepi yang akan menyeberangkan tanganku ke jemarimu yang kekal. dengan suara angin itu, tanganku akan berhembus di sela jemarimu. telah kuberangkatkan suara hujan dari pucuk-pucuk daun kemuning berair senja, menuju alamat tanganku yang gemetar pada jemarimu. dengan suara hujan itu akan kukenal suara tanganku sendiri. tapi kini tanganku masih remang. jemarimu masih rembang.

berapa alif lagi tanganku harus mengeja suara angin yang kian remang?
berapa lam lagi tanganku harus mengaji suara hujan yang kian malam?
berapa mim lagi tanganku harus menggapai sepi yang kian rembang?

tapi kau pun tahu: aliflammim yang tak henti-henti menetes dari mataku adalah rindu tanganku pada jemarimu yang kekal....

2011





BERMAIN AIR RINDU DI ATAS KACA

kita bermain air rindu di atas kaca. kita berpegangan. kita bergenggaman. menghangatkan jam dinding yang mendetak-detak di dada. malam pun bangkit dari jendela. tapi, oh, tanganmu tak ada. jemarimu tak ada. maka aku pun menjelma beling, menajamkan waktu agar diam lebih malam dibanding usiaku, meruncingkan detak jam agar malam lebih berdebur dibanding dadaku. dan ketika kita bermain air rindu di atas kaca ini lagi, dari bercak zikirku pada tanganmu yang paling gaib, airmataku akan membiru sendiri….

2012






AKU TAKKAN MENCARIMU LAGI
: Dua Syahadat

di rimba-rimba gelisahku, pencarianku akan terus menggelora. tapi aku takkan mencarimu lagi. sebab, aku tahu kini: engkau bersemayam dalam tubuhku, berdenyut dalam nadiku, mengalir dalam darahku, tumbuh dalam rambutku. bahkan engkau berkobar di tikungan garis tanganku.

tapi setiap kali aku ingin menemuimu, aku tak menemukan diriku sendiri. maka aku pun sibuk mencari diriku sendiri, di gang-gang kotor, di jalan-jalan berdebu, di kampung-kampung kumuh, di desa-desa dan kota-kota. juga di mihrab yang paling sunyi. dan ketika tiba di persimpangan itu, aku pun menangis: aku tak menemukanmu, karena aku kehilangan diriku sendiri....

2012





MERENDAM  API  DI  LAUT

ʢ 1 ʡ

dari rimbun gelap daratan luas yang seringkali terguncang, pada malam keberapa kelak kami akan dikenal? dari pucuk-pucuk tajam gunung merapi yang seringkali meronta, pada ledakan keberapa kami akan disangkal? kami akan dikenal sekaligus disangkal. dikenal lagi disangkal lagi. disangkal lagi dikenal lagi. ya, kami berjalan antara kenal dan sangkal.

dari bentangan curam benua yang tajam, berjuta-juta matahari akan mengubur kami di lantai-lantai laut yang dingin. tapi kami tak akan benar-benar terkubur, sebab setiapkali kami dikubur, langit senantiasa mencatat tangan kami yang gemetar. dan di langit, tangan kami akan kekal.

lewat tangan kami yang dicatat langit itu, kami lahir lagi lahir lagi. tumbuh lagi tumbuh lagi. kami pun mengalir tenang di sungai-sungai, tumbuh hijau di hutan-hutan, merambat diam di lereng-lereng. lalu kami bersumpah: demi roh yang menempa tanah dengan air, kami akan menggaris cakrawala dengan api paling sakral. []


ʢ 2 ʡ

maka, tanah dan air kami adalah nyanyian burung di atas api. mengalun dari dasar sungai yang gemercik tak henti-henti. dari diam batu-batu. dari malam kupu-kupu. dari hijau daun yang mengelus-elus pagi hari. dari dingin hutan yang dalam rembang menari-nari. dan hujan pun menyanyi: fajar telah berbunga, fajar telah berbunga....

dan kami pun berbunga: mendendangkan nyanyian api, meliukkan tarian api, sampai kami jadi sayap-sayap burung yang menerbangkan anak-anak matahari. []


ʢ 3 ʡ

dari manakah tanah hati kami bermula? dari lubuk-lubuk sepi ketika laut tak meninggi, ketika  tanah, hutan, dan gunung tak terendam air yang membuncah dari utara. di sini kami bercocok tanam, di tanah hati kami yang subur ini. kami tanam semua yang bisa kami tanam, tapi bahkan semua tanaman di sini menanam diri sendiri untuk kami. mereka ada untuk kami.  

lalu air membuncah dari utara. kami pun mengembara ke puncak-puncak mimpi kami, meninggalkan sawah, ladang, hutan, sungai, dan gunung-gunung kami yang menggelegakkan api. kami tinggalkan api menggelora direndam air, sekali waktu menciptakan ledakan-ledakan mengerikan yang mengubur impian kami. air dari utara memisahkan daratan jadi berjuta tahun pulau beraroma atlantik yang sepi.

tapi kami tetap di sini, di pucuk-pucuk gunung merapi, di atlantik sungai dan lautan ini, memutar baling-baling hidup kami. []


ʢ 4 ʡ

kami tinggalkan sebagian gunung merapi di bawah laut. lalu kami berangkat menuju puncak-puncak hidup kami yang lain. kami lambaikan kesedihan pada semua yang kami tinggalkan, bukan sebagai bendera perpisahan. sebab, kami tak pernah berpisah: semua yang kami tinggalkan selalu kami bawa dalam darah dan sumsum kami. maka setiap kali kami lambaikan kesedihan, mata kami senantiasa mengibarkan kebahagiaan paling menyala.

lalu kami pun mencari pendakian paling sakral, pendakian yang akan menerbangkan burung-burung menuju keabadian —betapapun keabadian yang fana.

sepanjang pendakian itu, kami seringkali teringat akan gunung merapi yang kami tinggalkan. semuanya tetap menggelegar di mata kami, menggelorakan kaki kami. sebab, kami tinggalkan sekaligus kami bawa semuanya ke mana pun kami mendaki. demikianlah kami terus mendaki, sambil belajar merendam api di laut yang terus meninggi. dan kini kami mengerti: di laut kami, api pun tak akan mati. []




Jamal D. Rahman, menulis puisi, esai, dan kritik sastra. Pemimpin redaksi majalah sastra Horison dan Jurnal Sajak, dan redaktur Jurnal Kritik. Juga dosen sastra UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Alumnus Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Sumenep, Madura, IAIN (kini UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, dan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB-UI). Pernah menjadi ketua Komite Sastra dan Dewan Pekerja Harian Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Mengikuti forum-forum sastra di dalam dan luar negeri, antara lain di Malaysia, Jerman, dan Iran. Menyampaikan makalah dalam berbagai seminar sastra dan kebudayaan. Buku puisinya: Airmata Diam (1993), Reruntuhan Cahaya (2003), Garam-garam Hujan (2004), dan Burn Me with Your Letters (terjemahan Nikmah Sarjono, 2004). Puisi-puisinya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Jerman, Portugal, dan Korea. Menjadi kontributor sejumlah buku, dan (ko)editor lebih dari 25 buku.


Share this

Related Posts

Previous
Next Post »