Pendidikan Berbasis Pesantren

07.57

Keluarga Irvan Hq bersama DR Ir Fatah Sulaiman

Karakter bangsa yang mulai luntur di tengah arus globalisasi dan modernisasi seperti sekarang ini tentunya harus segera diatasi. Anak-anak muda yang hanya dijejali pendidikan dunia saja dikhawatirkan akan melahirkan generasi yang menghalalkan segala cara. Ada secercah harapan ketika pendidikan berbasis pesantren saat ini mulai diminati oleh sebagian besar masyarakat, ini menjadi modal utama bagi bangsa untuk menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas dan berakhlak mulia serta berbudi pekerti yang luhur.

Oleh : Irvan Hq


Bicara dunia pesantren tentu saja saya langsung teringat akan seorang tokoh, cendikiawan serta akademisi lulusan S3 Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Pengendalian Lingkungan di IPB bernama DR. Ir. H. Fatah Sulaiman. Pria kelahiran Serang, 6 Oktober 1968 ini sangat aktif di berbagai kegiatan dan organisasi. Gaya bicaranya yang lugas apa adanya membuat obrolan saya dengan beliau seputar dunia pesantren menjadi menarik dan mencerahkan. Berikut beberapa petikan tanya jawab saya dengan beliau sebagai berikut;

Nampaknya semakin sibuk saja pak, bisa diceritakan sedikit aktifitas yang dilakukan Bapak saat ini?
Alhamdulillah…, sampai saat ini saya mendapatkan amanah sebagai Wakil Rektor Bidang Kerjasama, Perencanaan dan Sistem Informasi di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, sebagai Ketua Umum Yayasan Nurul Islam di Kota Serang yang melayani bidang Pendidikan, Pesantren dan Panti Sosial, sebagai Pengurus Dewan Kesejahteraan Masjid baik Masjid Kampus Syeikh Nawawi AlBantani maupun Masjid Raya AlBantani. Juga disibukkan oleh aktifitas sebagai pengurus di Organisasi sosial Kemasyarakatan sebagai, Sekretaris Jenderal Forum Silaturrahim Pondok Pesantren (FSPP) Provinsi Banten, Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Banten, Sekretaris Dewan Pakar ICMI Banten, dll.  Saya juga masih menyempatkan diri menulis, mengisi acara diskusi ilmiah dan menjadi nara sumber di berbagai kegiatan ilmiah lainnya, termasuk wawancara dengan tabloid Banten Muda sekarang ini.

Sudah berapa lama Bapak berkecimpung di Forum Silaturrahim Pondok Pesantren (FSPP) Provinsi Banten. Dan bagaimana Bapak bisa bergabung disana?
Saya bergabung sejak organisasi ini didirikan tepatnya pada 22 Desember 2002, bahkan sejak  proses diskusi dalam menuangkan gagasan 2 bulan sebelumnya. Ceritanya pada waktu itu beberapa kyai pimpinan pondok pesantren penggagas  ingin memiliki wadah organisasi tempat berkumpulnya kyai dan pengelola pondok pesantren, dimulai saat pertemuan keliling dari pondok ke pondok, namun gagasan itu belum dituangkan dalam dokumen tertulis dikarenakan kesibukan dan berbagai hal. Kemudian saya diminta membantu untuk merumuskan dokumen tertulis draft Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) FSPP Banten sebagai bahan  awal yang akan dijadikan materi pada Musyawarah Daerah I FSPP Banten. Alhamdulillah,  berbekal pengalaman organisasi sewaktu saya masih kuliah di Teknik Gas Petrokimia Universitas Indonesia dimana saya sempat aktif di Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) UI dan Pejabat Ketua Ikatan Mahasiswa Gas Petrokimia, draft AD/ART FSPP Banten ini, dapat saya selesaikan dan menjadi bahan diskusi para Kyai untuk dimatangkan. Dan saat itu juga saya ditunjuk menjadi ketua panitia MUSDA I FSPP Banten dengan ketua SC nya  KH. Sadeli Karim, Lc.  Tepat pada tanggal 22 Desember 2002, MUSDA I FSPP Banten dilaksanakan, yang acara pembukaannya  oleh Menteri Agama RI, KH. Said Aqil Munawar, MA dan penutupannya oleh Gubernur Banten pertama H.Djoko Munandar (alm). Melalui MUSDA I  itulah,  disepakati berdirinya wadah organisasi tempat berhimpunnya kyai pimpinan dan para pengelola Pondok Pesantren Se Provinsi Banten, baik ponpes salafi, modern maupun gabungannya yang tergabung dalam FSPP Banten. Organisasi ini bersifat independen, yang anggotanya memiliki latar belakang beragam, dengan tujuan memperkokoh silaturrahim antar pimpinan pondok pesantren se Banten dan ukhuwah islamiyah, dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan dan pemberdayaan pondok pesantren di Provinsi Banten. Kepengurusan hasil  MUSDA I ini dipimpin oleh KH. Sulaiman Ma’ruf pimpinan ponpes Daar el Istiqomah Serang, Sekretaris Umum KH. A. Maimun A’lie, MA, Pimpinan ponpes Subulussalaam Kresek Tangerang, dan saya sendiri diamanati sebagai Ketua Harian FSPP Banten.

Berapa banyak pesantren yang sudah bergabung di FSPP ini pak? Kalo belum semua, apa yang menjadi kendalanya?
Program awal dari kepengurusan FSPP Banten salah satunya adalah menyusun data base pesantren yang ada di Provinsi Banten, disamping program utama sosialisasi dan penguatan eksistensi organisasi, dengan target terbentuknya FSPP sampai tingkat kecamatan se Provinsi Banten, serta program silaturahmi rutin melalui pengajian keliling dari pesantren ke pesantren secara bergiliran dari Kabupaten/Kota yang satu ke Kabupaten/Kota lain di wilayah Provinsi Banten. Alhamdulillah.. dari program perdana penyusunan database pesantren ini,  berhasil diidentifikasi dan diresponse formulir isian data yang menjadi data base di FSPP Banten saat itu sejumlah 1312 pondok pesantren baik salafi, modern, maupun gabungannya, dengan informasi kondisi pesantren yang ada di dalamnya. Data base pesantren yang selesai pada akhir tahun 2005 inilah,  yang kami komunikasikan ke Pemerintah Provinsi Banten sebagai dasar penyusunan program kemitraan strategis untuk pemberdayaan dan peningkatan kualitas pendidikan pesantren. Sedangkan data terakhir berdasarkan pendataan  yang dilakukan kerjasama Pemrov Banten dan BPS Banten  pada akhir tahun 2011, terdata sebanyak 4956 Pondok Pesantren di Provinsi Banten. Tentu saja masih ada kendala  dalam program pendataan ini, terutama terkait dengan dana yang masih terbatas terkait hal ini, kemudian medan geografis yang cukup sulit dan variatif di peloksok daerah terpencil, yang di dalamnya juga ada komunitas pesantren yang sulit diakses, dan ada juga penolakan dari Kyai pimpinan ponpes untuk pengisian database ini dengan alasan tertentu. Saya yakin jumlah pesantren saat ini  terus bertambah, dan secara bertahap database pesantren akan terus diupayakan untuk diupdate.

Luar biasa banyak juga ya pak, kemudian sejauhmana peran FSPP terhadap perkembangan dunia pesantren di Banten?
Peran FSPP Banten dirasakan sangat strategis dan berpengaruh positip bagi perkembangan dunia pesantren di Banten, minimal sebagai salah satu media silaturrahim yang sangat efektif bagi para pengelola/pimpinan pondok pesantren, sekaligus juga sebagai mitra strategis pemerintah Provinsi Banten terkait pemberdayaan dan peningkatan kualitas pendidikan pesantren dan peran pemberdayaan SDM Banten yang berkarakter ahlakul karimah dan memiliki ketahanan mental spiritual yang sangat dibutuhkan, untuk bersama membangun Banten, mewujudkan kesejahteraan masyarakat Banten berlandaskan iman Takwa. Beberapa Program Kemitraan strtategis telah dilaksanakan bukan  hanya dengan Pemrov Banten tapi juga dengan lembaga lain yang tidak mengikat,  dalam program kemitraan bagi peningkatan kualitas mutu sarana dan pendidikan pesantren seperti, Program fasilitasi sanitasi dan sarana air bersih bagi ponpes salafi bekerja sama dengan Islamic Relief dan Asean Moslem Charity Foundation (AMCF), pembangunan Pos Kesehatan Pesantren untuk sekitar 32 Ponpes,  bermitra dengan Kementerian Kesehatan RI, bantuan pembangunan Musholla dan Mesjid Pesantren bermitra dengan Rabithah Alam Islamy dan AMCF, Pelatihan Eco Pesantren bermitra dengan Kemen LH dan BPPT, dan masih banyak lagi program lainnya, termasuk bantuan stimulant guru ngaji secara bertahap dari APBD Banten.


Kegiatan apa saja yang sudah dilakukan FSPP Banten?
Selama kurun waktu 11 tahun sejak berdiri,  sudah banyak yang dilakukan FSPP Banten untuk penguatan pemberdayaan dan mutu pesantren seperti berbagai ragam pelatihan bagi pengelola pondok pesantren, seperti ICT, Manajemen Ponpes, Akreditasi mutu madrasah di lingkungan Ponpes, agenda rutin silaturahmi ajang pentas seni dan olahraga santri POSPEDA I, II, III dan IV, yang merupakan ajang seleksi untuk kegiatan Pekan Olahraga dan seni Pesantren Nasional (POSPENAS), promosi dan publikasi pondok pesantren Banten, lewat Media Massa maupun elektronik seperti tayangan Pondokku Istanaku yang memperkenalkan kehidupan pesantren di Banten, disamping pengajian dan diskusi kajian rutin pimpinan ponpes di sekretariat FSPP Banten maupun kajian bergilir serta kunjungan ke FSPP Kab/Kota se Provinsi Banten, dll.

Kalau dulu orang tua bangga jika anak-anaknya bisa masuk pesantren, apalagi pesantren yg terkenal dengan guru yang kesohor. Apa betul sekarang ini kebanggaan tersebut mulai pudar? menurut Bapak kenapa hal ini bisa terjadi?
Saya kira, antusiasme orang tua dan minat peserta didik, untuk memasuki  pendidikan pesantren saat ini,  sama besarnya dengan keminatan ke sekolah umum, bahkan akhir-akhir ini kecenderungan kalangan menengah ke atas terhadap pola pendidikan pesantren untuk anak-anaknya mengalami peningkatan yang signifikan. Sehingga bisa dicermati bersama,  saat ini bermunculan pola pendidikan yang mengadopsi pendidikan pesantren dalam bentuk Sekolah Dasar Islam Terpadu, SMP Islam Terpadu, SMA Islam terpadu atau Boarding school, full days School dan sejenisnya, yang menjadi pilihan orang tua modern untuk menyekolahkan putera-puterinya. FSPP Banten juga memberikan informasi dan diskusi serta pemahaman kepada pimpinan pondok pesantren bahwa,  perlu penyesuaian manajemen dan perlu fasilitasi perangkat pendidikan pondok pesantren,  yang menyesuaikan dengan dinamika perkembangan dunia modern saat ini, dengan tetap tidak menghilangkan prinsip-prinsip dasar pengajaran pemahaman Tafaqquh Fiiddin dan Ahlakul Kariimah dalam proses pendidikan di Pesantren. Jadi tidak benar,  kalau masyarakat saat ini sudah pudar minatnya terhadap pendidikan pesantren.  Fenomena terakhir,  saya dapat informasi , sudah mulai banyak pesantren yang menolak calon santri yang ikut test, karena keterbatasan daya tampung sarana pesantrennya

Ini informasi yang menggembirakan kita semua, karena ironisnya di sekolah-sekolah umum nampaknya ada kecenderungan anak-anak hanya dijejali dengan pendidikan dunia saja, sehingga dikhawatirkan di masa yang akan datang akan lahir generasi yang menghalalkan segala cara. Bagaimana menurut Bapak?
Hal ini juga menjadi keprihatinan saya. Saya kira,  perlu kesadaran kolektif dari pemangku kepentingan dunia pendidikan, untuk  mereformulasi  penguatan substansi kurikulum terkait dengan penguatan karakter ahlakul kariimah, moral anak didik,  dan memberikan porsi yang cukup untuk penguatan fondasi nilai-nilai keagamaan,  untuk bekal kehidupan bermasyarakat dan berbangsa bagi anak-anak didik kita, materi pendidikan karakter berbasis ahlakul kariimah serta fondasi nilai-nilai keagamaan, harus menjadi bagian penting muatan kurikulum  di sekolah pendidikan umum.

Karakter bangsa yang mulai luntur di tengah arus globalisasi dan modernisasi seperti sekarang ini tentunya harus segera diatasi. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah melalui sistem pendidikan berbasisi pesantren. Bagaimana upaya FSPP merealisasikan hal ini?
FSPP Banten juga mendorong penguatan dan tumbuhnya nilai-nilai kebangsaan dan nasionalisme di kalangan santri, melalui upaya-upaya pemberian pemahaman bahwa islam sebagai agama yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan yang universal dan menjunjung tinggi nilai-nilai kedamaian sebagai agama yang harus menjadi rahmat bagi seluruh ummat di  alam raya ini, termasuk menjaga nilai-nilai ukhuwah persatuan dalam bermasyarakat dan berbangsa. Berbagai program telah digagas terkait hal ini, seperti Dialog kebangsaan bagi komunitas pesantren bekerjasama dengan Kementerian Dalam Negeri RI,  Rapat Akbar Wawasan Kebangsaaan bermitra dengan Kesbangpol Provinsi Banten, bekerjasama dengan Korem Maulana Yusup,  menggagas Program Pendidikan Bela Negara untuk Santri, Kemah Santri dan Pramuka Santri bekerjasama dengan Kopasus dll, serta diskusi dan kajian khusus Wawasan Kebangsaan dan Ketatanegaraan. Saya optimis ke depan akan lahir Jenderal-Jenderal yang menduduki posisi strategis yang siap menjaga keutuhan NKRI,  yang juga merupakan alumni dari Pondok Pesantren.

Amin. Satu hal yang sering menggangu saya ketika menyaksikan film-film yang berlatar belakang  pesantren, sering digambarkan bahwa Pesantren masih bersikap ekslusif dan dianggap belum mampu berdialog dengan kebudayaan modern serta secara aktif mengisinya dengan substansi dan nuansa-nuansa islami. Apakah menurut Bapak ini betul dan apakah pandangan ini harus diperbaiki? Bagaimana caranya?
Stereotip tentang pendidikan pesantren yang eksklusif yang digambarkan media film,  tentu saja tidak sepenuhnya benar. Banyak fakta-fakta menarik bahwa alumni pesantren yang menjadi tokoh pergerakan nasional baik sebelum kemerdekaan maupun pasca kemerdekaan sampai di era pembangunan dan reformasi saat ini,  begitu sangat inklusif , sangat terbuka, humanis, demokratis dan moderat. Sebutlah nama-nama besar, Brigjen Syam’un di Banten, KH. Hasyim Asy’arie pendiri NU, KH. Wahid Hasyim, KH. Abdurrahman Wahid, M. Natsir, Moch. Roem, Nurkholis Majid dan masih banyak lagi. Bahkan saat ini KH. Hasyim Muzadi dan KH.  Din Syamsudin menjadi tokoh lintas agama dunia, yang kesemuanya merupakan alumni pesantren. Jadi saya Kira,  Penggiat Pendidikan Pesantren, harus tetap istiqomah berjuang dan membuktikan karya nyata bagi bangsa ini, melalui transformasi prinsip-prinsip penting pendidikan pesantren yaitu membangun peserta didik yang memiliki nilai-nilai dan jiwa, kesederhanaan, kemandirian, kebebasan berfikir, kebersamaan, tafaqquh fid diin dan Keteladanan Ahlakul Kariimah.

Baiklah pak, mudah-mudahan apa yang di cita-citakan FSPP yang tentunya menjadi harapan kita semua dapat segera terwujud. Terima kasih atas waktunya, apa ada pesan dan kesan yang ingin Bapak sampaikan khususnya untuk generasi anak muda Banten?
Sama-sama, terima kasih kembali. Khusus bagi generasi muda Banten, mari kita terus upayakan secara maksimal, belajar tanpa henti untuk memiliki kualitas pemahaman nilai-nilai keagamaan kita, khususnya Islam sebagai agama mayoritas penduduk di Banten, belajar terus nilai-nilai keteladanan ahlakul kariimah Rasulullah Muhammad SAW, di sela-sela kesibukan aktifitas anak-anak muda berkreasi, menimba ilmu dan kompetensi yang dibutuhkan di era modern ini.  Baca dan pahami AlQuran,  kalau memungkinkan bisa hafal 30 juz, atau minimal telah mengkhatamkan AlQuran dan membaca maknanya, agar dapat menuntun para generasi muda Banten,  untuk tetap berhati - hati dalam menjalani dinamika kehidupan yang semakin kompleks tantangan dan godaannya di masa datang.  Sehingga Insya allah akan lahir generasi emas, yang hidupnya senantiasa berharap ridho Allah SWT, selamat dunia Akhirat. Amiin…wallahu’alam. Sekali lagi terima terima kasih, salam untuk anak-anak Banten Muda Community.

***

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »