Orang Indonesia di Dubai

16.27

Seorang anak berkebangsaan China asyik memperhatikan pemandangan dari jendela Metro Train.

Apa kabar anak muda Banten? Ke mana Anda akan pergi beberapa tahun ke depan? Ke mana Anda ingin bertualang? Jepang, China, London, atau Kanada? Sekadar untuk berkunjung atau berniat menetap, barangkali. Nah, saya kira tidak ada yang tidak mungkin selama kita mau berusaha, bekerja keras dan bekerja pintar.

Saya pernah berani bercita-cita hidup di luar negara, saat masih terlunta-lunta di jalanan Ciceri, Menes, dan di Komunitas Sastra dan Teater di Serang, Banten. Setelah berusaha dan bekerja keras kurang dari setahun, cita-cita itu pun tercapai tanpa mengandalkan selembar ijazah.

Dubai, negara bagian Uni Emirat Arab, tempat berdiri-tegaknya menara tertinggi di dunia: Burj Khalifa. Melihat hamparan bumi sejauh mata memandang dari puncak Burj Khalifa menjadi salah satu menu wajib apabila Anda berkunjung ke Dubai. Tiket masuk Burj Khalifa dengan reservasi sebesar tiga ratus ribu rupiah, tapi jika Anda langsung membeli tiket di lokasi harganya sampai satu juta rupiah.

Dulu, ketika Indonesia sudah merdeka, penduduk Dubai masih hidup di tenda-tenda. Mereka hanya punya pasir dan angin. Kalaupun ada yang berkilah bahwa kemajuan Uni Emirat karena mereka punya minyak, sebenarnya minyak itu baru ditemukan sekitar 1970-an. Sementara, Indonesia mempunyai kekayaan yang lebih jauh dari itu: minyak, emas, batu bara, bouksit yang tersebar dari sabang sampai merauke. Sayangnya, potensi tanah air kita tersumbat karena ulah pengelola negara yang tidak becus melaksanakan amanat. 

Arsitektur bangunan, infrastruktur jalan, sarana transportasi yang memberikan keamanan dan kenyamanan bagi penduduknya, membuat banyak penduduk dunia betah tinggal bertahun-tahun di Dubai. Sedikitnya, 70.000 warga negara Indonesia telah menetap di sini. Mereka tersebar di berbagai bidang profesi, mulai dari pekerja domestik, hotelier, perusahaan minyak, advertising, dan sebagainya.

Ada banyak hal dilakukan para perantau dari Indonesia itu untuk mengobati kerinduannya kepada tanah air. Seperti menghadiri upacara bendera di konsulat, mengikuti pengajian sesama WNI, barbeque di taman atau pantai, bahkan melebur dalam dentuman klub malam khusus bagi warga negara Indonesia—walau biasanya ada saja warga negara asing lainnya, tapi hanya beberapa gelintir.

Jadi bagaimana? Negara mana yang ingin anda kunjungi dan resapi atmosfernya?

Burj Khalifa diambil dari salah satu sudut Dubai Mall, Shopping Mall terbesar di dunia.
Pemandangan malam di Abu dhabi.

Salah satu perayaan kemerdekaan di konsulat jenderal RI yang terletak di wilayah Al Ghubaiba

Majlis Taklim IMA (Ikatan Muslim Indonesia).

Pesta kembang api Burj Al Arab, hotel berbintang tujuh. Di hotel ini, Chef Bakery pembuat croissant yang lezat dan terkenal, sekaligus menjadi pemimpinnya adalah orang Indonesia.



Teks dan Foto: De Sucitra (orok Menes, Pandeglang, Banten, yang kini bermukin di Dubai, Uni Emirat Arab)



Share this

Related Posts

Previous
Next Post »