CERPEN - Orang China Naik Langit

01.46


Orang China Naik Langit
Cerpen Sunlie Thomas Alexander

Aku tak tahu bagaimana persisnya cerita pendek ini bermula—atau tepatnya perkara apa yang melatarinya. Kedua orang itu (ibu mertua dan kakak tertua suamiku yang kami panggil Thai Pak) sedang bertengkar sengit di dapur, ketika aku pulang dari mengantar anak bungsuku ke sekolah. Dan seperti biasa suara mereka cukup tinggi—melambung melewati tembok-tembok ruko di kiri-kanan—sehingga jelas terdengar oleh semua tetangga. Tak ada yang peduli. Keduanya, ibu dan anak, sudah terlalu sering bertengkar. Nyaris dua-tiga hari sekali. Selalu ada saja yang mereka ributkan. Dari hal-hal sepele, persoalan-persoalan lama yang itu-itu juga, hingga terkadang masalah-masalah yang tak terduga oleh siapa pun.
“Besok aku tak mau datang lagi!” suara Thai Pak menggeram, terdengar begitu gusar.
“Memang siapa yang suruh kau ke sini? Aku tak butuh anak durhaka seperti kau!” teriak ibu mertuaku setengah kalap. Aku tersenyum kecut. Ah, besok pagi mereka pasti sudah berbaikan lagi, pikirku geli. Percuma dilerai, bisa-bisa ikut jadi sasaran kemarahan. Maka aku memilih pergi ke sumur di belakang dapur; ada setumpuk pakaian kotor yang harus kucuci. Tapi tak urung aku menghela napas, ketika mendengar bunyi gedebuk keras meja ditepuk menyusul sederet kata-kata cacian.
Setiap kali bertengkar, ibu mertuaku selalu memaki-maki putra sulungnya itu sebagai anak durhaka yang tidak berbakti, kualat pada leluhur, atau bukan lelaki China yang bisa dibanggakan. Bukan lantaran anaknya itu tidak memperhatikannya atau memberinya uang. Penyebabnya aku kira, karena Thai Pak tak pernah berkenan memegang dupa lagi. Sejak masuk Kristen Protestan kurang lebih dua tahun silam, ia bukan saja enggan menyembahyangi arwah mendiang bapak, kakek-nenek, dan para leluhur kami, bahkan melarang keras anak-anaknya makan makanan bekas sesajen sembahyang.
“Jangan pernah menyentuh makanan berhala, kau bisa dirasuki setan!” katanya mengancam putri bungsunya yang baru duduk di bangku kelas tujuh. Semua anaknya—empat orang putri, termasuk putri sulung yang sudah menikah—patuh, kecuali Kim Fa, putri keduanya yang baru menamatkan SMK (yang walau ikut berpindah agama seperti kedua orangtuanya, namun selalu ikut kami berziarah ke kubur kakeknya setiap hari raya Chin Min[1]).
Tentu, ketika kata-kata itu terdengar oleh ibu, beliau mengamuk besar. “Anak tak tahu diuntung! Beruntung tidak semua anakku seperti kau! Bisa-bisa setelah mati nanti aku jadi arwah penasaran karena tak kau sembahyangi!” umpat ibu mertuaku dengan wajah merah padam.
“Jangan kuatir, Ma. Aku akan kirim seekor babi panggang yang paling besar ke kuburmu nanti!” Begitulah tabiat Thai Pak, tak mau kalah, selalu membantah dan sering kali kurang ajar. Namun kukira sifat pemberang dan keras kepalanya itu adalah warisan dari sang ibu sendiri. Berbeda sekali dengan saudara-saudaranya yang lain yang lebih mirip mendiang bapak mertuaku, terutama suamiku yang pendiam dan tak suka terlibat masalah.
“Anak itu,” gerutu ibu, “benar-benar telah dicuci otaknya oleh keluarga Fa Liung dan para pendeta! Dulu dia tak sekualat ini, sampai-sampai tak mau sembahyangi arwah bapaknya sendiri!” Fa Liung yang dimaksud adalah teman lama Thai Pak, dan setiap orang Tionghoa di kota kecil ini tahu kalau ia seorang aktivis gereja. Begitulah.
Sementara itu bagi Thai Pak, ibunya adalah nyonya tua kolot yang ceriwis dan sok berkuasa. Ia menyebut sang ibu sebagai Ibu Suri Dinasti Qing. Toh sehabis bertengkar sengit, keesokan paginya seperti biasa, ia akan datang lagi ke rumah membawakan bubur ayam untuk sarapan ibunya. Dan sang ibu sudah memaafkan anaknya seolah-olah tak pernah terjadi percekcokan di antara mereka.
***
Ya, Thai Pak memang tampak sedikit beringasan. Namun demikian, semua orang yang mengenalnya lebih baik, tahu kalau ia sebetulnya memiliki hati yang lembut, cepat tersentuh, dan ringan tangan. Meskipun mendidik anak-anaknya dengan keras, konon—menurut Nyun Pak-Me[2] (sang istri)—seumur-umur tak pernah sekali pun Thai Pak memukul anak-istrinya.
Aku pikir, hanya karena penampilannya saja, dengan badan tinggi besar dan wajah berewokan, ia tampak kasar. Berbeda dengan suamiku yang selalu berpenampilan rapi karena cuma duduk-duduk di belakang meja kasir toko pakaian, Thai Pak sehari-hari selalu mengenakan celana pendek selutut dan sehelai singlet butut dekil—kadang bebercak darah. Maklumlah, pekerjaannya berjualan daging babi di pasar.
Dan kendati datang ke ruko setiap pagi, jarang Thai Pak bercengkrama dengan kami. Hanya berbicara seperlunya. Biasanya ia langsung nyelonong ke belakang toko yang menjadi tempat tinggal kami sekeluarga (beserta lantai atas) untuk menemui ibunya: meletakkan bubur ayam di meja dapur. Berbincang-bincang sebentar jika tak bertengkar sengit, sebelum akhirnya ia berangkat lagi ke pasar babi.
Hubungan Thai Pak dengan suamiku memang agak aneh dan tampak serba-canggung. Syahdan hubungan kakak-beradik yang kikuk itu mesti dirujuk jauh ke belakang, ketika suamiku masih kanak-kanak. Tak terlalu penting untuk diceritakan di sini, hanya sekadar info dari apa yang pernah kudengar: ketika berumur delapan tahun, suamiku pernah nyaris mati tenggelam saat diajak Thai Pak yang beranjak remaja mandi di kolong[3]. Beruntung saat itu ada orang yang sedang mancing menolongnya. Thai Pak sendiri dihajar bapaknya dengan rotan hingga melolong. Sejak itu keduanya seolah saling menjaga jarak.
Namun Thai Pak-lah yang bersuara paling keras membela adik bungsunya ini ketika dulu ibu mertuaku menentang hubungan kami. Barangkali Thai Pak benar, sang ibu terlalu mengatur kehidupan kelima anaknya (seorang perempuan: Fa Thai Ku[4]), termasuk masalah jodoh. Tiga dari menantunya merupakan hasil perjodohannya, kecuali aku dan Nyun Pak-Me. Ya, beliau tentunya juga tak segan turut campur dalam soal keyakinan!
***
“Bulanmu itu sudah diberaki sama orang Amerika, tahu!” tukas Thai Pak dengan wajah sinis ketika ibunya menggelar sesajen di pekarangan belakang rumah untuk dewi bulan Song Ngo saat perayaan Pat Ngiat Pan[5] tahun lalu.
Ah, bagi Thai Pak, manusia pertama yang menginjakkan kakinya di bulan tentu saja astronaut Amerika, Neil Armstrong. Sedangkan ibu mertuaku begitu yakin kalau Song Ngo, perempuan cantik di zaman Dinasti Hsia itulah yang pertama kali mendarat di bulan setelah menelan sejenis pil herbal.
“Aku juga tak percaya Yesusmu bisa melangit! Sun Go Kong cuma perlu bersalto tiga kali untuk sampai ke kahyangan! Kalau perkara menghidupkan orang mati, Dewi Kwan Im dan banyak dewa lain juga bisa melakukannya,” jawab sang ibu dengan nada melengking.
Dari lima orang anaknya itu hanyalah suamiku yang setia menemaninya ke kelenteng pada setiap tanggal 1 dan 15 kalender lunar. Si bungsu kesayangan yang justru tamatan “sekolah pastor”. Fa Thai Ku, Hiung Pak, dan Bun Pak, semuanya memilih dibaptis di gereja Katolik saat mereka beranjak remaja. Sang ibu tentu meradang, tapi akhirnya menyerah setelah tahu pastor yang berkebangsaan Belanda tak pernah melarang anak-anaknya menyembahyangi leluhur. Pastor itu sering berkunjung ke rumah untuk memberikan pelajaran agama kepada ketiga anaknya dan suatu hari menawarinya ikut dibaptis.
Apa jawaban ibu mertuaku? Dengan lantang ia menyahut: “Aku tak akan menyembah dewa orang Barat yang berwajah sedih! Bagaimana dewamu yang terpaku tak berdaya dan digantung di dinding itu bisa membantu manusia jika matinya tragis begitu? Dewa harus berwajah gembira agar bisa berbagi sukacita dan membebaskan manusia dari penderitaan!”
Dan sejak itu sang pastor tak pernah lagi menyinggung-nyinggung soal keselamatan dan penebusan di hadapannya.
Thai Pak sendiri, meskipun suka ikut menyimak adik-adiknya menghafal doa Ban Fuk Malia[6] dan Cai Thian Ngo Ten Fu Ca[7], waktu itu enggan dipermandikan. “Aku tak mau melarikan diri pada agama!” katanya tegas. Itu puluhan tahun silam, ketika bapak mertuaku belum punya ruko dan masih berjualan kain keliling.
Walau agak cemas pada jawaban Thai Pak, ibu mertuaku ketika itu diam-diam merasa gembira juga mendengar si sulung tidak tertarik masuk Katolik seperti adik-adiknya. Dan kecemasan itu kemudian menjadi beralasan: betapa Thai Pak sering tampak bersungut-sungut setiap kali membakar dupa untuk menyembahyangi arwah kakek-neneknya.
“Waktu masih hidup belum tentu kalian jamu mereka dengan hidangan semewah sesajen ini!” begitulah gerutu Thai Pak yang masih bersekolah di Tiong Hoa Hwee Koan[8]—kenang suamiku. Ujung-ujungnya ia dengan tegas menolak bersembahyang di kelenteng. Tak ada Tuhan atau dewa-dewa maupun hantu lagi di dunia ini. Agama benar-benar berbahaya seperti opium yang dibawa orang Inggris untuk menghancurkan China dari dalam. Hanyalah semata-mata menghormati tradisi dan ajaran Kong Fu Chu, ia masih berkenan memegang dupa di depan altar kakek-neneknya.
“Orang China sudah terlalu lama dijangkiti penyakit takhayul akut! Tak heran kalau kita diolok-olok orang Barat dan Jepang sebagai pesakitan dari Asia Timur, dipermalukan dan diinjak-injak!”
Demikianlah, seperti kebanyakan pemuda Tionghoa sebayanya, gerakan nasionalisme China yang meluas ke seluruh dunia sejak jauh hari sebelum Perang Pasifik telah membuat Thai Pak jadi pemuja rasionalitas. Toh, tahun itu juga (1963) ia menamatkan sekolahnya sebagai salah seorang lulusan terbaik. Dan sang bapak, yang masih terbawa semangat Revolusi 1911[9], memamerkan ijazah anaknya kepada setiap orang yang beliau temui dengan muka berseri-seri.
Karena itu, kami—dan saudara-saudara lain—sungguh tak habis pikir ketika Thai Pak dan anak-istrinya tiba-tiba memutuskan menjadi penganut Kristen Protestan kurang lebih dua tahun silam. Tanpa rambu-rambu sebelumnya, mendadak ‘buah pendidikan sekularisasi China ala Tiong Hoa Hwee Koan’ ini setiap malam Minggu atau Minggu pagi tampak rajin mengepit Alkitab ke gereja.
“Alleluya, terpujilah nama Fa Liung!” olok Hiung Pak yang sedari dulu gemar berkelakar, tergelak. Ibu mertuaku uring-uringan dan akhirnya meledak ketika pada perayaan Chit Ngiat Pan[10], putra sulungnya itu (beserta sang istri) enggan membakar dupa atau menjura di depan kertas-kertas nama mendiang bapak dan kakek-neneknya sendiri.
“Kenapa dia tidak mengaku sebagai adik Yesus sekalian seperti Fùng Siu-chiòn[11]?!” teriak perempuan uzur itu dengan wajah merah padam. Kata ‘syirik’ yang terlontar dari mulut Thai Pak kali ini tampaknya memang jauh lebih menyakitkan hati sang ibu dari sekadar kata ‘takhayul’ yang sering ia ucapkan dulu sebelum memilih ‘beragama’!
***
Sehari, dua hari, tiga hari, kemudian seminggu berlalu sejak pertengkaran sengit pada pagi yang mengawali cerita pendek ini, Thai Pak tak juga muncul di rumah. Ada apa sebetulnya? Apa yang terjadi? Tiga hari pertama, aku dan suamiku masih bersikap cuek dan menganggap santai ketidakhadiran Thai Pak yang biasa rutin membawakan bubur ayam untuk ibunya.
“Kalau ia sudah tak peduli lagi pada ibunya yang sudah tua ini, ya sudah! Aku tak akan meminta belas kasihannya. Dari dulu ia memang anak durhaka!” jawab ibu mertuaku ketus saat ditanya suamiku ada persoalan apa antara dirinya dengan Thai Pak. Namun pada hari kedelapan ketika Thai Pak tak kunjung bertandang, beliau mulai kelihatan gelisah. Pembawaannya jadi lebih sensitif tapi juga mulai jarang bicara dan lebih banyak mengurung diri dalam kamar.
Barulah pada hari kesembilan tiba-tiba kami mendapatkan kabar yang mengejutkan itu. Menjelang siang, Kim Fa datang tergopoh-gopoh dengan mata sembab mengabarkan bapaknya masuk rumah sakit, tepatnya dibawa ke Balai Pengobatan Bakti Timah—ah, satu-satunya rumah sakit kelas D di kota kecamatan kami hingga kini.
“Sudah lebih seminggu asma Papa kambuh, tapi tadi pagi tiba-tiba memburuk,” tutur Kim Fa sambil terisak kecil.
“Kenapa baru sekarang kalian memberitahu kami?” tukasku agak jengkel. Gadis itu menunduk, lalu menjawab terbata-bata, “Kami tidak menyangka akan separah ini, Sim[12]. Biasanya minum obat dari apotek juga sembuh. Lagipula Papa melarang kami memberitahu. Tak mau merepotkan.”
Suamiku mendengus. Tanpa memberitahu ibu mertuaku, kami langsung meluncur ke Balai Pengobatan dengan berboncengan sepeda motor.
Kami masih sempat melihat lelaki tinggi besar itu tergolek tak berdaya di atas ranjang dengan selang oksigen terpasang di hidungnya. Kami masih sempat mendengar napas beratnya yang seperti tersumbat di rongga dada dan mengeluarkan suara mirip ngeongan anak kucing. Tapi semua seperti mimpi buruk. Nyun Pak-Me menangis tersedu-sedu, juga Kim Fa dan saudari-saudarinya.
“Kenapa tidak cepat kalian bawa ia kemari?!” kata dokter Lukas—dokter langganan kami yang menjabat kepala Balai Pengobatan—marah. Kami betul-betul syok dan tidak bisa menjawab. Yang aku dan suamiku pikirkan hanyalah bagaimana caranya menyampaikan kabar duka ini kepada ibu mertuaku. 
Namun begitu kami tiba di rumah dan belum sempat mengatakan apa pun, beliau yang sedang duduk minum teh di dapur sudah mendahului bicara. “Tak usah bilang apa-apa. Aku sudah tahu. Ruh anak itu barusan datang kemari memberitahuku,” katanya lemah. Tentu saja aku dan suamiku kaget bukan main mendengar kata-kata yang meluncur keluar dari mulut ibu mertuaku itu.
“Ah, anak itu, anak itu…,” desisnya, “Tanpa asap dupa, semoga saja ia bisa sampai ke langit seperti para astronaut China kebanggaannya. Awas kalau ia sampai jadi arwah penasaran, luntang-lantang dan datang ke sini minta makan!” lanjut beliau dengan mata yang jelas tampak berkaca-kaca. Aku dan suamiku saling pandang dengan kening berkerut. Langit bagi orang China bisa berarti kahyangan atau surga, tetapi astronaut? Apa maksud perempuan tua ini?
Tiba-tiba aku teringat pada sebuah kejadian kecil yang lucu kurang lebih enam bulan silam. Waktu itu, Thai Pak datang membawa surat kabar yang memuat berita kesuksesan misi antariksa RRC mengorbitkan manusia ke ruang angkasa[13].
“Mama lihat ini! Berkat penguasaan teknologi canggih, orang China sekarang sudah bisa membuat kendaraan dewa dan pergi ke luar angkasa!” ujar Thai Pak penuh cemooh sambil menunjukkan halaman surat kabar yang berisi foto pesawat ruang angkasa dan tiga orang astronaut itu kepada ibunya. Pesawat antariksa itu memang diberi nama Shenzhou-9, yang artinya Kendaraan Dewa!
Ketika itu kedua mata sipit ibu mertuaku membesar dan beliau menyeletuk ketus, “Huh, kau pikir bisa bohongi orang tua sepertiku? Ini jelas gambar pesawat dalam film! Dan siapa orang-orang berpakaian aneh ini? Memangnya mereka orang suci? Dari tampang saja sudah kelihatan kalau ketiganya bukan orang yang bisa mencapai Pencerahan!”
Aku yang saat itu ikut-ikutan menyimak koran yang dibawa Thai Pak hanya tersenyum. Sementara wajah Thai Pak yang berminyak tampak memerah oleh kemenangan dan rasa bangga... [*]

Krapyak Wetan, Yogyakarta, Februari 2013

Catatan:


[1]     Hari berziarah kubur.
[2]     Ipar, istri dari kakak lelaki suami.
[3]     Danau yang terbentuk oleh penambangan timah di pulau Bangka.
[4]     Kakak perempuan suami yang paling tua.
[5]     Perayaan bulan dewa-dewi, biasa jatuh pada 15 bulan 8 kalender lunar.
[6]     Salam Maria.
[7]     Bapa Kami.
[8]     Tiong Hoa Hwe Koan, sebuah perkumpulan untuk memajukan pembaruan Konfusian dari kebudayaan Tionghoa lokal dengan memajukan pendidikan berbahasa Tionghoa modern. Karakter sekolah ini menggunakan bahasa Mandarin dalam pengajarannya, dengan bahasa Inggris sebagai bahasa kedua, tetapi tidak memberikan pelajaran bahasa Belanda. Model mereka adalah sekolah modern di Tiongkok dan Jepang, dengan pengaruh Barat yang kuat dalam mata pelajarannya.
[9]     Revolusi dr. Sun Yat Sen berhasil menggulingkan Dinasti Qing dan mendirikan Republik China (Chung Hwa Ming Kuo) pada 10 Oktober 1911.
[10]   Hari raya para hantu, setiap 15 bulan 7 kalender lunar.
[11]   Fùng Siu-chiòn (Hung Hsiu-ch'üan/Hong Xiuquan) memimpin Pemberontakan Taiping melawan Dinasti Qing (1850-1864). Usai merebut Nanjing pada 1853, ia mendirikan “Taiping Thian Kuo”(Kerajaan Surga Damai Agung). Ia berdasarkan seluruh perjuangannya pada Alkitab dan bercita-cita menjadikan China sebagai negara Kristen. Awalnya pemberontakan ini didukung negara-negara Barat, namun setelah tahu Fùng Siu-chiòn ternyata agak gila dan mengaku sebagai adik Yesus Kristus, mereka langsung berbalik membantu Dinasti Qing. Pemberontakan sekte Kristen Protestan ini berhasil dihancurkan oleh tentara Qing pada tahun 1864. Fùng Siu-chiòn sendiri meninggal karena keracunan makanan ketika Nanjing dikepung.
[12]   Bibi, istri paman dari pihak ayah.
[13]   Pesawat luar angkasa China, Shenzhou-9 yang membawa tiga orang astronaut berhasil berlabuh di laboratorium ruang angkasa Thian Gong-1 pada 24 Juni 2012. Salah satu dari tiga astronaut itu adalah astronaut wanita pertama China bernama Liu Yang. RRC adalah negara ketiga yang berhasil mengirim manusia ke luar angkasa setelah Uni Soviet (Rusia) dan Amerika Serikat.
.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »