Zulfikar - Setiawati, Kang dan Nong Kabupaten Serang 2013

20.06
SERANG, BANTEN MUDA – Pemilihan duta pariwisata Kabupaten Serang yang sudah berlangsung beberapa minggu, tadi malam, bertempat di hotel Le Dian, Serang, ditutup dengan Zulfikar dan Tia Setiawati terpilih sebagai Kang dan Nong Kabupaten Serang 2013. Sementara Wakil I dan II Kang Nong masing-masing diraih oleh Abel Sandia Putra - Syifa Aprilianti dan Meredian Mahatma - Karlina Puspa Dahlia.
Zulfikar yang merupakan perwakilan dari Kecamatan Kramatwatu mengungkapkan rasa syukurnya dengan melakukan sujud syukur usai pengumuman yang menyatakan dirinya sebagai Kang Kabupaten Serang tahun 2013. Kepada media, Fikar mengaku akan menjalankan amanah ini sebaik-baiknya. "Saya akan menjalankan tugas apa yang diberikan Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Serang yaitu mempromosikan potensi wisata yang ada di Kabupaten Serang untuk lebih dikenal lagi oleh masyarakat dari dalam maupun mancanegara” ujarnya.
Kedua puluh finalis yang hadir di grand final kemarin, telah melewati serangkaian pembekalan lewat karantina. Sejumlah kriteria telah ditetapkan untuk penyandang selendang Kang dan Nong Kabupaten Serang, di antaranya berpenampilan menarik, santun, cerdas, trampil, dan memiliki kemampuan publik speaking yang baik.  
Acara grand final dibuka oleh Bupati Serang, Taufik Nuriman. Ia  berharap, pemilihan  dan Nong dapat menghasilkan generasi muda yang andal dalam mempromosikan pariwisata dan budaya di Kabupaten Serang. 

Hal senada juga disampaikan Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Serang, “Semoga kegiatan ini dapat  meningkatkan dan mengembangkan potensi pariwisata, budaya, maupun tradisi di Kabupaten Serang, juga dapat membangkitkan bakat dan keterampilan pemuda pada pariwisata dan budaya," ungkap Mimin saat sambutan pembukaan. (IWN)
PUISI: Jamal D. Rahman

PUISI: Jamal D. Rahman

01.53
Puisi-Puisi Jamal D. Rahman

ALIFLAMMIM MENETES DARI MATAKU

begini benar tanganku. beralif-alif siang menggapai tak jangkau, berlam-lam malam menderam tak sampai. bermim-mim rindu menjangkau tak gapai. aku pun merunduk: aliflammim tak henti-henti menetes dari mataku...

telah kukirimkan suara angin ke pucuk-pucuk langit yang selalu menderai, sebagai sepi yang akan menyeberangkan tanganku ke jemarimu yang kekal. dengan suara angin itu, tanganku akan berhembus di sela jemarimu. telah kuberangkatkan suara hujan dari pucuk-pucuk daun kemuning berair senja, menuju alamat tanganku yang gemetar pada jemarimu. dengan suara hujan itu akan kukenal suara tanganku sendiri. tapi kini tanganku masih remang. jemarimu masih rembang.

berapa alif lagi tanganku harus mengeja suara angin yang kian remang?
berapa lam lagi tanganku harus mengaji suara hujan yang kian malam?
berapa mim lagi tanganku harus menggapai sepi yang kian rembang?

tapi kau pun tahu: aliflammim yang tak henti-henti menetes dari mataku adalah rindu tanganku pada jemarimu yang kekal....

2011





BERMAIN AIR RINDU DI ATAS KACA

kita bermain air rindu di atas kaca. kita berpegangan. kita bergenggaman. menghangatkan jam dinding yang mendetak-detak di dada. malam pun bangkit dari jendela. tapi, oh, tanganmu tak ada. jemarimu tak ada. maka aku pun menjelma beling, menajamkan waktu agar diam lebih malam dibanding usiaku, meruncingkan detak jam agar malam lebih berdebur dibanding dadaku. dan ketika kita bermain air rindu di atas kaca ini lagi, dari bercak zikirku pada tanganmu yang paling gaib, airmataku akan membiru sendiri….

2012






AKU TAKKAN MENCARIMU LAGI
: Dua Syahadat

di rimba-rimba gelisahku, pencarianku akan terus menggelora. tapi aku takkan mencarimu lagi. sebab, aku tahu kini: engkau bersemayam dalam tubuhku, berdenyut dalam nadiku, mengalir dalam darahku, tumbuh dalam rambutku. bahkan engkau berkobar di tikungan garis tanganku.

tapi setiap kali aku ingin menemuimu, aku tak menemukan diriku sendiri. maka aku pun sibuk mencari diriku sendiri, di gang-gang kotor, di jalan-jalan berdebu, di kampung-kampung kumuh, di desa-desa dan kota-kota. juga di mihrab yang paling sunyi. dan ketika tiba di persimpangan itu, aku pun menangis: aku tak menemukanmu, karena aku kehilangan diriku sendiri....

2012





MERENDAM  API  DI  LAUT

ʢ 1 ʡ

dari rimbun gelap daratan luas yang seringkali terguncang, pada malam keberapa kelak kami akan dikenal? dari pucuk-pucuk tajam gunung merapi yang seringkali meronta, pada ledakan keberapa kami akan disangkal? kami akan dikenal sekaligus disangkal. dikenal lagi disangkal lagi. disangkal lagi dikenal lagi. ya, kami berjalan antara kenal dan sangkal.

dari bentangan curam benua yang tajam, berjuta-juta matahari akan mengubur kami di lantai-lantai laut yang dingin. tapi kami tak akan benar-benar terkubur, sebab setiapkali kami dikubur, langit senantiasa mencatat tangan kami yang gemetar. dan di langit, tangan kami akan kekal.

lewat tangan kami yang dicatat langit itu, kami lahir lagi lahir lagi. tumbuh lagi tumbuh lagi. kami pun mengalir tenang di sungai-sungai, tumbuh hijau di hutan-hutan, merambat diam di lereng-lereng. lalu kami bersumpah: demi roh yang menempa tanah dengan air, kami akan menggaris cakrawala dengan api paling sakral. []


ʢ 2 ʡ

maka, tanah dan air kami adalah nyanyian burung di atas api. mengalun dari dasar sungai yang gemercik tak henti-henti. dari diam batu-batu. dari malam kupu-kupu. dari hijau daun yang mengelus-elus pagi hari. dari dingin hutan yang dalam rembang menari-nari. dan hujan pun menyanyi: fajar telah berbunga, fajar telah berbunga....

dan kami pun berbunga: mendendangkan nyanyian api, meliukkan tarian api, sampai kami jadi sayap-sayap burung yang menerbangkan anak-anak matahari. []


ʢ 3 ʡ

dari manakah tanah hati kami bermula? dari lubuk-lubuk sepi ketika laut tak meninggi, ketika  tanah, hutan, dan gunung tak terendam air yang membuncah dari utara. di sini kami bercocok tanam, di tanah hati kami yang subur ini. kami tanam semua yang bisa kami tanam, tapi bahkan semua tanaman di sini menanam diri sendiri untuk kami. mereka ada untuk kami.  

lalu air membuncah dari utara. kami pun mengembara ke puncak-puncak mimpi kami, meninggalkan sawah, ladang, hutan, sungai, dan gunung-gunung kami yang menggelegakkan api. kami tinggalkan api menggelora direndam air, sekali waktu menciptakan ledakan-ledakan mengerikan yang mengubur impian kami. air dari utara memisahkan daratan jadi berjuta tahun pulau beraroma atlantik yang sepi.

tapi kami tetap di sini, di pucuk-pucuk gunung merapi, di atlantik sungai dan lautan ini, memutar baling-baling hidup kami. []


ʢ 4 ʡ

kami tinggalkan sebagian gunung merapi di bawah laut. lalu kami berangkat menuju puncak-puncak hidup kami yang lain. kami lambaikan kesedihan pada semua yang kami tinggalkan, bukan sebagai bendera perpisahan. sebab, kami tak pernah berpisah: semua yang kami tinggalkan selalu kami bawa dalam darah dan sumsum kami. maka setiap kali kami lambaikan kesedihan, mata kami senantiasa mengibarkan kebahagiaan paling menyala.

lalu kami pun mencari pendakian paling sakral, pendakian yang akan menerbangkan burung-burung menuju keabadian —betapapun keabadian yang fana.

sepanjang pendakian itu, kami seringkali teringat akan gunung merapi yang kami tinggalkan. semuanya tetap menggelegar di mata kami, menggelorakan kaki kami. sebab, kami tinggalkan sekaligus kami bawa semuanya ke mana pun kami mendaki. demikianlah kami terus mendaki, sambil belajar merendam api di laut yang terus meninggi. dan kini kami mengerti: di laut kami, api pun tak akan mati. []




Jamal D. Rahman, menulis puisi, esai, dan kritik sastra. Pemimpin redaksi majalah sastra Horison dan Jurnal Sajak, dan redaktur Jurnal Kritik. Juga dosen sastra UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Alumnus Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Sumenep, Madura, IAIN (kini UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, dan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB-UI). Pernah menjadi ketua Komite Sastra dan Dewan Pekerja Harian Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Mengikuti forum-forum sastra di dalam dan luar negeri, antara lain di Malaysia, Jerman, dan Iran. Menyampaikan makalah dalam berbagai seminar sastra dan kebudayaan. Buku puisinya: Airmata Diam (1993), Reruntuhan Cahaya (2003), Garam-garam Hujan (2004), dan Burn Me with Your Letters (terjemahan Nikmah Sarjono, 2004). Puisi-puisinya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Jerman, Portugal, dan Korea. Menjadi kontributor sejumlah buku, dan (ko)editor lebih dari 25 buku.


CERPEN - Orang China Naik Langit

01.46


Orang China Naik Langit
Cerpen Sunlie Thomas Alexander

Aku tak tahu bagaimana persisnya cerita pendek ini bermula—atau tepatnya perkara apa yang melatarinya. Kedua orang itu (ibu mertua dan kakak tertua suamiku yang kami panggil Thai Pak) sedang bertengkar sengit di dapur, ketika aku pulang dari mengantar anak bungsuku ke sekolah. Dan seperti biasa suara mereka cukup tinggi—melambung melewati tembok-tembok ruko di kiri-kanan—sehingga jelas terdengar oleh semua tetangga. Tak ada yang peduli. Keduanya, ibu dan anak, sudah terlalu sering bertengkar. Nyaris dua-tiga hari sekali. Selalu ada saja yang mereka ributkan. Dari hal-hal sepele, persoalan-persoalan lama yang itu-itu juga, hingga terkadang masalah-masalah yang tak terduga oleh siapa pun.
“Besok aku tak mau datang lagi!” suara Thai Pak menggeram, terdengar begitu gusar.
“Memang siapa yang suruh kau ke sini? Aku tak butuh anak durhaka seperti kau!” teriak ibu mertuaku setengah kalap. Aku tersenyum kecut. Ah, besok pagi mereka pasti sudah berbaikan lagi, pikirku geli. Percuma dilerai, bisa-bisa ikut jadi sasaran kemarahan. Maka aku memilih pergi ke sumur di belakang dapur; ada setumpuk pakaian kotor yang harus kucuci. Tapi tak urung aku menghela napas, ketika mendengar bunyi gedebuk keras meja ditepuk menyusul sederet kata-kata cacian.
Setiap kali bertengkar, ibu mertuaku selalu memaki-maki putra sulungnya itu sebagai anak durhaka yang tidak berbakti, kualat pada leluhur, atau bukan lelaki China yang bisa dibanggakan. Bukan lantaran anaknya itu tidak memperhatikannya atau memberinya uang. Penyebabnya aku kira, karena Thai Pak tak pernah berkenan memegang dupa lagi. Sejak masuk Kristen Protestan kurang lebih dua tahun silam, ia bukan saja enggan menyembahyangi arwah mendiang bapak, kakek-nenek, dan para leluhur kami, bahkan melarang keras anak-anaknya makan makanan bekas sesajen sembahyang.
“Jangan pernah menyentuh makanan berhala, kau bisa dirasuki setan!” katanya mengancam putri bungsunya yang baru duduk di bangku kelas tujuh. Semua anaknya—empat orang putri, termasuk putri sulung yang sudah menikah—patuh, kecuali Kim Fa, putri keduanya yang baru menamatkan SMK (yang walau ikut berpindah agama seperti kedua orangtuanya, namun selalu ikut kami berziarah ke kubur kakeknya setiap hari raya Chin Min[1]).
Tentu, ketika kata-kata itu terdengar oleh ibu, beliau mengamuk besar. “Anak tak tahu diuntung! Beruntung tidak semua anakku seperti kau! Bisa-bisa setelah mati nanti aku jadi arwah penasaran karena tak kau sembahyangi!” umpat ibu mertuaku dengan wajah merah padam.
“Jangan kuatir, Ma. Aku akan kirim seekor babi panggang yang paling besar ke kuburmu nanti!” Begitulah tabiat Thai Pak, tak mau kalah, selalu membantah dan sering kali kurang ajar. Namun kukira sifat pemberang dan keras kepalanya itu adalah warisan dari sang ibu sendiri. Berbeda sekali dengan saudara-saudaranya yang lain yang lebih mirip mendiang bapak mertuaku, terutama suamiku yang pendiam dan tak suka terlibat masalah.
“Anak itu,” gerutu ibu, “benar-benar telah dicuci otaknya oleh keluarga Fa Liung dan para pendeta! Dulu dia tak sekualat ini, sampai-sampai tak mau sembahyangi arwah bapaknya sendiri!” Fa Liung yang dimaksud adalah teman lama Thai Pak, dan setiap orang Tionghoa di kota kecil ini tahu kalau ia seorang aktivis gereja. Begitulah.
Sementara itu bagi Thai Pak, ibunya adalah nyonya tua kolot yang ceriwis dan sok berkuasa. Ia menyebut sang ibu sebagai Ibu Suri Dinasti Qing. Toh sehabis bertengkar sengit, keesokan paginya seperti biasa, ia akan datang lagi ke rumah membawakan bubur ayam untuk sarapan ibunya. Dan sang ibu sudah memaafkan anaknya seolah-olah tak pernah terjadi percekcokan di antara mereka.
***
Ya, Thai Pak memang tampak sedikit beringasan. Namun demikian, semua orang yang mengenalnya lebih baik, tahu kalau ia sebetulnya memiliki hati yang lembut, cepat tersentuh, dan ringan tangan. Meskipun mendidik anak-anaknya dengan keras, konon—menurut Nyun Pak-Me[2] (sang istri)—seumur-umur tak pernah sekali pun Thai Pak memukul anak-istrinya.
Aku pikir, hanya karena penampilannya saja, dengan badan tinggi besar dan wajah berewokan, ia tampak kasar. Berbeda dengan suamiku yang selalu berpenampilan rapi karena cuma duduk-duduk di belakang meja kasir toko pakaian, Thai Pak sehari-hari selalu mengenakan celana pendek selutut dan sehelai singlet butut dekil—kadang bebercak darah. Maklumlah, pekerjaannya berjualan daging babi di pasar.
Dan kendati datang ke ruko setiap pagi, jarang Thai Pak bercengkrama dengan kami. Hanya berbicara seperlunya. Biasanya ia langsung nyelonong ke belakang toko yang menjadi tempat tinggal kami sekeluarga (beserta lantai atas) untuk menemui ibunya: meletakkan bubur ayam di meja dapur. Berbincang-bincang sebentar jika tak bertengkar sengit, sebelum akhirnya ia berangkat lagi ke pasar babi.
Hubungan Thai Pak dengan suamiku memang agak aneh dan tampak serba-canggung. Syahdan hubungan kakak-beradik yang kikuk itu mesti dirujuk jauh ke belakang, ketika suamiku masih kanak-kanak. Tak terlalu penting untuk diceritakan di sini, hanya sekadar info dari apa yang pernah kudengar: ketika berumur delapan tahun, suamiku pernah nyaris mati tenggelam saat diajak Thai Pak yang beranjak remaja mandi di kolong[3]. Beruntung saat itu ada orang yang sedang mancing menolongnya. Thai Pak sendiri dihajar bapaknya dengan rotan hingga melolong. Sejak itu keduanya seolah saling menjaga jarak.
Namun Thai Pak-lah yang bersuara paling keras membela adik bungsunya ini ketika dulu ibu mertuaku menentang hubungan kami. Barangkali Thai Pak benar, sang ibu terlalu mengatur kehidupan kelima anaknya (seorang perempuan: Fa Thai Ku[4]), termasuk masalah jodoh. Tiga dari menantunya merupakan hasil perjodohannya, kecuali aku dan Nyun Pak-Me. Ya, beliau tentunya juga tak segan turut campur dalam soal keyakinan!
***
“Bulanmu itu sudah diberaki sama orang Amerika, tahu!” tukas Thai Pak dengan wajah sinis ketika ibunya menggelar sesajen di pekarangan belakang rumah untuk dewi bulan Song Ngo saat perayaan Pat Ngiat Pan[5] tahun lalu.
Ah, bagi Thai Pak, manusia pertama yang menginjakkan kakinya di bulan tentu saja astronaut Amerika, Neil Armstrong. Sedangkan ibu mertuaku begitu yakin kalau Song Ngo, perempuan cantik di zaman Dinasti Hsia itulah yang pertama kali mendarat di bulan setelah menelan sejenis pil herbal.
“Aku juga tak percaya Yesusmu bisa melangit! Sun Go Kong cuma perlu bersalto tiga kali untuk sampai ke kahyangan! Kalau perkara menghidupkan orang mati, Dewi Kwan Im dan banyak dewa lain juga bisa melakukannya,” jawab sang ibu dengan nada melengking.
Dari lima orang anaknya itu hanyalah suamiku yang setia menemaninya ke kelenteng pada setiap tanggal 1 dan 15 kalender lunar. Si bungsu kesayangan yang justru tamatan “sekolah pastor”. Fa Thai Ku, Hiung Pak, dan Bun Pak, semuanya memilih dibaptis di gereja Katolik saat mereka beranjak remaja. Sang ibu tentu meradang, tapi akhirnya menyerah setelah tahu pastor yang berkebangsaan Belanda tak pernah melarang anak-anaknya menyembahyangi leluhur. Pastor itu sering berkunjung ke rumah untuk memberikan pelajaran agama kepada ketiga anaknya dan suatu hari menawarinya ikut dibaptis.
Apa jawaban ibu mertuaku? Dengan lantang ia menyahut: “Aku tak akan menyembah dewa orang Barat yang berwajah sedih! Bagaimana dewamu yang terpaku tak berdaya dan digantung di dinding itu bisa membantu manusia jika matinya tragis begitu? Dewa harus berwajah gembira agar bisa berbagi sukacita dan membebaskan manusia dari penderitaan!”
Dan sejak itu sang pastor tak pernah lagi menyinggung-nyinggung soal keselamatan dan penebusan di hadapannya.
Thai Pak sendiri, meskipun suka ikut menyimak adik-adiknya menghafal doa Ban Fuk Malia[6] dan Cai Thian Ngo Ten Fu Ca[7], waktu itu enggan dipermandikan. “Aku tak mau melarikan diri pada agama!” katanya tegas. Itu puluhan tahun silam, ketika bapak mertuaku belum punya ruko dan masih berjualan kain keliling.
Walau agak cemas pada jawaban Thai Pak, ibu mertuaku ketika itu diam-diam merasa gembira juga mendengar si sulung tidak tertarik masuk Katolik seperti adik-adiknya. Dan kecemasan itu kemudian menjadi beralasan: betapa Thai Pak sering tampak bersungut-sungut setiap kali membakar dupa untuk menyembahyangi arwah kakek-neneknya.
“Waktu masih hidup belum tentu kalian jamu mereka dengan hidangan semewah sesajen ini!” begitulah gerutu Thai Pak yang masih bersekolah di Tiong Hoa Hwee Koan[8]—kenang suamiku. Ujung-ujungnya ia dengan tegas menolak bersembahyang di kelenteng. Tak ada Tuhan atau dewa-dewa maupun hantu lagi di dunia ini. Agama benar-benar berbahaya seperti opium yang dibawa orang Inggris untuk menghancurkan China dari dalam. Hanyalah semata-mata menghormati tradisi dan ajaran Kong Fu Chu, ia masih berkenan memegang dupa di depan altar kakek-neneknya.
“Orang China sudah terlalu lama dijangkiti penyakit takhayul akut! Tak heran kalau kita diolok-olok orang Barat dan Jepang sebagai pesakitan dari Asia Timur, dipermalukan dan diinjak-injak!”
Demikianlah, seperti kebanyakan pemuda Tionghoa sebayanya, gerakan nasionalisme China yang meluas ke seluruh dunia sejak jauh hari sebelum Perang Pasifik telah membuat Thai Pak jadi pemuja rasionalitas. Toh, tahun itu juga (1963) ia menamatkan sekolahnya sebagai salah seorang lulusan terbaik. Dan sang bapak, yang masih terbawa semangat Revolusi 1911[9], memamerkan ijazah anaknya kepada setiap orang yang beliau temui dengan muka berseri-seri.
Karena itu, kami—dan saudara-saudara lain—sungguh tak habis pikir ketika Thai Pak dan anak-istrinya tiba-tiba memutuskan menjadi penganut Kristen Protestan kurang lebih dua tahun silam. Tanpa rambu-rambu sebelumnya, mendadak ‘buah pendidikan sekularisasi China ala Tiong Hoa Hwee Koan’ ini setiap malam Minggu atau Minggu pagi tampak rajin mengepit Alkitab ke gereja.
“Alleluya, terpujilah nama Fa Liung!” olok Hiung Pak yang sedari dulu gemar berkelakar, tergelak. Ibu mertuaku uring-uringan dan akhirnya meledak ketika pada perayaan Chit Ngiat Pan[10], putra sulungnya itu (beserta sang istri) enggan membakar dupa atau menjura di depan kertas-kertas nama mendiang bapak dan kakek-neneknya sendiri.
“Kenapa dia tidak mengaku sebagai adik Yesus sekalian seperti Fùng Siu-chiòn[11]?!” teriak perempuan uzur itu dengan wajah merah padam. Kata ‘syirik’ yang terlontar dari mulut Thai Pak kali ini tampaknya memang jauh lebih menyakitkan hati sang ibu dari sekadar kata ‘takhayul’ yang sering ia ucapkan dulu sebelum memilih ‘beragama’!
***
Sehari, dua hari, tiga hari, kemudian seminggu berlalu sejak pertengkaran sengit pada pagi yang mengawali cerita pendek ini, Thai Pak tak juga muncul di rumah. Ada apa sebetulnya? Apa yang terjadi? Tiga hari pertama, aku dan suamiku masih bersikap cuek dan menganggap santai ketidakhadiran Thai Pak yang biasa rutin membawakan bubur ayam untuk ibunya.
“Kalau ia sudah tak peduli lagi pada ibunya yang sudah tua ini, ya sudah! Aku tak akan meminta belas kasihannya. Dari dulu ia memang anak durhaka!” jawab ibu mertuaku ketus saat ditanya suamiku ada persoalan apa antara dirinya dengan Thai Pak. Namun pada hari kedelapan ketika Thai Pak tak kunjung bertandang, beliau mulai kelihatan gelisah. Pembawaannya jadi lebih sensitif tapi juga mulai jarang bicara dan lebih banyak mengurung diri dalam kamar.
Barulah pada hari kesembilan tiba-tiba kami mendapatkan kabar yang mengejutkan itu. Menjelang siang, Kim Fa datang tergopoh-gopoh dengan mata sembab mengabarkan bapaknya masuk rumah sakit, tepatnya dibawa ke Balai Pengobatan Bakti Timah—ah, satu-satunya rumah sakit kelas D di kota kecamatan kami hingga kini.
“Sudah lebih seminggu asma Papa kambuh, tapi tadi pagi tiba-tiba memburuk,” tutur Kim Fa sambil terisak kecil.
“Kenapa baru sekarang kalian memberitahu kami?” tukasku agak jengkel. Gadis itu menunduk, lalu menjawab terbata-bata, “Kami tidak menyangka akan separah ini, Sim[12]. Biasanya minum obat dari apotek juga sembuh. Lagipula Papa melarang kami memberitahu. Tak mau merepotkan.”
Suamiku mendengus. Tanpa memberitahu ibu mertuaku, kami langsung meluncur ke Balai Pengobatan dengan berboncengan sepeda motor.
Kami masih sempat melihat lelaki tinggi besar itu tergolek tak berdaya di atas ranjang dengan selang oksigen terpasang di hidungnya. Kami masih sempat mendengar napas beratnya yang seperti tersumbat di rongga dada dan mengeluarkan suara mirip ngeongan anak kucing. Tapi semua seperti mimpi buruk. Nyun Pak-Me menangis tersedu-sedu, juga Kim Fa dan saudari-saudarinya.
“Kenapa tidak cepat kalian bawa ia kemari?!” kata dokter Lukas—dokter langganan kami yang menjabat kepala Balai Pengobatan—marah. Kami betul-betul syok dan tidak bisa menjawab. Yang aku dan suamiku pikirkan hanyalah bagaimana caranya menyampaikan kabar duka ini kepada ibu mertuaku. 
Namun begitu kami tiba di rumah dan belum sempat mengatakan apa pun, beliau yang sedang duduk minum teh di dapur sudah mendahului bicara. “Tak usah bilang apa-apa. Aku sudah tahu. Ruh anak itu barusan datang kemari memberitahuku,” katanya lemah. Tentu saja aku dan suamiku kaget bukan main mendengar kata-kata yang meluncur keluar dari mulut ibu mertuaku itu.
“Ah, anak itu, anak itu…,” desisnya, “Tanpa asap dupa, semoga saja ia bisa sampai ke langit seperti para astronaut China kebanggaannya. Awas kalau ia sampai jadi arwah penasaran, luntang-lantang dan datang ke sini minta makan!” lanjut beliau dengan mata yang jelas tampak berkaca-kaca. Aku dan suamiku saling pandang dengan kening berkerut. Langit bagi orang China bisa berarti kahyangan atau surga, tetapi astronaut? Apa maksud perempuan tua ini?
Tiba-tiba aku teringat pada sebuah kejadian kecil yang lucu kurang lebih enam bulan silam. Waktu itu, Thai Pak datang membawa surat kabar yang memuat berita kesuksesan misi antariksa RRC mengorbitkan manusia ke ruang angkasa[13].
“Mama lihat ini! Berkat penguasaan teknologi canggih, orang China sekarang sudah bisa membuat kendaraan dewa dan pergi ke luar angkasa!” ujar Thai Pak penuh cemooh sambil menunjukkan halaman surat kabar yang berisi foto pesawat ruang angkasa dan tiga orang astronaut itu kepada ibunya. Pesawat antariksa itu memang diberi nama Shenzhou-9, yang artinya Kendaraan Dewa!
Ketika itu kedua mata sipit ibu mertuaku membesar dan beliau menyeletuk ketus, “Huh, kau pikir bisa bohongi orang tua sepertiku? Ini jelas gambar pesawat dalam film! Dan siapa orang-orang berpakaian aneh ini? Memangnya mereka orang suci? Dari tampang saja sudah kelihatan kalau ketiganya bukan orang yang bisa mencapai Pencerahan!”
Aku yang saat itu ikut-ikutan menyimak koran yang dibawa Thai Pak hanya tersenyum. Sementara wajah Thai Pak yang berminyak tampak memerah oleh kemenangan dan rasa bangga... [*]

Krapyak Wetan, Yogyakarta, Februari 2013

Catatan:


[1]     Hari berziarah kubur.
[2]     Ipar, istri dari kakak lelaki suami.
[3]     Danau yang terbentuk oleh penambangan timah di pulau Bangka.
[4]     Kakak perempuan suami yang paling tua.
[5]     Perayaan bulan dewa-dewi, biasa jatuh pada 15 bulan 8 kalender lunar.
[6]     Salam Maria.
[7]     Bapa Kami.
[8]     Tiong Hoa Hwe Koan, sebuah perkumpulan untuk memajukan pembaruan Konfusian dari kebudayaan Tionghoa lokal dengan memajukan pendidikan berbahasa Tionghoa modern. Karakter sekolah ini menggunakan bahasa Mandarin dalam pengajarannya, dengan bahasa Inggris sebagai bahasa kedua, tetapi tidak memberikan pelajaran bahasa Belanda. Model mereka adalah sekolah modern di Tiongkok dan Jepang, dengan pengaruh Barat yang kuat dalam mata pelajarannya.
[9]     Revolusi dr. Sun Yat Sen berhasil menggulingkan Dinasti Qing dan mendirikan Republik China (Chung Hwa Ming Kuo) pada 10 Oktober 1911.
[10]   Hari raya para hantu, setiap 15 bulan 7 kalender lunar.
[11]   Fùng Siu-chiòn (Hung Hsiu-ch'üan/Hong Xiuquan) memimpin Pemberontakan Taiping melawan Dinasti Qing (1850-1864). Usai merebut Nanjing pada 1853, ia mendirikan “Taiping Thian Kuo”(Kerajaan Surga Damai Agung). Ia berdasarkan seluruh perjuangannya pada Alkitab dan bercita-cita menjadikan China sebagai negara Kristen. Awalnya pemberontakan ini didukung negara-negara Barat, namun setelah tahu Fùng Siu-chiòn ternyata agak gila dan mengaku sebagai adik Yesus Kristus, mereka langsung berbalik membantu Dinasti Qing. Pemberontakan sekte Kristen Protestan ini berhasil dihancurkan oleh tentara Qing pada tahun 1864. Fùng Siu-chiòn sendiri meninggal karena keracunan makanan ketika Nanjing dikepung.
[12]   Bibi, istri paman dari pihak ayah.
[13]   Pesawat luar angkasa China, Shenzhou-9 yang membawa tiga orang astronaut berhasil berlabuh di laboratorium ruang angkasa Thian Gong-1 pada 24 Juni 2012. Salah satu dari tiga astronaut itu adalah astronaut wanita pertama China bernama Liu Yang. RRC adalah negara ketiga yang berhasil mengirim manusia ke luar angkasa setelah Uni Soviet (Rusia) dan Amerika Serikat.
.

Senja di Karangantu

01.41
Matahari membuat garis-garis cahaya di permukaan laut. Ada bangau yang sesekali terbang melintas, begitu putih dan anggun. Angin, yang menciptakan ombak-ombak kecil, menyentuh juga tubuh kecil anak-anak nelayan yang sedang bermain, dua orang lelaki yang sedang mencari kerang, dan dua lelaki lain yang sedang memancing. Sesekali, suara mesin perahu-perahu nelayan yang melintas—untuk pulang ataupun pergi melaut—ikut ambil bagian dalam sore yang menarik ini. Di sini, di Karangantu.
Kepiting-kepiting bercapit ungu memakan lumut-lumut yang menempel di batu-batu. Ukuran kepiting-kepiting itu beragam. Setiap ukuran memiliki kemenarikannya masing-masing. Yang kecil tampak begitu lincah, yang besar sangat menawan. Di bagian lain, bagian yang berupa lumpur (laut sedang surut saat ini), ratusan gelodok terlihat. Mereka bergerak-gerak dengan sirip yang seperti tangan: saling mengejar, kemudian masuk dan keluar permukaan lumpur. Ada garis-garis di permukaan lumpur yang tercipta dari gerakan para gelodok itu.
Tidak banyak yang datang ke sini, sebenarnya, untuk sengaja menghabiskan sore. Hanya warga Karangantu, beberapa lelaki yang memancing, dan sepasang muda-mudi. Lagipula, tempat ini memang tidak pernah ramai karena sebutan ‘objek pariwisata’ belum melekat padanya. Karangantu hanya dikenal sebagai pasar ikan, tempat memancing, atau tempat kapal-kapal transportasi menunggu penumpangnya yang ingin pergi ke pulau-pulau di seberang, yang jaraknya dua sampai tiga jam perjalanan; salah satunya adalah Pulau Tunda. Tetapi, itu tidak berarti bahwa Karangantu tidak memiliki keistimewaan.
Karangantu, sebagai salah satu wilayah bersejarah di Banten, memiliki daya tariknya sendiri, yaitu masa lalunya. Mari kita sedikit bernostalgia, sesuatu yang ingin sekali saya lakukan di ujung jalan kecil yang menjorok ke laut ini. Laut cukup tenang, gunung-gunung yang jauh bisa terlihat dari sini, sinar matahari sudah tidak menyengat, dan kita bisa merasa seperti dibawa ke masa-masa kesultanan; melihat Karangantu yang masih menjadi pelabuhan besar yang masyhur di kalangan lokal dan internasional.
Kapal-kapal besar yang berlayar dari Arab, Persi, Gujarat, Birma, Tiongkok, Perancis, Inggris, China, dan Belanda, memenuhi pelabuhan Karangantu ini. Di dalam kapal-kapal dagang itu, berat barang dagang bisa mencapai 300 ton. Di sini, mereka saling menjual dan membeli barang. Para saudagar lokal sibuk menjual beras dan lada, para saudagar internasional menjual kain, minyak, tembaga, permata, gading, peti berukir, dan lain-lain. Sebagai pelabuhan internasional yang penting, Karangantu telah membuka gerbang perdagangan yang luar biasa potensial di Banten.
Begitu panjang riwayat Karangantu. Sejak kerajaan Islam berdiri, di bawah pimpinan Sunan Maulana Hasanudin, dan pusat kekuasaan terletak di Banten Lama, Karangantu menjadi pelabuhan terpenting di Banten. Dari wajahnya yang dikelilingi tembok kota dan pasar Karangantu yang dibatasi pagar kayu dan bambu pada tahun 1598, mulai berdirinya perumahan-perumahan pada tahun 1725, sampai hanya berupa pelabuhan yang dikelilingi tambak ikan. Karangantu, barangkali, mulai kehilangan dirinya yang besar sejak pendudukan Belanda, dan bergesernya pusat-pusat perdagangan di Banten.
O, masa lalu, apa yang kau sisakan untuk hari ini? Kalau kita melihat Karangantu hari ini, kita bisa mengatakan bahwa semangat perdagangan itu hanya tertinggal sedikit saja. Perdagangan hanya diramaikan oleh penjualan ikan laut dan barang-barang sembako biasa yang bisa ditemui di mana saja. Apalagi, melihat infrastruktur yang sampai saat ini belum signifikan membaik, Karangantu jelas telah kehilangan banyak hal.  
Sementara itu, matahari mulai menyingsing. Garis-garis cahaya yang tadi berwarna cerah, kini mulai mengoranye. Ada sekawanan bangau yang terbang, pulang ke sarang mereka yang entah di mana. Suara mereka beradu dengan air laut yang membentur batu-batu, dan angin mulai terasa kencang menerpa tubuh. Tetapi, laut belum akan pasang. Seorang penjaga parkir memberitahu saya bahwa belakangan laut hanya akan pasang pada pukul sepuluh malam. Saya beranjak ke warung kopi, mengobrol dengan penjaga warung—sepasang suami istri yang sudah tua—dan sepasang suami istri yang tampaknya baru selesai memancing.
“Sebenarnya, Karangantu lumayan menarik kalau jadi objek wisata,” kata sang suami yang baru selesai memancing, ketika kami sudah memulai obrolan terkait Karangantu. Di plastik hitam yang dibawanya, beberapa ekor udang dan ikan kerapu sudah berkawan es batu.
“Tapi dibenerin dulu jalannya,” sambung Nenek penjaga warung.
Gelap malam merambati kami, tempat parkir, laut yang masih bisa kami lihat, dan kapal-kapal nelayan. Beberapa kapal baru akan melaut, yang hanya bermodal lampu utama yang digantung, senter, jala, dan perlengkapan lainnya. Jika kapal nelayan itu sudah jauh, kami hanya bisa melihat kerlip lampu utama itu, yang tampak menyerupai kunang-kunang raksasa yang terbang di atas permukaan laut. Ya, ucap saya dalam hati, Karangantu memang menarik. Andai saja Karangantu benar-benar dirapikan, maka orang-orang akan kembali berdatangan. Bukan tidak mungkin semangat berdagang masyarakat Karangantu akan tumbuh lagi, dan Karangantu—kelak—tak sekadar menjadi tempat pariwisata, tetapi juga titik perekonomian Banten. [*]

Na Lesmana
Wanita dan Bahasa

Wanita dan Bahasa

01.37
Oleh Adek Dwi Oktaviantina

Sobat muda, pada bulan April kita memperingati hari kelahiran seorang pahlawan nasional yaitu Raden Ajeng Kartini. Beliau adalah seorang pahlawan yang merupakan simbol kemandirian dan kebebasan wanita untuk memperoleh kesetaraan dan hak belajar. Sosoknya menginspirasi wanita untuk bangkit dan mau mengejar cita-citanya. Pada masa kini, wanita telah mendapatkan hak sepenuhnya untuk beraktualisasi. Wanita mampu berkarya serta belajar meraih ilmu setinggi-tingginya saat ini.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menghargai pahlawannya. Dengan mempelajari kesejarahan tokoh-tokoh bangsa, kita mampu meningkatkan potensi dan daya saing bangsa. Sebagai generasi muda, kita meneladani pahlawan agar mampu berprestasi lebih baik karena termotivasi dengan perjuangan mereka. Pada bulan April ini, tepatnya pada tanggal 21 April, bangsa Indonesia memperingati hari kelahiran Raden Ajeng Kartini, yang melalui surat-suratnya telah menunjukkan bahwa salah satu tokoh wanita pada masa itu mampu berpikir secara progresif dan benar-benar memikirkan nasib wanita pada zamannya. Surat yang disimpan oleh H.J. Abendanon itu menyuarakan kegelisahannya akan kondisi wanita di sekitarnya yang kurang mendapatkan pelayanan di bidang pendidikan karena ketidaktahuan dan kebodohan. Kesadaran Raden Ajeng Kartini di saat bangsa masih tertidur merupakan langkah awal terhadap kesadaran pendidikan wanita pada masa itu.

Melalui suratnya itulah, Raden Ajeng Kartini membuka horizon pandang bangsa Indonesia yang saat itu masih menganggap bahwa wanita tidak diperbolehkan mencari ilmu dan wanita tidak mampu memikirkan nasibnya sendiri. Sebenarnya, wanita bisa berkreasi dan berjuang dengan kemampuannya meskipun berada di samping laki-laki. Sejajar kedudukannya dan berhak atas kesempatan yang sama. Dalam banyak hal, Raden Ajeng Kartini mengajarkan tentang kemandirian bangsa. Bangsa yang hebat selalu memiliki wanita hebat yang menjadi warga negaranya. Seorang wanita merupakan pendidik utama dalam keluarga. Jika wanita-wanita dalam sebuah negara berpendidikan baik, generasi bangsa yang dicetak akan menjadi generasi penerus yang super. Demikian pula sebaliknya, sebuah  bangsa  akan  sulit maju jika wanita dalam suatu bangsa hanya mengalami pembodohan dan dianggap marjinal. Bangsa Indonesia akan bangkit jika memperhatikan pendidikan wanita sebagai salah satu pendukung kemajuan bangsa.

Wanita menjadi sosok utama dalam pelestarian kebudayaan dan pengembangan pendidikan dalam lingkungan, mulai dari lingkungan terkecil hingga lingkungan nasional. Keberadaan wanita dalam lingkungan kerja dan rumah merupakan bukti nyata bahwa keberadaannya sangat berpengaruh positif dalam pembentukan generasi bangsa. Wanita berperan sebagai ibu, pendidik, penyuluh, pemerhati, serta berbagai peran lainnya yang menjadikannya sosok penting dalam pendidikan.

Pendidikan yang kali pertama diajarkan adalah bahasa. Tanpa bahasa, sebuah ilmu tidak mungkin tersampaikan dengan baik. Bahasa merupakan pintu awal masuknya wawasan dan pengetahuan. Pada anak usia dini, bahasa adalah hal yang kali pertama dipelajari selain gerakan motorik. Pada usia balita, manusia belajar untuk menggerak-gerakkan alat ucap dan menghasilkan bunyi pertamanya. Saat lahir, manusia memang sudah dibekali peranti mahacanggih berupa peranti pemerolehan bahasa atau LAD (Language Acquisition Device) di otaknya. Namun, manusia tidak akan bisa berbahasa tanpa stimulus dari lingkungan. Manusia yang dibesarkan oleh serigala dan anjing hutan, dalam beberapa kasus yang ditemukan, tidak mampu berkomunikasi karena tidak ada stimulus dari lingkungannya.

Seorang ibu sangat berperan penting dalam pemerolehan bahasa pertama untuk anaknya. Oleh karena itu, bahasa yang dikuasai kali pertama oleh anak disebut bahasa ibu. Dalam proses pemerolehan bahasa itu, pelatihan berupa pengulangan-pengulangan bahasa sederhana yang diucapkan oleh ibu sebagai lingkungan awal manusia. Anak, pemilik tabularasa yang masih kosong, mendapatkan pengaruh bahasa dari lingkungan yang memberikan rangsangan bahasa mulai dari bentuk pengucapan termudah, vokal dan konsonan bilabial seperti mama dan baba. Setelah anak memperoleh pengucapan bahasa, anak memperoleh makna bahasa dari kebiasaan-kebiasaan yang ada di lingkungan. Setelah mendapatkan makna, anak menggunakan bahasa dalam kehidupannya untuk berinteraksi.

Dalam proses pemerolehan bahasa itu, ibu menjadi sosok yang sangat berperan dalam pemberian stimulus pada anak. Seorang ibu yang memiliki pengetahuan lebih dalam penguasaan bahasa bisa memberikan rangsangan bahasa yang lebih kaya untuk anaknya. Pada usia puncak perkembangan otaknya, anak mampu menyerap lebih dari satu bahasa. Jika anak dibesarkan dalam lingkungan dwibahasa, anak akan mampu berkomunikasi dengan dwibahasa pula. Kosakata yang dikuasai anak akan bertambah dengan stimulus bahasa yang diberikan oleh ibu. Oleh karena itu, wanita yang berperan sebagai ibu merupakan sosok yang sangat penting dalam pemerolehan bahasa anak.

Perjuangan yang dimulai oleh Raden Ajeng Kartini seharusnya dilanjutkan hingga sekarang. Wanita masa kini seharusnya mampu mengoptimalkan fungsinya sebagai pebelajar dan pengajar bahasa yang lebih baik. Wanita masa kini menguasai banyak wawasan dan pengetahuan berbahasa serta diharapkan memanfaatkan kesempatan yang diperoleh dengan sebaik-baiknya. Wanita yang mampu berbahasa dengan baik diharapkan akan mencetak generasi penerus bangsa yang mampu berbahasa dengan baik dan benar. [*]

Penulis adalah Tenaga Teknis di Kantor Bahasa Provinsi Banten

Pendidikan Berbasis Pesantren

07.57

Keluarga Irvan Hq bersama DR Ir Fatah Sulaiman

Karakter bangsa yang mulai luntur di tengah arus globalisasi dan modernisasi seperti sekarang ini tentunya harus segera diatasi. Anak-anak muda yang hanya dijejali pendidikan dunia saja dikhawatirkan akan melahirkan generasi yang menghalalkan segala cara. Ada secercah harapan ketika pendidikan berbasis pesantren saat ini mulai diminati oleh sebagian besar masyarakat, ini menjadi modal utama bagi bangsa untuk menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas dan berakhlak mulia serta berbudi pekerti yang luhur.

Oleh : Irvan Hq


Bicara dunia pesantren tentu saja saya langsung teringat akan seorang tokoh, cendikiawan serta akademisi lulusan S3 Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Pengendalian Lingkungan di IPB bernama DR. Ir. H. Fatah Sulaiman. Pria kelahiran Serang, 6 Oktober 1968 ini sangat aktif di berbagai kegiatan dan organisasi. Gaya bicaranya yang lugas apa adanya membuat obrolan saya dengan beliau seputar dunia pesantren menjadi menarik dan mencerahkan. Berikut beberapa petikan tanya jawab saya dengan beliau sebagai berikut;

Nampaknya semakin sibuk saja pak, bisa diceritakan sedikit aktifitas yang dilakukan Bapak saat ini?
Alhamdulillah…, sampai saat ini saya mendapatkan amanah sebagai Wakil Rektor Bidang Kerjasama, Perencanaan dan Sistem Informasi di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, sebagai Ketua Umum Yayasan Nurul Islam di Kota Serang yang melayani bidang Pendidikan, Pesantren dan Panti Sosial, sebagai Pengurus Dewan Kesejahteraan Masjid baik Masjid Kampus Syeikh Nawawi AlBantani maupun Masjid Raya AlBantani. Juga disibukkan oleh aktifitas sebagai pengurus di Organisasi sosial Kemasyarakatan sebagai, Sekretaris Jenderal Forum Silaturrahim Pondok Pesantren (FSPP) Provinsi Banten, Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Banten, Sekretaris Dewan Pakar ICMI Banten, dll.  Saya juga masih menyempatkan diri menulis, mengisi acara diskusi ilmiah dan menjadi nara sumber di berbagai kegiatan ilmiah lainnya, termasuk wawancara dengan tabloid Banten Muda sekarang ini.

Sudah berapa lama Bapak berkecimpung di Forum Silaturrahim Pondok Pesantren (FSPP) Provinsi Banten. Dan bagaimana Bapak bisa bergabung disana?
Saya bergabung sejak organisasi ini didirikan tepatnya pada 22 Desember 2002, bahkan sejak  proses diskusi dalam menuangkan gagasan 2 bulan sebelumnya. Ceritanya pada waktu itu beberapa kyai pimpinan pondok pesantren penggagas  ingin memiliki wadah organisasi tempat berkumpulnya kyai dan pengelola pondok pesantren, dimulai saat pertemuan keliling dari pondok ke pondok, namun gagasan itu belum dituangkan dalam dokumen tertulis dikarenakan kesibukan dan berbagai hal. Kemudian saya diminta membantu untuk merumuskan dokumen tertulis draft Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) FSPP Banten sebagai bahan  awal yang akan dijadikan materi pada Musyawarah Daerah I FSPP Banten. Alhamdulillah,  berbekal pengalaman organisasi sewaktu saya masih kuliah di Teknik Gas Petrokimia Universitas Indonesia dimana saya sempat aktif di Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) UI dan Pejabat Ketua Ikatan Mahasiswa Gas Petrokimia, draft AD/ART FSPP Banten ini, dapat saya selesaikan dan menjadi bahan diskusi para Kyai untuk dimatangkan. Dan saat itu juga saya ditunjuk menjadi ketua panitia MUSDA I FSPP Banten dengan ketua SC nya  KH. Sadeli Karim, Lc.  Tepat pada tanggal 22 Desember 2002, MUSDA I FSPP Banten dilaksanakan, yang acara pembukaannya  oleh Menteri Agama RI, KH. Said Aqil Munawar, MA dan penutupannya oleh Gubernur Banten pertama H.Djoko Munandar (alm). Melalui MUSDA I  itulah,  disepakati berdirinya wadah organisasi tempat berhimpunnya kyai pimpinan dan para pengelola Pondok Pesantren Se Provinsi Banten, baik ponpes salafi, modern maupun gabungannya yang tergabung dalam FSPP Banten. Organisasi ini bersifat independen, yang anggotanya memiliki latar belakang beragam, dengan tujuan memperkokoh silaturrahim antar pimpinan pondok pesantren se Banten dan ukhuwah islamiyah, dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan dan pemberdayaan pondok pesantren di Provinsi Banten. Kepengurusan hasil  MUSDA I ini dipimpin oleh KH. Sulaiman Ma’ruf pimpinan ponpes Daar el Istiqomah Serang, Sekretaris Umum KH. A. Maimun A’lie, MA, Pimpinan ponpes Subulussalaam Kresek Tangerang, dan saya sendiri diamanati sebagai Ketua Harian FSPP Banten.

Berapa banyak pesantren yang sudah bergabung di FSPP ini pak? Kalo belum semua, apa yang menjadi kendalanya?
Program awal dari kepengurusan FSPP Banten salah satunya adalah menyusun data base pesantren yang ada di Provinsi Banten, disamping program utama sosialisasi dan penguatan eksistensi organisasi, dengan target terbentuknya FSPP sampai tingkat kecamatan se Provinsi Banten, serta program silaturahmi rutin melalui pengajian keliling dari pesantren ke pesantren secara bergiliran dari Kabupaten/Kota yang satu ke Kabupaten/Kota lain di wilayah Provinsi Banten. Alhamdulillah.. dari program perdana penyusunan database pesantren ini,  berhasil diidentifikasi dan diresponse formulir isian data yang menjadi data base di FSPP Banten saat itu sejumlah 1312 pondok pesantren baik salafi, modern, maupun gabungannya, dengan informasi kondisi pesantren yang ada di dalamnya. Data base pesantren yang selesai pada akhir tahun 2005 inilah,  yang kami komunikasikan ke Pemerintah Provinsi Banten sebagai dasar penyusunan program kemitraan strategis untuk pemberdayaan dan peningkatan kualitas pendidikan pesantren. Sedangkan data terakhir berdasarkan pendataan  yang dilakukan kerjasama Pemrov Banten dan BPS Banten  pada akhir tahun 2011, terdata sebanyak 4956 Pondok Pesantren di Provinsi Banten. Tentu saja masih ada kendala  dalam program pendataan ini, terutama terkait dengan dana yang masih terbatas terkait hal ini, kemudian medan geografis yang cukup sulit dan variatif di peloksok daerah terpencil, yang di dalamnya juga ada komunitas pesantren yang sulit diakses, dan ada juga penolakan dari Kyai pimpinan ponpes untuk pengisian database ini dengan alasan tertentu. Saya yakin jumlah pesantren saat ini  terus bertambah, dan secara bertahap database pesantren akan terus diupayakan untuk diupdate.

Luar biasa banyak juga ya pak, kemudian sejauhmana peran FSPP terhadap perkembangan dunia pesantren di Banten?
Peran FSPP Banten dirasakan sangat strategis dan berpengaruh positip bagi perkembangan dunia pesantren di Banten, minimal sebagai salah satu media silaturrahim yang sangat efektif bagi para pengelola/pimpinan pondok pesantren, sekaligus juga sebagai mitra strategis pemerintah Provinsi Banten terkait pemberdayaan dan peningkatan kualitas pendidikan pesantren dan peran pemberdayaan SDM Banten yang berkarakter ahlakul karimah dan memiliki ketahanan mental spiritual yang sangat dibutuhkan, untuk bersama membangun Banten, mewujudkan kesejahteraan masyarakat Banten berlandaskan iman Takwa. Beberapa Program Kemitraan strtategis telah dilaksanakan bukan  hanya dengan Pemrov Banten tapi juga dengan lembaga lain yang tidak mengikat,  dalam program kemitraan bagi peningkatan kualitas mutu sarana dan pendidikan pesantren seperti, Program fasilitasi sanitasi dan sarana air bersih bagi ponpes salafi bekerja sama dengan Islamic Relief dan Asean Moslem Charity Foundation (AMCF), pembangunan Pos Kesehatan Pesantren untuk sekitar 32 Ponpes,  bermitra dengan Kementerian Kesehatan RI, bantuan pembangunan Musholla dan Mesjid Pesantren bermitra dengan Rabithah Alam Islamy dan AMCF, Pelatihan Eco Pesantren bermitra dengan Kemen LH dan BPPT, dan masih banyak lagi program lainnya, termasuk bantuan stimulant guru ngaji secara bertahap dari APBD Banten.


Kegiatan apa saja yang sudah dilakukan FSPP Banten?
Selama kurun waktu 11 tahun sejak berdiri,  sudah banyak yang dilakukan FSPP Banten untuk penguatan pemberdayaan dan mutu pesantren seperti berbagai ragam pelatihan bagi pengelola pondok pesantren, seperti ICT, Manajemen Ponpes, Akreditasi mutu madrasah di lingkungan Ponpes, agenda rutin silaturahmi ajang pentas seni dan olahraga santri POSPEDA I, II, III dan IV, yang merupakan ajang seleksi untuk kegiatan Pekan Olahraga dan seni Pesantren Nasional (POSPENAS), promosi dan publikasi pondok pesantren Banten, lewat Media Massa maupun elektronik seperti tayangan Pondokku Istanaku yang memperkenalkan kehidupan pesantren di Banten, disamping pengajian dan diskusi kajian rutin pimpinan ponpes di sekretariat FSPP Banten maupun kajian bergilir serta kunjungan ke FSPP Kab/Kota se Provinsi Banten, dll.

Kalau dulu orang tua bangga jika anak-anaknya bisa masuk pesantren, apalagi pesantren yg terkenal dengan guru yang kesohor. Apa betul sekarang ini kebanggaan tersebut mulai pudar? menurut Bapak kenapa hal ini bisa terjadi?
Saya kira, antusiasme orang tua dan minat peserta didik, untuk memasuki  pendidikan pesantren saat ini,  sama besarnya dengan keminatan ke sekolah umum, bahkan akhir-akhir ini kecenderungan kalangan menengah ke atas terhadap pola pendidikan pesantren untuk anak-anaknya mengalami peningkatan yang signifikan. Sehingga bisa dicermati bersama,  saat ini bermunculan pola pendidikan yang mengadopsi pendidikan pesantren dalam bentuk Sekolah Dasar Islam Terpadu, SMP Islam Terpadu, SMA Islam terpadu atau Boarding school, full days School dan sejenisnya, yang menjadi pilihan orang tua modern untuk menyekolahkan putera-puterinya. FSPP Banten juga memberikan informasi dan diskusi serta pemahaman kepada pimpinan pondok pesantren bahwa,  perlu penyesuaian manajemen dan perlu fasilitasi perangkat pendidikan pondok pesantren,  yang menyesuaikan dengan dinamika perkembangan dunia modern saat ini, dengan tetap tidak menghilangkan prinsip-prinsip dasar pengajaran pemahaman Tafaqquh Fiiddin dan Ahlakul Kariimah dalam proses pendidikan di Pesantren. Jadi tidak benar,  kalau masyarakat saat ini sudah pudar minatnya terhadap pendidikan pesantren.  Fenomena terakhir,  saya dapat informasi , sudah mulai banyak pesantren yang menolak calon santri yang ikut test, karena keterbatasan daya tampung sarana pesantrennya

Ini informasi yang menggembirakan kita semua, karena ironisnya di sekolah-sekolah umum nampaknya ada kecenderungan anak-anak hanya dijejali dengan pendidikan dunia saja, sehingga dikhawatirkan di masa yang akan datang akan lahir generasi yang menghalalkan segala cara. Bagaimana menurut Bapak?
Hal ini juga menjadi keprihatinan saya. Saya kira,  perlu kesadaran kolektif dari pemangku kepentingan dunia pendidikan, untuk  mereformulasi  penguatan substansi kurikulum terkait dengan penguatan karakter ahlakul kariimah, moral anak didik,  dan memberikan porsi yang cukup untuk penguatan fondasi nilai-nilai keagamaan,  untuk bekal kehidupan bermasyarakat dan berbangsa bagi anak-anak didik kita, materi pendidikan karakter berbasis ahlakul kariimah serta fondasi nilai-nilai keagamaan, harus menjadi bagian penting muatan kurikulum  di sekolah pendidikan umum.

Karakter bangsa yang mulai luntur di tengah arus globalisasi dan modernisasi seperti sekarang ini tentunya harus segera diatasi. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah melalui sistem pendidikan berbasisi pesantren. Bagaimana upaya FSPP merealisasikan hal ini?
FSPP Banten juga mendorong penguatan dan tumbuhnya nilai-nilai kebangsaan dan nasionalisme di kalangan santri, melalui upaya-upaya pemberian pemahaman bahwa islam sebagai agama yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan yang universal dan menjunjung tinggi nilai-nilai kedamaian sebagai agama yang harus menjadi rahmat bagi seluruh ummat di  alam raya ini, termasuk menjaga nilai-nilai ukhuwah persatuan dalam bermasyarakat dan berbangsa. Berbagai program telah digagas terkait hal ini, seperti Dialog kebangsaan bagi komunitas pesantren bekerjasama dengan Kementerian Dalam Negeri RI,  Rapat Akbar Wawasan Kebangsaaan bermitra dengan Kesbangpol Provinsi Banten, bekerjasama dengan Korem Maulana Yusup,  menggagas Program Pendidikan Bela Negara untuk Santri, Kemah Santri dan Pramuka Santri bekerjasama dengan Kopasus dll, serta diskusi dan kajian khusus Wawasan Kebangsaan dan Ketatanegaraan. Saya optimis ke depan akan lahir Jenderal-Jenderal yang menduduki posisi strategis yang siap menjaga keutuhan NKRI,  yang juga merupakan alumni dari Pondok Pesantren.

Amin. Satu hal yang sering menggangu saya ketika menyaksikan film-film yang berlatar belakang  pesantren, sering digambarkan bahwa Pesantren masih bersikap ekslusif dan dianggap belum mampu berdialog dengan kebudayaan modern serta secara aktif mengisinya dengan substansi dan nuansa-nuansa islami. Apakah menurut Bapak ini betul dan apakah pandangan ini harus diperbaiki? Bagaimana caranya?
Stereotip tentang pendidikan pesantren yang eksklusif yang digambarkan media film,  tentu saja tidak sepenuhnya benar. Banyak fakta-fakta menarik bahwa alumni pesantren yang menjadi tokoh pergerakan nasional baik sebelum kemerdekaan maupun pasca kemerdekaan sampai di era pembangunan dan reformasi saat ini,  begitu sangat inklusif , sangat terbuka, humanis, demokratis dan moderat. Sebutlah nama-nama besar, Brigjen Syam’un di Banten, KH. Hasyim Asy’arie pendiri NU, KH. Wahid Hasyim, KH. Abdurrahman Wahid, M. Natsir, Moch. Roem, Nurkholis Majid dan masih banyak lagi. Bahkan saat ini KH. Hasyim Muzadi dan KH.  Din Syamsudin menjadi tokoh lintas agama dunia, yang kesemuanya merupakan alumni pesantren. Jadi saya Kira,  Penggiat Pendidikan Pesantren, harus tetap istiqomah berjuang dan membuktikan karya nyata bagi bangsa ini, melalui transformasi prinsip-prinsip penting pendidikan pesantren yaitu membangun peserta didik yang memiliki nilai-nilai dan jiwa, kesederhanaan, kemandirian, kebebasan berfikir, kebersamaan, tafaqquh fid diin dan Keteladanan Ahlakul Kariimah.

Baiklah pak, mudah-mudahan apa yang di cita-citakan FSPP yang tentunya menjadi harapan kita semua dapat segera terwujud. Terima kasih atas waktunya, apa ada pesan dan kesan yang ingin Bapak sampaikan khususnya untuk generasi anak muda Banten?
Sama-sama, terima kasih kembali. Khusus bagi generasi muda Banten, mari kita terus upayakan secara maksimal, belajar tanpa henti untuk memiliki kualitas pemahaman nilai-nilai keagamaan kita, khususnya Islam sebagai agama mayoritas penduduk di Banten, belajar terus nilai-nilai keteladanan ahlakul kariimah Rasulullah Muhammad SAW, di sela-sela kesibukan aktifitas anak-anak muda berkreasi, menimba ilmu dan kompetensi yang dibutuhkan di era modern ini.  Baca dan pahami AlQuran,  kalau memungkinkan bisa hafal 30 juz, atau minimal telah mengkhatamkan AlQuran dan membaca maknanya, agar dapat menuntun para generasi muda Banten,  untuk tetap berhati - hati dalam menjalani dinamika kehidupan yang semakin kompleks tantangan dan godaannya di masa datang.  Sehingga Insya allah akan lahir generasi emas, yang hidupnya senantiasa berharap ridho Allah SWT, selamat dunia Akhirat. Amiin…wallahu’alam. Sekali lagi terima terima kasih, salam untuk anak-anak Banten Muda Community.

***