Wylvera; Terinspirasi Ladang Jagung Urbana

23.22
Wylvera Windayana, penulis novel Misteri Anak Jagung


Ping!!! “Hi, aku udah di RD, nih.” Sebuah pesan BlackBerry Messenger yang diawali sebuah Ping masuk ke ponsel saya. Mbak Wylvera. Kami memang sudah akrab sebelumnya, beberapa kali saya dan Mbak Wik pernah bertemu dalam acara kopi darat penulis, berada dalam satu antologi (Para Guru Kehidupan, Gerai Buku, 2011), pun di Pulau Dewata dalam rangkaian acara Ubud Writer & Reader Festival tahun lalu.

“Oke, Mbak. Aku otewe, nih,” saya membalas dengan lima huruf andalan setiap kali ada janji dengan seseorang. Otewe! Serang benderang di Minggu siang, 14 April 2013. Celana pendek selutut dan kaos v-neck tipis saya kira adalah perpaduan yang tepat untuk tetap bersahabat dengan udara Serang yang panasnya terkadang berlebihan.

Wylvera Windayana. Sesosok ibu idaman di mata saya. Tapi guru ekskul jurnalis di Kota Bekasi ini lebih senang saya panggil 'Mbak’. Entahlah, hal itu mengalir begitu saja semenjak perkenalan kami di Facebook dua tahun yang lalu, kemudian duduk bersama di beberapa acara kepenulisan, pertemuan penulis dan launching buku.

Siang itu, Mbak Wik hadir di pustakaloka Rumah Dunia dalam acara launching novel terbarunya, Misteri Anak Jagung. Sekitar satu jam saya menunggu Mbak Wik berbagi cerita seputar novel terbarunya dengan peserta yang hadir siang itu. Saya mencegat Mbak Wik usai acara launching, kami ngobrol cukup lama – termasuk mengenai Misteri Anak Jagung.

“Novel ini aku garap ketika masih bermukim di Urbana Illinois, USA. Waktu itu aku dan anak-anak ikut diboyong suami mendampinginya melanjutkan studi S2. Waktu aku yang banyak kosong selama di apartemen, tentu saja membuat aku gak bisa diam. Akhirnya dari sana kembali terjun ke dunia menulis setelah sekian lama tak lagi bersentuhan dengannya.”

Misteri Anak Jagung merupakan novel remaja Mbak Wik yang dipinang penerbit asal negeri Jiran. Butuh waktu lama untuk menemukan penerbit yang menjadi jodoh naskah yang sudah ditulisnya semenjak 2008 lalu ini.

“Ceritain, dong, Mbak, dari mana idenya nulis MAJ?”

“Idenya muncul ketika aku masih di Amerika. Gak tau kenapa ya, tiba-tiba ingin sekali menulis cerita tentang ladang-ladang jagung yang kerap aku lewati selama tinggal di Urbana. Aku kagum pada petani-petani jagung itu. Dan, aku selalu terdorong untuk menelusuri ladang-ladang jagung itu. Adakah sesuatu yang misterius di dalamnya? Lalu, apa hubungannya dengan Misteri Anak Jagung? Sudah lama sih aku ingin mengangkat tema tentang keunikan anak indigo. Aku sempat menuliskannya lewat sebuah cerita pendek waktu itu. Aku merasa bahwa anak indigo ini unik dan layak diangkat dalam cerita, karena mereka memiliki kelebihan, menurutku. Kelebihan mereka itulah yang ingin aku gali. Lalu, aku memilih untuk mengurainya di cerita fiksi,” ujar Mbak Wik panjang-lebar.

Mbak Wik menceritakan, selama menggarap novel ini selama kurang-lebih tiga bulan, beliau membaca banyak referensi dari buku-buku yang mengupas tentang anak indigo, juga browsing di internet. Tak hanya itu, anak-anak Mbak Wik yang juga mengikuti jejak ibunya untuk menjadi seorang penulis menjadi salah satu alasan perempuan berkerudung ini untuk menyelesaikan novel Misteri Anak Jagung. “Waktu itu aku langi mengantarkan anakku ke sekolah, tiba-tiba dia mendekapku kuat dari belakang. Seperti melihat sesuatu. Entahlah kenapa, cerita itu menjadi salah satu motivasiku untuk menyelesaikan novel ini.”

Saya penasaran tentang kendala yang dihadapi Mbak Wik dalam menulis. Sebab saya tahu, sebelum Misteri Anak Jagung, beberapa karya Mbak Wik telah terbit dalam bentuk novel maupun antologi, seperti Kue-Kue Cinta, Seri Dongeng Dunia Princess, Para Guru Kehidupan, dan lain sebagainya.

Mbak Wik menuturkan, kendala dalam menulis mungkin saja sama dengan kebanyakan orangtua yang menulis lainnya. Apalagi bagi seorang ibu rumah tangga dan sibuk mengajar. “Kendalanya seperti ibu-ibu kebanyakan, kadang ide dan mood itu muncul saat pekerjaan rumah lagi banyak-banyaknya. Jadi memang harus pandai membagi waktu antara mengurus keluarga dan menyalurkan hobi nulis. Aku nulis kalau semua kerjaan udah beres, masak, nyuci, nganterin anak ke sekolah.”

“Apa nih Mbak harapannya untuk Misteri Anak Jagung?” tanya saya.

“Harapanku, semoga novel ini mendapat tempat di hati pembacanya. Semisteri apa pun alur ceritanya, semoga tetap memberikan nilai-nilai positif dan tambahan ilmu bagi pembacanya. Apalagi buat kamu yang memiliki teman indigo, novel ini bisa jadi teman paling seru untuk dibaca.”

Saya tersenyum sembari mengamini harapan perempuan yang sudah seperti kakak saya sendiri itu. “Eniwei, sejauh ini tangggapan pembaca gimana, Mbak?” saya mengeluarkan pertanyaan pamungkas saya saat Mbak Wik sudah siap-siap beranjak dari duduknya.

“Alhamdulillah tanggapan pembaca positif tentang MAJ. Seperti kata Delia, salah satu pembaca MAJ yang mengirimkan pesan inbox di Facebook-ku: Anak indigo adalah anak yang memiliki kemampuan istimewa yang tidak dimiliki anak-anak pada umumnya. Meskipun tidak terlihat mencolok dan seperti umumnya anak-anak, namun di antara mereka ada yang istimewa. Mereka bisa melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh orang lain.” (Chogah/ ft. Chogah)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »