Utuh dalam Satu Pelukan; Republik Indonesia

03.32
Jajang C Noer menghadiri acara pemutaran dan diskusi film
Mata Tertutup di  Auditorium Untirta,  Selasa (17/4)

Sebuah notifikasi dari Twitter membuat LED Indicator di pojok kanan atas ponsel saya berkedip-kedip. Saya memencet icon bergambar burung biru itu dan terpampang sebuah mention dari @InfoUntirta dengan sederet twitnya tentang pemutaran dan diskusi film Mata Tertutup yang akan dilaksanakan hari ini di auditorium Untirta, Selasa, 16 April 2013. Saya mengintip pojok kanan bawah komputer lipat saya, masih ada waktu setengah jam untuk bersiap-siap – kebetulan dari pagi saya belum mandi.

Dengan langkah yang lebih cepat dari biasanya, saya bergegas menuju Gedung B kampus Untirta Serang. Beberapa teman mahasiswa mengantre di pintu masuk auditorium. Saya langsung menulis nama di buku tamu dan mengatakan saya dari Banten Muda. Panitia penyelenggara agaknya sudah tahu tentang media tempat saya mengabdi, saya dipersilakan masuk.

Jajang C Noer, salah satu pemeran utama dalam film Mata Tertutup tengah berdiskusi dengan puluhan penonton yang hadir. Saya hanya mendengarkan, Mbak Jajang yang didampingi Manager Program Maarif Institut memaparkan sekilas tentang Mata Tertutup.

Film yang disutradarai Garin Nugroho dengan durasi 90 menit itu bercerita tentang sejarah dan perkembangan radikalisme di Indonesia, dari organisasi yang kelihatan hingga yang tidak terlihat. Melalui film berjudul Mata Tertutup, masyarakat diharapkan lebih mengenal organisasi ini sehingga bisa lebih membuka mata dan waspada. Film ini memiliki 3 cerita inti, yang pertama mengambil setting  Yogyakarta,  menceritakan pergulatan Rima (Eka Nusa Pertiwi) dalam pencarian identitas yang akhirnya tergabung dalam NII. Ia menjadi ujung tombak pengumpulan dana, sehingga mendapat pujian dari pimpinan NII. Proses perekrutan dengan penculikan dan penutupan mata korban saat berada di dalam mobil, pencucian otak dengan memberikan potongan-potongan Al Quran dan hadis yang dimaknai sembarangan, sampai pengumpulan dana untuk merealisasikan tujuan utama NII, mendirikan Darul Islam, digambarkan dengan gamblang.

Cerita kedua tentang Sobir (Dinu Imansyah), seorang santri miskin dan hidup di pemerintahan yang tidak melindungi rakyat, hidupnya berakhir tragis karena nekat menjadi bomber. Namun, tak sempat bom diledakkan dirompi yang dikenakan, aparat hukum menembak mati. Dia rela melakukan aksi bom bunuh diri untuk menyerang Thaghut, pemerintahan yang dianggap kafir, yaitu Pemerintah Indonesia, agar dapat memberikan syafaat (pertolongan) bagi keluarganya di akhirat nanti. Dalam film ini, Garin juga membuka sisi lain dari NII dan JI lewat tokoh Aini. Di sini digambarkan perekrutan anggota baru dapat terjadi pada siapa saja, tak hanya orang yang bermasalah atau miskin. Aini adalah anak tunggal seorang perajin asal Padang yang sukses. Dia hilang selama tiga bulan. Saat kembali, dia mengalami trauma berat.

Beberapa scene sempat membuat mata saya berpendar, buram. Adegan yang menggambarkan ketulusan hati seorang ibu, dimainkan secara apik oleh Mbak Jajang C Noer dengan logat dan dialeg Minang. Terlebih saat tokoh Aini kembali ke rumah dan langsung mendapat pelukan hangat dari ibunya, tanpa ada luapan kemarahan. Satu pesan yang dapat saya petik dari adegan itu adalah memarahi bukanlah cara terbaik untuk membuat sadar anak yang melakukan kesalahan. Marah justru akan semakin membuat anak semakin tertekan dan merasa dikucilkan. Adegan paling indah dalam film ini adalah tentang pertobatan tokoh Rima yang mendengar lantunan lirik-lirik Tanah Airku dari balik jendela kamarnya. Ah, sungguh, dari relung hati terdalam saya berdoa, semoga negeri tercinta tetap utuh dalam satu pelukan; Republik Indonesia. (Chogah/ ft. Chogah)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »