Tabloid Banten Muda edisi #15 - Catatan Irvan

20.43

Di tengah ketatnya persaingan dunia usaha, kita dituntut untuk dapat menciptakan keunikan atau ciri khas yang gampang diingat dan sulit ditiru oleh pesaing lainnya. Apalagi saat ini sedang terjadi trend bisnis waralaba yang berkembang sangat pesat; ada sekitar 350 waralaba asing dan sekitar 2.000 waralaba lokal yang ingin memanfaatkan potensi pasar Indonesia di tengah ekonomi Eropa dan Amerika yang sedang lesu darah. Salah satu kelemahan waralaba lokal termasuk di Banten adalah lemahnya pemahaman mereka terhadap pentingnya Logo sebagai wakil dari sebuah organisasi atau produk yang mereka miliki. Hal ini dapat kita lihat dari banyaknya logo yang dibuat tanpa memperhatikan value yang diusung, misalnya saja logo perusahaan yang hanya berbentuk inisial atau singkatan dari nama perusahaan tersebut.

Oleh: Irvan Hq

Berbicara kreativitas, apalagi dunia entrepreneurship di Banten, tidak akan terlepas dari seorang praktisi pemasaran yang gemar bersedekah bernama Boyke Pribadi. Selain aktif sebagai akademisi dan berbagai kegiatan sosial, beliau juga cukup produktif mengeluarkan produk-produk baru untuk dipasarkan. Boyke Pribadi adalah founding father BDF Fellowship, sebuah lembaga yang bergerak memberikan beasiswa pendidikan bagi siswa-siswi yang kurang mampu. Sekembalinya Boyke Pribadi dari Singapura, saya langsung bertemu dengan beliau untuk sekadar ngobrol-ngobrol ringan seputar logo sebagai berikut.

Irvan Hq  :  Akhir-akhir ini tampaknya sering ke Singapura, Kang. Ada urusan apa?
Boyke P.  :  Awalnya ada urusan sedikit di sana, tapi alhamdulillah sekarang ada bisnis kecil-kecilan.      

Irvan Hq  :  Bicara BDF Fellowship, berapa nominal yang diberikan untuk beasiswa?
Boyke P.  :  BDF Fellowship adalah lembaga milik keluarga. Selain saya, juga didirikan oleh istri dan dua anak kami. Besar bantuan yang diberikan dalam rentang ratusan ribu hingga jutaan rupiah tergantung kebutuhan siswa.

Irvan Hq  :  Apa rencana ke depan?
Boyke P.  :  Ke depan, kami sedang menyiapkan BDF Empowerment sebagai bantuan modal bagi kaum duafa dalam menjalankan usaha. Besar modal yang diberikan maksimal lima juta, dan keuntungan yang diperoleh melalui bagi hasil akan digunakan untuk membiayai pendidikan siswa tidak mampu. Semboyan BDF Empowerment: Bangkit, Berdaya, Berbagi. Semboyan BDF Fellowship: Care for bright future.

Irvan Hq  :  Logo BDF Fellowship seru juga ya, maknanya apa itu, Kang?
Boyke P.  :  Logo BDF Fellowship mengandung filosofi menyiapkan semacam jaringan pengaman (tangan yang menengadah) untuk menahan jatuhnya seseorang ke bawah. Karena BDF Fellowship bertujuan memutuskan “lingkaran setan” kemiskinan melalui bantuan biaya pendidikan.

Irvan Hq  :  Seberapa pentingkah sebuah logo dalam sebuah perusahaan atau organanisasi?
Boyke P.  :  Logo itu mewakili kehadiran usaha kita di tengah-tengah konsumen. Hampir serupa dengan merek/brand yang bertujuan memudahkan penciptaan ‘brand image’ terhadap produk atau intitusi/organisasi sehingga kehadiran logo sangat penting untuk eksistensi produk atau institusi kita.

Irvan Hq  :  Apakah dalam membuat logo, Kang Boyke membuatnya sendiri atau menggunakan jasa orang lain?
Boyke P.  :  Saya memberikan value organisasi serta gambaran yang diperlukan, lalu seorang desainer yang menggambar logo tersebut.

Irvan Hq  :  Pertimbangan-pertimbangan apa saja yang harus diambil ketika kita hendak membuat logo?
Boyke P.  :  Pertimbangan utama adalah menyangkut value perusahaan atau organisasi kita. Value apa yang diusung, bergerak dalam bidang atau sektor apa, serta segmen konsumen yang disasar. Satu hal yang perlu diperhatikan adalah logo yang mudah diingat dan unik.

Irvan Hq  :  Seberapa pentingkah keberadaan para pembuat logo dan bagaimana eksistensinya?
Boyke P.  :  Para desainer logo sangat diperlukan guna menerjemahkan value organisasi secara ringkas ke dalam lambang. Desainer logo banyak bernaung pada perusahaan periklanan, perusahaan public relation. Desainer yang profesional sangat memahami arti warna, bentuk, jenis huruf, dan gaya penulisan dalam kaitan makna filosofis logo yang dibuat. Seperti warna hitam untuk menggambarkan makna ketegasan, atau jenis huruf art deco untuk menggambarkan nilai klasik, dan lain-lain.

Irvan Hq  :  Khususnya di Banten, bagaimana tingkat apresiasi masyarakat atau konsumen terhadap para pembuat logo ini?
Boyke P.  :  Secara umum masih banyak logo perusahaan lokal di Banten yang hanya berbentuk inisial (singkatan) dari nama perusahaan dan dibuat tanpa memperhatikan value yang diusung. Ketika saya tanya kepada mereka, ternyata mereka membuatnya bukan kepada ahli desain logo, tetapi kepada tukang setting di percetakan. Memang tidak masalah sih, tapi jika berharap organisasinya kelak akan membesar/maju, maka sebaiknya dibuat logo yang sarat makna filosofis.

Irvan Hq  :  Sudah banyakkah ahli desain logo di Banten?
Boyke P.  :  Setahu saya sih tidak begitu banyak desainer logo yang mendalami keahlian membuat logo. Yang banyak adalah ahli setting yang terbiasa mengoperasikan software semacam CorrelDRAW dan sejenisnya tanpa mendalami makna masing-masing jenis huruf dan warna yang digunakan. Karena memang mendesain logo itu tidak mudah, karena selain harus mengenal detail sifat dari gambarnya, juga harus menjaga orisinalitas dari logo yang dibuat, sehingga harganya memang cukup mahal karena keunikannya supaya tidak dituntut pihak lain pemilik logo yang mirip atau serupa.

Irvan Hq  :  Apakah kemampuan para desainer di percetakan bisa di-up grade dengan mengadakan workshop membuat logo misalnya?
Boyke P.  :  Sangat bisa karena mereka sudah memiliki keahlian merekayasa gambar atau simbol, tinggal mengaitkan antara simbol dengan makna yang mewakilinya.

Irvan Hq  :  Bagaimana prospek jasa pembuat logo secara profesional di Banten?
Boyke P.  :  Karena pemahaman masyarakat belum luas, maka prospek pembuat logo amat sangat cerah seiring dengan proses edukasi yang dilakukan kepada masyarakat.


Tidak terasa obrolan saya dan Boyke Pribadi membuat Wedang Jahe yang dihidangkan mulai terasa dingin. Waktu di handpone saya sudah menunjukkan pukul 23.00. Saya terpaksa menutup obrolan yang asyik ini dengan pertanyaan terkait anak muda Banten. Sebagai penutup, beliau berpesan kepada sahabat-sahabat Banten Muda untuk menjadi anak muda yang kreatif, inspiratif, dan aktif, sebab dengan inspirasi dan kreativitas yang tidak terbatas banyak hal yang dapat dicapai. Tetap semangat.... [*] 

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »