Memberi itu Terangkan Hati

16.40


Siapa yang tidak kenal Iwan Fals, musisi legendaris Indonesia yang karya-karyanya telah akrab di telinga lintas generasi, pun saya, meski waktu itu saya masih suka bermain telanjang kaki dan menebar aroma matahari ke rumah tetangga saya. Bento dan Galang Rambu Anarki adalah dua lagu yang sering saya dengar dari speaker tape Tek Ruli, di kampung dulu.

Oleh : Setiawan Chogah

Kenal Iwan Fals tentu juga kenal dengan Oi. Sudah menjadi pemandangan lazim, jika ada seorang artis mempunyai fans. Bak dua sisi mata uang, mereka selalu menempel dan tak bisa terpisahkan. Bagi sang artis, dirinya tidak akan bisa populer tanpa adanya fans, sedangkan untuk fans merupakan suatu kehormatan bagi mereka jika bisa berkenalan atau pun dekat dengan artis pujaan mereka.

Sama halnya seperti Oi, komunitas penggemar musisi Iwan Fals ini memang dikenal begitu loyal dengan Iwan Fals. Di mana Iwan mengadakan konser di situ pasti ada anak-anak Oi, yang selalu setia memberikan dukungan.

Namun berbeda dengan acara yang saya kunjungi di Sabtu sore, 30 Maret 2013. Oi yang sering disebut sebagai singkatan dari 'Orangnya Iwan', 'Om Iwan' atau 'Orang Indonesia' bukan hadir memeriahkan konsernya Iwan Fals. Sore itu, di halaman PBS FM Serang, Oi dan Banten Muda bekerja sama dengan Radio PBS dengan program JJS-nya menggelar acara santunan untuk anak yatim.     
    
Saya menemui Kang Nugraha Umur Kayu, ketua Oi Kabupaten dan Kota Serang.

“Biasanya Oi kan adanya di acara konsernya Iwan Fals, Kang. Nah, hari ini acaranya beda. Bisa ceritakan seperti apa?”

“Iya, Mas. Oi memang sebuah komunitas pencinta Iwan Fals, tapi di luar itu Oi juga punya kegiatan sosial, salah satunya santunan untuk anak yatim ini.”

Kang Nugraha menceritakan, sebagai sebuah komunitas, Oi memiliki beragam kegiatan yang menarik. Oi memiliki program kegiatan yang diberi nama “SOPAN” yakni Seni, Olahraga, Pendidikan, Ahlak dan Niaga. “Kita peduli dengan pendidikan, terutama buat generasi muda yang seharusnya mendapatkan pendidikan yang layak, tapi mereka terkendala oleh biaya dan fasilitas. Dari santunan ini kita berharap anak-anak yatim bisa tetap bersekolah dan mereka merasa ada yang memiliki. Mereka tidak sendiri.”

Acara yang dimeriahkan oleh penampilan beberapa band lokal itu dihadiri oleh sekitar 27 anak yatim dari kabupaten dan kota Serang. Bersama Banten Muda dan komunitas Passer, Oi membagikan sejumlah uang dan peralatan sekolah.

“Banten Muda hadir untuk melengkapi saja, Iwan. Banten Muda bukan komunitas yang hadir untuk menyaingi komunitas lain, tapi kita saling bersinergi, salah satunya dalam acara ini dengan Oi dan Passer,” ujar Kak Irvan, Ketua Umum Banten Muda Community ketika saya temui setelah ngobrol panjang dengan Kang Nugraha tadi.

Kak Irvan berharap acara ini bisa menjadi stimulus bagi komunitas lain untuk melakukan hal sama. Berbagi, bersama-sama menerangkan. “Sama seperti tema acara hari ini; Memberi itu Terangkan Hati,” imbuhnya.

Hal yang sama pun disampaikan Ipank, Ketua Umum Passer Banten, komunitas mencinta Pas Band. “Tadinya kita ada acara di luar, tapi pas tau kalau Oi dan Banten Muda ngadain acara ini, kita bagi-bagi tugas. Acara seperti inilah yang menjadi sumber semangat buat kita. Berbagi dengan adik-adik yang kurang beruntung.”

Oi, Banten Muda, juga Passer memberi saya oleh-oleh paling mahal sore itu; senyuman anak yatim-piatu ketika menerima santunan. Saya menyempatkan diri ngobrol dengan Aldi dan Suwanda, dua adik kecil yang datang dari Kalodran.

“Aldi kelas berapa, Dik?” tanya saya pada bocah yang malu-malu ketika saya salami sore itu.

Dia tersenyum. “Kelas 5, Kak,” jawabnya pelan.

“Kalau Wanda?” saya mengalihkan pandangan pada adik kecil di sebelah Aldi. Dia menunduk, saya diburu kenangan, Wanda mengingatkan saya pada masa kecil yang pemalu.

Saya mengusap bahunya. “Tadi datang sama siapa?” 

Wanda menatap saya sejenak. Saya mencipta senyum, berusaha melebur malu yang membuatnya beku.
“Sama mamah.” Aih, akhirnya anak kelas 1 SD yang sudah kehilangan sosok ayah di usia 4 bulan itu bersuara juga.

“Cinta-cita Aldi apa sih?” gantian, saya bertanya pada Aldi.

“Jadi pemain biola, Kak,” jawabnya mantap. Saya tertawa, diam-diam mengamini.

“Kalau Wanda?”

Dia kembali menunduk, beberapa detik selanjutnya kembali menatap saya dan berbisik pelan, “Jadi guru.”

Saya tersenyum, sekali lagi mengusap bahu adik kecil di depan saya, menatap cukup lama ke manik mata mereka. Benar, memberi itu terangkan hati, dan itu terlihat jelas di mata Aldi dan Wanda yang berbinar sembari memeluk erat tas sekolah yang tadi mereka terima.

“Sekolah yang rajin ya, Dek. Aldi harus jadi pemain bola yang hebat, Wanda juga ya, jadi guru. Aamiin.” Saya memutar badan, melepas Aldi dan Wanda untuk pulang ke rumah mereka.
***

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »