YPI Belajar dari Filosofi Saman

17.14


“Pendiri yayasan pernah bilang ke saya, Hidayat, kamu tahu Tari Saman yang dari Aceh itu? Itu adalah tarian yang mendunia. Tapi coba lihat, tarian itu hanya bermodalkan suara dan gerakan. Bermodal semangat. Saya yakin, YPI bisa mendunia seperti Saman.” Laki-laki paruh baya itu bercerita dengan begitu berapi-api. Saya singgah di name tag yang mengantung di kemeja sebelah kirinya, Ir. Tb. Hidayat, ketua pelaksana rapat pleno Yayasan Pendidikan Informatika, Serang.

Oleh : Setiawan Chogah

Pagi itu, 27 Maret 2013, saya hadir di aula YPI yang tengah menjadi saksi dalam penentuan babak baru yang akan dijalankan oleh yayasan yang menaungi beberapa jenjang pendidikan di Kota Serang itu.

“Apa yang memotivasi YPI untuk menerapkan full day school, Pak? Apa itu tidak memberatkan buat peserta didik?” tanya saya.

“Ke depan, tantangan pendidikan semakin berat. Pemerintah gencar membentuk rancangan pendidikan lewat sistem UN dan kurikulum yang selalu dimatangkan. Sekolah-sekolah berlomba untuk menelurkan lulusan terbaik dari UN. Mau tidak mau, YPI harus ikut andil dalam hal ini. Melalui wacana full day school, kita berharap bisa menjadi sekolah terbaik.”

Tb. Hidayat mengatakan bahwa konsep full day school bukanlah sebuah konsep yang akan memenjarakan peserta didik dengan materi yang membosankan. Siswa tetap akan mendapatkan kurikulum inti yang menjadi standar nasional di samping kurikulum lokal dari sekolah. “Anak-anak tidak akan dimabukkan dengan materi tok, tapi mereka bisa mengembangakan bakat lewat pelajaran budaya, pengembangan diri, ataupun ekstrakulikuler lainnya.”

Selayaknya kurikulum inti, siswa tetap masuk pukul 7.00 setiap paginya, namun dalam konsep full day school mereka akan pulang ke rumah pukul 16.00. Hidayat berpendapat, selain mematangkan keilmuan siswa, cara ini sebenarnya akan efektif dalam mengurangi kegiatan negatif pelajar yang dekat dengan image tawuran. “Seharian mereka belajar di sekolah, melakukan kegiatan yang dipantau dengan baik, juga pembelajaran agama yang kadarnya akan lebih banyak, tentu akan menghindari pelajar dari kegiatan negatif. Pulang sekolah akan langsung ingat rumah, jadi tidak ada waktu untuk tawuran.”

Saya mengangguk setuju. Memang, secara logika konsep full day school masuk akal.

“Silakan coffe break dulu, Dek.” Seorang laki-laki berjas rapi tiba-tiba telah hadir di samping saya dan teman-teman pers lainnya. Saya menatapnya sejenak, laki-laki itu tersenyum. Dialah H. Mulya R. Rachmatoellah, Lc. ketua Yayasan Pendidikan Informatika Serang.

“Saya setuju dengan filosofi Tari Saman yang disebutkan Pak Hidayat tadi. Di beberapa negara saya menyaksikan tarian Aceh itu, memang secara kasat mata tidak ada properti selain suara dan gerakan. Tapi mereka bisa mendunia dengan semangat penarinya. Begitupun dengan YPI, ini semancam responsibility kita semua untuk menciptakan semangat bersama mengggapai tema rapat hari ini.”

H. Rachmatoellah menyebutkan ada beberapa langkah tegas yang harus diambil untuk mencapai tujuan ‘menjadi sekolah terbaik’, di antaranya mengikutsertakan siswa dalam olimpiade, kepala sekolah yang kreatif, guru-guru memiliki kualifikasi baik dengan menulis karya ilmiah, prasarana yang menunjang pembelajaran, serta lingkungan yang mendukung untuk pencapaian tujuan itu.

“Kepala sekolah itu ibarat driver yang tahu akan dibawa ke mana penumpangnya. Dia harus kreatif, begitupun dengan guru. Guru-guru harus saling terbuka, sehingga kita bisa hand by hand, saling bantu, sebab ini akan sangat menentukan prestasi sekolah.”

Dalam khusuk saya menyimak ketika H. Rachmatoellah bercerita tentang Filipina. “Di Filipina, rata-rata penduduknya lulusan SMA, kok, tapi bahasa Inggris mereka jago. Itu makanya tenaga kerja mereka lebih berkualitas dibandingkan kita.” Ketua YPI ini juga menceritakan kelak ingin lembaga pendidikan di bawah naungan YPI menerapkan sistem pembelajaran bilingual.

“Saya pernah baca tentang seorang guru Matematika yang meminta anak didiknya keluar lapangan dan melakukan lomba balap karung. Ada beberapa anak yang diminta untuk mengukur jarak, kecepatan, dll. Ini contoh guru yang kreatif yang saya maksudkan. Matematika tidak menjadi menyeramkan lagi, bahkan gurunya pun bisa menjadi guru olahraga.”

Obrolan ini belum memuaskan saya. Tapi jadwal rapat pleno yang dihadiri oleh 4 komisi YPI itu harus segera dilanjutkan.

“Intinya dengan semangat dan kerja sama yang baik, didukung oleh lingkungan yang baik juga, kita optimis pasti bisa mencapai tujuan ‘menjadi sekolah terbaik’. Yang penting bagaimana guru-guru yang segenap pihak terkait bahkan sampai security, tukang kebun, dan lainnya bisa memahami siswa dan melakukan pelayanan terbaik. Sama seperti adik-adik, pastinya memahami leinginan pembaca, baru menulis berita yang dibutuhkan pembaca, bukan?”

Saya merasakan betul semangat yang membara di gedung ini, lewat obrolan, lewat paparan, juga lewat lagu kebangsaan Indonesia Raya yang tadi membuka rapat pleno ini. Lirik-lirik ajaib yang semenjak melepas status sebagai pelajar SMA, sudah amat jarang meluncur dari bibir saya. Lirik bermuatan semangat, sama seperti Saman yang mendunia. Bermodalkan semangat.***

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »