Sehari Satu Ayat

15.46


Tahun 2009 lalu Ustad Yusuf Mansur menggerakkan program unik yang dinamanakan One Day One Ayat, sebuah metode jitu menghafal Al Quran beserta maknanya.

Dengan matic merahnya Bambi, saya dan sahabat saya itu menginjakkan kaki di masjid Agung Serang sesaat sebelum adzan Dzuhur. Minggu, 24 Maret 2013, di sini tengah berlangsung tes hafalan Quran yang digelar oleh PPA Darul Quran cabang Banten.

Saya dan Bembi disambut oleh Ustad M. Yusuf, kami duduk di suasana damai masjid, di dekat sebuah pilar.

“Tanggal 30 besok kan akan ada wisuda akbar di GBK, jadi hari ini tes untuk wilayah Banten,” terang Ustad Yusuf.

“Ada berapa peserta yang ikut tes hari ini, Tad?” tanya saya.

Ustad Yusuf menceritakan, tiap tahun peserta wisuda One Day One Ayat selalu mengalami peningkatan. Untuk hari ini di Banten ada sekitar 800 lebih peserta yang dari dari berbagai daerah.

“Pesertanya macam-macam, dari pesantren ada, masyarakat umum juga ada.”

Untuk bisa mengikuti wisuda akbar di Gelora Bung Karno nanti, para peserta harus menyetor bacaan surat Al Baqoroh sebanyak 50 ayat dan surat An Naba' 40 ayat. Tiga periode sebelumnya, wisuda akbar diadalan di masjid Attin, Taman Mini, dan Kota Semarang.

“Tahun ini kenapa memilih GBK, Tad?”

Jawaban Ustad cukup membuat saya tersenyum. “Sesuai namanya, An Naba itu menggemparkankan. Jadi GBK bukan hanya digemparkan oleh supporter bola dan artis. Tapi Quran pun bisa masuk GBK,” ujarnya. 

Usai bertanya seputar teknis pelaksanaan, saya izin mengambil beberapa gambar kepada Ustad. Saya mengelilingi teras masjid. Memerhatikan wajah-wajah damai mengeja firman Allah. Usia mereka pun beragam saya kira, dari santri-santriwati sampai ibu-ibu. Mata saya singgah pada sosok mungil di sebelah kanan saya. Seorang gadis kecil, saya menaksir usianya di antara 5 atau 6 tahun. Saya perhatikan dari dekat. Subhanallah, diam-diam saya bertasbih.

Sepuluh menit saya menunggu adik kecil itu menyelesaikan tes hafalan Quran-nya. Sampai dia beranjak dari hadapan ustadzah, saya segera menghapirinya. Nazma, begitu nama bidadari kecil yang membuat saya terkesima itu.

“Wah, selamat ya, Nazma. Gimana tadi tesnya, bisa?” sapa saya pada Nazma yang duduk di samping ibunya.

Nazma tidak menjawab, gadis itu hanya tersenyum malu-malu.
Saya memutar otak, ingin sekali mendengar suara Nazma, bercerita tentang hafalan Quran-nya. “Nazma sekolah di mana sih?” tanya saya.

Gadis itu tersenyum lagi, “SD Nurul Najah,” jawabnya pelan.

Saya mengernyitkan dahi, “Di mana itu, Nazma. Serang ya?”

“Bukan, Jakarta,” jawabnya lagi.

Nazma Aida Nabila, gadis kecil 6 tahun, datang jauh-jauh dari Jakarta untuk tes bacaan Quran. “Emang di Jakarta gak ada tesnya, Bu,” saya bertanya pada ibunya Nazma.

“Ada sih, Mas. Tapi hari ini Nazma sekalian ke rumah eyang di Kasemen.”

Sekitar sepuluh menit pula saya dan Nazma berbincang-bincang ditemani ibunya. Bukan saja tentang hafalan Quran, tapi juga mengenai sekolah dan hobinya Nazma. Dia ceritakan pada saya kalau kelak sudah besar, Nazma pengin masuk pesantren.

“Kenapa?”

“Di pesantren kan banyak ustad dan ustazah yang akan ngajarin Nazma ngaji.” Olala! Akhirnya saya berhasil juga mendapatkan satu kalimat panjang dari Nazma. Kami menyudahi obrolan, Nazma harus segera ke rumah eyangnya di Kasemen. Pun saya, acara lain siap menanti untuk dikunjungi. One Day One Ayat, dari metode itu saya belajar suatu hal. Hal-hal besar dalam hidup ini berawal dari hal-hal kecil yang kita lakukan secara terus menerus. Seperti tetesan air yang mampu menembus batu. Tidak ada yang tidak mungkin dalam hidup ini, tergantung seberapa besar effort yang kita lakukan, juga doa yang menyertainya, selebihnya, biarkan Tuhan yang memberikan kejutannya.

***

Oleh : Setiawan Chogah

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »