Seberapa Pentingkah Nama Pena bagi Seorang Penulis?

12.43

Jakarta, Banten Muda – Usai melakukan upacara seremonial tiup lilin ulang tahun pertama CK Writing, pada penggagas komunitas ini yang terdiri dari Handoko F. Zainzam, Reni Erina, dan Abak Yoyok, menggelar talkshow yang diikuti oleh para Cekers dengan tema Seberapa Pentingkah Nama Pena?

Dalam paparan singkatnya, Handoko F. Zainzam yang lebih dikenal sebagai seorang penyair ini menjelaskan bahwa nama pena mulai digunakan penulis Indonesia pada masa 20-an, saat nama-nama yang berbau ‘keturunan’ dibrendel pemerintah saat itu. Untuk tetap menyalurkan ide lewat tulisan, para penulis lebih memilih nama pena dengan tujuan privasi dan untuk keamanan diri mereka.

Namun seiring dengan bergantinya corak pemerintahan Indonesia dari orde lama, orbe baru, sampai ke masa reformasi, tren nama pena tetap eksis digunakan penulis. “Bahkan dengan alasan tertentu, satu orang penulis bisa mempunyai lima nama pena,” kata Abah Yoyok. Penyair asal Tangerang ini menambahkan, “ Alasan itu digunakan untuk menjaga image dari pemilik nama. Ketika nama X dikenal sebagai pengkritik sastra yang tajam, lalu dia menulis cerpen pop, tentu itu akan menjadi pertimbangan guna menjaga kredibibilatas sang pengkritik tadi. Bagaimanapun alasan itu memang ada.”

Hal senada pun dikatakan oleh Reni Erina, managing editor Story Teenlit Magazine, bahwa nama pena digunakan dengan berbagai pertimbangan di antaranya untuk privasi, ada orang-orang tertentu yang tidak ingin diketahui wilayah-wilayah pribadinya oleh publik sehingga memakai nama samaran. Ada juga dengan alasan hoki, mereka menganggap nama-nama tertentu merupakan nama keberuntngan bagi mereka. “Tapi benar, lho, ada beberapa redaktur media yang tertarik membaca tulisan seorang penulis dilihat dari namanya terlebih dahulu. Nama-nama yang enak dibaca, simpel dan catchy tentu lebih mengundang rasa ingin tahu redaktur dibandingkan nama pena yang alay apalagi susah dibaca,” ujar perempuan yang lebih dikenal sebagai Bunda Erin ini sembari tersenyum.

Talkshow berlangsung hangat dan meriah. Peserta yang hadir terlihat begitu khidmat menyimak setiap penjelasan Dekers. Veronica Gabriella yang datang dari Tangerang menceritakan pada Banten Muda, “Talkshow yang bermanfaat. Aku jadi tambah tahu kalau nama pena itu cukup penting, ternyata menulis itu bukan sekadar menulis yang selama ini aku tahu. Ada apresiasi dan kritik juga ternyata setelah karya kita di-publish media dan dibaca sekian banyak orang.” Lain hal dengan Nury Purwanti, Cekers yang semenjak bergabung di CK Writing telah berhasil menjadi penulis yang tulisannya dimuat media nasional mengatakan akan tetap menggunakan nama asli sebagai pemberian dari orangtua, “Aku akan tetap pake nama asliku. Soalnya di beberapa tulisan ku yang udah dimuat udah pakai nama Nuri Purwanti, sayang banget kan kalau dimulai dengan mana baru lagi. Hehehe,” kata Nuri sembari tertawa. (Chogah/ ft. Chogah)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »