Menjaring Bibit Unggul Lewat Smansa Smart Competition

11.34


Kota Serang benderang dengan matahari persis di atas kepala saya. Dalam gerah saya memasuki gerbang SMAN 1 Kota Serang, sekolah favorit di Serang, bahkan Banten itu.

Sehari sebelumnya saya menerima informasi kalau teman-teman OSIS Smansa akan menggelar event Smansa Smart Competition, pagi ini, Minggu 24 Maret 2013.

Saya menelusuri koridor Smansa, menuju arah tangga, berdasarkan informasi dari seorang peserta yang  kebetulan tadi kami berpapasan di pintu gerbang, acara SSC diadakan di lantai 2.

“Siang, terima kasih sudah mau meluangkan sedikit waktu. Lagi sibuk banget, ya?” saya menyapa perempuan belia yang menemui saya.

“Hehehe, dikit, Mas. Oh ya, dari mana, ya?” tanyanya seraya menatap sejenak.

“Saya Iwan, dari Banten Muda.”

“Oooo, Banten Muda. Kenapa gak bilang dari tadi, Mas? Hehehe.”

Belum lama ini saya juga pernah datang ke Smansa untuk meliput Smansa Fair dengan bintang tamu RAN waktu itu.

“Ini lomba MIPA, Mas. Skopnya sih se Banten. Ini adalah tahun kedelapan penyelenggaraan Smansa Smart Competition,” ujar Tiara, yang ditunjuk sebagai ketua pelaksana.

Smansa Smart Competition merupakan acara tahunan dari OSIS Smansa. Bidang keilmuan yang dilombakan di antaranya Matematika, Biologi, dan Fisika. Di tahun kedepalan, SCC diikuti oleh 386 peserta dari 22 sekolah di Banten.

“Oh iya, ini lomba tingkat SMP, kan?” saya lupa memastikan dari awal peserta yang ikut SSC.

“Iya, Mas. Pesertanya dari SMP sederajat se Banten,” terang Tiara.

Tiara menjelaskan bahwa SSC dibagi ke dalam 3 tahap yang digelar selama 4 hari dalam beberapa minggu. “Ini hari pertama, akan diseleksi untuk masuk ke 27 besar, lalu 9 besar, dan terakhir 3 besar. Totalnya 4 hari, Mas. Tapi gak berturut-turut.”

Smansa Smart Competition diminati oleh siswa-siswa SMP se Banten. Bagaimana tidak, untuk 3 peserta terunggul mendapat reward masuk Smansa tanpa tes, beasiswa, tropi, juga piagam. “Sehari setelah penutupan pendaftaran masih ada yang daftar, Mas. Karena kita sistemnya input data, ya, terpaksa ditolak.”
“Gimana nih pengalamannya ditunjuk jadi ketua pelaksana?” tanya saya.

Tiara tersenyum, menyeka butir keringat yang muncul di keningnya. “Hehehe, capek sih, Mas. Tapi seneng. Gak ada kan kerjaan yang gak capek?”

“Sebenarnya apa sih tujuan pelaksaan dari SSC sendiri?” pertanyaan terahir dari saya.

“SSC bertujuan untuk menjaring bibit-bibit unggul, Mas. Bibit-bibit unggul yang nanti akan dididik di Smansa, semoga ke depannya juga unggul dalam mengunggulkan bangsa kita ini.”

Yap! Saya mengangguk. Sepuluh menit saya dan Tiara ngobrol seputar SSC. Gadis itu izin kembali ke acara mengurusi beberapa keperluan lainnya. Saya beranjak dari duduk, mengikuti Tiara ke lantai atas. Mengamati suasana lomba, tentunya untuk mengabadikan dalam beberapa potret gambar.

***

Oleh : Setiawan Chogah

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »