Membaca Indonesia, membaca Banten

11.40

Iwan K Hamdan
Catatan pada bedah buku Demokrasi, Islam dan Kebantenan
Karya Ali Faisal, SH.MH.


Narasi besar sejarah Indonesia kontemporer, tengah menanjak dan berliku. Demokratisasi, HAM, kebebasan, desentralisasi, dan persaingan menjadi deretan mantra yang menghipnotis semua kalangan. Euphoria merebak, selepas orde reformasi, bersamaan dengan gelombang demokratisasi, trans-nations, tatanan dunia baru, (New world order), IT dan pergeseran tata hubungan internasional yang makin transparan dan interdependensi, aliansi dalam sector privat sector dan lain sebagainya. Kesemua karakter new world order tersebut, secara telak mempengaruhi mindset, attitude dan orientasi masyarakat termasuk kaum elitnya.  Masing-masing strata social ini memiliki persepsi, penilaian dan aktualisasi diri yang berbeda-beda. Antara kaum elit, rakyat biasa, negara, para saudagar dan lain sebagainya menunjukkan identitas, mindset dan perilakunya sendiri. Semuanya didorong oleh kata ; kebebasan, persaingan dan atas nama demokrasi. Dimana peran negara ? terus terang “Gamang” !. negara mengalami reposisi yang sangat fundamental. Perannya makin kompleks. Demokrasi dan pergeseran tata dunia menyebabkan dunia menyebabkan peran negara hanya menjadi polisi pengatur lalu lintas arus politik dan lain sebagainya.

Itu sebabnya, banyak contoh negara gagal (failed state) dalam menjalankan perannya  di era ini. Meskipun secara fisik bentuk dan kedaulatan negara masih berperan, namun sejatinya peran negara telah gagal. Contohnya ; Yunani, Italia, Perancis, dan banyak negara lainnya. Negara tengah ditantang menjalakan peran barunya. Seperti yang ditunjukkan oleh China, India, Korea dan Jepang. Negara-negara ini, sukses  melakukan transformasi fundamental peran negara.

Malaise (kelesuan ekonomi Eropa) yang makin mengkhawatirkan akhir-akhir ini, memaksa para analis dunia mengalihkan pandangan harapan ke Asia. Seperti Mac.Kensie. Indonesia menjadi negara kampium ekonomi baru di tahun 2045. Lepas dari keraguan kita, setidaknya Mac Kensie, memberi enersi baru bagi negeri ini untuk berbenah diri. Melakukan perubahan radikal. Meski, jalannya berliku.
Kita semua mafhum, reformasi yang di perjuangkan kaum Mahasiswa dan kalangan pemuda yang didukung kaum elit belum banyak melahirkan harapan kongkrit bagi rakyatnya. Tapi setidaknya, meski melelahkan bagi anak bangsa. Jalan ini memang harus kita tempuh. Negeri ini, besar, ribuan pulau, Ratusan juta penduduk dan politik dan demokrasi yang masih embrional. Embrional ? yah karena kita tengah belajar  bagaimana demokrasi dan politik itu di jalankan dalam kondisi ekonomi, pendidikan dan road map reformasi politik dan demokrasi yang tidak jelas. Tak ada cetak biru bersama, bagaimana reformasi ini di jalankan. Auto pilot negara memang diakui atau tidak tengah terjadi. Negara makin, lunglai dan gagap menghadapi derasnya demokrasi dan politik, pasar ekonomi yang makin merajai, kekerasan antar anak bangsa bahkan antar aparat hukum, korupsi berjamaah. Hingga makin merajai-nya premanisme dan perkara kedele, sapi, bawang merah-putih yang kita anggap ringan-pun negara harus berkeringat deras menyelesaikannya. Keran Impor di buka lagi. Para pemburu rente berpesta pora. Kaum petani meratapi nasibnya.

Akibatnya pertanian, perkebunan dan perikanan yang menjadi unggulan utama negeri ini, justru dijauhkan anak-anak generasi muda kita. Pola pikir dan kebijakan jalan pintas (short cut) jadi kebiasaan dalam menyelesaikan beragam perkara kebangsaan atas nama stabilitas dan keamanan negara. Negara tidak boleh terancam. Begitu kata elit. Oleh karenanya, akan mengganggu iklim ekonomi dan investasi. Namun sejatinya, perkara keadilan dalam semua bidang dipertontonkan secara vulgar. Hukum, ekonomi, pendidikan, social dan lain sebagainya. Deretan fakta-fakta diatas adalah sisi factual negeri ini. Namun, disisi lain, beragam fakta lain juga muncul. Keberhasilan menekan inflasi, LPE 6,5 %, cadangan devisa negara dan lain sebagainya yang banyak dirilis pemerintah.
Semua fakta-fakta ini jadi satu dalam beragam acara TV, talkshow dan lain sebagainya. Dengan beragam ambisi politik, kepentingan dan sebagainya. Rakyat hanya penonton debat kusir TV. Rakyat disuguhi tontonan controversial dalam semua hal. Atas nama ratting untuk mengail iklan. Untuk kepentingan pemegang saham. Maka tontonan yang diluar mainstreaming kini laku. Meski menabrak nalar dan keyakinan keberagamaan kita. Seperti kasus mutilasi yang kini marak dipertontonkan potongan mayat di TV, kekerasan penangkapan Herkules hingga kekerasan antara Jupe dan DP hanya untuk mendongkrak film-nya agar ditonton orang. Industry media telah menyihir public. Padahal public kita sangat jauh, gambaran di TV. Tak heran terjadilah apa yang disebut split personality (keterpecahan personality). Apa yang terjadi ? beragam amuk massa terjadi. Rakyat menjadi mudah marah. Negara lagi-lagi lunglai menghadapi deretan peristiwa ini.
Rangkaian cerita diatas juga mempengaruhi Banten. Terlebih jaraknya yang dekat dengan Jakarta. Dinamika dan tensi masalah yang dihadapi pun seputar itu. Hanya sebagai daerah yang strategis Banten, memiliki sejumlah harapan. Meski jalannya memang harus berliku. Keadilan, kesejahteraan dan pemerataan memang harus diperjuangkan dengan kerja keras dan kesabaran. Yang kita perlukan sekarang adalah ; Menyemai keteladanan, pendidikan, pembudayaan, kejujuran dan terus menerus menebar kebaikan. Betatapun kecilnya. Ia akan menjadi  bibit yang tumbuh subur. Banten bukan milik kita sekarang, ia milik generasi berikutnya. Anak dan cucu kita. Menebar permusuhan seraya melempar isu bukan solusi. Sekali lagi, memang ini pekerjaan berat.
Penulis buku ini menunjukkan caranya yang baik dengan menuliskannya dalam bentuk buku. Orang dapat merekam jejak penulisnya, pikiran-pikirannya hingga menjadi bahan pengetahuan dan diskusi yang sehat dan konstruktif untuk pembudayaan literasi di Banten. Tak ada jalan lain untuk mendorong budaya baru Banten. Orang harus membaca dan menulis. Sehingga tumbuhlah, komunitas masyarakat Banten yang berbudaya tinggi. Menyongsong era baru.

Selamat kepada Pak. Ali Faisal.

Cipocok Jaya, 20 Maret 2013.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »