MARTABAK KEJU KACANG

12.10

(Proses Kreatif Penulisan buku ‘Demokrasi, Islam dan Kebantenan’)


Buat saya Membaca buku Demokrasi, Islam dan Kebantenan karya Ali Faisal ini seperti menikmati Martabak Keju Kacang buatan Assen, ia memiliki berbagai cita rasa mulai dari yang manis, asin dan juga  gurih. Isi buku ini banyak diwarnai oleh kegelisahan-kegelisahan Kang Ali Faisal melihat berbagai fenomena sosial politik yang berkembang saat itu. Produktifitasnya dalam memberikan gagasan-gagasan yang terserak di berbagai media cetak membuat kami tergerak untuk mengumpulkannya dalam sebuah buku. Walaupun didalamnya masih ada editing yang kurang rapih tetapi tulisan demi tulisannya yang inspiratif membuat buku ini tetap nikmat dibaca senikmat Martabak Assen yang Keju dan Kacangnya berceceran dimana-mana.

Oleh : Irvan Hq

Saya masih ingat betul beberapa tahun silam satu kotak Martabak Assen rasa Keju Kacang  inilah yang menjadi tanda dimulainya persahabatan saya dengan Kang Ali Faisal. Saat itu saya dan Kang Ali Faisal masih sama-sama susah, bedanya kalau Kang Ali Faisal waktu itu sedang susah, sedangkan saya sangat-sangat susah. Bagi saya Kang Ali Faisal adalah seorang filsuf karena belakangan saya baru tahu ternyata martabak yang saya terima tidak sekadar martabak tetapi ada makna yang hendak disampaikan. Keunikan martabak yang selalu disajikan dengan cara melipatnya menjadi dua sehingga berbentuk setengah lingkaran dan dipotong-potong menandakan makanan ini disiapkan untuk dimakan bersama-sama. Memang dibagi atau dimakan sendiri kenyangnya akan sama tetapi apabila martabak itu dibagi kita akan mendapatkan nilai kebaikan. Begitu juga dengan aneka rasa dari makanan ini mewakili kehidupan baik suka maupun duka, dihibur dan disakiti, diperhatikan dan dikecewakan, didengar dan diabaikan, dibantu dan ditolak serta berbagai pengalaman lainnya.

Kemudian panjangnya proses pembuatan martabak juga sepertinya hendak menggambarkan bahwa tidak ada cara instan untuk menjadi penulis, semuanya butuh proses, diawali dengan menulis, menulis dan terus menulis. Saya masih ingat ketika Kang Ali Faisal berbicara di Baraya TV beberapa waktu yang lalu bahwa kalau mau menulis, menulis saja sampai selesai, jangan dibaca-baca dulu, apalagi sampai di edit-edit, selesaikan dahulu baru kemudian dibaca ulang dan diperbaiki sehingga kita mendapatkan gagasan yang genuine, karena menulis itu bagaimana menuangkan gagasan kita dalam konsepsi tulisan.

Kemampuan Kang Ali Faisal menuangkan gagasan-gagasan ke dalam tulisan tidak terlepas dari aktifitasnya di berbagai organisasi sejak bangku SMU, kemudian berlanjut menjadi pengurus Korps Palang Merah Indonesia (PMI), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Ketua Umum Keluarga Mahasiswa Tirtayasa (Kamayasa), Ketua Presidium Pergerakan Mahasiswa Banten, Wakil Ketua Umum Senat Mahasiswa Fakultas Hukum Unpas, Assisten Jendral Pengurus Pusat Ikatan Senat Mahasiswa Hukum se-Indonesia dan Ketua Umum Forum Komunikasi Tenaga Sukarela.

Ternyata aktif di kepengurusan DPD KNPI Kota Serang mempertemukan saya dengan Kang Ali Faisal,  chemistry langsung muncul diantara kami berdua. Kami pun bahu membahu menjalankan roda organisasi, bahkan saya pun sempat membantu Kang Ali Faisal memperjuangkan berdirinya Majelis Sinergi Kalam (Masika) Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia di Provinsi Banten. Selain itu Kang Ali aktif juga di Ketua Bidang Advokasi Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta (APTISI), pengurus Forum Silaturahmi Pondok Pesantren (FSPP) dan Wakil Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Serang.

Pada tahun 2011 Keterbatasan Media Lokal dalam menampung aspirasi dan gagasan-gagasan Kang Ali Faisal akhirnya tersalurkan sudah setelah saya dan beberapa kawan menerbitkan tabloid dbuzz dengan segmentasi para executive muda Banten. Di hampir setiap terbitan saya memberikan kesempatan Kang Ali Faisal untuk menuliskan gagasan dan pemikirannya, tentu saja tulisan-tulisan tersebut disesuaikan denga tema. Hanya saja sayang tabloid ini hanya bertahan enam edisi karena konflik kepentingan para pemiliknya menjelang Pilakada Provinsi Banten.

Namun kondisi tersebut tidak berlangsung lama karena setelah pilkada selesai saya kembali menghidupkan tabloid Banten Muda sampai dengan sekarang. Kang Ali Faisal dengan leluasa dapat menyalurkan semua ide dan gagasannya dalam sebuah konsepsi tulisan di tabloid Banten Muda. Ada hal unik dari Kang Ali Faisal ini, yang pertama saya sering kerepotan ketika meminta beliau menulis sebanyak 3 halaman, kemudian mendekati deadline Kang Ali Faisal mengirimkan 15 halaman dan dengan enteng berkata kepada saya, “Kang tolong diedit sendiri saja ya” Bisa dibayangkan saya harus mengedit tulisan Kang Ali Faisal dari 15 halaman menjadi tiga halaman. Sudah begitu karena semua isi tulisannya bagus dan menarik, saya bertambah bingung karena tidak ada bagian yang bisa saya potong. Belum lagi saya harus sering-sering bertanya kepada Mbah Google, karena kata-kata atau kalimat yang digunakan masih asing di telinga saya.

Dari diskusi saya, Kang Ali Faisal dan beberapa sahabat  akhirnya tercetus ide untuk mengumpulkan tulisan-tulisan Kang Ali Faisal kedalam sebuah buku. Seperti sudah ada yang mengatur, setelah niatan itu kemudian tidak lama ada peluang dari Dinas Pendidikan untuk menerbitkan buku dan Alhamdulillah buku Kang Ali Faisal ini terpilih menjadi salah satu buku yang diterbitkan oleh Dinas Pendidikan. Harus diakui ada kesan buku ini kurang dipersiapkan dengan baik karena walaupun dikelompokan ternyata kurang terlihat benang merah antara satu tulisan dengan tulisan yang lain, kemudian dari sisi editing juga nampak kurang teliti terutama pada pemenggalan kata, efektifitas penggunaan kata dalam satu paragraph dan memindai kata yang tidak perlu serta memperbaiki rangkaian kata yang terkesan berbelit-belit. Satu-satunya alasan saya adalah keterbatasan waktu dan tentu saja keterbatasan saya sebagai penyunting buku tersebut.

Terlepas dari itu semua bahwa terbitnya Buku  Demokrasi, Islam dan Kebantenan’ merupakan langkah awal dari kami bagaimana membangkitkan semangat dan keberanian penulis untuk membukukan tulisannya sehingga konsepsi gagasan yang selama ini terserak bisa diketahui masyarakat luas dan bermanfaat bagi kemajuan Provinsi Banten kearah yang lebih baik. Dan saya tetap yakin tulisan demi tulisannya yang inspiratif membuat buku ini tetap nikmat dibaca senikmat Martabak Assen yang Keju dan Kacangnya berceceran dimana-mana. ***





Share this

Related Posts

Previous
Next Post »