Lelaki Batik

11.03


Senja turun pada Kamis 21 Maret 2013 saat saya dan Bembi memasuki lobi Ratu Bidakara, menghadiri acara Festival Batik Banten 2013 yang akan digelar untuk kali keduanya di hotel mewah itu.

Ponsel saya bergetar sepanjang dua menit tadi. BBM dari Susi, teman sekaligus guru saya di bidang jurnalistik.

“Chog... acaranya udah mulai, blom? Gue masih di jalaaaan.”

Saya tersenyum, Susi adalah senior saya. Februari kemarin, tepat 4 tahun dia mengabdikan diri sebagai pers, di tahun yang menunjukkan keunggulan pengalamannya dibanding saya, Susi tetaplah teman yang down to earth. Beberapa kali dia mengajak saya liputan event yang media tempat dia bekerja memang sengaja diundang oleh si empunya acara.

“Belom, kok, Sus. Santai aja, Pak Wali juga belom datang.”

“Oooo, apa nungguin gue dulu ya?”

Oeeek! Saya dan Bembi ‘ngakak’ membaca BBM dari Susi. Beginilah teman-teman saya sekarang, satu tujuan, satu tekad, bahkan satu cita-cita; memburu berita yang wajib diketahui khalayak. Di sinilah peran ‘sahabat’ sangat saya rasakan. Saya, Susi, Bembi, Muiz, dan teman-teman pers lain selalu berbagi informasi.

***

Pukul 8.00, Ratu Bidakara semakin ramai. Saya duduk di kursi menghadap ke arah kolom renang yang di sekelilingnya dipasang lilin bercahaya redup. Sementara koridor di depan saya melontar irama sepatu perempuan-perempuan dengan aroma semerbak. Saya tidak dapat menerka berapa harga parfum mereka. Mereka ada yang belia, paruh baya, pun laki-laki berjas dan berpantofel. Sama-sama wangi. Saya menghabiskan satu isapan sigaret di sela bibir saya. Sepasang host yang dari wajahnya saya kenal mereka adalah duta pariwisata Kota Serang, orang-orang Serang menyebutnya Kang Nong, mulai membuka acara.
Saya mengeluarkan pocket camera dari dalam tas. Membidik perempuan-perempuan semampai yang berbaris anggun di sisi kolam renang, memamerkan busana mereka. Cantik!

Puas mengambil beberapa gambar yang saya kira cukup ‘bercerita’, saya beranjak ke arah lobi, beberapa contoh kain batik dipajang di sana. Saya melangkah ke arah timur, seorang laki-laki muda khusuk di tempat duduknya. Laki-laki pembatik.

“Permisi, Kang,” saya menyapanya.

Laki-laki itu menengadah, lalu sederet gigi rapinya dipertontonkan pada saya. “Oh, malam, Kang.”

“Boleh ngobrol sebentar, Kang?” ujar saya lagi.

“Boleh, Kang. Panggil Fauzi aja,” laki-laki sebaya saya itu menyebut namanya.

Saya duduk di samping Fauzi yang gara-gara kehadiran saya mengehentikan aktivitas membatiknya sesaat. Dia ceritakan pada saya kalau kain putih yang tengah diukirnya itu merupakan batik tulis dengan motif kreasi sendiri.

“Bukannya Batik Banten mengambil motif-motif tentang kebantenan dari peninggalan Sultan, ya?”

“Iya, tapi ini saya lagi mencoba bereksperimen aja, Kang Iwan. Hehehe. Kalau motif Batik Banten sendiri memang bersumber dari benda-benda sejarah di Kesultanan Banten.”

Sejatinya, Batik Banten adalah merek dagang dari pengusaha Banten, Uke Kurniawan. Motif-motif Batik Banten terispirasi dari hasil galian arkeolog di bekas pusat pemerintahan Kesultanan Banten. Berkat kerja kerasnya, Uke berhasil mengangkat 75 jenis motif dari kearifan lokal dari puing-puing Kesultanan Banten. Ketujuhpuluh lima motif ini telah dipatenkan Uke melalui Surat Keputusan Gubernur Banten Nomor 420/SK-RH/III/2003.

Saya mengambil selembar brosur yang sengaja diletakkan di atas meja di samping Fauzi. “Kang Fauzi kenapa memilih jadi pembatik, sih?” tanya saya penasaran.

Dia tersenyum sesaat, mencipta jeda. “Ya, daripada nganggur, Kang. Saya suka seni, dengan membatik saya seperti menciptakan dunia saya sendiri. Gitu aja, sih, sebenernya. Istilahnya mah, kerja sambil main-main. Duit dapet, hati senang.”

Saya tertawa renyah mendengar penjelasanya yang simpel. Melihat kawan sebaya saya itu, saya jadi terpikir dengan Petuah Ayah; Datuak Yus Parpatiah. Beliau pernah bilang, “Nak, belajarlah dari kehidupan pakis. Pakis adalah tumbuhan yang gigih, yang bisa hidup dengan segala rupa kondisi alam. Hujan, panas, bahkan tanpa tanah. Pakis tidak pernah mengganggu, dia hidup di tempat yang dia suka, juga memberi manfaat pada manusia. Pakis hanyalah tumbuhan, Nak. Jadi pesan Ayah, jangan mau jadi pengangguran! Kerjakan apapun yang bisa kalian kerjakan. Menjadi manusia harus gigih.

“Belajar membatik sejak kapan dan dari siapa, Kang?”

“Saya belajar sendiri aja, sih, Kang. Awalnya sih liat-liat, trus nyobain, dan keterusan sampai sekarang.”
Fauzi katakan dalam menyelesaiakn satu batik tulis, dia bisa menghabiskan waktu satu minggu. “Wah, lama juga, ya, Kang? Gak bete tuh? Kalau ada yang salah gimana?’

“Hehehe, ya harus sabar, Kang. Kalau ada yang salah ya dibiarin aja, nanti kan bisa ditimpa. Ini baru tahap pertama, setelah ini ada lagi beberapa tahap sampai batik ini bisa dikatakan selesai.”

Penjelasan Fauzi langsung membuat saya lemas, sekaligus berdecak kagum. Muda, berkarya, terampil, dan kreatif. Whats next? Anak muda seperti apa lagi yang dibutuhkan oleh negeri tercinta ini?

***

Oleh : Setiawan Chogah

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »