Kurcaci Abu-Abu Penyelamat Bumi

20.54
Gerbang subuh di Sabtu yang dingin baru saja dibuka, ketika saya kembali membungkus tubuh ceking saya dengan selimut di kamar 2 x 3 saya di Bhayangkara. Saya lebih senang menyebutnya sebagai perpustakaan pribadi saya, di ruangan itulah saya menghabiskan kesendirian saya bersama buku-buku dan majalah, sekadar mengilangkan gigil yang disisakan bekas air wudhu, Sabtu, 16 Maret 2013.

Oleh : Setiawan Chogah

Sejujurnya saya selalu bersuka cita menyambut weekend, walaupun sampai saat ini saya masih berstatus mahasiswa dan jurnalis freelance untuk Banten Muda, tapi moment weekend masih berkesan mahal bagi saya bila dihabiskan dengan ‘bekerja’.

Saya masih memejamkan mata saya ketika sebuah getaran dan suara nyaring datang dari Blackrerry tua saya. Sebuah ping! Belum genap dua detik, ponsel saya kembali ‘berisik’, setengah dongkol saya meraih dan mengintip sedikit ke layar touchsreen yang berkedip memamerkan gelembung merah di icon massanger bawaan produk RIM itu. Satu kali klik, sederet pesan singkat dari Bemby terpampang, “Chog, mau ikut liputan ke Ciruas, gak? Kalo iya gue jemput sekarang.” Saya tidak langsung membalas, pagi itu malas begitu menguasai saya, rasanya masih ingin berleha-leha di ruang sempit itu bersama selimut kain panjang yang setia menemani saya selama di Bhayangkara. 

Tapi BBM dari Bemby sukses mengganggu ritual ‘mewah’ saya pagi itu. Membaca kata Ciruas, seketika saya menjadi kangen dengan kota kecil itu. Kota yang pernah saya lewati selama 5 semester, saban hari, bolak-balik kuliah dari Walantaka ke Cilegon, 2010-2012.  Tiba-tiba, saya seperti kedatangan energi gaib yang menuntun jari-jari saya menari di layar sentuh ponsel tua saya, membalas BBM Bemby. “Oke, gue di Bhayangkara, ya.”
***

Seperti sebuah perjalanan ke masa lalu, ketika saya dan Bemby ‘nangkring’ di matic kepunyaan sahabat seprofesi saya itu. Bemby adalah wartawan harian di RadarBanten.com. Selama satu minggu ini, dia adalah orang yang paling dekat dengan saya. Sejujurnya saya tidak bisa mengendarai motor, banyak cerita dari efek traumatis yang membuat saya selalu gemetaran setiap kali memegang stang motor.

Suasana hijau, asri, ditingkah kehebohan para abege menyambut kedatangan saya dan Bemby di gerbang SMAN 1 Ciruas, Kabupaten Serang. Melewati pos penjagaan, kami langsung masuk menemui stand penerima tamu di gang kecil yang memisahkan halaman depan dengan lapangan sekolah. “Pagi, Pak, saya Bamby dari Radar Banten, dan ini teman saya dari Banten Muda,” Bemby memborong sekaligus jatah perkenalan. Saya hanya tersenyum sembari menyalami dua orang guru di stand itu. 

Usai basa-basi perkenalan, kami langsung menuntaskan tugas jurnalisme kami sebagai wartawan. Memasuki lapangan SMANCIR, sebuah panggung dan anak-anak SMA yang menari mengikuti irama musik yang dibawakan teman-teman mereka menjadi pemandangan asyik pagi itu. OSIS SMAN 1 Ciruas tengah menggelar acara yang bertajuk Sekolah Hijau Lestari dengan Sejuta Pohon. Sebuah gerakan positif dari junior-junior saya yang sukses membuat saya terkagum-kagum.  Saya langsung mengeluarkan pocket camera saya dan mengambil beberapa foto, lalu kami disambut oleh Fauzul Imam, sang ketua pelaksana acara tahunan SMANCIR ini.

“Acara ini sebenarnya hanyalah bentuk sosialisasi penyelamatan bumi aja, Kak. Cuma dikemas dalam bentuk acara yang seru,” ujar Imam ketika kami telah duduk di teras sebuah kelas.

Ada 27 kelas yang ikut memamerkan kreativitas mereka dalam membuat produk-produk daur ulang seperti payung, kalung, tudung saji, dan asesori khas anak muda lainnya.

Saya tersenyum begitu seorang siswi dengan mahkota daun lewat di depan kami. “Itu tadi habis ikut fashion show, Kak,” Iman rupanya menyadari perhatian saya yang sempat pindah ke teman satu sekolahnya.

Selain pameran produk daur ulang, teman-teman OSIS juga menggelar lomba fahion show dengan busana ramah lingkungan. Saya berdecak kagum. “Kami juga ada lomba kreativitas menghias kelas dengan konsep go green.” Saya menyipitkan mata belo saya, penasaran seperti apa lomba itu.

Imam mengajak kami ke salah satu kelas yang sudah melewati proses penilaian dari tim juri. Tanpa henti menyulam senyum salut, saya menerawangi kelas asri yang kami masuki. “Selain untuk menciptakan suasana bersih dan sehat, lomba ini juga bertujuan untuk menghidupkan suasana belajar yang nyaman,” imbuh Imam kemudian.

Sekitar 15 menit, saya, Bemby, dan Imam ngobrol santai seputar event yang diadakan sekolah mereka. “Bisa wawancara ketosnya, nggak?” saya berujar. Satu menit kemudian, Doni Ramadani, Ketua OSIS SMAN 1 Ciruas sudah bergabung bersama kami.

“Acara ini sebenarnya untuk membuat teman-teman sadar akan kebersihan lingkungan, Kak. Kalau dibuat dalam acara seminar atau workshop, teman-teman biasanya bosan. Makanya OSIS menggelarnya dalam bentuk pameran, lomba busana, dan ada panggung musiknya. Anak muda bangetlah, Kak,” cerita Doni membuat saya tertawa. 

Satu jam kami habiskan ngobrol seputar event Go Green yang menjadi tema besar acaranyanya teman-teman SMANCIR. Sebuah acara yang keren menurut saya. Sangat keren! Mereka mampu mengemas sebuah pesan penyelamatan bumi secara soft dan ‘mereka banget’. Salut! Semoga ada jutaan kurcaci-kurcai abu-abu lainnya di negeri tercinta ini yang peduli pada kelangsungan kehidupan di bumi. Kehidupan hijau yang nantinya bisa diwariskan pada beberapa generasi mendatang. ***

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »