HITAM PUTIH PROSES POLITIK DAN DEMOKRASI KITA

07.48


(Sebuah Catatan dan Pengamatan)
Oleh: DR. H. Fatah Sulaiman**

Mencermati doktrin tertulis AD/ART yang digariskan oleh seluruh partai peserta pemilu di negara kita, baik yang berbasis nasionalis, religius, maupun nasionalis-religius, semuanya hampir sama memiliki tujuan dan cita-cita yang sangat mulia, yaitu untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat Indonesia yang berkeadilan, terlaksananya penegakan hukum, dan terwujudnya kemakmuran bersama bangsa Indonesia, sesuai dengan cita-cita proklamasi kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Namun fakta di lapangan berbicara lain, atmosfir panas suhu perpolitikan Indonesia, semakin terasa dan terus bergulir sejak awal tahun 2013, dan mungkin terus akan berlanjut hingga 2014 nanti. Kedamaian masyarakat terusik konflik yang dipicu perilaku buruk politisi yang menghalalkan segala cara, penuh intrik dan saling bidik, tidak satunya kata dengan perbuatan dan tindakan, cermin dari kemunafikan perilaku politik. Hal ini jauh dari sifat dasar filosofi politik sebagaimana yang disampaikan filosof Aristoteles, bahwa makna politik adalah upaya yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama.

Dampak Proses Politik dan Demokrasi Hitam
Perilaku Buruk Politisi menyebabkan Hubungan Politik yang awal tujuannya mulia, berubah menjadi hubungan konsumtif, keserakahan dan sikap menghalalkan segala cara yang tampak kasat mata, untuk memperebutkan kekuasaan dan pengaruh. Terjadi invasi uang atas demokrasi dan penegakan hukum, yang berakibat menghambat tujuan terciptanya masyarakat madani. Kejahatan Korupsi merajalela, sementara sebagian besar masyarakat masih menderita, tentu saja dengan multiplier efek permasalahan sosial lainnya, kerusuhan dan kejahatan akan muncul di mana-mana.
Dari survei yang dilakukan oleh Transparency International.org tahun 2012, sebuah badan independen internasional, meriset dari 146 negara, tercatat data 10 besar negara yang dinyatakan sebagai negara terkorup.
Daftar 10 negara terkorup di Dunia: 1. Azerbaijan 2. Bangladesh 3. Bolivia 4. Kamerun 5. Indonesia 6. Irak 7. Kenya 8. Nigeria 9. Pakistan 10. Rusia.
Di tingkat Asia Pasifik, negara kita adalah yang terkorup. Berikut adalah 5 besar negara paling korup di Asia-Pasifik: 1. Indonesia 2. Kamboja 3. Vietnam 4. Filipina 5. India.
Laporan tahunan Government Watch tahun 2012 menyebutkan bahwa sebanyak 3000 anggota legislatif DPR RI/DPRD terbukti terlibat tindak pidana, yang 1200 di antaranya tindak pidana korupsi.
Konflik antara TNI dan POLRI semakin sering terjadi, yang terakhir berujung pembakaran Mapolres OKU Sumsel oleh gerombolan oknum TNI, hemat penulis juga dimungkinkan dipicu oleh kecemburuan terhadap oknum pimpinan POLRI yang berperilaku korup dan sangat leluasa, menggunakan instrumen kewenangannya untuk mengorupsi uang negara dalam jumlah yang sangat besar, bahkan juga mampu mengintimidasi lembaga KPK.
Salah satu penyebab perilaku buruk ini adalah disebabkan tumbuh suburnnya perilaku hedonisme dan pemuja kemewahan para politisi dan pemegang kekuasaan. Padahal Alquran telah mengingatkan:
QS Attakaatsur ayat 1-3: “Hidup bergelimang kemewahan telah melalaikan kamu dari taat kepada Allah, hingga kamu masuk ke liang kubur, janganlah berbuat demikian, nanti kamu akan mengetahui akibatnya”.

Proses Politik dan Demokrasi Putih Rasulullah
Di tengah gersangnya ruh etika keteladanan berbasis akhlakul karimah, mengingatkan kita semua agar kembali ke konsep perjuangan dan keteladanan Rasulullah SAW, yang telah membawa risalah kebaikan dengan kitab suci Alquran dan perilaku, serta sikap hidup yang tertuang dalam sunah-Nya, yang sungguh sangat relevan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Risalah dakwahnya merupakan gerakan politik agung dan paripurna, termasuk upaya membangun tatanan hukum dan impelementasi penegakkannya dalam bermasyarakat dan berbangsa. Nabi Muhammad SAW, telah mampu membuktikan terjadinya perubahan peradaban dari model peradaban masyarakat jahiliyah menjadi masyarakat yang penuh hidayah dan berkah dalam berbagai apek keihidupannya.
Strategi pembinaan peradaban yang dilakukan Nabi Muhammad SAW, landasan utamanya adalah kontrak sosial di antara warga negara dalam Konstitusi Madinah. Pengakuan dan ketaatan terhadap kontrak sosial itu akan membentuk kewarganegaraan. Eksistensi sebuah negara-kota pada waktu itu ditentukan oleh kewarganegaraan (civic) dan saling menghormati hak-hak warga negara.
Langkah kedua yang dilakukan oleh Nabi SAW adalah membangun masjid umum, yang kemudian disebut sebagai Masjid Nabi dan mengoptimalkan aktivitas mesjid bagi pemberdayaan umat. Pembangunan masjid adalah simbol pembangunan akhlak dan pembangunan komunitas (jamaah). Lewat masjid, Nabi Muhammad SAW, tidak hanya mengajak manusia untuk berkomunikasi secara bersama dengan Tuhan, tetapi juga membina akhlak yang luhur dan membangun kapasitas intelektual masyarakat. Akhlak luhur dan kapasitas intelektual merupakan fondasi dari hubungan harmonis antar-manusia. Selanjutnya, Nabi SAW, membentuk hubungan persaudaraan, terutama antara kaum Anshar dan kaum Muhajirin yang mewakili komunitas yang paling jauh berbeda. Dari sinilah kemudian berkembang rukun tetangga (neighbourhood). Dengan demikian, ketiga pendekatan di atas merupakan gerakan kultural yang didasarkan atas tiga syarat profetis yakni emansipasi (amar ma’ruf), liberasi (nahi munkar) dan transendensi (tuu’minuuna billah). Kunci utamanya adalah satu padunya kata dengan tindakan dan perbuatan. Inilah kunci sukses keteladanan Nabi Muhammad SAW.
Sebagai contoh, Rasulullah Muhammad SAW lebih mengedepankan jalan damai dan persuasif ketika menghadapi potensi perbedaan konflik baik terhadap lawan apalagi kawan. Hal ini tercermin dari strategi dakwah dengan tahapan, sirri (rahasia), terang-terangan dengan jalan damai dan persuasif, berhijrah untuk menghindari konflik besar sekaligus untuk mengatur ulang strategi dakwah. Dalam berdakwah, Rasul SAW senantiasa mengajak umatnya dengan cara yang lembut, sopan, bijaksana, kasih sayang, dan penuh keteladanan. Sebab, sejatinya dakwah adalah menyeru dan mengajak umat manusia untuk menjadi lebih baik. Bukan menakut-nakuti mereka dengan berbagai ancaman. Bagaimana sikap Rasulullah ketika memimpin pasukan dalam jumlah besar memasuki Kota Mekkah untuk dibebaskan, pada saat lawan politik terbesarnya Abu Sofyan mulai tertunduk dan tak berdaya. Maka Rasulullah menghormati lawan politiknya dengan menyatakan, bahwa siapa pun masyarakat Mekkah yang berlindung di rumah Abu Sofyan maka akan aman. Inilah sekelumit contoh kesantunan berpolitik Rasulullah SAW.

Penutup
Deskripsi sejarah gerakan politik Rasulullah SAW di atas adalah, gambaran bagaimana tahapan-tahapan strategis yang dibangun oleh Rasulullah SAW dalam membangun masyarakat berperadaban (civil society) atau masyarakat madani. Inilah cita-cita mulia yang diidealkan Islam untuk mewujudkan masyarakat dan peradaban, masyarakat yang partisipatif, terbuka, dan emansipatoris sebagai prasyarat tegaknya demokrasi.
Bagi Bangsa Indonesia yang sedang memasuki tahun politik, yang mulai bergulir sejak awal tahun 2013 sampai dengan 2014 nanti, para politisi perlu diingatkan agar dapat mempraktikkan proses politik dan demokrasi putih, sebagaimana yang diteladankan Rasulullah. Tidak perlu lagi diumbar perilaku politik barbar, saling bidik, saling ancam, saling fitnah hanya untuk mementingkan kepentingan sesaat politik kekuasaan, tanpa menghiraukan kesantunan, cita-cita dan tujuan mulia berpolitik. Sebagaimana yang telah digariskan oleh seluruh partai peserta politik peserta pemilu, baik yang berbasis nasionalis, religius, maupun nasionalis-religius, dalam hampir semua dokrin AD/ART-nya yaitu, untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat Indonesia yang berkeadilan, terlaksananya penegakan hukum, dan terwujudnya kemakmuran bersama bangsa Indonesia, sesuai dengan cita-cita proklamasi kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Kuncinya adalah satu padunya kata maupun apa yang tertulis dalam doktrin partai dalam AD/ART-nya, dengan tindakan dan perbuatan nyata para politisi/pegiat partai politik. Sebagaimana yang diteladankan Rasulullah Muhammad SAW, satu padunya kata, perintah dengan sikap, perilaku, tindakan dan perbuatan dalam kehidupan keseharian bermasyarakat dan berbangsa.
Proses politik dan demokrasi putih, akan berkembang dengan baik di dalam lingkungan masyarakat yang memiliki basis keimanan kuat, terdidik, akhlak luhur dan kapasitas intelektualnya, tumbuh suburnya keteladanan pemimpin, dan tegaknya hukum dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Wallahu’alam.

*Tulisan ini dalam rangka turut merespons dengan bahagia, terbitnya buku berjudul: Demokrasi, Islam dan Kebantenan, yang ditulis Ali Faisal, SH, MH, diterbitkan oleh Dinas Pendidikan Provinsi Banten, 2013.
**Fatah Sulaiman, Akademisi Untirta, Sekjend Forum Silaturrahim Pondok Pesantren Provinsi Banten dan Sekretaris MUI banten.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »