Ge Pamungkas; Gak Ada Jalan Pintas untuk Sukses

13.02



Saya sudah menyiapkan jauh-jauh hari untuk datang ke acara 3GP Tour Ge Pamungkas, yang di baliho besar depan kampus Untirta Serang akan diselenggarakan Minggu, 17 Maret 2013. Di sana tertera, Ge akan naik panggung pukul 15.00. Tapi begitulah, di hari yang sama Untirta juga kedatangan politisi sekaligus pengusaha besar negeri ini, jam karet jadi susah untuk dihindarkan.

Oleh : Setiawan Chogah

Bersama Bembi, saya meluncur dari Stadion Maulana Yusuf beberapa menit lebih telat dari jadwal yang tercantum. Kebetulan saya sudah terlanjur membuat janji dengan sahabat saya itu untuk meliput 3GP bersama-sama.

Setengah berlari kami menaiki tangga di gedung B Untirta. Persis di depan pintu masuk auditorium, saya bertemu Ge dan beberapa panitia yang stand by di depan pintu. Saya langsung ngeh dengan Ge, sebelumnya saya memang suka mengikuti perjalanan Ge di kompetisi Stand Up Comedy Kompas TV sesion 2, lalu Ge menjadi host di kompetisi yang sama untuk junior-juniornya.

“Hai, Ge,” saya mengakrap diri sembari menyalami cowok kelahiran Jakarta, 25 Januri 1989 ini, satu bulan lebih muda dari saya.

Ge menyambut uluran tangan saya. “Gue Setiawan, dari Banten Muda. Udah tampil?” tanya saya.

“Ohhh, belum, nih. Masih opening.

“Nanti bisa ngobrol bentar, gak? Oh iya, ini temen gue dari Radar Banten.” Bembi pun mengulurkan tangannya, disambut Ge dengan ramah.

“Oh bisa, bisa. Tapi ntar ya abis gue tampil. Santai aja.”

Di sela menunggu penampilan Ge melucu di hadapan penggemar comic yang katanya belajar banyak dari Ernest Prakasa ini, saya dan Bembi memutuskan untuk masuk ke auditorium.

“Ge bakal tampil terakhir, ini masih opening sama local comics,” ujar Panji, penyelenggara dari Stand Up Comedy BSC.

BSC itu apa, sih, Mas?” saya keceplosan bertanya.

“Banten Serang Cilegon,” ujar Panji ringan.

Waktu yang ditunggu-tunggu pun akhirnya datang juga. Ruang auditorium jadi gelap, gulita ketika semua penerangan dimatikan. Ge berjalan gagah menuju panggung dan langsung berteriak, “Seraaaaaang!”

Serentak ruang di lantai 3 itu riuh oleh tepuk tangan penonton. Kedatangan Ge telah mereka tunggu-tunggu dari tadi. Sekitar 2 jam Ge mengocok perut penonton dengan komedi khasnya yang cerdas dan ‘jujur’. Satu hal yang membuat saya salut dengan Ge. Ge mampu menyampaikan pesan-pesan moral dengan lucu dan terkesan santai, tak menggurui.

Semisal ketika Ge membahas hal-hal yang mungkin tabu bagi sebagian orang, coli. “Gue gak mau ya menyampaikan coli itu dengan bahasa yang mungkin semua orang gak tau. Masturbasi itu hanya milik beberapa kalangan, tapi kalau coli gue yakin lo semua udah tau,” kata Ge.

Kata-kata itu menjadi terkesan ‘gak jorok’, Ge membuat penontonnya berpikir terbuka. Tidak hanya memandang dari luar, tapi bagaimana memandang hal-hal itu jauh sampai ke dalamnya.

Meski Ge tampil sebagai comic yang seharusnya lucu, tapi saya sempat mencatat beberapa kalimat Ge yang saya kira sangat penting untuk direnungkan. “Kaya itu menurut gue adalah ketika lo punya yang orang lain gak punya,”atau ketika Ge bercerita tentang pengalaman ‘gokil’-nya menolong bapak-bapak yang jadi korban tabrak lari. “Ketika lo mau nolongin orang, lo gak musti kenalan dulu, kan? Kalau mau nolong ya nolong aja!”

“Emangnya menurut lo Stand Up Comedy itu apa, sih, Ge?” tanya saya usai Ge tampil dan kami ‘ngobrol’ di sebuah sudut auditorium bersama teman-teman pers lainnya.

Stand Up Comedy menurut gue adalah ilmu seni ilusi. Bagaimana lo menyampaikan kemarahan lo, tapi kesannya jadi lucu.”

Saya membolak-balik catatan saya tadi. Ada pertanyaan yang menggelitik di kepala saya. Saya penasaran dari mana Ge belajar melucu, tapi ada pesan dalam setiap kelucuan yang dia sampaikan.

“Sebenernya gue cuma menyampaikan keresahan gue aja sih. Kayak tadi, gue telat tampil. Gue baru tau kalau Serang kedatangan politisi, ya? Di spanduk gue lihat jadwalnya jam 8, tadi doi datang jam 12. Itu kan meresahkan, makanya tadi gue sedikit bahas soal itu.”

Beberapa pertanyaan teman-teman media dijawab santai oleh Ge. Mahasiswa Hubungan Internasional di Universitas Parahyangan ini begitu asyik diajak ‘ngobrol’. “Kan gue udah bilang, gue tampil apa adanya, gue gak mau yang dibuat-buat. 3GP Tour tujuannya ya gue pengen menyampaikan pada penggemar gue, beginilah Ge adanya. Kalau mereka suka ya syukur ya, tapi kalau gak suka dan unfollow, gak masalah juga. Gue orangnya simple aja,” tutur Ge tersenyum.

Seorang wartawan bertanya pada Ge, “Apa sih rahasia kesuksesan lo, Ge?”

Ge berpikir sejenak, beberapa detik. “Sebenarnya gak ada rahasia-rahasiaan juga, ya. Semuanya dari kerja keras. Gak ada yang instan atau jalan pintas untuk kesuksesan. Kalaupun gue kenal sama Ernest, Raditya Dika, dan mereka ngajak gue buat perform, tapi kalau gue gak lucu siapa yang mau nonton?”

Saya mengangguk. Membenarkan kalimat Ge. Memang tidak ada kata gampang untuk menjadi sukses. Mario Teguh pernah bilang, “Maka janganlah hanya menginginkan yang mudah. Janganlah keinginanmu untuk yang mudah, menjauhkanmu dari belajar menguasai yang sulit. Sesungguhnya, karena kemampuanmu lebih besar daripada semua kesulitanmu. Kehidupan ini sebetulnya sama sulitnya bagi semua orang.” ***

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »