Berteman dengan Anak

17.41


Di pagi, 26 Maret 2013. Ponsel saya bergetar dua kali pertanda ada pesan masuk. Dalam keadaan mata yang masih setengah tertutup, saya meraba-raba, mencari posisi smartphone tua itu. Sebuah SMS dari Kak Irvan, “Wan, tolong liput acara Seminar Pengasuhan di Aula RS Sari Asih, ya. Ketemu Kak Tias di sana.”

Oleh : Setiawan Chogah

Kak Irvan adalah atasan saya di BMC, berkat kebaikan beliau, saya mendapat kesempatan untuk mencicipi profesi sebagai jurnalis. Saya langsung membuka mata sempurna, meski masih sepet.

Saya sampai di gerbang RS Sari Asih, Serang Timur, persis ketika matahari dalam perjalanan menuju singgasananya. Tapi inilah Kota Serang, tetap gerah, tapi saya harus tetap bergairah. Saya mengajak jari-jemari menari di atas layar sentuh ponsel saya. Mengirim BBM pada Mbak Tias, panitia dari acara yang akan saya liput.

“Langsung ke sini aja, tapi wawancaranya nanti ya abis acara.”

Acara dijadwalkan akan usai pukul 13.00. Saya mengusap perut sembari melayangkan pandangan ke sekeliling saya. Singgah di gerobak somay, saya baru ingat belum sempat sarapan di kost. Menyelesaikan suapan ketiga, Hilal muncul di hadapan saya dengan senyum sumringah. Hilal adalah redaktur di Radar Banten. Hilal adalah salah satu sahabat yang semoga tidak berlebihan bila saya menyebutnya ‘tanpa Hilal, saya bukan sesiapa’. Panjang cerita antara  saya dan Hilal, mulai dari pertama kali dia menemukan saya untuk model Xpresi Radar Banten 2010 lalu, kemudian di Rumah Dunia, CK Writting, dan kini kami sama-sama berprofesi sebagai penulis dan jurnalis. Hilal adalah salah satu guru saya dalam tulis-menulis.

“Baru datang lu?” saya menyapanya, menuntaskan mengunyah pare di mulut saya.

“Dari tadi sih, tapi gue juga laper.” Akhirnya, jadilah saya dan Hilal berdua ke lokasi seminar. Kami langsung menemui Mbak Tias.

Saya membuka hand out di tangan saya. Tantangan Mendidik Anak di Era Digital, materi ini disampaikan oleh Elly Risma, Psi, direktur Yayasan Kita & Buah Hati yang sengaja diundang oleh Persatuan Orangtua dan Guru Sekolah Peradaban Serang sebagai penyelenggara.

“Di zaman yang serba instan ini, anak-anak sangat dekat dengan internet. Mereka bisa mengakses apa saja, dan orangtua sering tidak punya waktu lebih untuk memantau itu. Sehingga melalui seminar ini, kita ingin memberikan gambaran pada orangtua tentang tantangan mendidik anak di era globalisasi ini,” ujar Mbak Tias ketika saya bertanya motivasi dari pelaksanaan seminar ini.

Sejenak saya mengalihan pandangan sejenak ke arah aula. “Ada berapa peserta yang hadir, Mbak?”

“Sekitar 280-an, kebanyakan orangtua dan guru.”

Sementara itu, Elly Risman tengah memaparkan beberapa potensi berbahaya dari permainan anak yang kerap luput dari perhatian orangtua.

Elly mengatakan bahwa anak-anak dengan begitu mudah dijerumuskan pada materi pornografi melalui kegiatan mereka seperti komik, film di televisi, bioskop, bahkan game online di internet. “Komik-komik yang menjadi bacaan anak-anak kita tanpa kita sadari memuat unsur-unsur ponografi di dalamnya. Adegan kissing dengan gamblang digambarkan di komik dan anak-anak melihat itu,” ujarnya.

Saya mengklik icon browsing di ponsel saya. Dengan keyword daftar game berbahaya bagi anak, Google langsung menampilkan beberapa artikel terkait kata kunci yang saya masukkan. Cerdas, game berbahaya ini begitu bermain halus. Selain visual yang tidak layak konsumsi anak-anak, beberapa jebakan batman pun kerap dipasang di slidebar, semacam iklan yang mengarahkan user untuk mengunjungi tautan situs porno.

Elly juga menjabarkan beberapa ciri-ciri anak telah terjangkit kecanduan pornografi di antaranya mudah haus dan tenggorokan kering, sering minum, sering buang kecil, suka berkhayal, sulit berkonsentrasi, dan prestasi akademis menurun.

Lantas bagaimana seharusnya tindakan yang dilakukan orangtua untuk mencegah dampak ini? Saya menyulam tanya pada diri saya sendiri. Pertanyaan sama yang mungkin tengah mengisi ruang kepala para peserta yang hadir. Elly menyampaikan bahwa orangtua harus tenang dalam melakukan tindakan terapis pada anak-anak. Menghindari marah dan panik adalah salah satu langkah awal selain mengajak anak bermusyawarah dan memperbaiki pola pengasuhan. Mengajak anak berdiskusi adalah cara yang baik untuk menghindari bahaya kehancuran moral. Orangtua juga harus mengenal seluk-beluk berinternet, rutin mengecek riwayat situs yang dikunjungi anak, intinya, orangtua harus bersahabat dengan anak. Cara-cara keras tidak akan pernah bisa melembutkan.

***

Sepanjang perjalanan pulang ke kost-an, saya menyulam tanya dan melakukan perjalanan pemikiran yang amat jarang saya lakukan; tentang anak-anak saya kelak. Ah, saya selalu berpikir menjadi laki-laki muda di usia saya begitu sulit, tenyata ini belum seberapa dengan tantangan yang tengah menunggu saya ketika menjadi orangtua kelak. ***

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »