Agustinus Wibowo Bagi Pengalaman Travel Writing di Rumah Dunia

07.43

Serang, Banten Muda - Penulis buku Selimut Debu dan Garis Batas, Agustinus Wibowo, Rabu (12/3) mendatangi pustaka loka Rumah Dunia, Serang. Kedatangan Agus disambut oleh pencinta literasi di wilayah Serang di antaranya santri dari sejumlah pesantren, jurnalis, peserta kelas menulis Rumah Dunia, serta pembaca setia buku-buku Agustinus.

Penulis kelahiran Lumajang, Jawa Timur ini menceritakan pengalamannya selama menjadi traveler dan akhirnya menulis buku. “Aku mulai menyandang ransel saat umur 21 tahun, waktu itu masih kuliah di China, jadi udah terbiasa mandiri dan berani. Dengan modal 300 ribu aku sampai di ibu kota Mongolia, sebuah negara yang sama sekali tidak aku kenal sebelumnya, baik budaya, bahasa, dan kultur masyarakatnya,” tutur penulis yang dikenal andal dengan teknik eksplorasi dalam setiap buku kisah perjalanannya.

Selama memutuskan untuk menyandang ransel, berbagai kisah yang bagi pembaca mungkin ‘sangat mengharukan’ dialami Agustinus. Mulai dari kecopetan di kereta api, bertemu dengan kawanan pencopet di taman kota Mongol, sampai mengalami hepatitis dan tumbang sewaktu mengunjungi Afganistan. “Di Afganistan aku pernah tumbang dan syukur banget dibantu sama warga sampai dirawat selama 3 minggu tanpa pamrih. Dari pengalaman-pengalaman itu aku jadi tahu makna hidup yang sebenarnya.”

Agustinus berbagi bahwa esensi dari sebuah perjalanan backpacker bukanlah seberapa banyak negara atau tempat yang dikunjungi, tetapi makna apa yang dapat dipelajari dari sebuah perjalanan. Agustinus pernah tidak mandi selama satu bulan penuh di Tibet, Daratan China. “Dari perjalanan aku jadi tahu bahwa dalam hidup kita tidak butuh barang-barang mewah untuk bahagia. Perjalanan mengajarkan aku bagaimana melepaskan itu semua,” ujar penulis yang cacatan perjalanan keliling dunianya pernah dimuat di harian Kompas ini.
(Chogah/ ft. Chogah)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »