Berteman dengan Anak

17.41


Di pagi, 26 Maret 2013. Ponsel saya bergetar dua kali pertanda ada pesan masuk. Dalam keadaan mata yang masih setengah tertutup, saya meraba-raba, mencari posisi smartphone tua itu. Sebuah SMS dari Kak Irvan, “Wan, tolong liput acara Seminar Pengasuhan di Aula RS Sari Asih, ya. Ketemu Kak Tias di sana.”

Oleh : Setiawan Chogah

Kak Irvan adalah atasan saya di BMC, berkat kebaikan beliau, saya mendapat kesempatan untuk mencicipi profesi sebagai jurnalis. Saya langsung membuka mata sempurna, meski masih sepet.

Saya sampai di gerbang RS Sari Asih, Serang Timur, persis ketika matahari dalam perjalanan menuju singgasananya. Tapi inilah Kota Serang, tetap gerah, tapi saya harus tetap bergairah. Saya mengajak jari-jemari menari di atas layar sentuh ponsel saya. Mengirim BBM pada Mbak Tias, panitia dari acara yang akan saya liput.

“Langsung ke sini aja, tapi wawancaranya nanti ya abis acara.”

Acara dijadwalkan akan usai pukul 13.00. Saya mengusap perut sembari melayangkan pandangan ke sekeliling saya. Singgah di gerobak somay, saya baru ingat belum sempat sarapan di kost. Menyelesaikan suapan ketiga, Hilal muncul di hadapan saya dengan senyum sumringah. Hilal adalah redaktur di Radar Banten. Hilal adalah salah satu sahabat yang semoga tidak berlebihan bila saya menyebutnya ‘tanpa Hilal, saya bukan sesiapa’. Panjang cerita antara  saya dan Hilal, mulai dari pertama kali dia menemukan saya untuk model Xpresi Radar Banten 2010 lalu, kemudian di Rumah Dunia, CK Writting, dan kini kami sama-sama berprofesi sebagai penulis dan jurnalis. Hilal adalah salah satu guru saya dalam tulis-menulis.

“Baru datang lu?” saya menyapanya, menuntaskan mengunyah pare di mulut saya.

“Dari tadi sih, tapi gue juga laper.” Akhirnya, jadilah saya dan Hilal berdua ke lokasi seminar. Kami langsung menemui Mbak Tias.

Saya membuka hand out di tangan saya. Tantangan Mendidik Anak di Era Digital, materi ini disampaikan oleh Elly Risma, Psi, direktur Yayasan Kita & Buah Hati yang sengaja diundang oleh Persatuan Orangtua dan Guru Sekolah Peradaban Serang sebagai penyelenggara.

“Di zaman yang serba instan ini, anak-anak sangat dekat dengan internet. Mereka bisa mengakses apa saja, dan orangtua sering tidak punya waktu lebih untuk memantau itu. Sehingga melalui seminar ini, kita ingin memberikan gambaran pada orangtua tentang tantangan mendidik anak di era globalisasi ini,” ujar Mbak Tias ketika saya bertanya motivasi dari pelaksanaan seminar ini.

Sejenak saya mengalihan pandangan sejenak ke arah aula. “Ada berapa peserta yang hadir, Mbak?”

“Sekitar 280-an, kebanyakan orangtua dan guru.”

Sementara itu, Elly Risman tengah memaparkan beberapa potensi berbahaya dari permainan anak yang kerap luput dari perhatian orangtua.

Elly mengatakan bahwa anak-anak dengan begitu mudah dijerumuskan pada materi pornografi melalui kegiatan mereka seperti komik, film di televisi, bioskop, bahkan game online di internet. “Komik-komik yang menjadi bacaan anak-anak kita tanpa kita sadari memuat unsur-unsur ponografi di dalamnya. Adegan kissing dengan gamblang digambarkan di komik dan anak-anak melihat itu,” ujarnya.

Saya mengklik icon browsing di ponsel saya. Dengan keyword daftar game berbahaya bagi anak, Google langsung menampilkan beberapa artikel terkait kata kunci yang saya masukkan. Cerdas, game berbahaya ini begitu bermain halus. Selain visual yang tidak layak konsumsi anak-anak, beberapa jebakan batman pun kerap dipasang di slidebar, semacam iklan yang mengarahkan user untuk mengunjungi tautan situs porno.

Elly juga menjabarkan beberapa ciri-ciri anak telah terjangkit kecanduan pornografi di antaranya mudah haus dan tenggorokan kering, sering minum, sering buang kecil, suka berkhayal, sulit berkonsentrasi, dan prestasi akademis menurun.

Lantas bagaimana seharusnya tindakan yang dilakukan orangtua untuk mencegah dampak ini? Saya menyulam tanya pada diri saya sendiri. Pertanyaan sama yang mungkin tengah mengisi ruang kepala para peserta yang hadir. Elly menyampaikan bahwa orangtua harus tenang dalam melakukan tindakan terapis pada anak-anak. Menghindari marah dan panik adalah salah satu langkah awal selain mengajak anak bermusyawarah dan memperbaiki pola pengasuhan. Mengajak anak berdiskusi adalah cara yang baik untuk menghindari bahaya kehancuran moral. Orangtua juga harus mengenal seluk-beluk berinternet, rutin mengecek riwayat situs yang dikunjungi anak, intinya, orangtua harus bersahabat dengan anak. Cara-cara keras tidak akan pernah bisa melembutkan.

***

Sepanjang perjalanan pulang ke kost-an, saya menyulam tanya dan melakukan perjalanan pemikiran yang amat jarang saya lakukan; tentang anak-anak saya kelak. Ah, saya selalu berpikir menjadi laki-laki muda di usia saya begitu sulit, tenyata ini belum seberapa dengan tantangan yang tengah menunggu saya ketika menjadi orangtua kelak. ***

YPI Belajar dari Filosofi Saman

17.14


“Pendiri yayasan pernah bilang ke saya, Hidayat, kamu tahu Tari Saman yang dari Aceh itu? Itu adalah tarian yang mendunia. Tapi coba lihat, tarian itu hanya bermodalkan suara dan gerakan. Bermodal semangat. Saya yakin, YPI bisa mendunia seperti Saman.” Laki-laki paruh baya itu bercerita dengan begitu berapi-api. Saya singgah di name tag yang mengantung di kemeja sebelah kirinya, Ir. Tb. Hidayat, ketua pelaksana rapat pleno Yayasan Pendidikan Informatika, Serang.

Oleh : Setiawan Chogah

Pagi itu, 27 Maret 2013, saya hadir di aula YPI yang tengah menjadi saksi dalam penentuan babak baru yang akan dijalankan oleh yayasan yang menaungi beberapa jenjang pendidikan di Kota Serang itu.

“Apa yang memotivasi YPI untuk menerapkan full day school, Pak? Apa itu tidak memberatkan buat peserta didik?” tanya saya.

“Ke depan, tantangan pendidikan semakin berat. Pemerintah gencar membentuk rancangan pendidikan lewat sistem UN dan kurikulum yang selalu dimatangkan. Sekolah-sekolah berlomba untuk menelurkan lulusan terbaik dari UN. Mau tidak mau, YPI harus ikut andil dalam hal ini. Melalui wacana full day school, kita berharap bisa menjadi sekolah terbaik.”

Tb. Hidayat mengatakan bahwa konsep full day school bukanlah sebuah konsep yang akan memenjarakan peserta didik dengan materi yang membosankan. Siswa tetap akan mendapatkan kurikulum inti yang menjadi standar nasional di samping kurikulum lokal dari sekolah. “Anak-anak tidak akan dimabukkan dengan materi tok, tapi mereka bisa mengembangakan bakat lewat pelajaran budaya, pengembangan diri, ataupun ekstrakulikuler lainnya.”

Selayaknya kurikulum inti, siswa tetap masuk pukul 7.00 setiap paginya, namun dalam konsep full day school mereka akan pulang ke rumah pukul 16.00. Hidayat berpendapat, selain mematangkan keilmuan siswa, cara ini sebenarnya akan efektif dalam mengurangi kegiatan negatif pelajar yang dekat dengan image tawuran. “Seharian mereka belajar di sekolah, melakukan kegiatan yang dipantau dengan baik, juga pembelajaran agama yang kadarnya akan lebih banyak, tentu akan menghindari pelajar dari kegiatan negatif. Pulang sekolah akan langsung ingat rumah, jadi tidak ada waktu untuk tawuran.”

Saya mengangguk setuju. Memang, secara logika konsep full day school masuk akal.

“Silakan coffe break dulu, Dek.” Seorang laki-laki berjas rapi tiba-tiba telah hadir di samping saya dan teman-teman pers lainnya. Saya menatapnya sejenak, laki-laki itu tersenyum. Dialah H. Mulya R. Rachmatoellah, Lc. ketua Yayasan Pendidikan Informatika Serang.

“Saya setuju dengan filosofi Tari Saman yang disebutkan Pak Hidayat tadi. Di beberapa negara saya menyaksikan tarian Aceh itu, memang secara kasat mata tidak ada properti selain suara dan gerakan. Tapi mereka bisa mendunia dengan semangat penarinya. Begitupun dengan YPI, ini semancam responsibility kita semua untuk menciptakan semangat bersama mengggapai tema rapat hari ini.”

H. Rachmatoellah menyebutkan ada beberapa langkah tegas yang harus diambil untuk mencapai tujuan ‘menjadi sekolah terbaik’, di antaranya mengikutsertakan siswa dalam olimpiade, kepala sekolah yang kreatif, guru-guru memiliki kualifikasi baik dengan menulis karya ilmiah, prasarana yang menunjang pembelajaran, serta lingkungan yang mendukung untuk pencapaian tujuan itu.

“Kepala sekolah itu ibarat driver yang tahu akan dibawa ke mana penumpangnya. Dia harus kreatif, begitupun dengan guru. Guru-guru harus saling terbuka, sehingga kita bisa hand by hand, saling bantu, sebab ini akan sangat menentukan prestasi sekolah.”

Dalam khusuk saya menyimak ketika H. Rachmatoellah bercerita tentang Filipina. “Di Filipina, rata-rata penduduknya lulusan SMA, kok, tapi bahasa Inggris mereka jago. Itu makanya tenaga kerja mereka lebih berkualitas dibandingkan kita.” Ketua YPI ini juga menceritakan kelak ingin lembaga pendidikan di bawah naungan YPI menerapkan sistem pembelajaran bilingual.

“Saya pernah baca tentang seorang guru Matematika yang meminta anak didiknya keluar lapangan dan melakukan lomba balap karung. Ada beberapa anak yang diminta untuk mengukur jarak, kecepatan, dll. Ini contoh guru yang kreatif yang saya maksudkan. Matematika tidak menjadi menyeramkan lagi, bahkan gurunya pun bisa menjadi guru olahraga.”

Obrolan ini belum memuaskan saya. Tapi jadwal rapat pleno yang dihadiri oleh 4 komisi YPI itu harus segera dilanjutkan.

“Intinya dengan semangat dan kerja sama yang baik, didukung oleh lingkungan yang baik juga, kita optimis pasti bisa mencapai tujuan ‘menjadi sekolah terbaik’. Yang penting bagaimana guru-guru yang segenap pihak terkait bahkan sampai security, tukang kebun, dan lainnya bisa memahami siswa dan melakukan pelayanan terbaik. Sama seperti adik-adik, pastinya memahami leinginan pembaca, baru menulis berita yang dibutuhkan pembaca, bukan?”

Saya merasakan betul semangat yang membara di gedung ini, lewat obrolan, lewat paparan, juga lewat lagu kebangsaan Indonesia Raya yang tadi membuka rapat pleno ini. Lirik-lirik ajaib yang semenjak melepas status sebagai pelajar SMA, sudah amat jarang meluncur dari bibir saya. Lirik bermuatan semangat, sama seperti Saman yang mendunia. Bermodalkan semangat.***

Love Art, Show Your Tallent

15.56


Saya seperti memasuki gerbang dunia khayal ketika hadir di Taktakan, sebuah kecamatan di Kota Serang, yang di tahun keempat keberadaan saya di kota ini, belum sempat saya kunjungi. Hijau, di sisi kiri dan kanan ditumbuhi pohon-pohon rindang yang memayungi pengguna jalan. 

Lama nian saya merindukan suasana pedesaan seperti ini. Menyaksikan laki-laki bertelanjang dada menggiring ternak mereka, perempuan dengan keranjang dan beban di kepala, gadis desa dengan rambut terurai sampai pinggang, melonjak, berlajalan melenggok. Natural.

“Kita ke SMK 5 ya,” ujar Bambi di perjalanan, kami baru saja selesai meliput acara tes hafalan Quran di Masjid Agung Serang. 


Limabelas menit, kami memasuki gerbang SMKN 5 Kota Serang. Muda-mudi seusia kami berjajar di pinggir lapangan, di bawah-bawah pohon, di tempat rindang. Saya melempar pandang ke tengah lapangan, di ujung berdiri sebuah panggung besar dengan backdrop bertuliskan “ Pentas Seni SMKN 5 Kota Serang”.



Bembi menanyai seorang siswa berpakaian pramuka di samping kami berdiri, “Ketua pelaksananya siapa, ya?” Panggung mulai kembali gaduh dengan suara host, disambut tepuk tangan dari penonton. Bembi terlihat bercakap-cakap dengan siswa tadi. “Yuk, Chog, kita temuin ketua pelaksananya aja.”

Saya mengikuti Bembi yang berjalan ke tengah lapangan, lalu tembus ke sebuag ruangan. Di sana saya dan Bembi di sambut Yasfi Ramanda, siswa kelas 2 Teknik Komputer Jaringan yang ditunjuk sebagai ketua pelaksana Pensi SMK 5.

“Maaf ya, Kak, ruangannya agak berantakan. Maklum, tempat panitia rapat semalam. Belum sempat dirapihin,” Yasfi bersuara.

Saya dan Bembi tertawa, “Santai aja.” Yasfi menceritakan kalau ini adalah pentas seni perdana yang digelar OSIS SMKN 5 Kota Serang. Di tahun pertamanya ini, OSIS sengaja mengundang beberapa bintang tamu dari luar untuk menyemarakkan acara.

“Yang tampil kan kelas satu sama dua aja, Kak. Jadi panitia sengaja mengundang bintang tamu dari luar biar lebih semarak,” ujar Fasfi.

Dari luar terlihat penonton tengah menari bersuka ria diiringi musik dari panggung. Saya mengambil beberapa foto dari jauh, sementara Bembi melanjutkan wawancara.

“Gimana nih, acara pertamanya, sukses gak?” tanya Bembi.

“Alhamdulillah, Kak. Ini juga pertama kali saya ditunjuk jadi ketua pelaksana. Sempat pesimis juga sih tadi, tapi untungnya guru dan teman-teman ngedukung.” 

Melalui acara ini, Fasfi mengatakan bahwa anak-anak SMKN 5 bisa menyalurkan bakat seninya seperti dance, padus, juga debus. “Acara ini bertujuan untuk mempromosikan SMK 5, menyalurkan bakat teman-teman, juga memperkuat rasa percaya diri, Kak.”

Usai wawancara, saya, Bembi, dan Yasfi turun ke lapangan.  Bergabung bersama teman-teman SMKN 5 Kota Serang, menari, menggoyangkan badan, pelan. Melepas lelah.

“Fi, tema acaranya apa sih? tanya saya sedikit menambah volume suara.
“Love art, show your tallent, Kak,” jawabnya sembari menunjuk sebuah spanduk di sisi kanan lapangan yang sempat alpa dari pandangan saya.
***
Oleh : Setiawan Chogah

Sehari Satu Ayat

15.46


Tahun 2009 lalu Ustad Yusuf Mansur menggerakkan program unik yang dinamanakan One Day One Ayat, sebuah metode jitu menghafal Al Quran beserta maknanya.

Dengan matic merahnya Bambi, saya dan sahabat saya itu menginjakkan kaki di masjid Agung Serang sesaat sebelum adzan Dzuhur. Minggu, 24 Maret 2013, di sini tengah berlangsung tes hafalan Quran yang digelar oleh PPA Darul Quran cabang Banten.

Saya dan Bembi disambut oleh Ustad M. Yusuf, kami duduk di suasana damai masjid, di dekat sebuah pilar.

“Tanggal 30 besok kan akan ada wisuda akbar di GBK, jadi hari ini tes untuk wilayah Banten,” terang Ustad Yusuf.

“Ada berapa peserta yang ikut tes hari ini, Tad?” tanya saya.

Ustad Yusuf menceritakan, tiap tahun peserta wisuda One Day One Ayat selalu mengalami peningkatan. Untuk hari ini di Banten ada sekitar 800 lebih peserta yang dari dari berbagai daerah.

“Pesertanya macam-macam, dari pesantren ada, masyarakat umum juga ada.”

Untuk bisa mengikuti wisuda akbar di Gelora Bung Karno nanti, para peserta harus menyetor bacaan surat Al Baqoroh sebanyak 50 ayat dan surat An Naba' 40 ayat. Tiga periode sebelumnya, wisuda akbar diadalan di masjid Attin, Taman Mini, dan Kota Semarang.

“Tahun ini kenapa memilih GBK, Tad?”

Jawaban Ustad cukup membuat saya tersenyum. “Sesuai namanya, An Naba itu menggemparkankan. Jadi GBK bukan hanya digemparkan oleh supporter bola dan artis. Tapi Quran pun bisa masuk GBK,” ujarnya. 

Usai bertanya seputar teknis pelaksanaan, saya izin mengambil beberapa gambar kepada Ustad. Saya mengelilingi teras masjid. Memerhatikan wajah-wajah damai mengeja firman Allah. Usia mereka pun beragam saya kira, dari santri-santriwati sampai ibu-ibu. Mata saya singgah pada sosok mungil di sebelah kanan saya. Seorang gadis kecil, saya menaksir usianya di antara 5 atau 6 tahun. Saya perhatikan dari dekat. Subhanallah, diam-diam saya bertasbih.

Sepuluh menit saya menunggu adik kecil itu menyelesaikan tes hafalan Quran-nya. Sampai dia beranjak dari hadapan ustadzah, saya segera menghapirinya. Nazma, begitu nama bidadari kecil yang membuat saya terkesima itu.

“Wah, selamat ya, Nazma. Gimana tadi tesnya, bisa?” sapa saya pada Nazma yang duduk di samping ibunya.

Nazma tidak menjawab, gadis itu hanya tersenyum malu-malu.
Saya memutar otak, ingin sekali mendengar suara Nazma, bercerita tentang hafalan Quran-nya. “Nazma sekolah di mana sih?” tanya saya.

Gadis itu tersenyum lagi, “SD Nurul Najah,” jawabnya pelan.

Saya mengernyitkan dahi, “Di mana itu, Nazma. Serang ya?”

“Bukan, Jakarta,” jawabnya lagi.

Nazma Aida Nabila, gadis kecil 6 tahun, datang jauh-jauh dari Jakarta untuk tes bacaan Quran. “Emang di Jakarta gak ada tesnya, Bu,” saya bertanya pada ibunya Nazma.

“Ada sih, Mas. Tapi hari ini Nazma sekalian ke rumah eyang di Kasemen.”

Sekitar sepuluh menit pula saya dan Nazma berbincang-bincang ditemani ibunya. Bukan saja tentang hafalan Quran, tapi juga mengenai sekolah dan hobinya Nazma. Dia ceritakan pada saya kalau kelak sudah besar, Nazma pengin masuk pesantren.

“Kenapa?”

“Di pesantren kan banyak ustad dan ustazah yang akan ngajarin Nazma ngaji.” Olala! Akhirnya saya berhasil juga mendapatkan satu kalimat panjang dari Nazma. Kami menyudahi obrolan, Nazma harus segera ke rumah eyangnya di Kasemen. Pun saya, acara lain siap menanti untuk dikunjungi. One Day One Ayat, dari metode itu saya belajar suatu hal. Hal-hal besar dalam hidup ini berawal dari hal-hal kecil yang kita lakukan secara terus menerus. Seperti tetesan air yang mampu menembus batu. Tidak ada yang tidak mungkin dalam hidup ini, tergantung seberapa besar effort yang kita lakukan, juga doa yang menyertainya, selebihnya, biarkan Tuhan yang memberikan kejutannya.

***

Oleh : Setiawan Chogah

Menjaring Bibit Unggul Lewat Smansa Smart Competition

11.34


Kota Serang benderang dengan matahari persis di atas kepala saya. Dalam gerah saya memasuki gerbang SMAN 1 Kota Serang, sekolah favorit di Serang, bahkan Banten itu.

Sehari sebelumnya saya menerima informasi kalau teman-teman OSIS Smansa akan menggelar event Smansa Smart Competition, pagi ini, Minggu 24 Maret 2013.

Saya menelusuri koridor Smansa, menuju arah tangga, berdasarkan informasi dari seorang peserta yang  kebetulan tadi kami berpapasan di pintu gerbang, acara SSC diadakan di lantai 2.

“Siang, terima kasih sudah mau meluangkan sedikit waktu. Lagi sibuk banget, ya?” saya menyapa perempuan belia yang menemui saya.

“Hehehe, dikit, Mas. Oh ya, dari mana, ya?” tanyanya seraya menatap sejenak.

“Saya Iwan, dari Banten Muda.”

“Oooo, Banten Muda. Kenapa gak bilang dari tadi, Mas? Hehehe.”

Belum lama ini saya juga pernah datang ke Smansa untuk meliput Smansa Fair dengan bintang tamu RAN waktu itu.

“Ini lomba MIPA, Mas. Skopnya sih se Banten. Ini adalah tahun kedelapan penyelenggaraan Smansa Smart Competition,” ujar Tiara, yang ditunjuk sebagai ketua pelaksana.

Smansa Smart Competition merupakan acara tahunan dari OSIS Smansa. Bidang keilmuan yang dilombakan di antaranya Matematika, Biologi, dan Fisika. Di tahun kedepalan, SCC diikuti oleh 386 peserta dari 22 sekolah di Banten.

“Oh iya, ini lomba tingkat SMP, kan?” saya lupa memastikan dari awal peserta yang ikut SSC.

“Iya, Mas. Pesertanya dari SMP sederajat se Banten,” terang Tiara.

Tiara menjelaskan bahwa SSC dibagi ke dalam 3 tahap yang digelar selama 4 hari dalam beberapa minggu. “Ini hari pertama, akan diseleksi untuk masuk ke 27 besar, lalu 9 besar, dan terakhir 3 besar. Totalnya 4 hari, Mas. Tapi gak berturut-turut.”

Smansa Smart Competition diminati oleh siswa-siswa SMP se Banten. Bagaimana tidak, untuk 3 peserta terunggul mendapat reward masuk Smansa tanpa tes, beasiswa, tropi, juga piagam. “Sehari setelah penutupan pendaftaran masih ada yang daftar, Mas. Karena kita sistemnya input data, ya, terpaksa ditolak.”
“Gimana nih pengalamannya ditunjuk jadi ketua pelaksana?” tanya saya.

Tiara tersenyum, menyeka butir keringat yang muncul di keningnya. “Hehehe, capek sih, Mas. Tapi seneng. Gak ada kan kerjaan yang gak capek?”

“Sebenarnya apa sih tujuan pelaksaan dari SSC sendiri?” pertanyaan terahir dari saya.

“SSC bertujuan untuk menjaring bibit-bibit unggul, Mas. Bibit-bibit unggul yang nanti akan dididik di Smansa, semoga ke depannya juga unggul dalam mengunggulkan bangsa kita ini.”

Yap! Saya mengangguk. Sepuluh menit saya dan Tiara ngobrol seputar SSC. Gadis itu izin kembali ke acara mengurusi beberapa keperluan lainnya. Saya beranjak dari duduk, mengikuti Tiara ke lantai atas. Mengamati suasana lomba, tentunya untuk mengabadikan dalam beberapa potret gambar.

***

Oleh : Setiawan Chogah

Lelaki Batik

11.03


Senja turun pada Kamis 21 Maret 2013 saat saya dan Bembi memasuki lobi Ratu Bidakara, menghadiri acara Festival Batik Banten 2013 yang akan digelar untuk kali keduanya di hotel mewah itu.

Ponsel saya bergetar sepanjang dua menit tadi. BBM dari Susi, teman sekaligus guru saya di bidang jurnalistik.

“Chog... acaranya udah mulai, blom? Gue masih di jalaaaan.”

Saya tersenyum, Susi adalah senior saya. Februari kemarin, tepat 4 tahun dia mengabdikan diri sebagai pers, di tahun yang menunjukkan keunggulan pengalamannya dibanding saya, Susi tetaplah teman yang down to earth. Beberapa kali dia mengajak saya liputan event yang media tempat dia bekerja memang sengaja diundang oleh si empunya acara.

“Belom, kok, Sus. Santai aja, Pak Wali juga belom datang.”

“Oooo, apa nungguin gue dulu ya?”

Oeeek! Saya dan Bembi ‘ngakak’ membaca BBM dari Susi. Beginilah teman-teman saya sekarang, satu tujuan, satu tekad, bahkan satu cita-cita; memburu berita yang wajib diketahui khalayak. Di sinilah peran ‘sahabat’ sangat saya rasakan. Saya, Susi, Bembi, Muiz, dan teman-teman pers lain selalu berbagi informasi.

***

Pukul 8.00, Ratu Bidakara semakin ramai. Saya duduk di kursi menghadap ke arah kolom renang yang di sekelilingnya dipasang lilin bercahaya redup. Sementara koridor di depan saya melontar irama sepatu perempuan-perempuan dengan aroma semerbak. Saya tidak dapat menerka berapa harga parfum mereka. Mereka ada yang belia, paruh baya, pun laki-laki berjas dan berpantofel. Sama-sama wangi. Saya menghabiskan satu isapan sigaret di sela bibir saya. Sepasang host yang dari wajahnya saya kenal mereka adalah duta pariwisata Kota Serang, orang-orang Serang menyebutnya Kang Nong, mulai membuka acara.
Saya mengeluarkan pocket camera dari dalam tas. Membidik perempuan-perempuan semampai yang berbaris anggun di sisi kolam renang, memamerkan busana mereka. Cantik!

Puas mengambil beberapa gambar yang saya kira cukup ‘bercerita’, saya beranjak ke arah lobi, beberapa contoh kain batik dipajang di sana. Saya melangkah ke arah timur, seorang laki-laki muda khusuk di tempat duduknya. Laki-laki pembatik.

“Permisi, Kang,” saya menyapanya.

Laki-laki itu menengadah, lalu sederet gigi rapinya dipertontonkan pada saya. “Oh, malam, Kang.”

“Boleh ngobrol sebentar, Kang?” ujar saya lagi.

“Boleh, Kang. Panggil Fauzi aja,” laki-laki sebaya saya itu menyebut namanya.

Saya duduk di samping Fauzi yang gara-gara kehadiran saya mengehentikan aktivitas membatiknya sesaat. Dia ceritakan pada saya kalau kain putih yang tengah diukirnya itu merupakan batik tulis dengan motif kreasi sendiri.

“Bukannya Batik Banten mengambil motif-motif tentang kebantenan dari peninggalan Sultan, ya?”

“Iya, tapi ini saya lagi mencoba bereksperimen aja, Kang Iwan. Hehehe. Kalau motif Batik Banten sendiri memang bersumber dari benda-benda sejarah di Kesultanan Banten.”

Sejatinya, Batik Banten adalah merek dagang dari pengusaha Banten, Uke Kurniawan. Motif-motif Batik Banten terispirasi dari hasil galian arkeolog di bekas pusat pemerintahan Kesultanan Banten. Berkat kerja kerasnya, Uke berhasil mengangkat 75 jenis motif dari kearifan lokal dari puing-puing Kesultanan Banten. Ketujuhpuluh lima motif ini telah dipatenkan Uke melalui Surat Keputusan Gubernur Banten Nomor 420/SK-RH/III/2003.

Saya mengambil selembar brosur yang sengaja diletakkan di atas meja di samping Fauzi. “Kang Fauzi kenapa memilih jadi pembatik, sih?” tanya saya penasaran.

Dia tersenyum sesaat, mencipta jeda. “Ya, daripada nganggur, Kang. Saya suka seni, dengan membatik saya seperti menciptakan dunia saya sendiri. Gitu aja, sih, sebenernya. Istilahnya mah, kerja sambil main-main. Duit dapet, hati senang.”

Saya tertawa renyah mendengar penjelasanya yang simpel. Melihat kawan sebaya saya itu, saya jadi terpikir dengan Petuah Ayah; Datuak Yus Parpatiah. Beliau pernah bilang, “Nak, belajarlah dari kehidupan pakis. Pakis adalah tumbuhan yang gigih, yang bisa hidup dengan segala rupa kondisi alam. Hujan, panas, bahkan tanpa tanah. Pakis tidak pernah mengganggu, dia hidup di tempat yang dia suka, juga memberi manfaat pada manusia. Pakis hanyalah tumbuhan, Nak. Jadi pesan Ayah, jangan mau jadi pengangguran! Kerjakan apapun yang bisa kalian kerjakan. Menjadi manusia harus gigih.

“Belajar membatik sejak kapan dan dari siapa, Kang?”

“Saya belajar sendiri aja, sih, Kang. Awalnya sih liat-liat, trus nyobain, dan keterusan sampai sekarang.”
Fauzi katakan dalam menyelesaiakn satu batik tulis, dia bisa menghabiskan waktu satu minggu. “Wah, lama juga, ya, Kang? Gak bete tuh? Kalau ada yang salah gimana?’

“Hehehe, ya harus sabar, Kang. Kalau ada yang salah ya dibiarin aja, nanti kan bisa ditimpa. Ini baru tahap pertama, setelah ini ada lagi beberapa tahap sampai batik ini bisa dikatakan selesai.”

Penjelasan Fauzi langsung membuat saya lemas, sekaligus berdecak kagum. Muda, berkarya, terampil, dan kreatif. Whats next? Anak muda seperti apa lagi yang dibutuhkan oleh negeri tercinta ini?

***

Oleh : Setiawan Chogah

MARTABAK KEJU KACANG

12.10

(Proses Kreatif Penulisan buku ‘Demokrasi, Islam dan Kebantenan’)


Buat saya Membaca buku Demokrasi, Islam dan Kebantenan karya Ali Faisal ini seperti menikmati Martabak Keju Kacang buatan Assen, ia memiliki berbagai cita rasa mulai dari yang manis, asin dan juga  gurih. Isi buku ini banyak diwarnai oleh kegelisahan-kegelisahan Kang Ali Faisal melihat berbagai fenomena sosial politik yang berkembang saat itu. Produktifitasnya dalam memberikan gagasan-gagasan yang terserak di berbagai media cetak membuat kami tergerak untuk mengumpulkannya dalam sebuah buku. Walaupun didalamnya masih ada editing yang kurang rapih tetapi tulisan demi tulisannya yang inspiratif membuat buku ini tetap nikmat dibaca senikmat Martabak Assen yang Keju dan Kacangnya berceceran dimana-mana.

Oleh : Irvan Hq

Saya masih ingat betul beberapa tahun silam satu kotak Martabak Assen rasa Keju Kacang  inilah yang menjadi tanda dimulainya persahabatan saya dengan Kang Ali Faisal. Saat itu saya dan Kang Ali Faisal masih sama-sama susah, bedanya kalau Kang Ali Faisal waktu itu sedang susah, sedangkan saya sangat-sangat susah. Bagi saya Kang Ali Faisal adalah seorang filsuf karena belakangan saya baru tahu ternyata martabak yang saya terima tidak sekadar martabak tetapi ada makna yang hendak disampaikan. Keunikan martabak yang selalu disajikan dengan cara melipatnya menjadi dua sehingga berbentuk setengah lingkaran dan dipotong-potong menandakan makanan ini disiapkan untuk dimakan bersama-sama. Memang dibagi atau dimakan sendiri kenyangnya akan sama tetapi apabila martabak itu dibagi kita akan mendapatkan nilai kebaikan. Begitu juga dengan aneka rasa dari makanan ini mewakili kehidupan baik suka maupun duka, dihibur dan disakiti, diperhatikan dan dikecewakan, didengar dan diabaikan, dibantu dan ditolak serta berbagai pengalaman lainnya.

Kemudian panjangnya proses pembuatan martabak juga sepertinya hendak menggambarkan bahwa tidak ada cara instan untuk menjadi penulis, semuanya butuh proses, diawali dengan menulis, menulis dan terus menulis. Saya masih ingat ketika Kang Ali Faisal berbicara di Baraya TV beberapa waktu yang lalu bahwa kalau mau menulis, menulis saja sampai selesai, jangan dibaca-baca dulu, apalagi sampai di edit-edit, selesaikan dahulu baru kemudian dibaca ulang dan diperbaiki sehingga kita mendapatkan gagasan yang genuine, karena menulis itu bagaimana menuangkan gagasan kita dalam konsepsi tulisan.

Kemampuan Kang Ali Faisal menuangkan gagasan-gagasan ke dalam tulisan tidak terlepas dari aktifitasnya di berbagai organisasi sejak bangku SMU, kemudian berlanjut menjadi pengurus Korps Palang Merah Indonesia (PMI), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Ketua Umum Keluarga Mahasiswa Tirtayasa (Kamayasa), Ketua Presidium Pergerakan Mahasiswa Banten, Wakil Ketua Umum Senat Mahasiswa Fakultas Hukum Unpas, Assisten Jendral Pengurus Pusat Ikatan Senat Mahasiswa Hukum se-Indonesia dan Ketua Umum Forum Komunikasi Tenaga Sukarela.

Ternyata aktif di kepengurusan DPD KNPI Kota Serang mempertemukan saya dengan Kang Ali Faisal,  chemistry langsung muncul diantara kami berdua. Kami pun bahu membahu menjalankan roda organisasi, bahkan saya pun sempat membantu Kang Ali Faisal memperjuangkan berdirinya Majelis Sinergi Kalam (Masika) Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia di Provinsi Banten. Selain itu Kang Ali aktif juga di Ketua Bidang Advokasi Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta (APTISI), pengurus Forum Silaturahmi Pondok Pesantren (FSPP) dan Wakil Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Serang.

Pada tahun 2011 Keterbatasan Media Lokal dalam menampung aspirasi dan gagasan-gagasan Kang Ali Faisal akhirnya tersalurkan sudah setelah saya dan beberapa kawan menerbitkan tabloid dbuzz dengan segmentasi para executive muda Banten. Di hampir setiap terbitan saya memberikan kesempatan Kang Ali Faisal untuk menuliskan gagasan dan pemikirannya, tentu saja tulisan-tulisan tersebut disesuaikan denga tema. Hanya saja sayang tabloid ini hanya bertahan enam edisi karena konflik kepentingan para pemiliknya menjelang Pilakada Provinsi Banten.

Namun kondisi tersebut tidak berlangsung lama karena setelah pilkada selesai saya kembali menghidupkan tabloid Banten Muda sampai dengan sekarang. Kang Ali Faisal dengan leluasa dapat menyalurkan semua ide dan gagasannya dalam sebuah konsepsi tulisan di tabloid Banten Muda. Ada hal unik dari Kang Ali Faisal ini, yang pertama saya sering kerepotan ketika meminta beliau menulis sebanyak 3 halaman, kemudian mendekati deadline Kang Ali Faisal mengirimkan 15 halaman dan dengan enteng berkata kepada saya, “Kang tolong diedit sendiri saja ya” Bisa dibayangkan saya harus mengedit tulisan Kang Ali Faisal dari 15 halaman menjadi tiga halaman. Sudah begitu karena semua isi tulisannya bagus dan menarik, saya bertambah bingung karena tidak ada bagian yang bisa saya potong. Belum lagi saya harus sering-sering bertanya kepada Mbah Google, karena kata-kata atau kalimat yang digunakan masih asing di telinga saya.

Dari diskusi saya, Kang Ali Faisal dan beberapa sahabat  akhirnya tercetus ide untuk mengumpulkan tulisan-tulisan Kang Ali Faisal kedalam sebuah buku. Seperti sudah ada yang mengatur, setelah niatan itu kemudian tidak lama ada peluang dari Dinas Pendidikan untuk menerbitkan buku dan Alhamdulillah buku Kang Ali Faisal ini terpilih menjadi salah satu buku yang diterbitkan oleh Dinas Pendidikan. Harus diakui ada kesan buku ini kurang dipersiapkan dengan baik karena walaupun dikelompokan ternyata kurang terlihat benang merah antara satu tulisan dengan tulisan yang lain, kemudian dari sisi editing juga nampak kurang teliti terutama pada pemenggalan kata, efektifitas penggunaan kata dalam satu paragraph dan memindai kata yang tidak perlu serta memperbaiki rangkaian kata yang terkesan berbelit-belit. Satu-satunya alasan saya adalah keterbatasan waktu dan tentu saja keterbatasan saya sebagai penyunting buku tersebut.

Terlepas dari itu semua bahwa terbitnya Buku  Demokrasi, Islam dan Kebantenan’ merupakan langkah awal dari kami bagaimana membangkitkan semangat dan keberanian penulis untuk membukukan tulisannya sehingga konsepsi gagasan yang selama ini terserak bisa diketahui masyarakat luas dan bermanfaat bagi kemajuan Provinsi Banten kearah yang lebih baik. Dan saya tetap yakin tulisan demi tulisannya yang inspiratif membuat buku ini tetap nikmat dibaca senikmat Martabak Assen yang Keju dan Kacangnya berceceran dimana-mana. ***





Membaca Indonesia, membaca Banten

11.40

Iwan K Hamdan
Catatan pada bedah buku Demokrasi, Islam dan Kebantenan
Karya Ali Faisal, SH.MH.


Narasi besar sejarah Indonesia kontemporer, tengah menanjak dan berliku. Demokratisasi, HAM, kebebasan, desentralisasi, dan persaingan menjadi deretan mantra yang menghipnotis semua kalangan. Euphoria merebak, selepas orde reformasi, bersamaan dengan gelombang demokratisasi, trans-nations, tatanan dunia baru, (New world order), IT dan pergeseran tata hubungan internasional yang makin transparan dan interdependensi, aliansi dalam sector privat sector dan lain sebagainya. Kesemua karakter new world order tersebut, secara telak mempengaruhi mindset, attitude dan orientasi masyarakat termasuk kaum elitnya.  Masing-masing strata social ini memiliki persepsi, penilaian dan aktualisasi diri yang berbeda-beda. Antara kaum elit, rakyat biasa, negara, para saudagar dan lain sebagainya menunjukkan identitas, mindset dan perilakunya sendiri. Semuanya didorong oleh kata ; kebebasan, persaingan dan atas nama demokrasi. Dimana peran negara ? terus terang “Gamang” !. negara mengalami reposisi yang sangat fundamental. Perannya makin kompleks. Demokrasi dan pergeseran tata dunia menyebabkan dunia menyebabkan peran negara hanya menjadi polisi pengatur lalu lintas arus politik dan lain sebagainya.

Itu sebabnya, banyak contoh negara gagal (failed state) dalam menjalankan perannya  di era ini. Meskipun secara fisik bentuk dan kedaulatan negara masih berperan, namun sejatinya peran negara telah gagal. Contohnya ; Yunani, Italia, Perancis, dan banyak negara lainnya. Negara tengah ditantang menjalakan peran barunya. Seperti yang ditunjukkan oleh China, India, Korea dan Jepang. Negara-negara ini, sukses  melakukan transformasi fundamental peran negara.

Malaise (kelesuan ekonomi Eropa) yang makin mengkhawatirkan akhir-akhir ini, memaksa para analis dunia mengalihkan pandangan harapan ke Asia. Seperti Mac.Kensie. Indonesia menjadi negara kampium ekonomi baru di tahun 2045. Lepas dari keraguan kita, setidaknya Mac Kensie, memberi enersi baru bagi negeri ini untuk berbenah diri. Melakukan perubahan radikal. Meski, jalannya berliku.
Kita semua mafhum, reformasi yang di perjuangkan kaum Mahasiswa dan kalangan pemuda yang didukung kaum elit belum banyak melahirkan harapan kongkrit bagi rakyatnya. Tapi setidaknya, meski melelahkan bagi anak bangsa. Jalan ini memang harus kita tempuh. Negeri ini, besar, ribuan pulau, Ratusan juta penduduk dan politik dan demokrasi yang masih embrional. Embrional ? yah karena kita tengah belajar  bagaimana demokrasi dan politik itu di jalankan dalam kondisi ekonomi, pendidikan dan road map reformasi politik dan demokrasi yang tidak jelas. Tak ada cetak biru bersama, bagaimana reformasi ini di jalankan. Auto pilot negara memang diakui atau tidak tengah terjadi. Negara makin, lunglai dan gagap menghadapi derasnya demokrasi dan politik, pasar ekonomi yang makin merajai, kekerasan antar anak bangsa bahkan antar aparat hukum, korupsi berjamaah. Hingga makin merajai-nya premanisme dan perkara kedele, sapi, bawang merah-putih yang kita anggap ringan-pun negara harus berkeringat deras menyelesaikannya. Keran Impor di buka lagi. Para pemburu rente berpesta pora. Kaum petani meratapi nasibnya.

Akibatnya pertanian, perkebunan dan perikanan yang menjadi unggulan utama negeri ini, justru dijauhkan anak-anak generasi muda kita. Pola pikir dan kebijakan jalan pintas (short cut) jadi kebiasaan dalam menyelesaikan beragam perkara kebangsaan atas nama stabilitas dan keamanan negara. Negara tidak boleh terancam. Begitu kata elit. Oleh karenanya, akan mengganggu iklim ekonomi dan investasi. Namun sejatinya, perkara keadilan dalam semua bidang dipertontonkan secara vulgar. Hukum, ekonomi, pendidikan, social dan lain sebagainya. Deretan fakta-fakta diatas adalah sisi factual negeri ini. Namun, disisi lain, beragam fakta lain juga muncul. Keberhasilan menekan inflasi, LPE 6,5 %, cadangan devisa negara dan lain sebagainya yang banyak dirilis pemerintah.
Semua fakta-fakta ini jadi satu dalam beragam acara TV, talkshow dan lain sebagainya. Dengan beragam ambisi politik, kepentingan dan sebagainya. Rakyat hanya penonton debat kusir TV. Rakyat disuguhi tontonan controversial dalam semua hal. Atas nama ratting untuk mengail iklan. Untuk kepentingan pemegang saham. Maka tontonan yang diluar mainstreaming kini laku. Meski menabrak nalar dan keyakinan keberagamaan kita. Seperti kasus mutilasi yang kini marak dipertontonkan potongan mayat di TV, kekerasan penangkapan Herkules hingga kekerasan antara Jupe dan DP hanya untuk mendongkrak film-nya agar ditonton orang. Industry media telah menyihir public. Padahal public kita sangat jauh, gambaran di TV. Tak heran terjadilah apa yang disebut split personality (keterpecahan personality). Apa yang terjadi ? beragam amuk massa terjadi. Rakyat menjadi mudah marah. Negara lagi-lagi lunglai menghadapi deretan peristiwa ini.
Rangkaian cerita diatas juga mempengaruhi Banten. Terlebih jaraknya yang dekat dengan Jakarta. Dinamika dan tensi masalah yang dihadapi pun seputar itu. Hanya sebagai daerah yang strategis Banten, memiliki sejumlah harapan. Meski jalannya memang harus berliku. Keadilan, kesejahteraan dan pemerataan memang harus diperjuangkan dengan kerja keras dan kesabaran. Yang kita perlukan sekarang adalah ; Menyemai keteladanan, pendidikan, pembudayaan, kejujuran dan terus menerus menebar kebaikan. Betatapun kecilnya. Ia akan menjadi  bibit yang tumbuh subur. Banten bukan milik kita sekarang, ia milik generasi berikutnya. Anak dan cucu kita. Menebar permusuhan seraya melempar isu bukan solusi. Sekali lagi, memang ini pekerjaan berat.
Penulis buku ini menunjukkan caranya yang baik dengan menuliskannya dalam bentuk buku. Orang dapat merekam jejak penulisnya, pikiran-pikirannya hingga menjadi bahan pengetahuan dan diskusi yang sehat dan konstruktif untuk pembudayaan literasi di Banten. Tak ada jalan lain untuk mendorong budaya baru Banten. Orang harus membaca dan menulis. Sehingga tumbuhlah, komunitas masyarakat Banten yang berbudaya tinggi. Menyongsong era baru.

Selamat kepada Pak. Ali Faisal.

Cipocok Jaya, 20 Maret 2013.