Gairah Lintas Usia untuk Istana Belajar Anak Banten

12.59


Oleh: Na Lesmana

SERANG—Minggu ini, (10/2/2013), adalah Minggu yang sedikit berbeda buat saya. Bukan karena apa-apa, kecuali karena saya memulainya di Serang. Bukan di Tangerang (biasanya, setelah kuliah di Untirta selama lima hari—Senin sampai Jumat—, saya pulang ke Tangerang dan menghabiskan akhir pekan di sana). Apalagi, saya akan memulai Minggu ini dengan menghadiri pembukaan Istana Belajar Anak Banten di Kampung Sukamaju, Citasuk, Padarincang, Kabupaten Serang.

            Matahari sudah mulai tinggi ketika saya berangkat dari Kota Serang bersama Niduparas Erlang dan dua orang calon volunteer Istana Belajar Anak Banten itu. Nyaris tanpa hambatan, mobil yang kami tumpangi melaju dan membawa saya ke sebuah daerah yang sama sekali berbeda dengan Tangerang. Bukit-bukit, pepohonan, sawah-sawah yang baru saja menghijau dan pohon-pohon kelapa yang tersebar di sekitaran sawah itu. Semuanya masih jernih dan menenangkan.

            Satu setengah jam perjalanan, kurang-lebih, kami sampai di tempat acara. Sejak saya turun dari mobil, saya sudah bisa mendengar suara anak-anak yang riang meningkahi arahan yang menghibur dari seorang panitia. Mereka menyanyikan yel sarabele, sebuah yel yang kerap juga dinyanyikan oleh anggota Paskibra dan Pramuka. Saya dekatkan diri saya ke keriangan itu, mengambil beberapa gambar dan merasakan betapa ‘menggairahkan’-nya pagi ini. Setiap orang yang ada di sini—panitia, volunteer, peserta yang berusia antara 4 sampai 11 tahun, orangtua para peserta, dan beberapa perangkat desa—terlihat sangat bersemangat.

            Tetapi, sepertinya saya melewatkan bagian pembagian alat tulis. Saat ini, para peserta sudah memegang alat tulis masing-masing. Saya membayangkan keriangan yang saya lewatkan itu; anak-anak berbaris rapi, mengambil alat tulisnya masing-masing dan tahu bahwa hari ini akan menjadi hari baik untuk mereka. Saya juga membayangkan bagaimana panitia, yang terdiri dari Parlemen Muda Banten, Banten Muda Community, dan Forum OSIS Provinsi Banten, mengatur para peserta dengan keriangan mereka yang lahir dari kepedulian terhadap sesama.

            Pukul 09.00, ceremonial dimulai. Pembukaan dan pembacaan ayat suci Al-Quran berlangsung khidmat. Lalu Panji Aziz Pratama selaku ketua pelaksana, memberikan sambutan. Ia sampaikan bahwa program Istana Belajar Anak Banten (IBAB) ini berangkat dari kepedulian dan menjadi bentuk pengabdian anak-anak muda terhadap minat baca, perkembangan ilmu pengetahuan dan kreativitas anak-anak usia dini. Ia juga melaporkan bahwa volunteer pada program ini berjumlah 102 orang yang terdiri dari pelajar tingkat SLTA dan mahasiswa. Sebelum berterima kasih kepada perangkat desa, ia katakan bahwa program Istana Belajar Anak Banten akan berlangsung selama satu tahun dengan sekali pertemuan setiap satu pekan.

             Sambutan-sambutan dilanjutkan oleh Irvan Hq, selaku ketua Banten Muda Community. Ia ikut memotivasi peserta dengan bahasa yang ringan dan ‘mengena’. Juga oleh Tassan (Ketua RW Sukamaju) dan Iming Muhaimin (Kepala Desa). Keduanya menyampaikan terima kasih, sekaligus kebanggaan yang besar atas apa yang dilakukan anak-anak muda yang ada di hadapan mereka. Sebentar saya merasa bahwa yang disampaikan oleh kedua orang tua itu adalah pernyataan-pernyataan yang murni, yang jarang kita terima dari pejabat-pejabat pemerintahan pada jenjang yang sangat politis.

             Setelah ceremonial ditutup dengan doa, sebuah kelompok marawis mulai memainkan lagu-lagu religius yang bersemangat. Suasananya semakin hidup, terlebih setelah hiburan dilanjutkan dengan humor dua siswa SMP, tari, dan pemeragaan melipat origami oleh tiga orang volunteer. Pada pukul 10.30, para peserta mulai dikelompokkan berdasarkan usia. Lalu mereka dibawa oleh para volunteer ke ruang kelas yang tersedia. Sangat menarik melihat bagaimana anak-anak itu berbaris sambil bernyanyi, memasuki ruang kelas dan memulai ‘permainan’ baru dengan para volunteer; memperkenalkan diri, menyanyi lagu anak soleh, dan menyimak setiap kata yang keluar dari para volunteer tanpa takut untuk memberi tanggapan.

            Saya teringat masa-masa ketika saya masih seusia dengan para peserta Istana Belajar Anak Banten. Saya memiliki banyak buku, tetapi sedikit teman dan permainan, sehingga saya tidak menemukan diri saya itu di dalam diri para peserta. Mereka, yang riang dan mempunyai banyak teman, sangat mungkin menemukan tempat belajar yang menyenangkan dan kondusif di Istana Belajar Anak Banten ini. Pertemuan dengan buku-buku yang disediakan, para volunteer yang muda dan bergairah, dan hal-hal baru yang disuguhkan di sini adalah pertemuan yang kelak membentuk pribadi yang cerdas sekaligus cair dengan lingkungan.

            Begitulah, acara pembukaan Istana Belajar Anak Banten ini terus belanjut. Setelah istirahat pada pukul 12.00, para peserta diarahkan untuk membuat gambar. Gambar-gambar mereka akan dinilai langsung oleh para volunteer dan menjadi kebanggan tersendiri bagi mereka, panitia dan volunteer, serta para orangtua yang masih setia menunggui anak-anak mereka yang berbahagia. Kini, genaplah sudah, gairah yang keluar dari orang-orang yang hadir pada pembukaan Istana Belajar Anak Banten, orang-orang yang berbeda usia tetapi memiliki satu tujuan yang sama: menyediakan tempat ‘bermain’ untuk perkembangan minat baca, perkembangan ilmu pengetahuan dan kreativitas seperti yang disampaikan Ketua Pelaksana.

            Saya diam dan berdoa, semoga Istana Belajar Anak Banten ini akan berjalan sesuai dengan rencana: setiap pekan pertemuan akan terlaksana, para peserta dan volunteer akan bersama-sama dalam kehausan terhadap ilmu pengetahuan, para orangtua dan perangkat desa semakin optimistis terhadap perkembangan prestasi anak-anak mereka. Ini, sudah tentu, bukan saja menjadi doa saya pribadi tetapi juga doa semua orang.

             Minggu saya yang lain ini terus berjalan. Barangkali ia akan diganti dengan Minggu-minggu yang lebih bergairah, di Kampung Sukamaju atau di tempat mana pun yang menyimpan kepedulian terhadap perkembangan belajar anak-anak—generasi bangsa yang sangat berharga itu.[*]

Na Lesmana (Penyair, Mahasiswa Untirta)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »