Banten Muda Community; Siap Bergerak!!!

03.35
 Serang (BieM) - Di awal tahun 2013 ini, Banten Muda Community (BMC) berupaya untuk menegaskan posisinya sebagai satu wadah kepemudaan dan kreatifitas di Banten. Sebagai langkah awal tahun, BMC akan menempati sekretariat baru di lingkungan KPN Ciceri Bunderan. Sekretariat itu sendiri rencananya akan dimanfaatkan pelbagai aktifitas, misalnya pelatihan jurnalistik, penulisan fiksi dan penerbitan buku.
Irvan Hq selaku ketua umum mengatakan bahwa aktifitas BMC juga akan menggandeng komunitas-komunitas yang ada di Banten. "Ini dilakukan agar ada sinergisitas dalam membangun karakater generasi yang akan datang". ungkapnya.

Sementara itu, Nugraha, ketua Oi Bpk. Serang menyambut baik rencana BMC menempati sekretariat barunya sekaligus rencana menggandeng komunitas yang lain. Baginya, hal tersebut memang diperlukan untuk kembali mengenmbalikan semangat sumpah pemuda. "Dari para pemudalah, harapan itu tumbuh dan berkembang." tukasnya.

Saat ini, sekretariat BMC tengah mengalami renovasi kecil untuk bisa ditempati. Diperkirakan awal Februari sudah bisa dipakai untuk beraktifitas. [ ]

JPO Kota Serang Tidak Efektif

14.22



Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) Kota Serang yang dibangun di ciceri dan alun-alun seperti kehilangan fungsinya. Fasilitas yang awalnya dibangun untuk membantu keamanan pejalan kaki menyeberang baik antara Carrefour dengan bangunan restoran cepat saji McDonalds maupun dari alun-alun ke Ramayana Mall ini justru tidak diminati oleh penggunanya. Berdasarkan pantauan Banten Muda Selasa (29/1) kemarin, hampir tidak ada pejalan kaki yang menggunakan kedua fasilitas penyeberangan ini.

            Kebanyakan pejalan kaki memilih menyeberang melalui zebra cross lampu merah yang hanya berjarak beberapa meter dari JPO dengan alasan lebih cepat. Sementara JPO sendiri beralih fungsi sebagai tempat pemasangan spanduk dan tempat beristirahat anak-anak jalanan yang beroperasi di sekitar lampu merah. (Chogah/ ft. Chogah)

Mencari Banten di Dalam Cerpen

07.44
Oleh : Aris Kurniawan.
 
Seorang bocah pengasong di Pelabuhan Merak, Banten, mengalami aneka tekanan. Mulai dari ibunya yang gemar judi dan merampas uang hasil jualannya, pemerasan dan kekerasan seks dari preman pelabuhan, sampai tekanan gurunya di sekolah lantaran berbula-bulan nunggak bayar lembar kerja siswa (LKS).
Seiring dengan aneka tekanan tersebut si bocah kemudian tumbuh menjadi pribadi yang terpecah (split perosnality?). Sekali waktu ia menjadi lelaki gagah berani yang mampu menghajar ibunya dan sang preman menggunakan termos air panas, pada waktu yang lain ia menjadi bocah lelaki penakut yang menyedihkan dan berkali-kali jadi korban empuk pemerasan dan kekerasan seks preman pelabuhan. Sementara pada waktu yang lain lagi ia menjadi gadis cantik berkulit kuning langsat yang menikmati kasih sayang dan hubungan intim dengan Kang Asep, lelaki gay pemilik toko yang murah hati memodali para bocah pengasong berjualan di Pelabuhan Merak.
Kisah-kisah tentang kekerasan seksual dan praktik homoseksualitas di kalangan bocah-bocah pengasong dan anak jalanan umumnya, orang tua yang kejam, serta kemiskinan yang memantik aneka persoalan yang khas seperti di atas, tentu saja bisa terjadi di pelabuhan mana pun di negeri ini, bahkan di seluruh sudut bumi. Hanya saja, mengemasnya menjadi sebuah cerpen yang segar dalam teknik bertutur, tangkas dalam berbahasa, serta selesaian yang dipilih, inilah tidak banyak pengarang cerpen kita yang dapat melakukannya.     
Cerpen “Tiga Penghuni dalam Kepalaku” garapan Guntur Alam dalam buku bunga rampai cerita pendek bertajuk “Banten, Suatu Ketika” ini satu dari yang segelintir itu. Pilihan guntur menggunakan kata ganti orang pertama tunggal ‘aku’ sebagai penutur sangat tepat dalam memantik efek dramatik serta pergerakan alur yang dinamis. 
“Aku” yang di dalam dirinya hidup tiga karakter yang berbeda satu sama lain, merasa asing dengan dirinya. Tiga karakter yang mengendalikan ‘aku’ sehingga ‘aku’ mampu bertindak di luar kontrol ‘aku’ yang tak lain si bocah lelaki usia sekolah dasar yang harus membiayai sendiri hidup dan sekolahnya. Apakah terdapat kaitan antara ketertekanan bertubi-tubi dengan keterpecahan pribadi yang merundung ‘aku’? Ini tentu terbuka untuk diperdebatkan lebih jauh. 
Namun, cerpen inilah yang memenangi sayembara menulis cerpen Banten Muda Award 2012 sebagai juara pertama,  menyisihkan tiga ratusan cerpen lainnya. Dan justru di situlah barangkali persoalannya. Bunga rampai berisi 15 cerpen hasil sayembara menulis cerpen Banten Muda Award 2012 yang diselenggarakan tabloid Banten Muda ini mengharuskan cerpen mengusung tema Banten sebagai syarat utama untuk mengikuti sayembara. 
Ihwal persyaratan tema Banten ini yang sejak awal dirundung sejumlah masalah. Sekurangnya ada dua masalah terkait Banten sebagai tema. Pertama, seperti diakui salah seorang juri, sebagai sebuah provinsi, Banten tidak memiliki kekhasan yang tegas dari sisi budaya dengan Jawa Barat yang beretnik Sunda. 
Hal ini dapat dilihat dari fakta bahwa tradisi yang hidup di Banten pada saat yang sama juga berkembang di Jawa Barat dan sebaliknya, tradisi masyarakat di Jawa Barat, menghidupi pula masyarakat yang tumbuh di Banten. Tengoklah dari sisi bahasa sebagai elemen utama suatu budaya. Bahasa sehari-hari yang digunakan sebagian besar masyarakat Banten adalah bahasa Sunda. Sebagian kecil lainnya menggunakan bahasa Jawa, itu tak lain bahasa Jawa Serang (Jaseng) yang merupakan varian dari bahasa Jawa Cirebon, wilayah paling timur Jawa barat. Dengan kata lain, Banten tidak memiliki bahasa sendiri.
Kedua, sebagai etnik. Orang Banten tak lain adalah etnik Sunda. Jika ditelusuri sejarahnya, leluhur orang Badui yang tinggal di pedalaman Lebak, tak lain berasal Pajajaran yang sekarang merupakan wilayah Bogor. Sejumlah sejawaran meyakini mereka adalah warga Pajajaran yang mengasingkan diri ke wilayah kulon lantaran menolak agama baru (Islam). Maka berdasarkan fakta-fakta ini, mengukur “kadar” kebantenan sebuah cerpen dalam konteks sayembara ini menjadi persoalan yang rumit. 
Sehingga dapat dimaklumi jika juri memilih cerpen “Tiga Penghuni dalam Kepalaku” sebagai pemenang, kendati cerpen ini menjadikan Banten semata sebagai setting tempat. Demikian pula cerpen juara kedua “Bebek Panggang Nyai Pohaci” garapan Ank Ariandi yang mengangkat khazanah dongeng tentang Nyai Pohaci (dewi padi). Dongeng tentang dewi padi tidak hanya hidup di kalangan masyarakat kampung di pelosok Banten. “Perempuan Lesung” besutan Richa Miskiyya yang menyabet juara ketiga, setali tiga uang dengan cerpen Guntur Alam dan Ank Ariandi. Sebuah kisah tentang kasih tak sampai yang telah menjadi cerita umum dalam khazanah sastra di mana pun.  
Duabelas cerpen lainnya kurang lebih menunjukkan kecenderungan serupa. Menempatkan Banten semata sebagai setting tempat. Mulai dari yang bercerita tentang penggunaan ilmu mistik untuk meraih jabatan seperti tampak pada cerpen “Teluh” karya Skylashtar Maryam, menjadikan keluguan masyarakat tradisional Badui sebagai nilai ideal dalam “Limbur Singkur” karya Ikal Hidayat Noor, serta tempat-tempat di Banten lainnya yang ditulis dengan semangat turistik nan sentimentil. (dimuat di Lampung Post, Minggu 27 Januari 2013).
Data buku
Judul               : Banten Suatu Ketika
Penulis             : Guntur Alam dkk.
Penerbit           : Banten Muda Community
Cetakan           : I, Desember 2012
Tebal               : 164 halaman
ISBN               : 978-979168486-6
Sumber: http://belagaresensi.blogspot.com/2013/01/mencari-banten-di-dalam-cerpen_29.html

Live Your Style dengan adidas NEO

13.25



Hidup penuh keceriaan, membuat anak muda menemukan gaya mereka sendiri, adidas NEO akan merebut perhatian dengan fesyen unik dan inovatif serta desain terbaru melalui koleksinya yang fresh dan stylish. 

adidas NEO memiliki sejumlah koleksi produk lifestyle yang lengkap, dari kepala hingga kaki, termasuk jaket, denim, T-Shirt, tas, syal, hair band, sneaker, dan masih banyak lagi penawaran produk menarik lainnya yang cocok untuk remaja laki-laki dan perempuan.

Untuk peluncuran resmi dan pertamanya di Indonesia, adidas akan mengeluarkan 38 koleksi sepatu sporty, street dan lifestyle dari adidas NEO dengan warna yang kuat dan grafik menarik untuk menciptakan penampilan masa kini yang mengedepankan tren fesyen serta lifestyle terkini yang didesain untuk anak-anak hingga remaja.  Penawaran sepatu dari adidas NEO juga meliputi BBNEO SKOOL LO dan CALNEO LT DEZ.

Cinita Mayakatri, Trade Marketing Manager adidas Indonesia mengatakan, “Dasar penting yang menjadi inspirasi untuk adidas NEO adalah budaya para kaum muda – yang mencari excitement, petualangan dan penuh dengan kejutan. 

“Kami di adidas Indonesia sangat antusias untuk membawa adidas NEO ke Indonesia, yang kami yakin bahwa para remaja di seluruh negeri pun akan merasakan hal yang sama.  adidas NEO akan menginspirasi remaja laki-laki dan perempuan di Indonesia untuk mengekspresikan gaya hidup dan menampilkan yang terbaik dari diri mereka.” Tambah Monica Ang, Brand Activation Manager adidas Indonesia.

adidas NEO mengumumkan Justin Bieber sebagai  Ikon Style Baru
Berbicara mengenai penampilan remaja yang stylish dan fresh, adidas NEO telah menunjuk fenomena global dan superstar POP/R&B, Justin Bieber, sebagai ikon style-nya melalui kerja sama selama dua tahun hingga akhir 2014.

Ketika ditanya mengenai adidas NEO, lini produk terbaru dari brand yang selalu ia cintai, Justin Bieber mengatakan, “Saya menemukan koneksi yang nyata dengan NEO karena label ini adalah tentang fesyen, kebebasan dan jujur terhadap diri sendiri.  Dengan album terbaru saya, Believe, saya menyebarkan pesan untuk percaya kepada diri sendiri.  Langkah pertama adalah dengan menunjukkan diri kamu sendiri, dan salah satu cara terbaik untuk menunjukkan diri adalah melalui fesyen. Bagi saya, gaya adalah sebuah petualangan, sesuatu untuk bersenang-senang dan NEO juga mempercayai hal yang sama.”

GAC (Gamaliel, Audrey, Cantika), duta adidas NEO untuk Indonesia
Untuk menginspirasi konsumen muda di seluruh Indonesia dengan tampilan adidas NEO yang stylish dan fresh, adidas Indonesia menunjuk grup musik muda dan bertalenta GAC, yang terdiri dari Gamaliel, Audrey dan Cantika, sebagai ikon style terbaru NEO di Indonesia.

GAC akan menjadi wajah untuk adidas NEO di Indonesia dan membuat penampilan untuk label melalui kerja sama selama enam bulan. GAC akan memperkenalkan produk-produk NEO favorit mereka dan mengkomunikasikan gaya personal mereka terhadap para penggemarnya di seluruh penjuru negeri.

Salah satu anggota GAC, Cantika mengatakan, “Ini adalah kerja sama yang luar biasa bagi GAC, sebab NEO sangat mempedulikan gaya dan bersenang-senang melalui fesyen serta memberikan kebebasan untuk menjadi diri sendiri. Ini adalah hal yang selalu menjadi perhatian utama kami, dan kami percaya hal ini juga penting bagi penggemar kami, karena mereka dapat mengekspresikan diri mereka dengan memakai apapun yang mereka suka dan merasa percaya diri.” 


adidas NEO adalah brand terbaru untuk remaja dan koleksi sepatunya juga fun dan stylish untuk dipakai. Kami suka menggunakan sepatu adidas NEO, karena koleksi sepatunya membiarkan kami secara bebas untuk menegaskan gaya hidup kami,” tambah penyanyi yang terkenal melalui Youtube, Gamaliel dan Audrey mengenai koleksi sepatu adidas NEO.  (adv).

Pengukuhuan LISBU STIE BINA BANGSA

13.19



Seiring dengan perkembangan yang sangat cepat serta dinamika kemahasiswaan di beberapa perguruan Tinggi khususnya di Banten dalam dunia seni dan budaya, maka sangat di perlukan suatu wadah yang dapat menampung daya kreativitas anak bangsa khususnya mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Bina Bangsa Banten (STIE BB) agar lebih berkembang dengan baik serta memiliki imajinasi yang lebih terarah dan daya intelektual yang sempurna, maka akan lebih serasi dan selaras serta lebih hidup dengan dibayangi lingkungan yang memiliki jiwa seni dan budaya yang luhur.
 
Atas dasar pemikiran yang cemerlang tersebut diatas, Dr. H. Furtasan Ali Yusuf, S.E., S.Kom., MM selaku ketua STIE Bina Bangsa sangat merespon, hingga akhirnya terealisasilah pemikiran indah tersebut dengan terbentuknya wadah dengan nama Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lisbu Seni dan Budaya (LISBU) atas khendak mahasiswa yang mencintai dunia kebuyaan yang kerap disebut budayawan. (UKM) Lisbu Seni dan Budaya (LISBU) merupakan salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa yang berperan aktif dalam bidang kesenian dan kebudayaan.
 
Tidak hanya UKM Lisbu yang turut dibentuk oleh para pemuda yang duduk dibangku STIE Bina Bangsa, Suatu UKM yang berbasis Keagamaan dan olahraga pun turut dibentuk dan diresmikan oleh ketua STIE Bina Bangsa. “apapun kegiatan mahasiswa saya respon, asalkan kegiatannya bernilai positif, hari ini telah dibentuk 3 (tiga) UKM yaitu UKM Lintas Seni dan Budaya (LISBU), UKM Lambaga Da’wah dan Kerohanian (LABAIK), dan UKM Olahraga,” katanya.

Pembentukan ketiga UKM tersebut, dihadiri pula oleh 25 mahasiswa dan beberapa dosen pilihan yang dinilai mampu untuk membina suatu UKM seperti Hadi Kurniawanto, S.Kom (Pembina UKM Keolahragaan), Khaerussalam, S.Ag (Pembina UKM LABAIK), dan UKM LISBU. Pembentukan ketiga UKM tersebut, turut serta dihadiri oleh Pembantu Ketua III (Bidang Kemahasisswaan) RA. Chaerudin, MM dan Kabag. Kemahasiswaan Ega Jalaludin, S.H., M.M salah satu perwakilan dari mereka berharap kepada mahasiswa untuk terus berkarya, “Kalau Bisa sih berkaryalah kalian mahasiswa sebanyak-banyaknya, jangan mudah putus asa insyaallah rezeki datang sendiri (Beasiswa Red)” Pungkasnya. (DIN)