TETENG JUMARA;THE POETICAL BUREAUCRAT

12.18
Bagi Teteng Jumara, menjadi penyair sekaligus birokrat adalah satu tugas yang berat, dikarenakan masing-masing memiliki perspektif berbeda dalam memahami persoalan hidup. Menjadi penyair, berarti menjadi kepanjangan tangan dari rasa keadilan, kerakyatan dan kemanusiaan, sementara menjadi birokrat berarti menjadi wakil dari sebuah sistem kerja pemerintahan yang bertugas menjalankan tugas pokok dan fungsi serta program kerja. Meski begitu, Teteng merasai ada persamaan antara kedua bidang profesi tersebut yakni, kedua-duanya diharuskan mampu memberi manfaat bagi masyarakat.
Lewat acara peluncuran buku antologi puisi pertamanya yang bertajuk “Surau Berdinding Bilik” pada Sabtu kemarin (13/10), Teteng seakan ingin menegaskan peran ganda yang sedang dilakukannya. Maklum, saat ini dirinya tengah menjabat sebagai Kepala Satpol PP Kabupaten Tangerang sekaligus sebagai ketua Komunitas Sastra Indonesia cabang Tangerang.
Mustafa Ismail selaku pembedah menilai bahwa pepuisi Teteng, berlahiran  dari realitas birokrasi yang timpang, dan Teteng mencoba mengambil posisi secara  objektif dalam melihat persoalan. Mustafa mencontohkan puisi Tikus-tikus berlarian, baginya, puisi tersebut meneguhkan betapa buruk kondisi hukum di negeri ini. “Perilaku menyimpang tidak hanya terjadi di lembaga birokrasi, tetapi juga di lembaga penegak hukum” tegasnya.
Acara yang digelar di Warung Gudeg Yogya Citra Raya ini dihadiri sekitar 30 orang berasal dari kalangan seniman, wartawan, pendidik. Buku itu sendiri diluncurkan ke publik secara simbolis oleh wakil ketua DPRD Kab. Tangerang Intan Nurul Hikmah. Dalam sambutannya, Intan menyambut baik dan bahkan merasa ‘kecolongan’ dengan apa yang dilakukan oleh Teteng. “Dengan buku ini, saya kalah satu poin kekaryaan” terangnya dengan senyum. Baginya, kekaryaan yang dilakukan oleh Teteng mestinya menjadi contoh bagi semua kalangan.
Dalam kesempatan itu, Intan juga menegaskan bahwa saat ini, dirinya tengah memperjuangkan realisasi pembangunan gedung kesenian Kabupaten Tangerang. “Ke depannya, seniman budayawan Tangerang akan memiliki tempat pertunjukan yang layak, meskipun tidak semegah di Taman Ismail Marzuki” tambahnya.
Hal senada juga diungkapkan kadisbudpar Kabupaten Tangerang, Soma Atmaja, dia mengakui bahwa pembangunan kebudayaan menjadi komitmen dirinya. “Saat ini saya bersama Ibu Intan sedang berupaya keras untuk menggolkan anggaran pembangunan gedung kesenian”Tukasnya. [ ]







Share this

Related Posts

Previous
Next Post »