Tanah Surga… Katanya

23.13

Oleh : Irvan Hq
Suatu hari saya tertarik membaca tautan berita di status FBnya Muhammad Arif Kirdiat mengenai perusahaan kosmetik ‘Lush’ yang akan memasang bendera Bintang Kejora di setiap jendela tokonya di Australia dan Selandia Baru, membagi-bagikan pamflet kepada pengunjung dan menjual sebuah parfum edisi terbatas, yang dananya akan disumbangkan untuk gerakan kemerdekaan Papua. Pemerintah Indonesia terkejut dan mempertanyakan motif di balik dukungan mereka terhadap gerakan kemerdekaan Papua. Bahkan seorang pejabat KBRI di Canberra menyatakan apakah perusahaan tersebut mengetahui tentang situasi sebenarnya di lapangan Papua. 

Saya jadi senyum sendiri melihat reaksi pejabat kita yang kebakaran jenggot, padahal menurut saya ada baiknya kita juga melakukan intropeksi diri ke dalam untuk mengetahui ada masalah apa sesungguhnya sehingga masih saja terjadi gerakan kemerdekaan di Papua. Jangan-jangan malah pejabat kitanya yang tidak mengetahui situasi sesungguhnya di sana. Mungkin karena letaknya yang jauh dijangkau sehingga para pejabat kita malas kesana atau karena merasa sudah jadi pejabat, setiap kali berkunjung ke Papua mereka maunya dijamu dan diberi laporan yang baik-baik saja. Saya jadi ingat film Di Timur Matahari karya Ari Sihasale pada bulan Juni lalu yang menggambakan minimnya fasilitas pendidikan di pulau paling timur Indonesia itu, ada sebuah dialog ketika istrinya Michael (putra daerah asli Papua yang bekerja di Jakarta) bernama Vina yang berkunjung ke Papua terkejut mengetahui harga sembako yang sangat mahal, sampai ia bergumam sendiri, pantas saja Papua minta merdeka.

Lebih miris lagi setelah 67 tahun merdeka, masih ada sekitar 183 daerah tertinggal di Indonesia, tujuh puluh persennya ada di kawasan timur Negara kita tercinta ini. Belum lama potret itu tergambar kembali dalam sebuah film karya Herwin Novianto yang diproduseri Deddy Mizwar bersama Gatot Brajamusti berjudul ‘Tanah Surga Katanya’yang menceritakan kehidupan sebuah desa terpencil di Kalimantan Barat yang berbatasan dengan Malaysia. Meski bersebelahan, pembangunan dan pertumbuhan ekonomi desa milik Indonesia jauh tertinggal dari desa tetangganya, jalan beraspal milik Malaysia berujung tepat di perbatasan Indonesia yang jalannya masih murni dari tanah.

Sedemikian parahnya ketertinggalan dan keterbelakangan Desa ini membuat anak-anak kecil di sana sekolah dalam satu ruangan berdinding kayu, sebelahnya kelas tiga, sebelahnya lagi kelas empat, tidak ada kelas yang lain, guru yang mengajarnya juga cuma satu, itupun setelah satu tahun vakum. Mata uang yang mereka kenal dan mereka pergunakan sehari-hari bukan rupiah tetapi ringgit. Dan saya langsung tercekat menyaksikan anak-anak itu malah menyanyikan lagunya Koes Plus berjudul Kolam Susu ketika seorang dokter yang baru saja datang ke desa ini meminta anak-anak itu menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia.

Salman adalah anak kelas 4 SD yang sering melintasi daerah perbatasan untuk berjualan demi mengumpulkan uang untuk mengobati kakeknya yang sakit. Untuk mencapai Rumah Sakit saja Salman harus membayar sewa perahu sebesar 400 ringgit. Kakek Salman adalah mantan pejuang kemerdekaan yang pernah terlibat dalam konfrontasi dengan Malaysia pada tahun 1960-an, bagaimana ia menghadapi pasukan sewaan bernama gurkha dan berjuang mati-matian demi kehormatan bangsa Indonesia, ia masih saja menggenggam nilai-nilai nasionalisme itu sehingga menolak ajakan anaknya untuk pindah ke Malaysia, disana ayahnya Salman sudah menikah lagi dengan perempuan Malaysia dan memiliki Kedai sebagai sumber penghidupan yang jauh lebih baik. Sedangkan Salman memilih tinggal dan membiarkan ayah dan adiknya pergi karena tidak tega meninggalkan Kakeknya tinggal sendirian.

Selain soal Kakeknya, ada tiga adegan yang membuat saya terkesan pada sosok Salman ini, yang pertama bagaimana ia memprotes seorang pedagang Malaysia yang menggunakan bendera Indonesia sebagai alas dagangannya, kemudian ia berusaha mengumpulkan uang untuk membeli dua buah sarung, yang satu untuk mengganti sarung Kakeknya yang sudah sobek dan yang kedua sarung baru itu ia tawarkan kepada pedagang Malaysia itu untuk menukarnya dengan bendera merah putih yang digunakan sebagai alas dagangannya. Yang kedua bagaimana seorang Salman membuat wajah sang pejabat yang sedang berkunjung ke desanya menjadi tersinggung dan membatalkan semua rencana bantuan yang sudah dicatat asistennya ketika membaca puisi karyanya sendiri.

“Bukan lautan hanya kolam susu…, katanya. Tapi kata Kakekku hanya orang kaya yang minum susu. // Tiada badai tiada topan yang kau temui, Kain dan jala cukup menghidupimu, Tapi kata kakekku ikannya diambil negara asing. // Ikan dan udang menghampirimu…, katanya. Tapi kata kakekku sshh… ada udang dibalik batu. // Orang bilang tanah kita tanah surga…, katanya. Tapi kata dokter intel yang punya surga hanyalah pejabat-pejabat… “

Dan yang ketiga adalah adegan dramatis dimana Salman sedang berjuang membawa kakeknya yang kritis menembus perjalanan yang sulit dengan perahu menuju rumah sakit, sementara Ayah Salman sedang asyik nonton bareng mendukung kesebelasan Malaysia melawan kesebelasan Indonesia. Akhirnya ditengah perjalanan sang Kakek meninggal tepat disaat puluhan warga Malaysia yang memenuhi kedai milik Ayah Salman bersorak-sorai merayakan keberhasilan timnya menekuk kesebelasan Indonesia. Ironis memang, entahlah… yang jelas ada yang salah dengan bangsa ini, alih-alih melestarikan kebudayaan bangsa Indonesia, malah budaya keterbelakangannya yang dilestarikan. Memang untuk mensejahterakan masyarakat Indonesia yang sangat luas ini tidak semudah membalikkan telapak tangan, tapi sampai kapan itu terjadi? Sampai daerah-daerah tersebut menuntut kemerdekaan?

Akhirul kata, untuk para Pemimpin Negeri ini dan untuk para Pejabat Pemerintahan  baik di pusat maupun yang di daerah-daerah. Kalau mau kunjungan jangan maunya dijamu saja, disambut, dipuja-puja, dan kalau menerima laporan jangan katanya-katanya saja. Kata anggota dewan siapa bilang Jakarta itu panas? Pantas saja dia bicara begitu, karena mulai dari rumah tinggal ber-AC, masuk mobil ber-AC, masuk kantor di gedung ber-AC, dan meeting di hotel-hotel mewah pun ber-AC, tentu saja buat mereka  Jakarta sejuk dan nyaman. Persoalannya bagaimana dengan masyarakat diluar sana yang hidup tanpa AC bahkan dibawah terik matahari.

Kata Gurbernur Banten siapa bilang beliau tidak pernah membantu pembangunan masjid, pesantren dan masyarakat miskin? Pantas saja beliau bicara begitu, karena hampir setiap hari beliau menanda tangani persetujuan proposal pembangunan masjid, pesantren dan bantuan sosial untuk masyarakat miskin di Banten. Persoalannya apa semua bantuan itu sampai kepada yang berhak? Siapa bilang jalan-jalan di Banten rusak dan listriknya sering padam? Pantas saja beliau bicara begitu, karena jalan yang dilaluinya selalu jalan yang bagus, yang lancar dan kalau kunjungan ke daerah, semua jalan yang akan dilalui mendadak diperbaiki dan kanan kirinya dirapihkan. Apalagi rumah dinasnya, mungkin tidak pernah mati listrik.  Jadi Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu para pejabat negeri ini kalau menerima laporan jangan kata-katanya saja… dicheck dulu kebenarannya dan dikuasai permasalahannya sampai detail… baru ambil keputusan, itulah pemimpin yang baik… katanya. [.]

  • Pernah dimuat di Harian Umum Kabar Banten, 28 Agustus 2012


Share this

Related Posts

Previous
Next Post »