FILM PINGGIRAN MODAL “THANK YOU”

23.31
Oleh : Sigit Surahman

Dunia seni merupakan dunia yang sangat tidak terbatas dalam bentuk ekspresi manusia menuangkan semua ide dan konsep pemikirannya. Jika dilihat dari sudut cara berkesenian, maka bisa dibagi menjadi dua macam: seni rupa dan seni suara. Yang pertama dimaknai sebagai kesenian yang bisa dinikmati dengan mata, sedangkan yang kedua kesenian yang bisa dinikmati dengan pendengaran (telinga). Ranah seni rupa pada praktiknya meliputi seni patung, seni relief (termasuk seni ukir), seni lukis, dan seni rias. Seni suara meliputi seni musik vokal, instrumental, dan seni sastra. Lebih khususnya terdiri dari prosa dan puisi. Disamping itu ada pula seni yang meliputi keduanya yaitu seni gerak atau seni tari, karena kesenian ini dapat dinikmati dengan mata dan telinga. Kemudian pada perkembangannya akhirnya muncul suatu bentuk kesenian yang meliputi keseluruhannya, yaitu seni drama, karena kesenian ini mengandung unsur-unsur seni lukis, rias, musik, sastra, dan seni tari, yang semua diintegrasikan menjadi satu kebulatan. Seni drama bisa bersifat tradisional seperti Wayang Wong (wayang orang) atau bisa bersifat modern dengan teknologi seperti film.

Berbicara tentang dunia film, tentunya kita pasti pernah mendengar apa itu film indie/pinggiran. Kenapa demikian? Karena sampai saat ini film indie/film pinggiran nyaris luput dari perhatian para produser-produser besar yang mau mendanai produksi film indie/pinggiran, jadi memang terkesan sangat terpinggirkan. Dengan demikian film indie boleh dikata film pinggiran. Durasi dari film indie/pinggiran sudah pasti tidak akan sama dengan dunia film panjang, film komersial, film televisi, atau film-film yang terpampang di baliho-baliho besar yang tayang di bioskop atau cineplex-cineplex. Film indie merupakan film yang durasinya bebas, akan tetapi dengan kebebasan durasi yang dimiliki itu, para sineasnya dituntut harus bisa lebih kreatif dan selektif dalam mengangkat tema dan materi yang akan ditampilkan. Dengan munculnya kreatifitas dan selektifitas dari sineas maka, setiap angle, shot, dan elemen-elemen pendukung tampilan film pinggiran itu sendiri akan memiliki makna yang cukup luas untuk bisa ditafsirkan oleh penontonnnya.

Dalam film pinggiran mungkin tidak akan mengenal apa itu super star, tidak pernah memperdulikan kaidah-kaidah baku pada saat produksi film yang terkesan sangat rumit. Para sineas film pinggiran dari berbagai kota di Indonesia telah banyak menunjukkan aktifitas berkaryanya. Bagi mereka semua tidak ada sebuah keharusan untuk terlebih dahulu mendalami teknik-teknik sinematografi, tata artistik, tata cahaya, make-up, atau hal-hal lain sebelum memproduksi sebuah karya film. Hal itu mencerminkan semangat independen dari para sineas-sineas film indie/pinggiran yang tidak perlu berpatokan pada teori-teori yang memang sudah selazimnya.
Selain dari aspek bagaimana proses produksi, cerita, dan misi yang akan disampaikan, film indie/pinggiran biasanya tidak ditentukan dengan durasi seperti halnya kebanyakan film komersial yang banyak beredar di saat ini. Bahkan dalam beberapa event festival film indie sering film-film yang dikirimkan hanya berdurasi tayang sekitar antara 10-30 menit saja. Kejadian-kejadian ini akan sangat mungkin terus terjadi, karena film independen yang memang tidak melibatkan produser/pemodal besar. Bagi sineas film indie/ pinggiran, jika mereka memang hanya mempunyai dana untuk membeli kaset mini DV, makan, dan minum selama proses produksi berlangsung, bahkan hingga proses pasca produksi saja, itu sudah merupakan anugerah buat mereka. Hanya menggunakan pemain dengan bayaran “Thank You” artinya hanya dengan bayaran ucapan terima kasih, fenomena itu yang hanya terjadi dalam film indie/pinggiran dan bukan dalam film-film komersial. Disitulah letak dari keistimewaan film indie/pinggiran. Alat yang digunakan juga tidak harus menggunakan kamera yang profesional atau kamera VHS, betacam, atau kamera digital. Tidak jarang yang memproduksi film indie hanya dengan kamera handycam kecil saja.
Dewasa ini, film muncul selain sebagai alternatif hiburan, film juga sebagai produk dari alkulturasi budaya dan perkembangan budaya tradisi dan budaya modern. Kebudayaan sebagai bukti peradaban manusia mengalami perkembangan dan perubahan. Penetrasi kebudayaan antar daerah, antar negara, atau antar benua sekali pun bisa terjadi melalui berbagai macam cara, baik damai maupun kekerasan, determinasi ideologi, politik, maupun ekonomi menjadi suatu media perubahan kultural tersebut yang semua bisa dimunculkan melalui cerita film. Dengan cara damai, kebudayaan masuk dan mempengaruhi kebudayaan lain melalui media cetak maupun elektronik. Kalau kita coba melacak perkembangan budaya massa saat ini, kita akan dihadapkan pada sekian banyak istilah yang saling berkaitan: budaya tradisi, budaya pop, budaya modern, budaya konsumen, budaya komersil, industri budaya, budaya post modern, dan seterusnya. Objeknya bisa berupa karya sastra, teater, lukis, lagu/musik, film, dan lainnya.
Film adalah salah satu media audio visual yang saat ini bisa dibilang paling ampuh untuk digunakan dalam penetrasi budaya. Film pada dasarnya merupakan suatu produk yang dihasilkan oleh seorang sineas melalui proses yang melibatkan kemampuan imajinasi, pengembangan daya cipta berkreasi, kepekaan rasa dan karsa yang dimiliki oleh sineasnya. Semua film yang banyak beredar tentunya merupakan karya yang mengandung pesan-pesan untuk disampaikan kepada khalayak umum. Pesan-pesan atau nilai-nilai yang ada pada film inilah yang mampu akan mensosialisasi, mencipta, merepresentasi, dan merefleksi suatu nilai budaya di negeri ini. Pada dasarnya suatu pesan yang ada dalam film bertujuan untuk pembinaan maupun pengembangan nilai sosial-kultural, mencerdaskan suatu bangsa, maupun peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Secara historis bisa kita lihat ada beberapa karya film indie/film pinggiran yang kiprahnya mampu menembus hingga tingkat internasional. Beberapa diantaranya: Film Revolusi Hijau Revolusi Harapan karya sineas Nanang Istiabudhi berhasil mendapatkan Gold Medal untuk kategori Amateur dalam The 39th Brno Sexteen International Competition of Non-Comercial Featur and Video di Republik Cekoslovakia (1998). Film Novi karya sineas Asep Kusdinar masuk nominasi dalam Festival Film Henry Langlois, Perancis (1998). Dalam Singapore Internasional Film Festival (1999), sekitar lima film pendek Indonesia ikut serta bersaing, yaitu Revolusi Harapan kreasi Nanang Istiabudhi, Bawa Aku Pulang buah karya Lono Abdul Hamid, film Novi karya Asep Kusdinar, Sebuah Lagu karya Eric Gunawan, dan Jakarta 468 karya Ari Ibnuhajar.
Dari sini kita dapat melihat bahwa film indie yang masih dianggap film pinggiran merupakan suatu media praktis yang dapat membangun jati diri bangsa. Walaupun demikian kita harus sadar di tengah keterbatasan itu semua, semangat independen dari para sineas film indie harus tetap menjadi dan mendapatkan perhatian. Dalam posisi yang serba terbatas akan modal, para sineas senantiasa dapat memunculkan ide-ide gilanya untuk tetap berkarya. Salah satu cara yang efektif yaitu modal “Thank You” atau dengan kata lain memanfaatkan jaringan modal sosial, seperti jaringan sosial para pemerhati, praktisi, dan penikmat film indie.
Saat ini berbagai komunitas film indie/film pinggiran semakin banyak bermunculan di Indonesia. Kemunculan komunitas-komunitas film indie/film pinggiran ini memiliki peran yang cukup besar dalam hal pelestarian budaya maupun perluasan jaringan film indie/film pinggiran itu sendiri. Maka untuk itu diperlukan adanya upaya dari berbagai pihak untuk senantiasa mendorong kemajuan perkembangan film indie/film pinggiran di daerah-daerah bukan hanya di kota besar saja, salah satunya bisa melalui pembinaan dan memberikan ruang terbuka pada komunitas-komunitas yang sudah ada dan ingin mulai menapakkan jejak kakinya di dunia film indie/film pinggiran.[ ]


Penulis adalah dosen di Universitas Serang Raya

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »