Gebyar Karya Unggulan Didominasi Seni Tradisi

13.01

BieM - Tahun ini, Dinas Pendidikan Provinsi Banten Bidang Dikti kembali menggelar Gebyar Karya Unggulan Perguruan Tinggi Se-Provinsi Banten. Kegiatan yang dilaksanakan selama lima hari itu dipusatkan di Alun-alun Barat Kab. Serang diikuti sekitar 30 perguruan tinggi negeri dan swasta. Seperti tahun-tahun sebelumnya.

Kepala Seksi (Kasi) Perguruan Tinggi Bidang Dikmenti Dindik Provinsi Banten Endang Purwataningsih mengatakan bahwa kegiatan tersebut di tujukan untuk memotivasi perguruan tinggi se banten agar bisa menunjukkan prestasi. “Kegiatan ini untuk memotivasi kepada mahasiswa dan dosen untuk menggelar kegiatan karya unggulan di Banten sekaligus ajang promosi perguruan tinggi kelak bagi para calon mahasiswa yang hendak memilih sekolah.” Tuturnya.

Selain stand pameran bagi masing-masing kampus, panitia juga menyediakan ruang bagi ragam tampilan seni. Untuk tahun ini, banyak kampus yang menampilkan kesenian tradisional, seperti halnya seni  Dogdog lojor yang ditampilkan Universitas Serang Raya (Unsera), atau Debus dari STIE Banten. Lain halnya dengan tampilan seni dari IAIN SMH Banten, mereka mempertontonkan perpaduan musik tradisi (gamelan) dan modern sehingga terkesan kontemporer. Diikuti oleh STKIP Setia Budhi Rangkas Bitung yang mengelaborasi Bendrong lesung, Dogdog Lojor dan perkusi modern yang mampu menyedot perhatian penonton.

Bagi beberapa mahasiswa, kegiatan rutin itu sedikit banyaknya memberi manfaat bagi unit kegiatan mahasiswa (UKM) di tiap kampus. Seperti yang diutarakan Munawir Syahidi dari IAIN SMH Banten, dia menilai bahwa event tersebut telah memberi ruang bagi mahasiswa yang memiliki minat bakat di bidang seni." Ini merupakan ajang prestasi sekaligus prestise bagi tiap kampus." Tegas Nawir. [ ]


 








RANO SEMANGATI KRU KREMOV PICTURE

11.09
BieM - Keberanian Kremov Picture dalam mempromosikan karyanya patut diacungi jempol, setelah penantian lama, akhirnya komunitas film yang digawangi Darwin Mahesa sukses melaunching film teranyar mereka berjudul Menembus Lorong Badak (MLB) pada Selasa (25/9) kemarin. Bertempat di auditorium Untirta, Animo masyarakat sangat tinggi, terbukti dihadiri lebih dari seratus penonton. Laga premier itu pun menjadi istimewa bagi kru Kremov Picture karena dihadiri wakil gubernur Banten, Rano Karno yang sekaligus sebagai insan perfilman Indonesia. Nampak hadir pula Rektor Untirta Prof. Soleh Hidayat dan beberapa pembesar kampus.

Film yang berdurasi kurang lebih 100 menit itu menceritakan mengenai perjalanan 'ajaib' Shela dan beberapa rekannya menuju Pulau Peucang (Taman Nasional Ujung Kulon). Seperti lazimnya film petualangan, MLB pun tak luput dari cerita cinta Dina dan Ferdi. Darwin Mahesa selaku sutradara mengatakan dalam sambutannya, bahwa MLB merupakan produksi yang ke 12 dengan genre petualangan. "Film ini dibuat dalam rangka menyambut pencanangan tahun badak internasional." Ungkapnya.


Sementara itu, Rano Karno menilai bahwa apa yang ditontonkan oleh Kremov Picture patut diapresiasi oleh pelbagai kalangan. Hal ini terkait bhawa setiap manusia memiliki kreatifitasnya masing-masing. "kita tidak bisa bilang bagus atau tidaknya suatu kreatifitas" terang Wagub. Ketika ditanya mengenai isi cerita dan teknik sinematografi, pemeran Si Doel ini memiliki catatan tersendiri, dia merasa bahwa ada beberapa hal yang patut di selami lebih dalam. "Menurut saya, terlalu lama di depannya. Ini kan sebenarnya mengenai lorongnya, jadi penonton bertanya-tanya ada apa dengan lorong badak? atau apa itu lorong badak?" tambahnya. [ ]


Oi BPK Serang Gelar Hari Jadi ke-13

11.05
BieM - Sejak didirikan pada 06 april 1999, sampai saat ini, komunitas Oi Badan Pengurus Kota/Kab Serang nampaknya kian gigih membuktikan eksistensinya. Seperti yang tampak di hari jadi BPK Oi Serang ke 13 pada Sabtu kemarin (22/9),  mereka menggelar ragam pentas musik dari komunitas Oi se kota/kab Serang. Bertempat di Radio PBS FM, acara tersebut juga dimeriahkan dari komunitas Slanker, Passer dan KPJ.


Dalam perayaan hari jadinya, Asep Nugraha selaku ketua umum, mengajak agar ke depannya, Oi bisa berbuat lebih banyak bagi masyarakat sekaligus bagi anggotanya. Hal ini terkait dengan stigma kurang baik dari masyarakat yang masih memandang sebelah mata atas aktifitas loyalis Iwan Fals ini. Selama ini Oi dikenal masyarakat sekedar kumpulan orang-orang yang 'gak jelas' dan terkesan kegiatannya hanya hura-hura, tetapi hal itu ditepis olehnya, menurut Asep, saat ini Oi yang dipimpinnya sedang berupaya untuk memberdayakan anggotanya, salah satunya dengan mengirimkan beberapa anggotanya mengikuti pelatihan yang diadakan oleh BBLKI Provinsi Banten. "Kami mencoba segala kesempatan yang ada untuk memberikan bekal kemampuan survival pada anggota kami" Tukasnya.

Ternyata hal itu dikongkritkan dengan sepak terjang Oi BPK Serang lewat ragam kegiatan sosialnya, seperti bakti sosial yang sudah dilakukan beberapa waktu lalu. "Kerja bakti itu sudah jadi agenda rutin komunitas kami, jadi akan tetap ada sampai kapan pun" tambahnya. [ ]

FILM PINGGIRAN MODAL “THANK YOU”

23.31
Oleh : Sigit Surahman

Dunia seni merupakan dunia yang sangat tidak terbatas dalam bentuk ekspresi manusia menuangkan semua ide dan konsep pemikirannya. Jika dilihat dari sudut cara berkesenian, maka bisa dibagi menjadi dua macam: seni rupa dan seni suara. Yang pertama dimaknai sebagai kesenian yang bisa dinikmati dengan mata, sedangkan yang kedua kesenian yang bisa dinikmati dengan pendengaran (telinga). Ranah seni rupa pada praktiknya meliputi seni patung, seni relief (termasuk seni ukir), seni lukis, dan seni rias. Seni suara meliputi seni musik vokal, instrumental, dan seni sastra. Lebih khususnya terdiri dari prosa dan puisi. Disamping itu ada pula seni yang meliputi keduanya yaitu seni gerak atau seni tari, karena kesenian ini dapat dinikmati dengan mata dan telinga. Kemudian pada perkembangannya akhirnya muncul suatu bentuk kesenian yang meliputi keseluruhannya, yaitu seni drama, karena kesenian ini mengandung unsur-unsur seni lukis, rias, musik, sastra, dan seni tari, yang semua diintegrasikan menjadi satu kebulatan. Seni drama bisa bersifat tradisional seperti Wayang Wong (wayang orang) atau bisa bersifat modern dengan teknologi seperti film.

Berbicara tentang dunia film, tentunya kita pasti pernah mendengar apa itu film indie/pinggiran. Kenapa demikian? Karena sampai saat ini film indie/film pinggiran nyaris luput dari perhatian para produser-produser besar yang mau mendanai produksi film indie/pinggiran, jadi memang terkesan sangat terpinggirkan. Dengan demikian film indie boleh dikata film pinggiran. Durasi dari film indie/pinggiran sudah pasti tidak akan sama dengan dunia film panjang, film komersial, film televisi, atau film-film yang terpampang di baliho-baliho besar yang tayang di bioskop atau cineplex-cineplex. Film indie merupakan film yang durasinya bebas, akan tetapi dengan kebebasan durasi yang dimiliki itu, para sineasnya dituntut harus bisa lebih kreatif dan selektif dalam mengangkat tema dan materi yang akan ditampilkan. Dengan munculnya kreatifitas dan selektifitas dari sineas maka, setiap angle, shot, dan elemen-elemen pendukung tampilan film pinggiran itu sendiri akan memiliki makna yang cukup luas untuk bisa ditafsirkan oleh penontonnnya.

Dalam film pinggiran mungkin tidak akan mengenal apa itu super star, tidak pernah memperdulikan kaidah-kaidah baku pada saat produksi film yang terkesan sangat rumit. Para sineas film pinggiran dari berbagai kota di Indonesia telah banyak menunjukkan aktifitas berkaryanya. Bagi mereka semua tidak ada sebuah keharusan untuk terlebih dahulu mendalami teknik-teknik sinematografi, tata artistik, tata cahaya, make-up, atau hal-hal lain sebelum memproduksi sebuah karya film. Hal itu mencerminkan semangat independen dari para sineas-sineas film indie/pinggiran yang tidak perlu berpatokan pada teori-teori yang memang sudah selazimnya.
Selain dari aspek bagaimana proses produksi, cerita, dan misi yang akan disampaikan, film indie/pinggiran biasanya tidak ditentukan dengan durasi seperti halnya kebanyakan film komersial yang banyak beredar di saat ini. Bahkan dalam beberapa event festival film indie sering film-film yang dikirimkan hanya berdurasi tayang sekitar antara 10-30 menit saja. Kejadian-kejadian ini akan sangat mungkin terus terjadi, karena film independen yang memang tidak melibatkan produser/pemodal besar. Bagi sineas film indie/ pinggiran, jika mereka memang hanya mempunyai dana untuk membeli kaset mini DV, makan, dan minum selama proses produksi berlangsung, bahkan hingga proses pasca produksi saja, itu sudah merupakan anugerah buat mereka. Hanya menggunakan pemain dengan bayaran “Thank You” artinya hanya dengan bayaran ucapan terima kasih, fenomena itu yang hanya terjadi dalam film indie/pinggiran dan bukan dalam film-film komersial. Disitulah letak dari keistimewaan film indie/pinggiran. Alat yang digunakan juga tidak harus menggunakan kamera yang profesional atau kamera VHS, betacam, atau kamera digital. Tidak jarang yang memproduksi film indie hanya dengan kamera handycam kecil saja.
Dewasa ini, film muncul selain sebagai alternatif hiburan, film juga sebagai produk dari alkulturasi budaya dan perkembangan budaya tradisi dan budaya modern. Kebudayaan sebagai bukti peradaban manusia mengalami perkembangan dan perubahan. Penetrasi kebudayaan antar daerah, antar negara, atau antar benua sekali pun bisa terjadi melalui berbagai macam cara, baik damai maupun kekerasan, determinasi ideologi, politik, maupun ekonomi menjadi suatu media perubahan kultural tersebut yang semua bisa dimunculkan melalui cerita film. Dengan cara damai, kebudayaan masuk dan mempengaruhi kebudayaan lain melalui media cetak maupun elektronik. Kalau kita coba melacak perkembangan budaya massa saat ini, kita akan dihadapkan pada sekian banyak istilah yang saling berkaitan: budaya tradisi, budaya pop, budaya modern, budaya konsumen, budaya komersil, industri budaya, budaya post modern, dan seterusnya. Objeknya bisa berupa karya sastra, teater, lukis, lagu/musik, film, dan lainnya.
Film adalah salah satu media audio visual yang saat ini bisa dibilang paling ampuh untuk digunakan dalam penetrasi budaya. Film pada dasarnya merupakan suatu produk yang dihasilkan oleh seorang sineas melalui proses yang melibatkan kemampuan imajinasi, pengembangan daya cipta berkreasi, kepekaan rasa dan karsa yang dimiliki oleh sineasnya. Semua film yang banyak beredar tentunya merupakan karya yang mengandung pesan-pesan untuk disampaikan kepada khalayak umum. Pesan-pesan atau nilai-nilai yang ada pada film inilah yang mampu akan mensosialisasi, mencipta, merepresentasi, dan merefleksi suatu nilai budaya di negeri ini. Pada dasarnya suatu pesan yang ada dalam film bertujuan untuk pembinaan maupun pengembangan nilai sosial-kultural, mencerdaskan suatu bangsa, maupun peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Secara historis bisa kita lihat ada beberapa karya film indie/film pinggiran yang kiprahnya mampu menembus hingga tingkat internasional. Beberapa diantaranya: Film Revolusi Hijau Revolusi Harapan karya sineas Nanang Istiabudhi berhasil mendapatkan Gold Medal untuk kategori Amateur dalam The 39th Brno Sexteen International Competition of Non-Comercial Featur and Video di Republik Cekoslovakia (1998). Film Novi karya sineas Asep Kusdinar masuk nominasi dalam Festival Film Henry Langlois, Perancis (1998). Dalam Singapore Internasional Film Festival (1999), sekitar lima film pendek Indonesia ikut serta bersaing, yaitu Revolusi Harapan kreasi Nanang Istiabudhi, Bawa Aku Pulang buah karya Lono Abdul Hamid, film Novi karya Asep Kusdinar, Sebuah Lagu karya Eric Gunawan, dan Jakarta 468 karya Ari Ibnuhajar.
Dari sini kita dapat melihat bahwa film indie yang masih dianggap film pinggiran merupakan suatu media praktis yang dapat membangun jati diri bangsa. Walaupun demikian kita harus sadar di tengah keterbatasan itu semua, semangat independen dari para sineas film indie harus tetap menjadi dan mendapatkan perhatian. Dalam posisi yang serba terbatas akan modal, para sineas senantiasa dapat memunculkan ide-ide gilanya untuk tetap berkarya. Salah satu cara yang efektif yaitu modal “Thank You” atau dengan kata lain memanfaatkan jaringan modal sosial, seperti jaringan sosial para pemerhati, praktisi, dan penikmat film indie.
Saat ini berbagai komunitas film indie/film pinggiran semakin banyak bermunculan di Indonesia. Kemunculan komunitas-komunitas film indie/film pinggiran ini memiliki peran yang cukup besar dalam hal pelestarian budaya maupun perluasan jaringan film indie/film pinggiran itu sendiri. Maka untuk itu diperlukan adanya upaya dari berbagai pihak untuk senantiasa mendorong kemajuan perkembangan film indie/film pinggiran di daerah-daerah bukan hanya di kota besar saja, salah satunya bisa melalui pembinaan dan memberikan ruang terbuka pada komunitas-komunitas yang sudah ada dan ingin mulai menapakkan jejak kakinya di dunia film indie/film pinggiran.[ ]


Penulis adalah dosen di Universitas Serang Raya

Tanah Surga… Katanya

23.13

Oleh : Irvan Hq
Suatu hari saya tertarik membaca tautan berita di status FBnya Muhammad Arif Kirdiat mengenai perusahaan kosmetik ‘Lush’ yang akan memasang bendera Bintang Kejora di setiap jendela tokonya di Australia dan Selandia Baru, membagi-bagikan pamflet kepada pengunjung dan menjual sebuah parfum edisi terbatas, yang dananya akan disumbangkan untuk gerakan kemerdekaan Papua. Pemerintah Indonesia terkejut dan mempertanyakan motif di balik dukungan mereka terhadap gerakan kemerdekaan Papua. Bahkan seorang pejabat KBRI di Canberra menyatakan apakah perusahaan tersebut mengetahui tentang situasi sebenarnya di lapangan Papua. 

Saya jadi senyum sendiri melihat reaksi pejabat kita yang kebakaran jenggot, padahal menurut saya ada baiknya kita juga melakukan intropeksi diri ke dalam untuk mengetahui ada masalah apa sesungguhnya sehingga masih saja terjadi gerakan kemerdekaan di Papua. Jangan-jangan malah pejabat kitanya yang tidak mengetahui situasi sesungguhnya di sana. Mungkin karena letaknya yang jauh dijangkau sehingga para pejabat kita malas kesana atau karena merasa sudah jadi pejabat, setiap kali berkunjung ke Papua mereka maunya dijamu dan diberi laporan yang baik-baik saja. Saya jadi ingat film Di Timur Matahari karya Ari Sihasale pada bulan Juni lalu yang menggambakan minimnya fasilitas pendidikan di pulau paling timur Indonesia itu, ada sebuah dialog ketika istrinya Michael (putra daerah asli Papua yang bekerja di Jakarta) bernama Vina yang berkunjung ke Papua terkejut mengetahui harga sembako yang sangat mahal, sampai ia bergumam sendiri, pantas saja Papua minta merdeka.

Lebih miris lagi setelah 67 tahun merdeka, masih ada sekitar 183 daerah tertinggal di Indonesia, tujuh puluh persennya ada di kawasan timur Negara kita tercinta ini. Belum lama potret itu tergambar kembali dalam sebuah film karya Herwin Novianto yang diproduseri Deddy Mizwar bersama Gatot Brajamusti berjudul ‘Tanah Surga Katanya’yang menceritakan kehidupan sebuah desa terpencil di Kalimantan Barat yang berbatasan dengan Malaysia. Meski bersebelahan, pembangunan dan pertumbuhan ekonomi desa milik Indonesia jauh tertinggal dari desa tetangganya, jalan beraspal milik Malaysia berujung tepat di perbatasan Indonesia yang jalannya masih murni dari tanah.

Sedemikian parahnya ketertinggalan dan keterbelakangan Desa ini membuat anak-anak kecil di sana sekolah dalam satu ruangan berdinding kayu, sebelahnya kelas tiga, sebelahnya lagi kelas empat, tidak ada kelas yang lain, guru yang mengajarnya juga cuma satu, itupun setelah satu tahun vakum. Mata uang yang mereka kenal dan mereka pergunakan sehari-hari bukan rupiah tetapi ringgit. Dan saya langsung tercekat menyaksikan anak-anak itu malah menyanyikan lagunya Koes Plus berjudul Kolam Susu ketika seorang dokter yang baru saja datang ke desa ini meminta anak-anak itu menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia.

Salman adalah anak kelas 4 SD yang sering melintasi daerah perbatasan untuk berjualan demi mengumpulkan uang untuk mengobati kakeknya yang sakit. Untuk mencapai Rumah Sakit saja Salman harus membayar sewa perahu sebesar 400 ringgit. Kakek Salman adalah mantan pejuang kemerdekaan yang pernah terlibat dalam konfrontasi dengan Malaysia pada tahun 1960-an, bagaimana ia menghadapi pasukan sewaan bernama gurkha dan berjuang mati-matian demi kehormatan bangsa Indonesia, ia masih saja menggenggam nilai-nilai nasionalisme itu sehingga menolak ajakan anaknya untuk pindah ke Malaysia, disana ayahnya Salman sudah menikah lagi dengan perempuan Malaysia dan memiliki Kedai sebagai sumber penghidupan yang jauh lebih baik. Sedangkan Salman memilih tinggal dan membiarkan ayah dan adiknya pergi karena tidak tega meninggalkan Kakeknya tinggal sendirian.

Selain soal Kakeknya, ada tiga adegan yang membuat saya terkesan pada sosok Salman ini, yang pertama bagaimana ia memprotes seorang pedagang Malaysia yang menggunakan bendera Indonesia sebagai alas dagangannya, kemudian ia berusaha mengumpulkan uang untuk membeli dua buah sarung, yang satu untuk mengganti sarung Kakeknya yang sudah sobek dan yang kedua sarung baru itu ia tawarkan kepada pedagang Malaysia itu untuk menukarnya dengan bendera merah putih yang digunakan sebagai alas dagangannya. Yang kedua bagaimana seorang Salman membuat wajah sang pejabat yang sedang berkunjung ke desanya menjadi tersinggung dan membatalkan semua rencana bantuan yang sudah dicatat asistennya ketika membaca puisi karyanya sendiri.

“Bukan lautan hanya kolam susu…, katanya. Tapi kata Kakekku hanya orang kaya yang minum susu. // Tiada badai tiada topan yang kau temui, Kain dan jala cukup menghidupimu, Tapi kata kakekku ikannya diambil negara asing. // Ikan dan udang menghampirimu…, katanya. Tapi kata kakekku sshh… ada udang dibalik batu. // Orang bilang tanah kita tanah surga…, katanya. Tapi kata dokter intel yang punya surga hanyalah pejabat-pejabat… “

Dan yang ketiga adalah adegan dramatis dimana Salman sedang berjuang membawa kakeknya yang kritis menembus perjalanan yang sulit dengan perahu menuju rumah sakit, sementara Ayah Salman sedang asyik nonton bareng mendukung kesebelasan Malaysia melawan kesebelasan Indonesia. Akhirnya ditengah perjalanan sang Kakek meninggal tepat disaat puluhan warga Malaysia yang memenuhi kedai milik Ayah Salman bersorak-sorai merayakan keberhasilan timnya menekuk kesebelasan Indonesia. Ironis memang, entahlah… yang jelas ada yang salah dengan bangsa ini, alih-alih melestarikan kebudayaan bangsa Indonesia, malah budaya keterbelakangannya yang dilestarikan. Memang untuk mensejahterakan masyarakat Indonesia yang sangat luas ini tidak semudah membalikkan telapak tangan, tapi sampai kapan itu terjadi? Sampai daerah-daerah tersebut menuntut kemerdekaan?

Akhirul kata, untuk para Pemimpin Negeri ini dan untuk para Pejabat Pemerintahan  baik di pusat maupun yang di daerah-daerah. Kalau mau kunjungan jangan maunya dijamu saja, disambut, dipuja-puja, dan kalau menerima laporan jangan katanya-katanya saja. Kata anggota dewan siapa bilang Jakarta itu panas? Pantas saja dia bicara begitu, karena mulai dari rumah tinggal ber-AC, masuk mobil ber-AC, masuk kantor di gedung ber-AC, dan meeting di hotel-hotel mewah pun ber-AC, tentu saja buat mereka  Jakarta sejuk dan nyaman. Persoalannya bagaimana dengan masyarakat diluar sana yang hidup tanpa AC bahkan dibawah terik matahari.

Kata Gurbernur Banten siapa bilang beliau tidak pernah membantu pembangunan masjid, pesantren dan masyarakat miskin? Pantas saja beliau bicara begitu, karena hampir setiap hari beliau menanda tangani persetujuan proposal pembangunan masjid, pesantren dan bantuan sosial untuk masyarakat miskin di Banten. Persoalannya apa semua bantuan itu sampai kepada yang berhak? Siapa bilang jalan-jalan di Banten rusak dan listriknya sering padam? Pantas saja beliau bicara begitu, karena jalan yang dilaluinya selalu jalan yang bagus, yang lancar dan kalau kunjungan ke daerah, semua jalan yang akan dilalui mendadak diperbaiki dan kanan kirinya dirapihkan. Apalagi rumah dinasnya, mungkin tidak pernah mati listrik.  Jadi Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu para pejabat negeri ini kalau menerima laporan jangan kata-katanya saja… dicheck dulu kebenarannya dan dikuasai permasalahannya sampai detail… baru ambil keputusan, itulah pemimpin yang baik… katanya. [.]

  • Pernah dimuat di Harian Umum Kabar Banten, 28 Agustus 2012


Berani Aksi

22.46




Walaupun belum selesai pengerjaannya, Patung Garuda Wisnu Kencana (GWK) yang berdiri diatas bukit Ungasan, Jimbaran, Bali itu terlihat begitu spektakuler. Patung GWK yang rencananya akan menjadi patung tertinggi di dunia itu baru menyelesaikan bagian kepala burung garuda, badan dan tangan Dewa Wisnu. Ketiganya untuk sementara ditempatkan secara terpisah, apabila sudah selesai, patung tersebut akan berwujud Dewa Wisnu yang sedang mengendarai burung Garuda. Saking besarnya, patung ini dapat dilihat dari jarak 20 kilometer, itu berarti patung ini bisa dilihat dari Kuta, Sanur, Nusa Dua hingga Tanah Lot. Menjadi lebih eksotis lagi karena patung GWK inilah yang akan menjadi pemandangan pertama saat pesawat turun di Bandara Ngurah Rai Denpasar.

Luar biasanya, meski sampai saat ini yang selesai baru sekitar 15% saja dari rencana keseluruhannya,  kawasan yang diproyeksikan akan menjadi salah satu obyek wisata termegah dan menjadi kebanggaan Indonesia ini telah dikunjungi rata-rata 2500 orang per hari dan dapat menghidupi 400 orang pekerja. Walaupun pembangunan patung maupun kawasan wisatanya sempat terkatung-katung dan belum jelas kapan bisa diselesaikan, namun saya kagum kepada I Nyoman Nuarta yang Berani Aksi membuat patung ini, paling tidak beliau telah membuktikan kepada dunia sebagai pemahat besar dan mampu memutuskan sekian banyak rantai kemiskinan.

Pada edisi ke empat belas ini, kami akan menghadirkan anak-anak muda Banten yang Berani Aksi mewujudkan impian dan cita-citanya baik itu bagi dirinya sendiri maupun orang lain, walaupun semua yang mereka lakukan itu hanya bermodalkan Thank You saja. Untuk meraih sukses kita tidak bisa hanya menunggu dan menunggu, kita harus Berani Aksi untuk melakukan tindakan nyata, bergerak, berkompetisi dan berusaha untuk meraih apa yang ingin kita dapatkan. Selamat Beraksi !!!

CARI PEMAHATMU

22.28
Oleh : Boyke Pribadi

Ada seorang bijak yang mengatakan “sesungguhnya pada setiap batu yang berserakan ditepi jalan itu terdapat keindahan, sepanjang batu tersebut bertemu dengan pemahatnya”.  Maksud dari kalimat bijak tersebut adalah bahwa pada setiap batu yang bererakan di tepi jalan, yang harganya tidak seberapa, namun sebetulnya memiliki keindahan yang bernilai tinggi manakala batu tersebut diubah bentuknya oleh tangan pemahat yang terampil menjadi hiasan seperti patung dan ornamen lainnya.
Demikian pula dengan kita sebagai manusia dimana setiap orang pasti memiliki suatu kelebihan atau yang sering kita sebut sebagai potensi. Hanya saja karena potensi itu sifatnya masih tersembunyi maka kita perlu mencari sang pemahat yang bisa menumbuhkan potensi tersebut agar wujud menjadi sesuatu yang nyata yang dapat membuat diri kita menjadi berharga dan dihargai ‘mahal’ oleh lingkungan kita.
 
Sang pemahat tersebut bisa jadi ada disekitar kita, mungkin guru kita yang sehari hari berusaha membangkitkan wawasan akademik, mungkin orang tua kita yang selalu berharap yang terbaik dan memberi contoh teladan kepada kita, atau mungkin teman/sahabat karib kita yang bisa membangkitkan semangat ketika kita sedang mendapat mood yang buruk, atau bahkan mungkin ‘musuh’ atau pesaing kita yang telah membuat bangkitnya semangat kita untuk bersaing melakukan yang terbaik dalam setiap pekerjaan.
Dan dalam sepanjang usia hidup kita banyak sekali sang pemahat yang akan memberikan moment moment monumental yang bisa merubah arah hidup dan kehidupan kita. Pengalaman penulis, banyak sekali sang pemahat yang memberikan energi kuat sehingga membuat penulis tergerak untuk melakukan sesuatu. Sebut saja dua sang pemahat yang memberikan setrum (aliran listrik) yang menghentak penulis dalam satu tahun terakhir sehingga membuat penulis bergerak untuk me-re-orientasi hidup dan penghidupan yang telah penulis jalani selama ini.
Pemahat pertama adalah Jamil Azzaini seorang trainer yang telah membuat penulis tersadar bahwa masih banyak yang belum penulis lakukan dalam hidup ini. Penulis tersentak ketika Jamil berteriak dalam sebuah sesi seminar yang diikuti banyak peserta tersebut. “Hai Fulan ! apakah yang telah engkau perbuat sehingga kamu merasa pantas masuk ke dalam surga-KU” teriak Jamil sambil memisalkan pertanyaan Sang Khalik kepada setiap mahluk-Nya kelak. Penulis termenung memikirkan bahwa belum ada jawaban yang layak untuk diajukan guna menjawab pertanyaan tersebut. Sementara Jamil telah memiliki jawaban yaitu bahwa dia telah memutuskan 1 juta orang dari rantai kemiskinan.
Sang pemahat lain yang telah memberi energi bagi penulis adalah, Reza atau dikenal dengan sebutan AXL sebagai founder dan owner dari keripik maicih yang sangat terkenal di nusantara ini. Bermula pada tanggal 20 november 2011 ketika penulis menjadi moderator dalam sebuah seminar tentang wirausaha. Menyimak pengalaman reza dalam merintis bisnis keripik pedasnya telah membuka pikiran penulis bahwa titik utama keberhasilan memasarkan produk adalah bukan hanya terletak pada produk itu sendiri, melainkan bagaimana cara memasarkannya. Meskipun ilmu ini telah lama penulis ketahui, namun belum pernah penulis mendapatkan energi yang dapat mendorong penulis untuk mencontoh yang dilakukan oleh reza.
Sepulang dari kegiatan seminar tersebut, penulis langsung browsing produk yang masih langka di Indonesia lalu berusaha memasarkannya. Lalu dibuatlah website www.shampoantiuban.com dan dalam kurun waktu 2 bulan, hasil nyatanya telah nampak. Pesanan mengalir dari aceh hingga maluku, dari banyak kota di jawa dan di luar jawa, tanpa letih tiap hari penulis mengirim SMS promo ke lebih dari 5 juta nomor GSM.
Merasa sukses dengan produk tersebut, lalu untuk memenuhi keinginan meniru langkah Jammil Azzaini untuk menyiapkan jawaban atas pertanyaan sang Khalik, penulis membuat website www.umrohbanten.com dengan maksud agar bisa sering menjalankan ibadah umroh tapi dengan ikut mengantarkan orang lain.
Dan yang sedang penulis lakukan saat ini adalah bagaimana memberdayakan mahasiswa yang secara ekonomi kurang mampu namun memiliki semangat yang tinggi untuk mencari tambahan biaya.
Dari hasil pengamatan sepintas, bisnis yang banyak dijalankan oleh para mahasiswa di perkotaan adalah menjual produk cemilan pedas yang hampir seluruhnya di ‘import’ dari luar daerah banten, dan rata rata penjualnya berasal dari golongan yang mampu secara ekonomi. Hal ini terlihat dari digunakannya mobil sebagai sarana penjualan. Hal itu sesuai dari hasil browsing di internet bahwa untuk menjadi reseller dari produk tersebut dibutuhkan modal yang cukup besar yang sulit terjangkau oleh mahasiswa yang kurang mampu.
Melihat hal tersebut, maka penulis memikirkan suatu produk cemilan pedas dengan harga yang harus lebih murah dari yang beredar dipasaran dan dengan metode pemasaran yang tidak memberatkan penjual-nya, dan bahkan kalau bisa tanpa memerlukan modal !.
Untuk hal itulah sejak tanggal 09-09-2012 penulis meluncurkan www.tingbating.com sebagai sarana untuk menjual cemilan pedas berupa lanting dengan merek ‘tingbating’ dengan sistem pemasaran yang nyaris tidak memerlukan modal materi kecuali hanya butuh semangat, disiplin dan kerja keras.
Setiap mahasiswa atau penjual dapat mengambil produk tersebut sebanyak 10 pcs dan membayar ketika akan mengambil 10 pcs produk selanjutnya, setelah terlewati 5 siklus dengan jumlah 10 pcs tersebut maka penjual dapat menambah 5 pcs untuk penjualan selanjutanya dan begitu seterusnya.
Mungkin banyak yang bertanya, kanapa hanya 10 pcs?? Ya karena penulis ingin mengajak reseller untuk mengikuti prosesnya sebagai sebuah pembelajaran, karena menurut penulis hal yang lebih berharga dari sekedar keuntungan yang diperoleh adalah pembelajaran yang diperoleh dari setiap proses yang dilakukan.
Jadi...temukan pemahatmu, dan kobarkan kreatifitas yang kamu miliki untuk memberdayakan sekitarmu........ [.]


AIR

20.17

Oleh : Samsiyah
Air merupakan salah satu sumber kehidupan. Tanpa air, manusia tidak dapat melakukan banyak aktivitas seperti mencuci, memasak, mandi, minum, makan dan lain-lain. Seperti yang dikatakan dalam sebuah iklan minuman berion, bahwa sebagian besar tubuh manusia terdiri dari air. Saat baru lahir, tubuh bayi terdiri dari 80% air. Sedangkan saat dewasa, tubuh seseorang dapat mengandung 50-70% air. Sebegitu-banyaknya air yang terdapat dalam tubuh manusia, sampai-sampai dikatakan bahwa seseorang tidak dapat bertahan hidup tanpa air lebih dari 3 hari. Ada yang mau coba hidup tanpa air selama 3 hari? Hehehe..

Dalam tubuh manusia, air memiliki 2 fungsi utama:
ü  Yang pertama, air berfungsi sebagai ‘kendaraan’ pembawa zat-zat nutrisi seperti karbohidrat, vitamin dan mineral serta oksigen ke dalam sel-sel tubuh sekaligus mengeluarkan zat-zat sisa seperti karbon dioksida dan senyawa nitrat.
ü  Yang kedua, air berfungsi sebagai pelembab jaringan-jaringan tubuh seperti mata, mulut dan hidung, manjadi pelumas dalam cairan sendi tubuh, pelindung organ dan jaringan tubuh serta membantu menjaga tekanan darah. Selain itu, air juga berfungsi menjaga suhu panas tubuh agar tetap normal.

Sebagai mahkluk Tuhan yang tinggal di planet Bumi, kita patut bersyukur karena planet yang kita tempati ini memiliki begitu banyak air (sekitar ±70% permukaan bumi diselimuti oleh air). Tapi perlu diketahui bahwa tidak semua air dipermukaan bumi bisa dikonsumsi. National Geographic pernah mencatat bahwa dari 70% air yang ada di bumi, hanya sekitar 2,5% bagian yang merupakan air bersih yang dapat digunakan oleh manusia. Jadi, agar air yang dikonsumsi terjamin bersih dan layak konsumsi, perlu diketahui ciri-ciri air yang aman konsumsi.

Lalu, seperti apa ciri-ciri air yang aman dikonsumsi? Air yang dapat dikonsumsi atau air yang dapat diminum diartikan sebagai air yang bebas dari bakteri yang berbahaya dan bebas dari ketidakmurnian secara fisik, biologis dan kimiawi.

ü  Secara fisik, air minum harus bersih dan jernih, tidak berwarna dan tidar berbau serta tidak mengandung bahan tersuspensi atau kekeruhan.
ü  Secara biologis, air minum harus bebas dari unsur mikrobiologis seperti coli atau pun bakteri penyebab penyakit lainnya.
ü  Dan secara kimiawi, air yang aman dikonsumsi adalah air yang tidak mengandung logam berat seperti zat besi (Fe), timbal (Pb), seng (Zn), mangan (Mn) dll. Salah satu ciri air yang mengandung Fe yang tinggi adalah saat pertama keluar air akan terlihat sangat jernih, namun setelah beberapa saat air akan menguning dan menimbulkan endapan. Selain itu, air yang mengandung Fe tinggi memiliki bau seperti bau besi karat dan menimbulkan bercak kuning pada keramik atau wastafel kamar mandi.

Dan jangan lupa, selain bijak dalam memilih air, bijaklah juga saat menggunakan air. Dengan 2,5% jumlah air yang ada di bumi, tidak ada yang tahu kapan jumlah itu akan terus berkurang dan menimbulkan kekeringan bahkan kesengsaraan hidup banyak manusia. Jadi, meski Cuma setetes, jangan sia-siakan airmu dan tetap cermat dalam menjalani hidup. Kecermatan kita menentukan kesehatan dan masa depan kita. Salam gizi, salam sehat J


Sumber: internet dan buku.

Niduparas Erlang: Awalnya, Menulis karena Butuh Makan

20.05



Ketekunan Niduparas Erlang dalam menggeluti dunia cerpen mulai menunjukkan buah manis. Dia dinobatkan sebagai salah satu dari 15 orang penulis muda berbakat dari seluruh Indonesia dan berhak mengikuti pertemuan penulis dan pembaca tingkat internasional di Ubud-Bali, 3-7 Oktober mendatang. Sebanyak 25 negara mewakilkan utusannya dalam forum bergengsi ini.

Lelaki berkacamata minus dan bermuka tirus ini tak menyangka jika kumpulan cerpennya yang berjudul La Rangku yang diterbitkan Selasar Publishing dan Yayasan Seni Surabaya pada 2011 lalu itu, dapat membawanya ke Ubud Writers and Readers Festival (UWRF). Nidu menjadi satu-satunya wakil dari Banten yang berhak menjadi peserta sekaligus pembicara pada festival penulis dan pembaca tingkat dunia di Pulau Dewata tersebut.

“Aku satu-satunya yang berasal dari Banten. Sebanyak 14 lainnya berasal dari Jogja, Jakarta, Padang, Bandung, dan daerah lainnya. Gak nyangka bisa terpilih. Soalnya ratusan orang dari seluruh Indonesia yang mendaftar, sampai akhirnya hanya 15 orang yang dipilih,” ujarnya kepada BANTEN POS, Kamis (7/6).

Lelaki asal Kecamatan Petir ini mengatakan, dari data panitia seleksi tercatat sebanyak 279 penulis yang mengikuti seleksi. Namun, kurator hanya menetapkan 15 penulis yang terpilih sebagai peserta. Komposisinya terdiri dari lima penyair, lima cerpenis, empat novelis, dan satu esais. Mereka terdiri dari empat perempuan dan sebelas pria.

“Acaranya setahun sekali. Untuk UWRF 2012 ini yang menjadi kuratornya penulis-penulis senior. Ada Saut Poltak Tambunan, Acep Zamzam Noor, dan Cok Sawitri. Mendengar nama-nama kurator itu, awalnya sempat ragu juga untuk ikut. Tapi kapan lagi ada kesempatan,” ungkapnya.

Nidu menduga, cerpennya banyak berbicara tentang kelokalan Banten, termasuk setting dan budayanya. Maka, cerita inilah yang kemungkinan membuat dia terpilih. Sebab, dari beberapa hasil karya UWRF tahun sebelumnya, para penulis muda Indonesia yang terpilih lebih banyak dari mereka yang berbicara soal kearifan lokal dalam tulisannya.

“Aku menunggu prosesnya juga lama. Dari mulai pengiriman naskah hingga pengumuman. Februari lalu dibuka, dan baru ada pengumuman Juni ini,” kata dia.

Untuk mencapai pada tahap seperti sekarang ini, bukan tanpa proses yang panjang. Pemuda kelahiran Serang 11 Oktober 1986 ini memulai belajar menulis saat jadi buruh pabrik di Kota Tangerang. Usai menamatkan belajar di Sekolah Teknik Menengah (STM, sekarang SMK) di Kota Rangkasbitung pada 2004 lalu, dia menjadi buruh pabrik. Bosan menjadi buruh, akhirnya ia melanjutkan kuliah di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Serang.

Niduparas Erlang
Awalnya, menulis bagi Nidu hanyalah upaya agar bisa bertahan hidup selama kuliah. Sebab, soal biaya pendidikan, Nidu memang tak bisa mengandalkan orangtuanya yang hanya tinggal ibunya.

“Aku bukan termasuk penulis produktif. Karena nulis juga hanya untuk menyambung hidup dan membayar uang kuliah. Makanya aku sering “diejek” teman-teman sebagai cerpenis speasialis lomba, hehe...,” tuturnya terkekeh.

Memang, beberapa kali Nidu meraih juara lomba menulis baik tingkat lokal Banten, maupun nasional. Beberapa karya yang berhasil menjadi juara lomba itu kemudian dirangkum dalam kumpulan cerpenLa Rangku (Selasar Publishing & Yayasan Seni Surabaya 2011) yang dinobatkan sebagai buku Cerpen Terbaik Festival Seni Surabaya 2011.

Selain itu ada Nyanyian Kesetiaan (2012), Lelaki yang Dibeli (2011), Yang Muda Yang Kratif (2010),Si Murai dan Orang Gila (2010), Rendezvous di Tepi Serayu (2009), dan Antologi Cerpen Festival Bulan Purnama Majapahit Trowulan (2010).

Sementara puisi karnya terangkum dalam antologi adalah “Antologi Puisi Festival Bulan Purnama Majapahit Trowulan” (2010), “Berjalan ke Utara” (2010), “Candu Rindu” (2009), dan “dari Batas Waktu ke Perjalanan Kamar sampai Kabar dari Langit” (2006).

“Sebelum menggantungkan hidup dari hanya hasil menulis, beberapa pekerjaan pernah saya lakoni termasuk menjadi wartawan dan editor di media massa lokal Banten,” jelasnya. Nidu menganggap bahwa hal itu adalah perjalanan hidup yang harus dilaluinya hingga akhirnya bisa menjadi seperti sekarang ini.

“Dari sekian tahun pelaksanaan UWRF, baru tahun 2011 dan 2012 ini ada peserta dari Serang yang juga mewakili Banten. Tahun 2011 lalu ada Wahyu Arya. Sekarang (2012-red) saya. Semoga saja tahun depan ada nama lainnya dari Banten yang bisa ikut UWRF,” tuturnya. [Rizal Fauzi]

Sumber: Banten Pos, Sabtu 09 Juni 2012

Deteksi & Pengobatan Sedini Mungkin Membantu Penyembuhan Penderita Kanker

18.09
Oleh : Iip Syafruddin

Beberapa masalah yang paling sering dihadapi penderita kanker anak dan dewasa adalah sebagian besar pasien datang terlambat karena ketidak-tahuan atau mengabaikan penyakitnya, petugas kesehatan kurang waspada, jauh dari pusat rujukan, masih mencari pengobatan alternative meski sudah di vonis kanker sehingga pengobatan medis terlambat, pusat pengobatan belum seragam dalam melaksanakan terapi dan biayanya yang cukup mahal.

Hal ini disampaikan oleh Prof. dr. Djajadiman Gatot SpA(K), salah satu pembicara pada Seminar Ilmiah Deteksi Kanker Sedini Mungkin pada Anak yang di gelar oleh yayasan Onkologi Anak Indonesia (YOAI) bekerjasama dengan Rumah sakit Kanker Dharmais, Sabtu (15/9) kemarin.

Seminar Ilmiah Kanker di Dharmais yang dilaksanakan
oleh Yayasan Onkologi Anak Indonesia
Seminar Ilmiah tentang kanker dilaksanakan bertempat di Auditorium RS Dharmais ini juga menghadirkan 5 narasumber yang berkaitan dengan penyakit kanker pada anak, hal ini dilakukan karena pengobatan kanker terutama pada anak, tidak bisa dilaksanakan hanya oleh satu domain pengobatan saja. “banyak faktor yang harus dilakukan oleh pusat pengobatan kanker, komprehensif dan terkait satu sama lain, sehingga pengobatan kanker terutama pada anak tidak setengah-setengah” ujar dokter spesialis kanker di RSCM ini.

Diketahui, ada beberapa jenis kanker yang sering terjadi pada anak, seperti Leukimia Akut, Tumor Otak, Kanker Mata Primer (Retinoblastoma), Kanker Kelenjar Getah Bening (lymphoma), Kanker Kelenjar Adrenal (neuroblastoma), Kanker Ginjal Primer (wilms tumor), Kanker Otot Lurik (rhabdomyosarcoma), dan Kanker Tulang Primer (osteosarkoma). “beberapa jenis kanker ini sudah umum dan sering terjadi pada para pasien anak baik di RSCM maupun di Dharmis ini” lanjutnya.

YOAI selaku pelaksana dari kegiatan seminar ilmiah ini, adalah salah satu organisasi yang mengkhususkan pada anak dengan penyakit kanker. Menurut Retno Tjokrosoeseno, wakil ketua YOAI mengatakan, bahwa YOAI tidak akan pernah bosan untuk melaksanakan kegiatan serupa, sekaligus sebagai agenda kerja-nya. “Visi YOAI salah satunya adalah melaksanakan penyadaran kepada masyarakat, bahwa kanker pada anak bisa disembuhkan, asal terdeteksi sedini mungkin dan secepatnya melakukan pengobatan medis”

Tak Ada Data Pasti

Di Banten, fenomena kanker kemungkinan besar bisa seperti gunug es. Banyak penderita kanker yang tidak terdata secara spesifik, hal ini disebabkan masih sedikitnya penyadaran diri pada penderita kanker untuk terdata dan melaksanakan pengobatan secepatnya.

Salah satu pasien anak yang di advokasi Penulis dan FBn dan tidak tertolong
Ketika hal ini di konfirmasikan kepada pemerntahan setempat melalui Dinas Kesehatan Provinsi, dr Danang selaku kabid P2PL dan staff nya di P2 (Pengendalian Penyakit) mengatakan, bahwa data pasti penderitakanker sulit di dapatkan. Hal ini karena belum tentu para pasien kanker yang di rujuk, memberikan laporan kembali bahwa yang bersangkutan positif terkena kanker. Juga tidak mudah untuk memberikan statement bahwa seseorang itu menderita kanker, karena jenis penyakit kanker hanya bisa di periksa di rumah sakit-rumah sakit yang di pusat, seperti Cipto dan Dharmais.

Ketika penulis kejar lebih lanjut menanyakan apakah memang tidak ada data penderita kanker, staff bagian P2, dr. Tri mengatakan bahwa data penderita kanker ada, tetapi hanya penderita kanker Serviks dan Kanker Payudara saja, itupun hanya ada data dari 2 daerah saja, yaitu Cilegon dan Serang, yang lainnya tidak ada. Sementara diketahui, berdasarkan data dari RS Dharmais, bahwa salah satu penyumbang pasien Kanker terbanyak di Dharmsia adalah dari Banten, terutama daerah Tangerang.

Penulis, selaku Koordinator Relawan Sosial Fesbuk Banten News, salah satu lembaga yang concern terhadap kanker pada anak dan dewasa mempunyai beberapa pasien yang di advokasi pengobatannya oleh FBn, sekitar 12 pasien positif penderita kanker. Dari 12 pasien tersebut 5 pasien diantaranya adalah anak-anak. Dan dari 5 anak yang di advokasi tersebut tidak ada satupun yang berhasil melakukan pengobatan. Dan 12 pasien kanker ini baru hanya dari golongan tidak mampu saja, kemungkinan besar masih ada  pasien-pasein kanker yang dari golongan mampu dan atau penderita kanker warga tidak mampu yang  belum ter-advokasi FBn, atau melaksanakan pengobatan sendiri di pusat kesehatan kanker.

Ada beberapa faktor yang menjadi kendala sehingga 5 pasien anak penderita kanker yang di advokasi FBn tidak tertolong, hal ini terjadi karena masih minimnya pengetahuan kanker pada keluarga pasien sehingga sangat terlambat pengobatannya, sering mencari pengobatan alternative tanpa pengobatan medis, serta masih sulitnya meng-akses pengobatan kanker, dan juga pengaruh psikologis dari penderita itu sendiri agar bisa sembuh. Beberapa faktor ini yang mengakibatkan penderita kanker tidak kuat lebih lama lagi untuk survive, akibat sel-sel kanker nya sudah merasuk pada organ-organ fital tubuh, sehingga penderita meninggal dunia”

Pasien Yayat yang sekarang masih melaksanakan pengobatan di Dharmais,
dan insya Allah 100% sembuh.
Penulis mencontohkan pada kasus pak Yayat, warga tidak mampu yang di advokasi FBn, berkat ketekunan dan kesabarannya dalam melakukan pengobatan, Yayat sampai dengan saat ini sudah hampir 100 % sembuh. hal ini memang selain karena melaksanakan pengobatan yang tepat, juga Yayat memiliki psikologis yang kuat untuk sembuh. Dan itu menjadi salah satu modal dasar bagi penderita kanker

Penulis menyimpulkan bahwa pada beberapa kasus pasien anak dengan kanker, seperti yang di alami almarhumah Ajijah yang menderita kanker tulang (osteosarkoma), keadaan pasien waktu kita temukan masih bisa untuk sembuh, karena perkiraan dokter baru memasuki stadium 2. Tetapi karena vonis dokter mengatakan bahwa Ajijah harus di amputasi, dan pihak keluarga belum menyetujui, sehingga Ajijah dipulangkan dulu. Ternyata selang sekitar dua bulan kemudian, meski sudah melakukan pengobatan alternative, ternyata kanker Ajijah semakin kritis, dan akhirnya meninggal.


Hal-hal inilah yang kemudian melatar-belakangi kami di Relawan FBn untuk melaksanakan satu kegiatan upaya untuk pengenalan kanker lebih dini, melalui acara Road Show Deteksi Kanker Sedini Mungkin pada Anak dan Dewasa pada medio Oktober nanti. Keinginannya yaitu bagaimana supaya keluarga pasien kanker tau lebih banyak tentang kanker, sehingga proses penyadaran dan pengobatan medis kepada keluarga sangat penting dilakukan. Agar para petugas kesehatan lebih mengenali lagi jenis penyakit kanker, sehingga bisa memberikan rujukan yang tepat kepada pasien. Memberikan gambaran utuh bagaimana caranya untuk mendapatkan pengobatan medis pada 2 rumah sakit pusat rujukan kanker, dan-lain-lain. *Mohon do'a dan supportnya untuk kegiatan tersebut  dari para pembaca*


Banten Muda Gelar Lomba Menulis Cerpen Tingkat Nasional

Banten Muda Gelar Lomba Menulis Cerpen Tingkat Nasional

03.30
BieM - Sebagai salah satu upaya kongkrit mengembangkan kreatifitas kaum muda, Banten Muda Community (BMC) menggelar Lomba Menulis Cerpen tingkat Nasional bertajuk "Banten;Suatu Ketika". kegiatan tersebut terbuka untuk diikuti seluruh masyarakat di Indonesia. Menurut Irvan Hq selaku ketua umum, lomba tersebut memang dimaskudkan sebagai promosi daerah. "Saya berharap dari kegiatan ini, Banten akan terangkat citra positifnya." Tuturnya.

Lomba itu sendiri didisain secara serius, hal itu dibuktikan salah satunya dengan menghadirkan dewan juri yang kompeten di bidangnya, yakni, Iwan Gunadi (kritikus sastra), Zen Hae (Cerpenis) dan Yanusa Nugroho (Cerpenis).

Berikut syarat lomba dan hadiah bagi para pemenang:


Syarat:
1.        Peserta adalah WNI;
2.        Usia peserta dibatasi antara 17—35 tahun dibuktikan dengan Kartu Tanda Penduduk (KTP);
3.        Tema: Banten, Suatu Ketika;
4.        Naskah cerpen yang diikutsertakan dalam lomba ini berlatar (setting) Banten;
5.        Panjang naskah cerpen antara 10.000—15.000 karakter atau sekitar 5—8 halaman A4;
6.        Naskah cerpen ditik menggunakan huruf Times New Roman, 12 pt, spasi 1.5, margin 3, 3, 3, 3, ukuran kertas A4, dalam format (.rtf);
7.        Naskah cerpen merupakan karya sendiri, bukan saduran, terjemahan, atau plagiat;
8.        Naskah cerpen belum pernah dipublikasikan di media massa cetak dan/atau elektronik, dan tidak sedang diikutkan dalam lomba/sayembara lain;
9.        Biodata dalam bentuk narasi dilampirkan pada halaman terakhir naskah, dan tidak lebih dari satu halaman;
10.    Lampirkan hasil scan Kartu Tanda Penduduk (KTP);
11.    Peserta diperbolehkan mengirimkan maksimal 2 (dua) naskah cerpen;
12.    Naskah cerpen dikirim paling lambat pada tanggal 31 Oktober 2012, pukul 24.00 WIB; 
13.    Naskah cerpen dikirim (attach files, bukan di body e-mail) ke alamat e-mail: lombacerpen_bmc2012@yahoo.com;
14.    Naskah cerpen yang dikirim menjadi milik panitia, dengan hak cipta tetap pada penulis;
15.    Naskah cerpen yang tidak sesuai dengan persyaratan tidak akan disertakan dalam proses penjurian;
16.    Dewan juri akan memilih 15 naskah terbaik (juara I, II, III, dan 12 nomine) yang akan dibukukan dalam antologi cerpen pemenang;
17.    Dewan juri terdiri dari; Iwan Gunadi, Zen Hae dan Yanusa Nugroho
18.    Pemenang(nominator) diumumkan pada tanggal 1 Desember 2012, di www.bantenmuda.com
19.    Penyerahan hadiah kepada para pemenang pada tanggal 15 Desember 2012.
20.    Keputusan dewan juri bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu-gugat.

Hadiah Bagi Pemenang
·      Juara I mendapatkan uang tunai Rp 2.500.000,- + Tropi + Sertifikat + 5 eksemplar buku antologi cerpen pemenang + Langganan Banten Muda Magazine selama 6 edisi;
·      Juara II mendapatkan uang tunai Rp 2.000.000,- + Sertifikat + 5 eksemplar buku antologi cerpen pemenang + Langganan Banten Muda Magazine selama 6 edisi;
·      Juara III mendapatkan uang tunai Rp 1.500.000,- + Sertifikat + 5 eksemplar buku antologi cerpen pemenang + Langganan Banten Muda Magazine selama 6 edisi;
·      12 nominie mendapatkan Sertifikat + 5 eksemplar buku antologi cerpen pemenang + Langganan Banten Muda Magazine selama 6 edisi.

Narahubung
085692308230 (Nugraha Umur Kayu) 085697088396 (Niduparas Erlang), 081906287503 (Mahdiduri)