GENERASI AYAM NEGERI

09.30


Hari Selasa tanggal 28 Agustus 2012 jam 09.53 saya masuk kedalam taxi, nafas saya masih tersenggal setelah menyelesaikan 68 transaksi di BCA SCBD, Jakarta. Selain mengganti tanggal satu per satu secara manual, 46 slip diantaranya terpaksa saya revisi nomor ceknya. Belum lagi jurus-jurus negoisasi harus saya keluarkan secara maksimal agar beberapa transaksi yang dianggap belum memenuhi syarat bisa tetap dijalankan hari itu juga. Saya tidak bisa membayangkan sikap kekanak-kanakan yang akan muncul dari para pemegang jabatan kalau sampai ada yang gajiannya terlambat. Itulah kehidupan, terkadang apa yang sudah kita rencanakan dan kita persiapkan dengan baik, masih bisa meleset hasilnya oleh karena faktor-faktor yang tidak terduga sebelumnya.

“Ada masalah ya dengan nafas Bapak?”. Suara berat milik supir taxi itu mengejutkan saya, tatapannya yang tajam membuat saya menahan nafas sejenak, sinusitis yang saya derita ini memang tipe setia dan tidak mudah disembuhkan, mulai dari Dokter Spesialis, Dokter TCM hingga berbagai terapi sudah saya coba, tapi tetap saja sinusitis saya mengundang pertanyaan orang-orang yang berada di sekeliling saya. Belum sempat saya menjawab, supir taxi itu kembali bertanya, “sudah berapa lama pakai kacamata?”. Saya tersenyum dan menjawab, “memangnya kenapa pak?”. Langsung saja supir taxi itu memvonis, “itu karena Bapak kebanyakan makan mie, telor dan ayam negeri.” Hmm.. untung saja kepalanya plontos, kalau tidak sudah saya cukur habis-habisan rambutnya dari kursi belakang.

“Tolong antar saya ke BNI Senayan pak,” pinta saya kepada supir taxi itu. Jempol saya mulai iseng diatas screen hp, geser sana geser sini mencari artikel menarik di berbagai situs berita, dan supir taxi itu ternyata masih melanjutkan pidatonya mengkritisi saya yang seharusnya tidak perlu menggunakan kaca mata, “Orang jaman dulu belajar pakai lampu minyak pak, apinya kecil sekali, kalo belajar matanya sampai kepedesan karena dipaksa membaca ditempat yang kurang terang, tetapi mata mereka tetap sehat dan tidak pakai kacamata,” jelasnya. Senyum saya mulai kecut dan mencoba menahan diri untuk tidak melempar hp yang saya pegang ke kepalanya yang plontos itu.

Saya berusaha menenangkan diri dengan membuka akun facebook (Fb), biasanya dari sekian banyak status, ada saja yang statusnya inspiratif, dan saya sudah berniat akan mencaci maki supir taxi ini lewat status Fb. Namun tiba-tiba saja niat saya terhenti ketika mendengar supir taxi ini bercerita tentang sejarah masuknya ayam negeri di Indonesia pada tahun 1971, dan sejak itu banyak orang Indonesia yang mulai menunjukkan kebodohannya. Saya mulai menyimak apa yang dibicarakan supir taxi ini, selain banyak keterkaitan antara ayam negeri dengan salah satu produk yang dihasilkan oleh perusahaan tempat saya bekerja, mengetahui sejarah ayam negeri juga dapat menjadi pelajaran dan wawasan baru buat saya, bahkan kalau kita bersungguh-sungguh memperhatikan dan menulusuri  sejarah masa lampau itu akan banyak hikmah yang terkandung di dalamnya (Al Mu’minun: 82).

Mulailah taxi yang saya tumpangi dipenuhi oleh cerita-cerita tentang bagaimana ayam kampung dan ayam negeri mempengaruhi kehidupan masyarakat Indonesia. Ayam kampung sebagai representatif kehidupan orang Indonesia jaman dahulu, sedangkan Ayam Negeri sebagai representatif kebanyakan masyarakat Indonesia masa kini. Misalnya ketika supir taxi itu mengumpamakan ayam kampung dimana kalau dikagetkan dia hanya terkejut saja sedangkan ayam negeri kalau mendengar suara yang mengagetkan langsung mati. Begitu juga dengan orang jaman dulu yang lebih sehat dibandingkan orang Indonesia sekarang yang sering jantungan. Kekuatan fisik orang jaman dulu juga bisa dilihat dari waktu kerja mereka ke sawah yang dimulai dari pagi buta, sering kena panas dan hujan, bahkan tidur hanya dilantai beralaskan tikar dan berselimut sarung, tetapi mereka tidak pernah ada masalah dengan tubuhnya. “Coba kalau orang jaman sekarang, kehujanan sedikit bisa flu, tidur dilantai bisa masuk angin, bahkan jatuh di kamar mandi saja bisa langsung kena stroke..., itu karena mereka semua mengkonsumsi ayam negeri. Kalau ayam kampung memang biasa berkeliaran dimana-mana, tidurpun bertengger di pohon sampai pagi.” jelasnya kepada saya. Cerita tentang ayam kampung dan ayam negeri itu terus keluar dari mulut supir taxi itu, andai saat itu ada obat bius di dekat saya, pasti supir taxi itu sudah saya suntik.

Akhirnya kampanye tentang bahaya mengkonsumsi ayam negeri itu berhenti karena saya sudah sampai ke tempat tujuan, sambil menerima selembar dua puluh ribuan dari saya, supir taxi itu mengatakan bahwa dia sudah banyak menyampaikan pesan ini kepada setiap penumpang yang naik kedalam taxinya. Bahkan banyak penumpang yang menyatakan setuju dengan pendapatnya itu. Dia berkeinginan menyampaikannya kepada seluruh masyarakat Indonesia agar tidak mengkonsumsi ayam negeri. Saya pun mengucapkan terima kasih kepada supir taxi itu karena baru kali ini naik taxi serasa ada ayam di sekeliling saya.

Berbeda dengan antrian ke teller di BCA SCBD yang mengharuskan kita berdiri, mengantri di BNI Senayan lebih manusiawi karena kita bisa duduk sambil menunggu nomor antrian kita dipanggil. Kepala saya belum sepenuhnya bisa melupakan pengalaman di dalam taxi tadi, ayam negeri memang salah satu hasil rekayasa gen yang andal, pengetahuan manajemen yang luar biasa dan tentu saja kemajuan ilmu bermutu tinggi yang dibuat manusia di era industrialisasi modern. Usia pemeliharaan yang jauh lebih pendek dari ayam kampung, tahapan pembesaran yang sangat cepat dan memiliki daya produktifitas daging lebih tinggi, membuat ayam negeri populer di Indonesia. Namun demikian perkembangan sepesat itu belum mampu membuat manusia mengungkapkan semua rahasia yang terdapat dalam diri ayam. Pengetahuan manusia pada binatang ciptaan Allah, SWT itu tetap saja tidak akan lebih dari sebutir debu di padang pasir yang luas. (An Nahl : 8).

Tanda-tanda keterbatasan ilmu pengetahuan manusia adalah mengenai rahasia dibalik pertumbuhan ayam negeri yang luar biasa itu. Logikanya, ayam negeri yang selalu hidup di kandang yang bagus dengan berbagai fasilitas dan kebersihan yang membuat ayam negeri itu nyaman, ditambah dengan makanan khusus yang penuh gizi dengan jadwal yang teratur akan membuat ayam negeri memiliki kelebihan dalam segala hal dibandingkan ayam kampung. Tapi kenyataannya ayam negeri justru menjadi sangatlah sensitif, sedikit saja keadaannya menyimpang dari yang seharusnya, ayam negeri itu langsung sakit, yang lainnya pun ikut sakit dan akhirnya semua ikut mati. Meski bergelimang berbagai kenyamanan, ayam negeri itu sesungguhnya sudah kehilangan identitas diri sebagai makhluk hidup, ayam negeri telah dirubah oleh manusia menjadi mesin penghasil daging dan telur dalam jumlah besar dan waktu yang singkat untuk memenuhi kebutuhan manusia.

Kehilangan identitas diri juga banyak dialami generasi muda saat ini, dalam belajar, bekerja dan meniti karir, kebanyakan generasi muda menghendaki kehidupan yang nyaman seperti ayam negeri. Selesai sekolah, rata-rata membayangkan dirinya diterima bekerja di sebuah perusahaan yang besar, menerima gaji besar, mendapatkan sejumlah jaminan dan fasilitas, mampu membeli rumah dan mobil sendiri, serta berkantor di salah satu gedung megah dan mewah. Mendambakan hidup enak, semua kebutuhan terpenuhi, jauh dari beratnya perjuangan hidup, jauh dari gemblengan dan tantangan alam, tidak tahu bagaimana beratnya banting tulang dan bercucur keringat. Sama seperti ayam negeri yang menerima kenyamanan dan berbagai fasilitas dari majikannya.

Disadari atau tidak pada saat yang sama sebenarnya kita telah kehilangan kebebasan diri sebagai hak azasi manusia yang paling hakiki, kehilangan semangat dan daya juang. Status diri kita telah dirubah menjadi mesin yang sangat produktif demi kepentingan majikannya, sama seperti ayam negeri. Meski tidak ada yang salah untuk memperoleh kesejahteraan, kesenangan dan kemewahan bagi diri sendiri dan keluarga, namun falsafah ayam negeri membuat kita menjadi generasi yang ringkih, getas, sensitif dan mudah patah semangat. Generasi ayam negeri merubah kita menjadi figur yang selfish dan egois, selalu mementingkan diri sendiri. Tidak ada lagi rasa prihatin dan empati kepada sesama. Apalagi keinginan berkorban untuk orang lain.

Ayam kampung yang berbeda dalam banyak hal, hidup bebas di alam lepas, pergi kesana kemari mencari makan, bermain, dan bercengkerama, tidur seadanya dan dimana saja. Ayam kampung mencari makan sendiri, berjuang menyibak semak-semak, mengorek sampah, merambah selokan, berpanas-panasan dan berhujan-hujanan, memakan apa saja yang bisa dimakannya, tidak peduli kotoran demi menyambung hidup yang keras dari hari ke hari. Meskipun demikian ayam kampung mempunyai daya tahan yang kuat dan umur yang lebih panjang. Kehidupan ayam negeri adalah salah satu tanda-tanda di sekitar kita yang diberikan Allah SWT untuk meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah, SWT. (Az Zariyat : 51).

Fragmentasi identitas adalah saat dimana kita sudah menjadi tidak utuh lagi sebagai diri kita sendiri atau sebagian dari kita sudah dibawah dominasi orang lain. Salah satu penyebab terjadinya fragmentasi identitas adalah dimana kita menekan keinginan kita sendiri dan bertindak sesuai keinginan orang lain, membiarkan orang lain masuk dan menguasai pikiran kita sendiri, misalnya ada orang lain yang mengatakan kita tidak punya hak berpendapat, mengatakan kita tidak seharusnya ada disana, kita bukan bagian dari sesuatu, atau mengatakan kita buruk, dan lain-lain. Pengertian Fragmentasi identitas membuat saya semakin yakin bahwa orang-orang  yang tidak menghargai pendapat orang lain, cenderung meremehkan dan memaksakan kehendak sendiri, apalagi sampai berani-beraninya meminta kita menanggalkan baju identitas kita, adalah orang-orang yang bermental ayam negeri. ***

(dari berbagai sumber)

Tanah Surga… Katanya

22.15

Hari ini saya tertarik membaca tautan berita di status FBnya Muhammad Arif Kirdiat mengenai perusahaan kosmetik ‘Lush’ yang akan memasang bendera Bintang Kejora di setiap jendela tokonya di Australia dan Selandia Baru, membagi-bagikan pamflet kepada pengunjung dan menjual sebuah parfum edisi terbatas, yang dananya akan disumbangkan untuk gerakan kemerdekaan Papua. Pemerintah Indonesia terkejut dan mempertanyakan motif di balik dukungan mereka terhadap gerakan kemerdekaan Papua. Bahkan seorang pejabat KBRI di Canberra menyatakan apakah perusahaan tersebut mengetahui tentang situasi sebenarnya di lapangan Papua.

Oleh : Irvan Hq

Saya jadi senyum sendiri melihat reaksi pejabat kita yang kebakaran jenggot, padahal menurut saya ada baiknya kita juga melakukan intropeksi diri ke dalam untuk mengetahui ada masalah apa sesungguhnya sehingga masih saja terjadi gerakan kemerdekaan di Papua. Jangan-jangan malah pejabat kitanya yang tidak mengetahui situasi sesungguhnya di sana. Mungkin karena letaknya yang jauh dijangkau sehingga para pejabat kita malas kesana atau karena merasa sudah jadi pejabat, setiap kali berkunjung ke Papua mereka maunya dijamu dan diberi laporan yang baik-baik saja. Saya jadi ingat film Di Timur Matahari karya Ari Sihasale pada bulan Juni lalu yang menggambakan minimnya fasilitas pendidikan di pulau paling timur Indonesia itu, ada sebuah dialog ketika istrinya Michael (putra daerah asli Papua yang bekerja di Jakarta) bernama Vina yang berkunjung ke Papua terkejut mengetahui harga sembako yang sangat mahal, sampai ia bergumam sendiri, pantas saja Papua minta merdeka.

Lebih miris lagi setelah 67 tahun merdeka, masih ada sekitar 183 daerah tertinggal di Indonesia, tujuh puluh persennya ada di kawasan timur Negara kita tercinta ini. Belum lama potret itu tergambar kembali dalam sebuah film karya Herwin Novianto yang diproduseri Deddy Mizwar bersama Gatot Brajamusti berjudul ‘Tanah Surga Katanya’yang menceritakan kehidupan sebuah desa terpencil di Kalimantan Barat yang berbatasan dengan Malaysia. Meski bersebelahan, pembangunan dan pertumbuhan ekonomi desa milik Indonesia jauh tertinggal dari desa tetangganya, jalan beraspal milik Malaysia berujung tepat di perbatasan Indonesia yang jalannya masih murni dari tanah.

Sedemikian parahnya ketertinggalan dan keterbelakangan Desa ini membuat anak-anak kecil di sana sekolah dalam satu ruangan berdinding kayu, sebelahnya kelas tiga, sebelahnya lagi kelas empat, tidak ada kelas yang lain, guru yang mengajarnya juga cuma satu, itupun setelah satu tahun vakum. Mata uang yang mereka kenal dan mereka pergunakan sehari-hari bukan rupiah tetapi ringgit. Dan saya langsung tercekat menyaksikan anak-anak itu malah menyanyikan lagunya Koes Plus berjudul Kolam Susu ketika seorang dokter yang baru saja datang ke desa ini meminta anak-anak itu menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia.

Salman adalah anak kelas 4 SD yang sering melintasi daerah perbatasan untuk berjualan demi mengumpulkan uang untuk mengobati kakeknya yang sakit. Untuk mencapai Rumah Sakit saja Salman harus membayar sewa perahu sebesar 400 ringgit. Kakek Salman adalah mantan pejuang kemerdekaan yang pernah terlibat dalam konfrontasi dengan Malaysia pada tahun 1960-an, bagaimana ia menghadapi pasukan sewaan bernama gurkha dan berjuang mati-matian demi kehormatan bangsa Indonesia, ia masih saja menggenggam nilai-nilai nasionalisme itu sehingga menolak ajakan anaknya untuk pindah ke Malaysia, disana ayahnya Salman sudah menikah lagi dengan perempuan Malaysia dan memiliki Kedai sebagai sumber penghidupan yang jauh lebih baik. Sedangkan Salman memilih tinggal dan membiarkan ayah dan adiknya pergi karena tidak tega meninggalkan Kakeknya tinggal sendirian.

Selain soal Kakeknya, ada tiga adegan yang membuat saya terkesan pada sosok Salman ini, yang pertama bagaimana ia memprotes seorang pedagang Malaysia yang menggunakan bendera Indonesia sebagai alas dagangannya, kemudian ia berusaha mengumpulkan uang untuk membeli dua buah sarung, yang satu untuk mengganti sarung Kakeknya yang sudah sobek dan yang kedua sarung baru itu ia tawarkan kepada pedagang Malaysia itu untuk menukarnya dengan bendera merah putih yang digunakan sebagai alas dagangannya. Yang kedua bagaimana seorang Salman membuat wajah sang pejabat yang sedang berkunjung ke desanya menjadi tersinggung dan membatalkan semua rencana bantuan yang sudah dicatat asistennya ketika membaca puisi karyanya sendiri. “Bukan lautan hanya kolam susu…, katanya. Tapi kata Kakekku hanya orang kaya yang minum susu. // Tiada badai tiada topan yang kau temui, Kain dan jala cukup menghidupimu, Tapi kata kakekku ikannya diambil negara asing. // Ikan dan udang menghampirimu…, katanya. Tapi kata kakekku sshh… ada udang dibalik batu. // Orang bilang tanah kita tanah surga…, katanya. Tapi kata dokter intel yang punya surga hanyalah pejabat-pejabat… “

Dan yang ketiga adalah adegan dramatis dimana Salman sedang berjuang membawa kakeknya yang kritis menembus perjalanan yang sulit dengan perahu menuju rumah sakit, sementara Ayah Salman sedang asyik nonton bareng mendukung kesebelasan Malaysia melawan kesebalasan Indonesia. Akhirnya ditengah perjalanan sang Kakek meninggal tepat disaat puluhan warga Malaysia yang memenuhi kedai milik Ayah Salman bersorak-sorai merayakan keberhasilan timnya menekuk kesebelasan Indonesia. Ironis memang, entahlah… yang jelas ada yang salah dengan bangsa ini, alih-alih melestarikan kebudayaan bangsa Indonesia, malah budaya keterbelakangannya yang dilestarikan. Memang untuk mensejahterakan masyarakat Indonesia yang sangat luas ini tidak semudah membalikkan telapak tangan, tapi sampai kapan itu terjadi? Sampai daerah-daerah tersebut menuntut kemerdekaan?

Akhirul kata, untuk para Pemimpin Negeri ini dan untuk para Pejabat Pemerintahan  baik di pusat maupun yang di daerah-daerah. Kalau mau kunjungan jangan maunya dijamu saja, disambut, dipuja-puja, dan kalau menerima laporan jangan katanya-katanya saja. Kata anggota dewan siapa bilang Jakarta itu panas? Pantas saja dia bicara begitu, karena mulai dari rumah tinggal ber-AC, masuk mobil ber-AC, masuk kantor di gedung ber-AC, dan meeting di hotel-hotel mewah pun ber-AC, tentu saja buat mereka  Jakarta sejuk dan nyaman. Persoalannya bagaimana dengan masyarakat diluar sana yang hidup tanpa AC bahkan dibawah terik matahari.

Kata Gurbernur Banten siapa bilang ia tidak pernah membantu pembangunan masjid, pesantren dan masyarakat miskin? Pantas saja dia bicara begitu, karena hampir setiap hari beliau menanda tangani persetujuan proposal pembangunan masjid, pesantren dan bantuan sosial untuk masyarakat miskin di Banten. Persoalannya apa semua bantuan itu sampai kepada yang berhak? Siapa bilang jalan-jalan di Banten rusak dan listriknya sering padam? Pantas saja dia bicara begitu, karena jalan yang dilaluinya selalu jalan yang bagus, yang lancar dan kalau kunjungan ke daerah, semua jalan yang akan dilalui mendadak diperbaiki dan kanan kirinya dirapihkan. Apalagi rumah dinasnya, mungkin tidak pernah mati listrik.  Jadi Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu para pejabat negeri ini kalau menerima laporan jangan kata-katanya saja… dicheck dulu kebenarannya dan dikuasai permasalahannya sampai detail… baru ambil keputusan, itulah pemimpin yang baik… katanya. ***

(dari berbagai sumber)

- dimuat di Koran Kabar Banten, tgl 28 Oktober 2012.

Forum OSIS Provinsi Banten Gelar Sidang Paripurna

18.02

Archi (Ketua divisi Komunikasi
dan Media Relation Banten Muda
Community), membawakan materi
di depan peserta sidang FOB II.
Setelah terbentuk kepengurusan Forum OSIS Provinsi Banten (FOB) Angkatan II pada bulan Juli yang lalu, FOB bekerjasama dengan Banten Muda Community langsung menggelar Sidang Paripurna di Gedung Serba Guna SMAN 2 Kota Serang pada hari Minggu, 4 Agustus 2012.

Menurut Ketua Panitia, Adititiya Fajar, kegiatan yang diikuti oleh lebih dari 100 orang peserta ini akan merumuskan AD/ART, Program Kerja, Visi, dan Misi, Lambang FOB, Almamater dan lain-lain. “Saat ini ada 5 wilayah yang telah terbentuk struktur kepengurusan wilayahnya yaitu Kota Serang, Kabupaten Lebak, Kebupaten Pandeglang, Kabupaten Serang dan Kabupaten Tangerang. Sedangkan 3 wilayah yang masih dalam tahap perkembangan pembentukan struktur kepengurusan adalah Wilayah Kota Tangerang Selatan, Kota Cilegon dan Kota Tangerang,” paparnya. Pada acara tersebut selama dua hari peserta juga dibekali materi berupa siraman rohani, kepemimpinan dan keorganisasian.

Para peserta yang berasal dari berbagai
wilayah serius mengikuti setiap acara.
Sementara itu Ketua Umum Banten Muda Community, Irvan Hq yang memberikan materi berjudul intensitas, tujuan dan ketekunan, mendukung sepenuhnya kegiatan Sidang Paripurna ini. “Setelah sukses bekerjasama dengan Forum OSIS Kab. Pandeglang dalam kegiatan MAPIT (Masa Peningkatan Iman dan Takwa) dan BAKSOS (Bakti Sosial) Pelajar SMA sederajat se-Kabupaten Pandeglang, kami juga mencoba mendorong pelaksanaan Sidang Paripurna FOB Angkatan ke II ini agar berjalan tertib dan lancar. Kegiatan positif itu harus dibiasakan sejak dini agar saat dewasa sudah terbiasa berorganisasi, menghadapi berbagai karakter orang dan tidak terasa berat menjalaninya,” ujar Irvan.

Sidang Paripurna FOB II mengambil tema "Membentuk Generasi Muda Menjadi Calon Pemimpin Masa Depan. " ***

FOKP GELAR MAPIT & BAKSOS PELAJAR SMA SE-KABUPATEN PANDEGLANG

13.56


 

Untuk menumbuhkan rasa kepedulian sosial dan untuk meningkatkan iman dan taqwa di kalangan pelajar SMA se Kabupaten Pandeglang, Forum OSIS Kabupaten Pandeglang (FOKP) bekerjasama dengan Banten Muda Community menggelar kegiatan Masa Peningkatan Iman dan Taqwa (MAPIT) dan Bakti Sosial (BAKSOS) Pelajar SMA sederajat se-Kabupaten Pandeglang, Sabtu dan Minggu (4-5/8). Berbeda dengan yang lain, kegiatan ini dilaksanakan dengan melibatkan Anak Yatim Piatu, Santri dan Masyarakat Kampung Cidangiang, Pandeglang.
Acara yang bertema, “Tebarkan Amalan Tebarkan Senyuman di Bulan Suci Ramadhan,” ini menurut Ketua Umum FOKP, Sastra Adytia, bertempat di Kampus MA MII Al-Hikmah Cidangiang Pandeglang dan diikuti sekira 100 orang dari berbagai SMA, MA dan yang sederajat di Kabupaten Pandeglang. “Tujuannya selain untuk bersilaturahmi  juga melatih jiwa kepemimpinan dan rasa saling berbagi.” ungkap Adytia.
Dikatakan Adytia, kegiatan ini sudah menjadi program kerja FKOP yang kebetulan jatuh pada bulan ramadhan. “Jadi sekali dayung tiga acara terlampaui, yaitu Latihan Kepemimpinan, acara buka puasa bersama dan Bakti Sosial,” papar Aditya.
Pada acara tersebut, selama dua hari para peserta dibekali materi berupa siraman rohani, kepemimpinan dan keorganisasian. Kemudian di hari terakhir para peserta berbaur dengan anak Yatim Piatu, Santri dan Masyarakat Kampung Cidangiang mengikuti berbagai perlombaan dan Bakti Sosial. Keceriaan tampak diantara mereka ketika peserta MAPIT & BAKSOS ini membagikan bingkisan berupa Alat tulis Menulis dan Sembako.
Sementara itu Ketua Umum Banten Muda Community, Irvan Hq, mengaku mendukung sepenuhnya kegiatan yang diselenggarakan Forum OSIS Kab. Pandeglang ini. “Kami dari Banten Muda Community mendukung sepenuhnya kegiatan tersebut, selain memang sebagian peserta disana juga adalah anggota kami, memang kegiatan positif harus dibiasakan sejak dini agar saat dewasa nanti sudah terbiasa melakukan kebaikan-kebaikan dan tidak terasa berat menjalaninya,” ujar Irvan.
Irvan mengatakan, moment puasa ini bisa dimanfaatkan oleh siapa saja untuk melatih diri dan meningkatkan kepedulian kepada sesama khususnya kepada mereka yang kurang mampu. Tetapi yang paling penting adalah bagaimana setelan bulan ramadhan berlalu, semua pembelajaran-pembelajaran yang di dapat dapat diterapkan dalam kehidupan nyata di masyarakat. ***

Facebookers Banten sebarkan takjil kepada warga Ciloang

13.47
Foto : LLJ


Komunitas pengguna jejaring sosial Facebook di Banten yang tergabung dalam Facebokers Banten bekerjasama dengan beberapa komunitas seperti relawan FBn, Banten Muda Community, LBH Lebah Banten, KEPATIL (Komunitas pencinta reptil), LSM Rekonvasi Bhumi, LBH Lebah Banten, Komunitas Hijab Banten, Komunitas Jaseng dan beberapa partisipan lainnya membagi-bagikan takjil (makanan untuk buka puasa) secara gratis kepada warga di kawasan Desa Ciloang, Kecamatan Cipocok, Kota Serang, Sabtu (4/8).

Salah seorang warga bernama Samsudin merasa sangat senang denganadanya kegiatan ini, warga menyambut meriah pembagian takjil sebagai bentuk peduli terhada sesama. Menurut salah satu penyelenggara tidak kurang dari 400 takjil dibagikan pada acara tersebut.

Acara ini merupakan acara rutin dari Facebookers Banten dan akan dilanjutkan dengan pemberian santunan kepada anak yatim dan dhuafa pada tanggal 7 Agustus 2012 di sebuah rumah makan di kawasan Bhayangkara, Serang. (eys)

ORASI WARNAI BUKA PUASA BERSAMA BANTEN MUDA COMMUNITY

10.06

Banten Muda Community (BieM-C) menggelar buka puasa bersama dengan sejumlah tokoh muda Banten dan anak yatim piatu di Rumah Makan S-Rizki Serang, Minggu (29/7). Berbeda dengan yang lain, acara yang diikuti sekira 150 orang itu dimeriahkan oleh penampilan  musikalisasi puisi dari Grup Rockmini dan orasi di bidang Hukum, Pendidikan, Lingkungan Hidup, Agama dan Kewirausahaan.
Acara yang bertema, “Dengan Berpuasa Mari Kita Tingkatkan Semangat Berbagi Sebagai Bentuk Rasa Syukur Kepada Allah SWT,” ini menurut Ketua BieM-C, Irvan Hq, bertujuan untuk menjalin silaturahmi diantara anggota BieM-C dan beberapa tokoh muda seperti Ketua Team Pembela Muslim Banten (TPM), Agus Setiawan, Ketua LSM Rekonvasi Bumi, NP Rahardian, Sekjen Forum Silaturahmi Pondok Pesantren (FSPP) Provinsi Banten, Fatah Sulaeman, Akademisi Ali Faisal, Praktisi Entrepreuner Boyke Pribadi dan Budayawan Ibnu PS Megananda.
Dikatakan Irvan Hq, moment puasa ini dimanfaatkan BieM-C untuk melatih diri dan meningkatkan kepedulian kepada sesama khususnya kepada mereka yang kurang mampu. Secara simbolis anak-anak dari Griya Yatim Dhuafa yang belokasi di Ciceri Bunderan, Serang ikut menikmati acara buka puasa bersama dan menerima bingkisan dari BieM-C berupa uang saku dan tas berikut peralatan Sekolah.
Dalam orasinya di bidang hukum, Agus Setiawan mengatakan saat ini dunia peradilan masih diwarnai oleh kentalnya praktik suap menyuap, sambil berkelakar ia mengatakan bahwa penghasilan para penegak hukum selama bulan puasa turun drastis karena tidak ada uang suap, mereka hanya mengandalkan amplop di buka bersama dan tunjangan hari raya (THR). Secara umum hukum merupakan sistem berupa himpunan peraturan yang dibuat oleh yang berwenang dengan tujuan untuk mengatur tata kehidupan bermasyarakat, ia juga bisa berupa perintah maupun larangan, bahkan ia bisa memaksa dengan menjatuhkan sanksi hukum bagi yang melanggar.
Sementara itu dari bidang Pendidikan, Ali Faisal menyoroti tentang kemerosotan pendidikan di Indonesia, “pada tahun 1970 Malaysia banyak mendatangkan tenaga dan dosen dari Indonesia sekaligus mengirimkan ribuan mahasiswa dan guru untuk belajar ke Indonesia atas biaya pemerintah mereka. Namun setelah dua dekade fakta mencatat Malaysia menempatkan empat universitas terbaiknya di atas universitas yang ada di Indonesia, kualitas penelitian, kesiapan kerja lulusan, pandangan internasional dan kualitas pengajaran membuat masyarakat Indonesia berbalik berbondong-bondong belajar ke Universitas Malaya, Universitas Kebangsaan Malaysia, dll.” ungkapnya.  Dikatakan Ali Faisal kondisi lebih parah banyak ditemukan pada kualitas Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang kurang perhatian dalam pengelolaan data EPSBED (Evaluasi Program Studi Berbasi Evaluasi Diri) dimana data diinput tidak sesuai fakta hanya untuk memenuhi persyaratan akreditasi perguruan tinggi saja. Ia mengharapkan bulan ramadhan lebih dimaknai sebagai madrasah itu sendiri sehingga ke depannya lahir ulama-ulama diberbagai bidang seperti Pengacara yang Ulama, Akademisi yang ulama, dsb.
NP Rahardian yang mendapat kesempatan ketiga dalam orasinya mengkritisi kebijakan Bupati Kabupaten Serang, Taufik Nuriman dalam memberikan izin operasi penambangan pasir di beberapa wilayah Kabupaten Serang. Dikatakannya bahwa bicara lingkungan hidup adalah bicara orang banyak, bicara interconnecting dan bicara keseimbangan hidup. “Jangan Pemerintah daerahnya dapet duit, pengusahanya dapet duit, tapi penghidupan masyarakatnya terganggu.” Allah menciptakan segala yang ada di alam semesta ini berpasang-pasangan, saling melengkapi, sekalibekerjasama, saling berkerjasama, saling mengimbangi dan saling mempengaruhi satu sama lain untuk menjaga lingkungan  hidup disekitar kita.
Anggota BieM-C yang hadir pada hari itu berasal dari Serang, Pandeglang, Cilegon, Anyer, Tangerang, Rangkasbitung, dll mendapatkan tips menarik dari Boyke Pribadi, menurutnya untuk menjadi Entrepreuner yang baik paling tidak kita harus mempunyai 3 AN.(Gagasan, kepercayaan dan teman). Hadir pula memenuhi undangan acara buka bersama dari UKM Gesbica dan Komunitas Oorang Indonesia (OI).
Disamping itu Fatah Sulaeman menceritakan kisah FX Rusharyanto yang masuk islam karena seekor Ayam didalam mimpinya yang mengatakan bahwa fungsi tempurung lutut ayam yang terletak di belakang karena diperintahkan Tuhan untuk mengeram, berbeda dengan manusia yang tempurung lututnya didepan karena untuk rukuk dan sujud. “Itulah bentuk kesempurnaan penciptaan Allah SWT.” ujar Fatah Sulaeman. Sambil menutup acara dengan do’a. ***

Lazuardi Birru Gelar Launching dan Bedah Buku Tentang Terorisme

13.22



Cilegon – Didasari keprihatinan atas maraknya upaya-upaya terselubung dalam menyebarkan virus-virus radikalisme dan terorisme yang mulai merasuk dalam pemahaman keagamaan generasi muda bangsa, mendorong Lazuardi Birru (LB) sebagai Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang fokus pada isu radikalisme dan terorisme, kebhinnekaan, dan Islam cinta damai menerbitkan dua buku saku berjudul: “Islam Rahmatan Lil Alamin” dan “Terorisme; Aku Tahu, Aku Hindari”.

Bertempat di Aula Setda Kota Cilegon, acara yang digelar pada sabtu(4/8) kemarin menghadirkan para pembicara lokal, diantaranya K.H Muktillah, S.Ag M.M (Tokoh Agama Kota Cilegon), Ayatullah Marsa’i S.Hum (Penulis dan Aktivis Muda Kota Cilegon) dan Riri Khariroh M.A (Peneliti Lazuardi Birru).

Dalam kesempatan tersebut, Riri menjelaskan bahwa tindakan radikalisme dan terorisme tak hanya menjadi ancaman serius bagi kemanusiaan dan kehidupan berbangsa, namun juga Islam sebagai agama. Mengingat citra Islam sebagai agama rahmatan lil alamin tercoreng dengan aksi-aksi kekerasan atas nama agama. Lebih lanjut peraih gelar master dari Universitas Ohio Amerika Serikat itu menerangkan, 2 buku saku yang diterbitkan Lazuardi Birru berupaya menjelaskan kepada masyarakat, khususnya generasi muda, perihal visi kerahmatan universal Islam.

“Buku ini berbeda dengan “buku serius” pada umumnya, lantaran banyak menampilkan grafis yang membuat pembaca menjadi lebih mudah dalam memahami isinya. Kendati demikian, pengemasan tersebut tak mengurangi kedalaman substansi kedua buku tersebut. Segmentasi pembaca buku ini memang generasi remaja yang masih duduk di bangku SMP dan SMA.  Sehingga tampilan visualnya dibuat menarik dan bahasanya dikemas ringan dan enak dibaca,” ujar Riri.

Sementara itu, KH. Muktillah menegaskan bahwa banyak orang-orang islam yang salah kaprah memaknai kata jihad. Baginya, jihad peperangan adalah ketika umat islam ditantang terlebih dahulu. “Bukan umat islam yang memulai” tandasnya. Dia melihat peristiwa bom bunuh diri atas nama agama beberapa waktu lalu, menempatkan umat islam sebagai pemicu kerusuhan dan kekacauan.

Untuk di Cilegon sendiri, launching dan dua buku itu menggandeng Keluarga Mahasiswa Cilegon. Kegiatan itu merupakan rangkaian roadshow Lazuardi Birru dalam mengkampanye kan anti kekerasan. Sebelumnya, buku tersebut juga sudah di sosialisasikan di 3 kota, Malan, Cirebon dan Solo. Selain dibedah dan diluncurkan di 4 kota, 2 buku saku tersebut juga didistribusikan secara luas ke berbagai pesantren, sekolah-sekolah, dan masyarakat umum. [BieM]