Trend Mobil Toko (MOKO) di Serang

12.53


Berdagang di mobil memang bukan hal baru. Namun, bukan berarti tak layak dicoba. Tak perlu gengsi memakai mobil sendiri karena terbukti lebih praktis dan untungnya juga tak sedikit.Di zaman serba susah ini, kita harus pintar mencari celah untuk bertahan hidup.


Sejalan dengan apa yang dikatakan orang bijak, "Banyak jalan menuju Roma", begitu pula dengan ragam peluang mereguk rezeki. Salah satunya adalah dengan berdagang. Kalau modal masih belum mencukupi untuk menyewa rumah toko (ruko) atau membuat kios (dari warung hingga kaki lima), mobil pribadi pun bisa dikaryakan.

Fenomena itu pun sampai di kota Serang, seperti halnya tampak di area alun-alun kota Serang, di sepanjang jalan diramaikan oleh moko yang menjual beragam produk, mulai dari penganan ringan sampai kaos dan sandal. Riuh ramai transaksi antara pedagang dan pembeli di mobil toko (moko), tak kalah serunya jika dibandingkan dengan yang terjadi di lapak-lapak lainnya.

Kalau ditelisik lebih jauh, orientasi pengguna Moko ini disebabkan karena mobilitas yang tinggi dan omzet yang besar dan untung optimal. Serta menyiasati mahalnya biaya sewa ruko ataupun lapak. Setidaknya jikalau mereka berjualan memakai Moko, mereka cukup bayar uang retribusi parkir.

Seperti diakui oleh Sofi, general reseller keripik Maicih yang sudah membuka mokonya di alun-alun sekitar 2 tahun lalu. Dia mengaku bahwa omzet perharinya rata-rata sekitar 1-1.5 juta.  Dipilihnya alun-alun  dengan pertimbangan disana adalah tempat beraktifitas banyak orang. Lain lagi dengan Andri, penjual sandal/sepatu Crocs yang memilih media usaha tersebut lebih karena ketiadaan modal untuk biaya sewa tempat.

Saat ini, jumlah pelaku Moko di alun-alun khususnya sudah mencapai sekitar 20 pengusaha, seperti Brownies Kukus, Crocs, Karuhun, bento Burger, Tutut Pak harto, Keripik Maicih. Bagi mereka, hari pasar adalah di akhir pekan. Biasanya omzet mereka meningkat sampai 2-3 jt perhari.

Ditemui di lokasi yang sama, Kasie Tata Pemerintahan Kota Baru, Fery Hendrayana, ST, M.Si menilai bahwa usaha-usaha yang dilakukan di atas Moko tersebut memiliki nilai positif bagi pelaku ataupun masyarakat. “Dengan adanya Moko, masyarakat diberikan pilihan wisata belanja. Tidak terbatas di mall atau pasar tradisional.” Ungkapnya. Diperbolehkannya para pengusaha Moko ini oleh pihak Kota Serang disertai dengan syarat agar para pelaku tidak merusak keindahan tata kota dan mengganggu kenyamanan masyarakat.
“kami mencoba memfungsikan alun-alun sebagai mana mestinya, yaitu tempat beraktifitas masyarakat, termasuk transaksi jual beli (usaha-red)” tambahnya. []

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »