PERSEPSI ENTREPRENEURSHIP

16.58

Masalah bangsa yang sangat klasik dan meresahkan saat ini, diantara masalah multidemnsional kebangsaan Indonesia, mulai dari hal yang remeh temeh, hingga masalah pelik, mulai  dari perasaan ibu-ibu yang beberapa hari ini cemas memikirkan biaya masuk SD bagi anak-anaknya, diantara sebagian ibu-ibu pejabat yang menimbang-nimbang hendak disekolahkan di sekolah terbaik yang manakah anaknya, meski mahal tak jadi soal demi sebuah prestise diri,  pertaruhan nama baik bapak dan ibunya yang konon terhormat, hingga persoalan wabah korupsi yang setiap saat menemukan jati dirinya di Republik yang “Junub” ini, mengapa junub?..karena republik ini selalu membawa kotoran/hadas dalam perilaku sebagian  anak kandungnya, maka kelak boleh jadi kita harus melakukan gerakan thoharoh/bebersih dari segala hadas besar dan kecil dalam konotatif maknanya demi  tercapainya keimanan sosial.

Oleh : Ali Faisal
Pemilik Depot Isi Ulang Air Minum Merk Qualife

Sering sekali kita mendengar kata “pengangguran intelektual”, intelektual kok nganggur?..ya, Mereka bukannya memberi sumbangsih kepada pembangunan bangsa, tetapi justru menjadi beban pembangunan, hal ini paling tidak terlihat dari data Badan Pusat Statistik (BPS), pada Februari 2011, 8,12 juta (6,8 persen) angkatan kerja kita adalah pengangguran terbuka yang sama sekali tidak memiliki pekerjaan, dan sekitar 600 ribu (7,6 persen) orang diantaranya adalah mereka yang telah lulus universitas alias sarjana, jumlah ini dipastikan akan lebih banyak lagi jika defenisi pengangguran diperluas hingga mencakup mereka yang setengah menganggur, jumlah jam kerja kurang dari jam kerja n           ormal dan mereka yang bekerja pada lapangan pekerjaan yang tidak sesuai dengan kualifikasi pendidikan yang dimiliki atau lebih rendah dari kualifikasi kemampuan yang dimiliki  (disguised unemployment).
Kondisi ini tentu sebuah ironi yang seharusnya tidak terjadi, karena tingkat pendidikan yang lebih tinggi (sarjana) seharusnya bisa memberikan akses yang lebih baik pula untuk mendapatkan pekerjaan, tetapi memang faktanya adalah tidak imbangnya lapangan kerja dibandingkan dengan jumlah pencari kerja, Tentu ada banyak faktor yang menjadi penyebab kenapa jumlah sarjana yang menganggur masih cukup tinggi, Kualitas lulusan dari segi keilmuan mungkin salah satunya selain kesenjangan antara kualifikasi yang mereka miliki dengan kebutuhan pasar tenaga kerja.
BPS mencatat, pada Februari 2011, pangsa sektor pertanian terhadap penyerapan angkatan kerja mencapai 33 persen (42,47 juta orang). Padahal kita tahu, kualifikasi tenaga kerja yang dibutuhkan oleh sektor pertanian tidak perlu sarjana, dan kenyataannya, sarjana kita juga memang enggan bekerja di sektor ini, tingkat penyerapan angkatan kerja di sektor-sektor yang menjadi pasar buat angkatan kerja dengan pendidikan sarjana, seperti sektor jasa kemasyarakatan, keuangan, dan komunikasi masih relatif kecil, pihak perguruan tinggi juga harus diluruskan cara pandangnya dalam melihat hal demikian, bahwa indikator keberhasilan perguruan tinggi hendaknya tidak hanya diukur dengan sejauh mana menghasilkan sarjana tetapi lebih pada sejauhmana lulusannya terserap pada dunia kerja yang sesuai dengan keahliannya, dan sebagian besar dari lulusan tersebut telah memulai, menjalankan dan berhasil dalam bidang enteurprenership, maka jika telah demikian perguruan tinggi bukan semata-mata pencetak sarjana tetapi pencetak wirausaha yang mempunyai nilai mutiplayer effect bagi kemanfaatan banyak pihak, perguruan tinggi jangan berpikir sarjana an-sich, tetapi seharusnya mencari tahu struktur kebutuhan pasar tenaga kerja dan peluang pengembangan wirausaha sebagai acuan bagi pengembangan kurikulum di perguruan tinggi dengan prinsip vokasional, dengan demikian, sarjana-sarjana yang dihasilkan bisa terserap oleh pasar tenaga kerja yang ada juga menciptakan pasar bagi berbagai peluang usaha yang ada di masyarakat, selain itu, hubungan antara perguruan tinggi dengan dunia industri juga harus diperkuat, perguruan tinggi harus membuat yang namanya career development.
Bagaimana di Banten?
Dari data BPS Provinsi Banten, jumlah angka pengangguran di Provinsi Banten periode Februari 2012 menempati urutan tertinggi dibandingkan provinsi lain di Indonesia, yaitu mencapai 10,74 persen dari jumlah penduduk di Banten, pengangguran di Banten ini didominasi oleh warga pribumi, bukan warga pendatang, Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Nasional (BPSN) tentang tenaga kerja, pada Februari 2012, tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Banten di atas DKI Jakarta, yaitu mencapai 10,74 persen, sedangkan untuk TPT DKI Jakarta hanya mencapai 10,72 persen dari jumlah penduduk DKI Jakarta, Angka TPT dua daerah tersebut juga sangat jauh berbeda dengan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, yang memiliki angka TPT hanya 2,78 persen, Bali hanya 2,11 persen dan yang menempati urutan angka pengangguran terkecil yaitu Sulawesi Barat dengan pengangguran hanya 2,07 persen.
Sedangkan  jumlah angkatan kerja di Banten pada Februari 2012 mengalami penambahan sebanyak 233.963 orang, pada Februari 2011 lalu, angkatan kerja di Banten mencapai 5.164.681 orang, namun pada Februari 2012 menjadi 5.398.644 orang,  yang menempati semua sektor yang mengalami kenaikan jumlah pekerja, namun lapangan usaha yang paling banyak menyerap tenaga kerja terdapat di sektor perdagangan, yang menyerap 1.195.674 orang atau hampir dari seperempat penduduk yang bekerja (24,81 persen), data 2010 memperlihatkan bahwa pengangguran didominasi lulusan diploma/sarjana sebanyak 25,33 persen, lulusan pendidikan menengah atas 15,30 persen, lulusan pendidikan menengah pertama 13,71 persen, dan lulusan SD ke bawah 11,39 persen. Dengan kata lain, jumlah orang yang bekerja didominasi pekerja pada jenjang pendidikan SD ke bawah 1.741.745 orang atau 45,65 persen, sedangkan jumlah pekerja dengan pendidikan tinggi masih relatif kecil yaitu 282.970 orang atau 7,42 persen.
Jika melihat fakta yang demikian, sungguh sangat menghawatirkan rasanya, bilamana kita yang hari ini duduk di bangku kelas 3 SMA, mahasiswa tingkat ahir perguruan tinggi, para sarjana yang baru lulus, terlebih sarjana yang telah bertahun-tahun masih menganggur, apalagi yang hanya lulusan SD, SMP, SMA sederajat apalagi pula yang tidak luslus SD, gesekan semakin rapat dan daftar antrian pencari kerja  yang luar biasa panjang, sementara peluang kerja terbatas, andaikan kita mau jujur tentu saja ada yang salah dari persepsi kita baik persepsi diri dan persepsi masyarakat terhadap jenis pekerjaan yang di idealkan saat ini, semua kita berlomba mencari pekerjaan yang mayoritas pekerjaan formal, dan cenderung tidak ada motivasi untuk memulai mengeksploitasi cara-cara menggapai kesejahteraan di luar itu, contoh sederhana yang belakangan mewarnai media lokal di Banten misalnya, betapa was-wasnya para sarjana dan para calon sarjana dikarenakan pemerintah memberlakukan moratorium penerimaan CPNS yang belum dapat diketahui kapan akan di buka kembali, intinya mereka masih menganggap PNS yang terbaik, padahal tahukan anda berapa gaji PNS? Berdasarkan  PP No. 15 tahun 2012 disebutkan, gaji pokok terendah untuk PNS Golongan III a dengan masa kerja nol tahun adalah Rp2.046.100 (sebelumnya Rp1.902.300) dan tertinggi IIId dengan masa kerja 32 tahun adalah Rp3.742.300 (sebelumnya Rp3.332.000), Sedang untuk golongan IVa masa kerja nol tahun adalah Rp2.436.100 (sebelumnya Rp2,245 juta), sedang tertinggi untuk golongan IVe masa kerja 32 tahun adalah Rp4.608.700 (sebelumnya Rp4,1 juta) ditambah dengan penghasilan-penghasilan lain yang sah, persepsi masyarakat tentang enaknya kerja pada institusi birokrasi  terbangun karena  aksi para PNS yang mempertunjukkan gaya hidup pop, dan borjuis disamping waktu kerja yang longgar, tetapi marilah kita berpikir keluar dari kotak masyarakat kebanyakan, marilah kita berpikir tentang potensi dan masa depan kesejahteraan diluar profesi PNS dan bekerja pada sektor formal dengan prasyarat yang mudah, yakni memulai berwirausaha, pernahkah anda membaca memakan keripik olahan bermerk ma icih? Ya, Reza Nurhilman nama pemiliknya, dengan keterbatasan dana ia membangun usaha, pemuda 23 tahun ini meraih sukses tak terkira berkat dunia maya dengan  memanfaatkan situs jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter sebagai media pemasaran, dan hanya  setahun setelah meluncurkan usahanya di Twitter, Berangkat dengan modal sekitar Rp15 juta, ia membuat permainan yang memancing penasaran Facebookers dan Tweeps. Ia merancang lokasi penjualan berpindah-pindah setiap hari, yang hanya dapat diketahui dengan melihat status Facebook (#maicih) atau Tweet Maicih (@infomaicih) yang saat ini ia mampu mengantongi omzet penjualan Rp4 miliar per bulan.
Pernahkah anda mengunjungi kedai nasi kucing atau biasa di sebut angkringan, awalnya saya sendiri tidak pernah tau apa itu angkringan apalagi mendengar sebutan nasi kucing, agak geli mendengarnya saya pikir nasi yang berlauk kucing, atau makan ditemenin dengan  kucing, sehingga diperkenalkan oleh seorang sahabat bernama  Anton bersama Reza dan Yagi yang lulusan universitas di Jogja, ternyata sekali mencoba saya langsung jatuh cinta, dengan menu nasi kecil plus teri sambel atau plus pindang tongkol sambel yang bungkusnya sama hanya dibedakan oleh sobekan kertas sebagai pembeda, ceker ayam dan kepala ayam yang ditusuk, tempe mendoan, sedangkan minumnya susu jahe atau kita boleh memesan hanya wedang jahenya saja, pasca ajakan ketiga sahabat saya itu, saya sering sekali, jika tidak bisa dikatakan setiap malam untuk mengunjungi angkringan, seakan saya jadikan ritual kuliner karena bagi saya ahirnya angkringan sebagai madrasah, mengapa? karena ia mengajarkan kesederhanaan, egaliter, mawas diri dan mengajarkan kesadaran darimana kita berasal. Bagi saya angkringan menjadi medium yang tepat untuk berbincang bersama Mahdiduri, Irvan HQ, Jaenal Aripin, Panji Aziz Pratama, Esih Yuliasih dan yang lainnya tanpa batas dari sekadar obrolan ngawur hingga membahas struktur kekuasaan negara dan anomali politik dan demokrasi seolah-olah yang terjadi baik di Banten maupun di Indonesia. Tetapi dalam tulisan ini saya tidak dalam rangka menjadi orator narasi yang berkhutbah memberikan testimoni tentang suasana angkringan, yang ingin saya tanyakan berapakah keuntungan rata-rata kedai angkringan setiap malamnya?..ini ilmiah, berdasarkan penelitian seorang ahli strategi bisnis (journal.amikom) yang melakukan studi pada pedagang angkringan tenyata mereka memiliki keuntungan rata-rata per malam berjumlah Rp.500.000,- total jika di kalikan 25 hari dengan asumsi pedagang masih memiliki kesempatan libur lima hari selama sebulan ia mengantongi keuntungan Rp.12.500.000,-, bandingkan dengan gaji PNS tertinggi untuk golongan IVe masa kerja 32 tahun yang hanya di gaji  Rp.4.608.700,-, jika telah demikian, apalagi yang mau ditunggu, atau masih tetap menunggu menjadi moratorium PNS di buka lalu la haulawala mencoba lagi dan mencoba lagi.
Persepsi jika telah di percaya di resapi dan membatin dalam logika pikir manusia memang tidak mudah untuk dengan serta merta di abaikan dan tercerabut dari kepala setiap kita, tetapi marilah sedikit demi sedikit virus dan semangat entrepreneurship ini kita tularkan, percayalah bahwa bangsa yang akan maju, besar dan sejahtera itu adalah entrepreneurship  Nation, ia adalah bangsa kreatif, berdasarkan data di Indonesia hanya 0,18 persen jumlah wirausahanya dari jumlah penduduk Indonesia, sekitar 400.000-an pengusaha, sementara itu, di negara-negara lain, seperti Singapura jumlah entrepreneur mencapai tujuh persen bahkan di Amerika Serikat mencapai 13 persen maka menurut Ir. Ciputra sang Pendiri Universitas Ciputra Entrepreneurship agar terbebas dari pengangguran dan kemiskinan, Indonesia harus menjadikan abad ke-21 sebagai abad entrepreneur.
Sebagai salah satu generasi di Banten saya dan tentu juga saudara ingin sekali berbuat yang terbaik bagi daerah ini, akan tetapi niat saja tidak cukup, kita harus merevolusi persepsi bahwa berwirausaha adalah pilihan, ditengah hiruk pikuk dan gegap gempita transisi kebudayaan dan kemajuan yang terus merambah di daerah ini, kita harus melibatkan diri untuk mengambil bagian demi kesejahteraan diri, orang lain dan lingkungan syukur-syukur berhasil dalam andil pelibatan kesejahteraan bangsa dan negara. Semoga. ***

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »