Jawara Bantenese : Tertarik Atau Tidak, Tergantung Promosinya

16.35




 Siapa yang tak kenal dengan kaos Dagadu dari Jogja atau Joger dari Bali, brand tersebut begitu dikenal luas oleh hampir seluruh masyarakat Indonesia. Sampai-sampai ada ungkapan, belumlah lengkap ke Jogja kalau belum punya Dagadu. Jargon tersebut begitu lekat di kepala setiap kita. Bagaimana dengan Banten? Apakah Banten juga memiliki produk kaos yang bisa dibanggakan?.
           

Trend Kaos local content itu pun mulai merambah ke Serang, setidaknya sampai saat ini sudah ada beberapa pihak yang mencoba menjawab pertanyaan di atas. Diantaranya Ucul, Kaos Banten, Plat A, Banten Zeroground, Banten Ethnic dan Jawara. Masing-masing mencoba menawarkan sudut pandang dalam melahirkan ikon kebantenan lewat kaos.
Keprihatinan atas belum adanya rasa bangga terhadap daerah sendiri membuat Riki, Budi, Dwi, Estha, Rahman dan Santi memberanikan diri untuk terjun ke usaha kaos local content. Mereka pun mendirikan Jawara, atau Javanese Wardrobe of Art pada 2010 silam. Dipilihnya nama tersebut bukan lahir dari sebuah keisengan, tetapi muncul sebagai perlambang akan visi mereka ke depan untuk turut berpartisipasi membangun daerah asalnya. Keinginan untuk mengekspose Banten ke luar lewat produk kaos yang mengangkat nilai budaya Banten merupakan nilai ideal yang mereka percayai.
Meski terbilang anyar, kaos Jawara berupaya mensejajarkan posisi dengan merk-merk terkenal lainnya di daerah luar. Hal itu mereka tempuh dengan menawarkan atau mengedepankan kualitas dan harga yang bersaing. Dari segi disain, Jawara mengedepankan disain yang unik dan orisinil (bukan jiplakan), seperti tampak pada disain Badak Cula Satu. Pelayanan bagi konsumenpun menjadi perhatian utama dengan metode person to person, konsumen dimanjakan dengan layanan pesan antar (dalam kota). Hal lainnya adalah segi pengemasan. Seperti merk-merk besar lainnya, Jawara juga berupaya mengemas produknya dengan ragam pernak-pernik, seperti tas kaos, label personal, dan tentu saja, setiap disain dicetak terbatas, dan dipastikan tidak akan direproduksi ulang, meskipun banyak permintaan.
             Tindakan itu diambil dalam upaya membentuk citra Jawara sebagai kaos yang eksklusif dan hanya orang-orang tertentu saja yang bisa mendapatkannya (pembeli tercepat-red).
            Pemasaran produk Jawara dilakukan dalam beberapa strategi, pertama via jejaring sosial Facebook. Mereka menilai, pemanfaatan Facebook dirasa lebih mudah dan murah tinimbang mereka harus menyewa tempat. Kedua, promosi dari mulut ke mulut. Sampai saat ini, media promosi macam itu dirasa lebih efektif mendatangkan konsumen. Ketiga, lewat brosur atau pamplet.
            Sampai saat berita ini diturunkan, Jawara telah merilis produk sebanyak 500 pcs dari total 75 disain, peningkatan usaha lainnya adalah omzet yang diperoleh sudah sampai pada angka 2-3 juta perbulannya. Dalam menjaga kualitas, Jawara tetap menjaga bahan produknya dengan hanya memproduksi kaos berbahan katun combat 20s, dan sablon soft rubber. Kelebihan lainnya adalah dari disain setiap kaos telah melewati tahapan riset dan diskusi panjang sebelum akhinya dicetak dan dipasarkan, sehingga nantinya diharapkan para konsumen tidak merugi ketika membeli kaos Jawara. Untuk sablonnya sendiri, Jawara masih memercayakan produksi cetaknya masih di luar Banten, hal ini terkait dengan belum adanya percetakan kaos di Serang yang memiliki standar distro. Setiap produknya mereka hargai sebesar 65 ribu/pcs. kebanyakan para pelanggan produk mereka lebih banyak dari orang Banten yang berada di luar negeri, seperti Singapura, Australia, atau Perancis.
            Berkenaan dengan dunia industri kreatif di Banten, mereka memandang bahwasanya geliat para pelakunya sudah mulai nampak. Usaha di bidang clothing pun sudah menjamur, tinggal menunggu niat baik dari semua pihak untuk berjibaku membangun dunia usaha, khususnya bagi para pemula. Salah satu yang dinanti adalah adanya sentra industri kreatif. Harapan itu muncul bertepatan dengan diakomodirnya industri kreatif dalam struktur pemerintahan lewat Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparenkraf). Tingkat daya pemahaman masyarakat terhadap produk lokal pun menjadi ekspektasi pelaku industri kreatif, dimana masyarakat bisa memanfaatkannya yang berimbas pada meningkatnya transaksi jual beli di jenis usaha tersebut. [ ]




Share this

Related Posts

Previous
Next Post »