Seganteng-gantengnya cowok, akan lebih ganteng lagi kalau dia buka usaha

17.04

Judul Skriptoria diatas saya ambil dari sebuah status fb di wall seorang sahabat, buat saya kalimat yang semula terlihat secara tidak sengaja itu cukup unik dan keren walaupun sedikit provokatif. Memang belakangan ini kewirausahaan atau lebih dikenal dengan istilah entrepreneurship menjadi sangat populer dikalangan anak muda. Walaupun jumlahnya masih jauh dari ideal, banyaknya pengusaha muda yang bermunculan di Banten menjadi angin segar ditengah tidak seimbangnya jumlah pencari kerja dengan lapangan kerja yang tersedia, paling tidak budaya entrepreneurship yang berkembang saat ini diharapkan sedikit demi sedikit dapat mengurangi angka pengangguran.

Oleh: Irvan Hq

Kewirausahaan merupakan sikap mental dan jiwa yang selalu aktif atau kreatif berdaya, bercipta, berkarsa dan bersahaja dalam berusaha dalam rangka meningkatkan pendapatan dalam kegiatan usahanya, sedangkan Wirausaha adalah seseorang yang bebas dan memiliki kemampuan untuk hidup mandiri dalam menjalankan kegiatan usahanya atau bisnisnya atau hidupnya. Ia bebas merancang, menentukan, mengelola dan mengendalikan semua usahaya.  (Amin, 2008).

Dalam edisi ini crew BieM bertemu dengan beberapa entrepreneur yang memulai usahanya dari usia yang masih muda, ada yang sudah sukses dan menikmati hasil jerih payahnya, tetapi ada juga yang baru memulai dan beberapa belum berhasil. Kebanyakan dari mereka membuka usahanya di bidang industri berbasis kreativitas seperti Fesyen, Desain, Video, Film, Fotografi, Musik, Penerbitan, Percetakan, Kuliner, Barang Seni, dan sebagainya. Untuk menambah inspirasi kepada para pembaca setia Banten Muda, kami juga bertemu dua entrepreneur muda dari Jakarta dan Nganjuk yang sukses mengandalkan kekuatan kreatifitasnya.

Pada tahun 1990, untuk mengantisipasi kondisi perekonomian di Inggris yang terpuruk karena beralihnya pusat-pusat industri dan manufaktur ke negara-negara berkembang yang menawarkan bahan baku, harga produksi dan jasa yang lebih murah, mereka mendirikan National Science and the Art (NESTA) yang bertujuan untuk mendanai pengembangan bakat-bakat muda di Inggris. Pentingnya memperbaiki moral dan kualitas hidup warga Inggris untuk bersaing dan memimpin di  kompetisi dunia dipertegas pemerintah Inggris pada tahun 1997 dengan membentuk Creative Industries Task Force yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang kontribusi industri kreatif  terhadap perekonomian Inggris. (Wikipedia)

Bagaimana dengan Banten? Semakin tingginya Upah Minimum Regional di Provinsi Banten mendorong pabrik-pabrik industri pengolahan di Banten untuk pindah ke daerah lain yang upah buruhnya lebih murah. Hal ini tentu saja berpotensi untuk menambah angka pengangguran di Provinsi yang tercatat paling tinggi dibanding provinsi lain di Indonesia. Salah satu solusi yang paling tepat adalah dengan menciptakan banyak entrepreneur muda yang sukses sekaligus sebagai agen perubahan di Banten. Pentingnya merubah persepsi tentang entrepreneurship di Banten ini secara lengkap akan dikupas oleh sahabat saya Ali Faisal berikut tips bagaimana memasarkan produk kreatif dari Praktisi Pemasaran Online Boyke Pribadi.

Banyak negara yang sudah membuktikan rakyatnya makmur dan sejahtera ketika pemerintahnya memprioritaskan kewirausahaan sebagai agenda utama dalam pembangunannya. Mari kita rubah pola pikir kita bahwa sekolah atau kuliah bukanlah semata-mata bertujuan untuk mencari pekerjaan, namun banyak pilihan didepan mata yang lebih menjanjikan daripada sekedar bekerja. Jadilah Entrepreneur Muda Banten yang Visioner, Kreatif dan Berani Mengambil Resiko, biar tambah ganteng. Semangat !

PERSEPSI ENTREPRENEURSHIP

16.58

Masalah bangsa yang sangat klasik dan meresahkan saat ini, diantara masalah multidemnsional kebangsaan Indonesia, mulai dari hal yang remeh temeh, hingga masalah pelik, mulai  dari perasaan ibu-ibu yang beberapa hari ini cemas memikirkan biaya masuk SD bagi anak-anaknya, diantara sebagian ibu-ibu pejabat yang menimbang-nimbang hendak disekolahkan di sekolah terbaik yang manakah anaknya, meski mahal tak jadi soal demi sebuah prestise diri,  pertaruhan nama baik bapak dan ibunya yang konon terhormat, hingga persoalan wabah korupsi yang setiap saat menemukan jati dirinya di Republik yang “Junub” ini, mengapa junub?..karena republik ini selalu membawa kotoran/hadas dalam perilaku sebagian  anak kandungnya, maka kelak boleh jadi kita harus melakukan gerakan thoharoh/bebersih dari segala hadas besar dan kecil dalam konotatif maknanya demi  tercapainya keimanan sosial.

Oleh : Ali Faisal
Pemilik Depot Isi Ulang Air Minum Merk Qualife

Sering sekali kita mendengar kata “pengangguran intelektual”, intelektual kok nganggur?..ya, Mereka bukannya memberi sumbangsih kepada pembangunan bangsa, tetapi justru menjadi beban pembangunan, hal ini paling tidak terlihat dari data Badan Pusat Statistik (BPS), pada Februari 2011, 8,12 juta (6,8 persen) angkatan kerja kita adalah pengangguran terbuka yang sama sekali tidak memiliki pekerjaan, dan sekitar 600 ribu (7,6 persen) orang diantaranya adalah mereka yang telah lulus universitas alias sarjana, jumlah ini dipastikan akan lebih banyak lagi jika defenisi pengangguran diperluas hingga mencakup mereka yang setengah menganggur, jumlah jam kerja kurang dari jam kerja n           ormal dan mereka yang bekerja pada lapangan pekerjaan yang tidak sesuai dengan kualifikasi pendidikan yang dimiliki atau lebih rendah dari kualifikasi kemampuan yang dimiliki  (disguised unemployment).
Kondisi ini tentu sebuah ironi yang seharusnya tidak terjadi, karena tingkat pendidikan yang lebih tinggi (sarjana) seharusnya bisa memberikan akses yang lebih baik pula untuk mendapatkan pekerjaan, tetapi memang faktanya adalah tidak imbangnya lapangan kerja dibandingkan dengan jumlah pencari kerja, Tentu ada banyak faktor yang menjadi penyebab kenapa jumlah sarjana yang menganggur masih cukup tinggi, Kualitas lulusan dari segi keilmuan mungkin salah satunya selain kesenjangan antara kualifikasi yang mereka miliki dengan kebutuhan pasar tenaga kerja.
BPS mencatat, pada Februari 2011, pangsa sektor pertanian terhadap penyerapan angkatan kerja mencapai 33 persen (42,47 juta orang). Padahal kita tahu, kualifikasi tenaga kerja yang dibutuhkan oleh sektor pertanian tidak perlu sarjana, dan kenyataannya, sarjana kita juga memang enggan bekerja di sektor ini, tingkat penyerapan angkatan kerja di sektor-sektor yang menjadi pasar buat angkatan kerja dengan pendidikan sarjana, seperti sektor jasa kemasyarakatan, keuangan, dan komunikasi masih relatif kecil, pihak perguruan tinggi juga harus diluruskan cara pandangnya dalam melihat hal demikian, bahwa indikator keberhasilan perguruan tinggi hendaknya tidak hanya diukur dengan sejauh mana menghasilkan sarjana tetapi lebih pada sejauhmana lulusannya terserap pada dunia kerja yang sesuai dengan keahliannya, dan sebagian besar dari lulusan tersebut telah memulai, menjalankan dan berhasil dalam bidang enteurprenership, maka jika telah demikian perguruan tinggi bukan semata-mata pencetak sarjana tetapi pencetak wirausaha yang mempunyai nilai mutiplayer effect bagi kemanfaatan banyak pihak, perguruan tinggi jangan berpikir sarjana an-sich, tetapi seharusnya mencari tahu struktur kebutuhan pasar tenaga kerja dan peluang pengembangan wirausaha sebagai acuan bagi pengembangan kurikulum di perguruan tinggi dengan prinsip vokasional, dengan demikian, sarjana-sarjana yang dihasilkan bisa terserap oleh pasar tenaga kerja yang ada juga menciptakan pasar bagi berbagai peluang usaha yang ada di masyarakat, selain itu, hubungan antara perguruan tinggi dengan dunia industri juga harus diperkuat, perguruan tinggi harus membuat yang namanya career development.
Bagaimana di Banten?
Dari data BPS Provinsi Banten, jumlah angka pengangguran di Provinsi Banten periode Februari 2012 menempati urutan tertinggi dibandingkan provinsi lain di Indonesia, yaitu mencapai 10,74 persen dari jumlah penduduk di Banten, pengangguran di Banten ini didominasi oleh warga pribumi, bukan warga pendatang, Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Nasional (BPSN) tentang tenaga kerja, pada Februari 2012, tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Banten di atas DKI Jakarta, yaitu mencapai 10,74 persen, sedangkan untuk TPT DKI Jakarta hanya mencapai 10,72 persen dari jumlah penduduk DKI Jakarta, Angka TPT dua daerah tersebut juga sangat jauh berbeda dengan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, yang memiliki angka TPT hanya 2,78 persen, Bali hanya 2,11 persen dan yang menempati urutan angka pengangguran terkecil yaitu Sulawesi Barat dengan pengangguran hanya 2,07 persen.
Sedangkan  jumlah angkatan kerja di Banten pada Februari 2012 mengalami penambahan sebanyak 233.963 orang, pada Februari 2011 lalu, angkatan kerja di Banten mencapai 5.164.681 orang, namun pada Februari 2012 menjadi 5.398.644 orang,  yang menempati semua sektor yang mengalami kenaikan jumlah pekerja, namun lapangan usaha yang paling banyak menyerap tenaga kerja terdapat di sektor perdagangan, yang menyerap 1.195.674 orang atau hampir dari seperempat penduduk yang bekerja (24,81 persen), data 2010 memperlihatkan bahwa pengangguran didominasi lulusan diploma/sarjana sebanyak 25,33 persen, lulusan pendidikan menengah atas 15,30 persen, lulusan pendidikan menengah pertama 13,71 persen, dan lulusan SD ke bawah 11,39 persen. Dengan kata lain, jumlah orang yang bekerja didominasi pekerja pada jenjang pendidikan SD ke bawah 1.741.745 orang atau 45,65 persen, sedangkan jumlah pekerja dengan pendidikan tinggi masih relatif kecil yaitu 282.970 orang atau 7,42 persen.
Jika melihat fakta yang demikian, sungguh sangat menghawatirkan rasanya, bilamana kita yang hari ini duduk di bangku kelas 3 SMA, mahasiswa tingkat ahir perguruan tinggi, para sarjana yang baru lulus, terlebih sarjana yang telah bertahun-tahun masih menganggur, apalagi yang hanya lulusan SD, SMP, SMA sederajat apalagi pula yang tidak luslus SD, gesekan semakin rapat dan daftar antrian pencari kerja  yang luar biasa panjang, sementara peluang kerja terbatas, andaikan kita mau jujur tentu saja ada yang salah dari persepsi kita baik persepsi diri dan persepsi masyarakat terhadap jenis pekerjaan yang di idealkan saat ini, semua kita berlomba mencari pekerjaan yang mayoritas pekerjaan formal, dan cenderung tidak ada motivasi untuk memulai mengeksploitasi cara-cara menggapai kesejahteraan di luar itu, contoh sederhana yang belakangan mewarnai media lokal di Banten misalnya, betapa was-wasnya para sarjana dan para calon sarjana dikarenakan pemerintah memberlakukan moratorium penerimaan CPNS yang belum dapat diketahui kapan akan di buka kembali, intinya mereka masih menganggap PNS yang terbaik, padahal tahukan anda berapa gaji PNS? Berdasarkan  PP No. 15 tahun 2012 disebutkan, gaji pokok terendah untuk PNS Golongan III a dengan masa kerja nol tahun adalah Rp2.046.100 (sebelumnya Rp1.902.300) dan tertinggi IIId dengan masa kerja 32 tahun adalah Rp3.742.300 (sebelumnya Rp3.332.000), Sedang untuk golongan IVa masa kerja nol tahun adalah Rp2.436.100 (sebelumnya Rp2,245 juta), sedang tertinggi untuk golongan IVe masa kerja 32 tahun adalah Rp4.608.700 (sebelumnya Rp4,1 juta) ditambah dengan penghasilan-penghasilan lain yang sah, persepsi masyarakat tentang enaknya kerja pada institusi birokrasi  terbangun karena  aksi para PNS yang mempertunjukkan gaya hidup pop, dan borjuis disamping waktu kerja yang longgar, tetapi marilah kita berpikir keluar dari kotak masyarakat kebanyakan, marilah kita berpikir tentang potensi dan masa depan kesejahteraan diluar profesi PNS dan bekerja pada sektor formal dengan prasyarat yang mudah, yakni memulai berwirausaha, pernahkah anda membaca memakan keripik olahan bermerk ma icih? Ya, Reza Nurhilman nama pemiliknya, dengan keterbatasan dana ia membangun usaha, pemuda 23 tahun ini meraih sukses tak terkira berkat dunia maya dengan  memanfaatkan situs jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter sebagai media pemasaran, dan hanya  setahun setelah meluncurkan usahanya di Twitter, Berangkat dengan modal sekitar Rp15 juta, ia membuat permainan yang memancing penasaran Facebookers dan Tweeps. Ia merancang lokasi penjualan berpindah-pindah setiap hari, yang hanya dapat diketahui dengan melihat status Facebook (#maicih) atau Tweet Maicih (@infomaicih) yang saat ini ia mampu mengantongi omzet penjualan Rp4 miliar per bulan.
Pernahkah anda mengunjungi kedai nasi kucing atau biasa di sebut angkringan, awalnya saya sendiri tidak pernah tau apa itu angkringan apalagi mendengar sebutan nasi kucing, agak geli mendengarnya saya pikir nasi yang berlauk kucing, atau makan ditemenin dengan  kucing, sehingga diperkenalkan oleh seorang sahabat bernama  Anton bersama Reza dan Yagi yang lulusan universitas di Jogja, ternyata sekali mencoba saya langsung jatuh cinta, dengan menu nasi kecil plus teri sambel atau plus pindang tongkol sambel yang bungkusnya sama hanya dibedakan oleh sobekan kertas sebagai pembeda, ceker ayam dan kepala ayam yang ditusuk, tempe mendoan, sedangkan minumnya susu jahe atau kita boleh memesan hanya wedang jahenya saja, pasca ajakan ketiga sahabat saya itu, saya sering sekali, jika tidak bisa dikatakan setiap malam untuk mengunjungi angkringan, seakan saya jadikan ritual kuliner karena bagi saya ahirnya angkringan sebagai madrasah, mengapa? karena ia mengajarkan kesederhanaan, egaliter, mawas diri dan mengajarkan kesadaran darimana kita berasal. Bagi saya angkringan menjadi medium yang tepat untuk berbincang bersama Mahdiduri, Irvan HQ, Jaenal Aripin, Panji Aziz Pratama, Esih Yuliasih dan yang lainnya tanpa batas dari sekadar obrolan ngawur hingga membahas struktur kekuasaan negara dan anomali politik dan demokrasi seolah-olah yang terjadi baik di Banten maupun di Indonesia. Tetapi dalam tulisan ini saya tidak dalam rangka menjadi orator narasi yang berkhutbah memberikan testimoni tentang suasana angkringan, yang ingin saya tanyakan berapakah keuntungan rata-rata kedai angkringan setiap malamnya?..ini ilmiah, berdasarkan penelitian seorang ahli strategi bisnis (journal.amikom) yang melakukan studi pada pedagang angkringan tenyata mereka memiliki keuntungan rata-rata per malam berjumlah Rp.500.000,- total jika di kalikan 25 hari dengan asumsi pedagang masih memiliki kesempatan libur lima hari selama sebulan ia mengantongi keuntungan Rp.12.500.000,-, bandingkan dengan gaji PNS tertinggi untuk golongan IVe masa kerja 32 tahun yang hanya di gaji  Rp.4.608.700,-, jika telah demikian, apalagi yang mau ditunggu, atau masih tetap menunggu menjadi moratorium PNS di buka lalu la haulawala mencoba lagi dan mencoba lagi.
Persepsi jika telah di percaya di resapi dan membatin dalam logika pikir manusia memang tidak mudah untuk dengan serta merta di abaikan dan tercerabut dari kepala setiap kita, tetapi marilah sedikit demi sedikit virus dan semangat entrepreneurship ini kita tularkan, percayalah bahwa bangsa yang akan maju, besar dan sejahtera itu adalah entrepreneurship  Nation, ia adalah bangsa kreatif, berdasarkan data di Indonesia hanya 0,18 persen jumlah wirausahanya dari jumlah penduduk Indonesia, sekitar 400.000-an pengusaha, sementara itu, di negara-negara lain, seperti Singapura jumlah entrepreneur mencapai tujuh persen bahkan di Amerika Serikat mencapai 13 persen maka menurut Ir. Ciputra sang Pendiri Universitas Ciputra Entrepreneurship agar terbebas dari pengangguran dan kemiskinan, Indonesia harus menjadikan abad ke-21 sebagai abad entrepreneur.
Sebagai salah satu generasi di Banten saya dan tentu juga saudara ingin sekali berbuat yang terbaik bagi daerah ini, akan tetapi niat saja tidak cukup, kita harus merevolusi persepsi bahwa berwirausaha adalah pilihan, ditengah hiruk pikuk dan gegap gempita transisi kebudayaan dan kemajuan yang terus merambah di daerah ini, kita harus melibatkan diri untuk mengambil bagian demi kesejahteraan diri, orang lain dan lingkungan syukur-syukur berhasil dalam andil pelibatan kesejahteraan bangsa dan negara. Semoga. ***

Tips Memasarkan Produk Kreatif Kamu

16.50

Menemukan atau menciptakan produk kreatif tentu sangat menyenangkan bahkan membanggakan, dan itu bagus, namun lebih bagus lagi adalah produk hasil kreasi kamu bisa dinikmati oleh orang banyak, karena disamping bermanfaat bagi orang lain namun juga dapat menambah penghasilan yang dapat digunakan untuk membantu kamu mewujudkan ide kreaatif lainnya, juga sebagai tabungan untuk kepentingan kamu meraih masa depan yang kamu harapkan.

Oleh : Boyke Pribadi
Praktisi Pemasaran Online

Salah satu cara agar produk kreatif kamu bisa dinikmati orang lain adalah dengan memasarkannya melalui teknik pemasaran yg lagi nge-trend saat ini yaitu pemasaran online.
Berikut tips yang pernah saya praktekkan dalam melakukan pemasaran online.
1.       Bentuk pemasaran online yang paling praktis dan gak ribet adalah dengan memanfaatkan jejaring sosial yang kamu pasti punya saat ini yaitu : facebook. Strategi memasarkan secara online melalui facebook adalah langkah awal kalau ingin memperkenalkan produk kreatif kamu kepada orang yang memiliki hubungan dengan kamu, seperti teman, teman dari teman, atau saudara. Karena melalui facebook kamu bisa menampilkan berbagai foto produk dan harganya serta men’tag’nya kepada sasaran konsumen kamu.
2.       Karena jumlah jejaring di FB untuk kepentingan non komersial terbatas, maka jika kamu ingin memiliki pangsa pasar yang lebih luas, maka kamu bisa mulai membuat Home Page atau website yang memuat informasi tentang produk kamu. Untuk website ini, kamu bisa memanfaatkan secara gratis dengan menggunakan ekstensi blogspot, multiply atau lainnya (contoh www.produkkamu.blogspot.com). Namun karena sifatnya gratis maka terkadang ada juga kalimat nyelekit dari konsumen kita yang berbunyi ; haree genee jualan pake blogspot, karena menurut sebagian orang kalau mau berbisnis ya harus bermodal. Tapi menurut saya tidaklah mengapa, lha wong namanya juga sdg belajar dagang....
3.       Atau.....kamu bisa membeli alamat dengan ekstensi .com (dot com) sehingga alamat websitenya lebih bergengsi seperti : www.produkkamu.com. Memang untuk membeli alamat ini kita butuh biaya, tapi gak mahal koq, cuman senila Rp. 260.000,- kamu sudah dapat alamat dengan ekstensi dot com dan kamu bisa mendesainnya sendiri dengan mudah.
4.       Setelah memiliki website, maka cara selanjutnya adalah bagaimana mempromosikan website kamu supaya bisa nangkring di page one (halaman pertama) google, atau malah kalau bisa di ranking 1 ketika calon konsumen mengetikkan kata kunci produk kamu di google. Kenapa harus google, karena sebagian pemakai internet, jika hendak mencari informasi maka akan menggunakan www.google.com sebagai mesin pencari. Website yang muncul di rangking tertinggi di google bisa disebabkan oleh beberapa hal, antara lain; keunikan kata kunci, besarnya trafict (kunjungan) ke website kita.
5.       Selain itu, untuk mempromosikan produk kreatif kita serta alamat website-nya supaya muncul di rangking tertinggi di google, maka sebaiknya kita harus rajin menyebar iklan kita ke ratusan iklan baris gratis yang banyak tersedia di dunia maya...hah?? ratusan?? Capeek dunk ngetiknya??....tenang dulu mas brow.....karena saat ini cukup hanya membayar Rp. 30.000 perbulan, maka iklan kita dapat dimuat pada lebih dari 900 alamat iklan baris yang gratis dengan cara singkat (per tanggal tulisan ini dimuat, iklan kamu dapat ditayangkan di 1487 situs sekaligus !!). Untuk mendapatkan software-nya, kamu bisa masuk ke alamat www.autosubmit.web.id
6.       Jika kamu masih merasa kurang untuk berpromosi, maka kamu bisa menyebar SMS promo secara massal kepada target konsumen di kota atau daerah tertentu dimana produk kamu dipasarkan, karena setiap provider telekomunikasi menggunakan kode khusus yang berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya yang dinamakan HLR (Home Locator Register), sebagai contoh nomor handphone dengan prefix (awalan) 081112XXXX adalah HLR untuk daerah serang-cilegon dan sekitarnya. Dan saat ini banyak provider tertentu yang memberikan bonus SMS gratis untuk pengiriman dalam satu provider dalam jumlah ribuan SMS. Untuk software pengiriman SMS masal, salah satunya kamu bisa lihat di www.smscaster.com, tapi harap diingat,  perhatikan waktu kamu mengirim SMS, jangan di tengah malam, karena mengganggu orang istirahat.

Selamat Mencoba !!!!

Ahmad Sayuti, S. Kom : From Zero to Hero

16.47

Beranjak dari rasa bosan menjadi pegawai, pada usianya yang ke 22 Ahmad Sayuti berani mengambil keputusan untuk membuka usaha sendiri. Dengan modal seadanya dan  wawasan di bidang desain grafis yang ia miliki, Sayuti membuka usaha kecil-kecilan tanpa akte pendirian badan usaha. Satu set komputer dan printer yang ia angsur selama bekerja di sebuah percetakan serta uang Rp 500 ribu sisa gaji terakhirnya itu ia jadikan langkah dalam menjalankan usaha percetakannya, sementara untuk menyewa ruko ia mengandalkan pinjaman dari beberapa temannya. Hal yang dirasa sulit olehnya pada waktu itu memang mencari modal besar berupa pinjaman, betapa tidak, selama dua tahun (2002-2003) ia bekerja dengan fasilitas seadanya. Meski begitu, ia pantang menyerah. Ia tahu bahwa kesuksesan tidak datang dengan sendirinya, melainkan harus disertai kerja keras dan kesabaran. Alhasil, dengan kondisi tersebut, ia sudah bisa mendapatkan omzet sebesar 10 juta perbulan.


Di tahun ke tiga (2004), kerja kerasnya mulai membuahkan hasil, di tahun itu, ia sudah bisa menyewa tempat kerja, dan memiliki beberapa pegawai. Di tahun itu pula, omzetnya meningkat mencapai 50-100 juta perbulan. Prestasi tersebut bertahan sampai tahun 2008. 2010, atas kepercayaan pelanggannya, ia pun berkesempatan memindah sekaligus meluaskan tempat kerjanya. Di titik ini, Sayuti sudah mendapatkan kepercayaan dari pemodal untuk bisa mendapatkan pinjaman dalam jumlah besar, sehingga ia bisa menyediakan fasilitas mesin cetak sendiri yang berukuran kecil (offset) dan besar (Outdoor). Dan semenjak 2011 sampai saat ini, Sayuti sudah memiliki tempat sendiri di bilangan Cijawa Serang dengan omzet perbulannya mencapai 300-500 jt.

Kini, ia terus mencoba mengembangkan usahanya ke arah professional. Hal itu dibuktikan dengan ia juga sudah merambah ke dunia internet lewat www.sayuti.com, di sana ia berkeinginan untuk mengenalkan usahanya ke dunia luar, sehingga nantinya bisa merangkul lebih banyak pihak-pihak yang berkeinginan memakai jasa usahanya. Selain itu, ia juga sedang meluaskan wilayah kerjanya dengan membuka cabang di Cilegon dan Pandeglang yang sudah dibuka sejak tahun 2012 ini.

Ia pun kerap melakukan inovasi-inovasi dalam produk percetakan dan advertisingnya. Lihat saja, disain undangan yang berbentuk tas jinjing, yang dimaksudkan agar bisa juga dipakai untuk keperluan sehari-hari. Dan ia mengklaim inovasi tersebut belum pernah digagas oleh pihak manapun. Atau tas seminar berbahan microfiber yang disediakan untuk acara-acara pemerintahan. Secara keseluruhan, produk percetakan dan advertisingnya berupa Undangan, Kop Surat, Amplop, Kartu Nama, Nota, Kwitansi, Surat Jalan, Invoice, Blanko, Notebook, Buku, Majalah, Kalender, Brosur, Tiket, Pamplet, Sertifikat, Buku Kenangan, Co Card, Book File, Kaos, Spanduk Kain, Bendera, Umbul-umbul, Spanduk Flexi, Baleho, Billboard, Neon Box, Tenda, Plang Nama, X Banner, Roll Banner, Stiker, Stempel, Transfer VCD/DVD, Photo Wedding, Mug, Gantungan Kunci, Ballpoint, Pin, Payung dan Plakat.

Dalam mengerakkan roda usahanya, Sayuti menyadari bahwa banyaknya usaha sejenis akan meningkatkan daya persaingan. Tetapi ia menempatkan mereka bukan sebagai musuh, melainkan sebagai partner, yang setiap saat bisa ia mintai bantuannya ataupun sebaliknya. Dan sebagai seorang pengusaha muda ia juga memahami kalau perusahaannya bukan hanya sekedar mengejar keuntungan, tetapi juga menjaga kepercayaan pelanggan dan kesejahteraan pekerjanya. Oleh karenanya, secara perlahan ia terus membenahi tingkat kesejahteraan pekerjanya dengan upah yang layak dan kepuasan pelanggan tentunya.
  
Ayah dari dua orang anak ini menilai bahwa setiap individu yang memiliki keinginan membuka usaha di bidang apapun, hendaknya harus segera direalisasikan, Juga hendaknya capaian-capaian perkembangan usaha harus melewati tahapan-tahapan yang wajar dilalui oleh pemula. Dan ia pun mengharapkan agar para pemangku kebijakan (pemerintah/swasta) bisa memberi dukungan atau pembinaan bagi para pengusaha muda, sehingga nantinya di Banten akan banyak lahir para enterpreuneur handal. [ ]

Jawara Bantenese : Tertarik Atau Tidak, Tergantung Promosinya

16.35




 Siapa yang tak kenal dengan kaos Dagadu dari Jogja atau Joger dari Bali, brand tersebut begitu dikenal luas oleh hampir seluruh masyarakat Indonesia. Sampai-sampai ada ungkapan, belumlah lengkap ke Jogja kalau belum punya Dagadu. Jargon tersebut begitu lekat di kepala setiap kita. Bagaimana dengan Banten? Apakah Banten juga memiliki produk kaos yang bisa dibanggakan?.
           

Trend Kaos local content itu pun mulai merambah ke Serang, setidaknya sampai saat ini sudah ada beberapa pihak yang mencoba menjawab pertanyaan di atas. Diantaranya Ucul, Kaos Banten, Plat A, Banten Zeroground, Banten Ethnic dan Jawara. Masing-masing mencoba menawarkan sudut pandang dalam melahirkan ikon kebantenan lewat kaos.
Keprihatinan atas belum adanya rasa bangga terhadap daerah sendiri membuat Riki, Budi, Dwi, Estha, Rahman dan Santi memberanikan diri untuk terjun ke usaha kaos local content. Mereka pun mendirikan Jawara, atau Javanese Wardrobe of Art pada 2010 silam. Dipilihnya nama tersebut bukan lahir dari sebuah keisengan, tetapi muncul sebagai perlambang akan visi mereka ke depan untuk turut berpartisipasi membangun daerah asalnya. Keinginan untuk mengekspose Banten ke luar lewat produk kaos yang mengangkat nilai budaya Banten merupakan nilai ideal yang mereka percayai.
Meski terbilang anyar, kaos Jawara berupaya mensejajarkan posisi dengan merk-merk terkenal lainnya di daerah luar. Hal itu mereka tempuh dengan menawarkan atau mengedepankan kualitas dan harga yang bersaing. Dari segi disain, Jawara mengedepankan disain yang unik dan orisinil (bukan jiplakan), seperti tampak pada disain Badak Cula Satu. Pelayanan bagi konsumenpun menjadi perhatian utama dengan metode person to person, konsumen dimanjakan dengan layanan pesan antar (dalam kota). Hal lainnya adalah segi pengemasan. Seperti merk-merk besar lainnya, Jawara juga berupaya mengemas produknya dengan ragam pernak-pernik, seperti tas kaos, label personal, dan tentu saja, setiap disain dicetak terbatas, dan dipastikan tidak akan direproduksi ulang, meskipun banyak permintaan.
             Tindakan itu diambil dalam upaya membentuk citra Jawara sebagai kaos yang eksklusif dan hanya orang-orang tertentu saja yang bisa mendapatkannya (pembeli tercepat-red).
            Pemasaran produk Jawara dilakukan dalam beberapa strategi, pertama via jejaring sosial Facebook. Mereka menilai, pemanfaatan Facebook dirasa lebih mudah dan murah tinimbang mereka harus menyewa tempat. Kedua, promosi dari mulut ke mulut. Sampai saat ini, media promosi macam itu dirasa lebih efektif mendatangkan konsumen. Ketiga, lewat brosur atau pamplet.
            Sampai saat berita ini diturunkan, Jawara telah merilis produk sebanyak 500 pcs dari total 75 disain, peningkatan usaha lainnya adalah omzet yang diperoleh sudah sampai pada angka 2-3 juta perbulannya. Dalam menjaga kualitas, Jawara tetap menjaga bahan produknya dengan hanya memproduksi kaos berbahan katun combat 20s, dan sablon soft rubber. Kelebihan lainnya adalah dari disain setiap kaos telah melewati tahapan riset dan diskusi panjang sebelum akhinya dicetak dan dipasarkan, sehingga nantinya diharapkan para konsumen tidak merugi ketika membeli kaos Jawara. Untuk sablonnya sendiri, Jawara masih memercayakan produksi cetaknya masih di luar Banten, hal ini terkait dengan belum adanya percetakan kaos di Serang yang memiliki standar distro. Setiap produknya mereka hargai sebesar 65 ribu/pcs. kebanyakan para pelanggan produk mereka lebih banyak dari orang Banten yang berada di luar negeri, seperti Singapura, Australia, atau Perancis.
            Berkenaan dengan dunia industri kreatif di Banten, mereka memandang bahwasanya geliat para pelakunya sudah mulai nampak. Usaha di bidang clothing pun sudah menjamur, tinggal menunggu niat baik dari semua pihak untuk berjibaku membangun dunia usaha, khususnya bagi para pemula. Salah satu yang dinanti adalah adanya sentra industri kreatif. Harapan itu muncul bertepatan dengan diakomodirnya industri kreatif dalam struktur pemerintahan lewat Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparenkraf). Tingkat daya pemahaman masyarakat terhadap produk lokal pun menjadi ekspektasi pelaku industri kreatif, dimana masyarakat bisa memanfaatkannya yang berimbas pada meningkatnya transaksi jual beli di jenis usaha tersebut. [ ]




Kedai Sop Duren : Manisnya Usaha Tanpa Pemanis Buatan

16.25


Jika anda berjalan melewati Ciwaru-Serang, penglihatan anda akan dijejali dengan banyaknya motor yang diparkir di depan sebuah kedai, terutama dari siang sampai sore bahkan malam. Kedai tersebut memang tidak menyajikan kuliner seperti biasa ditemui dimanapun, karena sajiannya berupa ragam minuman dan teristimewa minuman berbahan baku durian. Ya, itulah kedai Sop Duren yang sudah amat dikenal masyarakat Serang. Kedai tersebut dimiliki oleh seorang pecinta kuliner, dialah Tubagus Latif Haris atau yang biasa di panggil Latif yang mampu menyajikan durian dalam bentuk minuman. Dia menamakan usahanya  ”Kedai Sop Duren”. Kini ia sedang menikmati manisnya buah usaha tanpa pemanis buatan.



Berawal dari kesukaan istrinya mengkonsumsi buah durian dan keinginan orang tua agar anak-anaknya berdagang, Latif memulai usahanya di bidang kuliner. Dengan modal awal hanya sebuah etalase aluminimum tinggalan ibunya dan uang 150 ribu rupiah, Latif pun berjualan Es Jus strawberry, yang pada waktu itu dimaksudkan untuk memanfaatkan buah strawberry sisa distribusi.
                Usaha yang berlokasi di Jl Ciwaru Raya, Sumur Pecung itu berlanjut, di tahun 2006, ia meningkatkan usahanya dengan menyediakan menu sop buah, alhasil, sambutan pelangganpun baik. Di periode ini, usahanya sudah menghasilkan omzet sampai 75 rb per hari.
                Pada 2007, ia kemudian mengenalkan menu Es Durian yang kemudian menjadi Sop Duren seperti yang kita kenal hari ini. Di pilihnya Durian sebagai bahan baku, dikarenakan ia ingin mengangkat Durian sebagai ikon buah khas Banten, merujuk pada cerita orangtua. Seperti halnya duren si Radio atau pun si Potret yang melegenda. Selain itu, ia menilai, masyarakat baru sebatas mengkonsumsi durian secara langsung, belum sampai pada pengolahan durian dalam bentuk atau varian lain. Sop duren ini terbuat dari daging buah duren atau durian yang kemudian diberi tambahan air gula dan es batu. Setelah itu ditambah dengan parutan keju dan susu kental manis sebagai topping di bagian atasnya. Rasanya sangat menyegarkan. Apalagi daging durian itu yang sangat legit. Semakin membuat lidah tidak Ingin berhenti mengecapnya.
Sop durian ini mungkin bisa dibilang mirip dengan es duren yang sudah ada di beberapa kota, seperti Jakarta dan Bandung. Yang membedakan, kalau es durian masih menyertakan bijinya didalam es. sedangkan sop durian hanya daging buahnya.
                Di lokasi seluas 400 m2 itulah, ia meracik dan menawarkan cara baru mengkonsumsi durian dalam bentuk sop pada para pelanggannya. Lagi-lagi, eksplorasi bahan baku durian tersebut ditanggap baik, bahkan mampu mendongkrak omzet usahanya. Setidaknya terhitung sejak tahun 2009-2011, dari usahanya itu, kedai sop duren menghasilkan omzet sampai dengan 8 sampai 10 juta per hari.
Prestasi itu sejalan dengan komitmen Latif beserta istrinya untuk terus melakukan inovasi dalam pengembangan usahanya. Keuntungan yang didapatkan memungkinkan Latif mengembang-luaskan usahanya, seperti saat ini, ia sudah memiliki 20 pegawai yang digaji sesuai aturan pemerintah. Perluasan tempat usaha pun sedang dilakukan, sehingga nantinya para pelanggan akan bisa dengan nyaman dan aman menikmati sop duren. Selain itu, Latif juga sudah membuka cabang di Cianjur, dan direncanakan ke depannya ia akan membuka cabang di seluruh kab/kota di Banten dan Pantura.

Rahasianya terletak di Kualitas

                Dalam memajukan usaha, tentunya harus ditopang beberapa faktor, salah satunya adalah kualitas bahan atau pun layanan. Ternyata, hal itu juga dijadikan faktor utama oleh suami Kathrina Indarti ini. Dalam melayani pelanggan, ia tidak mau mengecewakan dari penyajian ataupun rasa. Oleh karenanya, ia selalu menjaga kualitas bahan baku durian yang dipakai. Penyajiannya pun mesti sesuai dengan takaran. Per saji, sebanyak 1 ons daging durian pakai habis.
                Soal rasa, lelaki kelahiran 1978 ini menerapkan kadar “breaks” atau standar manis bahan baku, sehingga rasanya pas di lidah. Ia juga tidak pernah memakai pemanis buatan, melainkan memakai gula yang bebas pengawet atau pun pewarna. Durian yang dipakai pun merupakan durian pilihan terbaik dari lokal atau pun impor. Sejatinya, Latif lebih memilih durian lokal sebagai bahan baku, hanya saja, sampai saat ini, belum bisa memenuhi kebutuhan produksi sebesar 150 kg per hari. Meskipun ada, jumlahnya sangat terbatas. Oleh karenanya, ia juga memakai durian impor dari malaysia dan thailand.
Dalam menyiasati kekurangan bahan baku durian yang musiman, tahun ini, Latif sedang membangun rumah produksi di wilayah kp. kedinding, di tempat itulah nantinya, persediaan dan pengolahan bahan baku dilakukan. [ ]




KIAT-KIAT TERJUN JADI PENGUSAHA

1.       Harus punya tekad yang kuat
2.       Tidak ragu untuk mengeluarkan zakat
3.       Berdoa
Manejemen harus seimbang. Kalau dimungkinkan menerapkan manejerial perusahaan

Deden Mulyana : Menghidupi Kesenian Dan Hidup Dari Kesenian

14.27

            
  Berkesenian bukan hanya soal menjaga eksistensi, melainkan juga bagaimana agar bertahan dari himpitan ekonomi. Banyak pelaku seni yang  selain memproduksi karya, juga nyambi di bidang kerja lainnya untuk menghidupi diri dan keseniannya. Jadi, sangat sedikit sekali yang memang hidup dari kesenian. Hal ini memang dikarenakan pangsa pasar (daya beli, tingkat apresiasi) karya kesenian di Banten umumnya masih belum tercipta ideal.
           


Setidaknya hal itu dirasakan oleh Deden Mulyana, seorang perupa yang sudah bergiat di seni rupa sejak 1996. Baginya, kondisi tersebut bukanlah alasan untuk mundur atau bahkan berhenti untuk berkarya, karena masih ada kerja-kerja seni rupa yang juga mendatangkan nilai ekonomis bagi pelakunya. Diantaranya adalah mural, handycraft atau potret (sketsa/lukis) yang bisa dinikmati masyarakat dengan harga terjangkau.
            “saya harus tahu kapan untuk idealis, kapan waktunya realistis” akunya. Pria lajang yang sempat mengenyam pendidikan di Modern School of Design (MSD) ini merasa bahwa dalam menjalankan profesinya sebagai perupa, modal besar bukanlah yang terpenting, melainkan luasnya relasi. Hal ini bisa ditempuhnya lewat metode mouth to mouth marketing. “Sulitnya menerapkan strategi ini adalah menjaga kepercayaan, karena dasar membentuk relasi adalah itu. Dan salah satu caranya adalah dengan menjaga kualitas” terangnya.
            Salah satu perupa di Sanggar Embun ini, mengingatkan bagi siapa pun yang berniat hendak terjun ke dunia rupa, agar menyiapkan diri menghadapi kendala, salah satunya adalah pengetahuan manajemen. “Pasalnya, selain kita memproduksi karya, kita juga berperan sebagai tenaga pemasaran” tegasnya. Untuk di Banten sendiri, Deden menempatkan pelaku industri kreatif kian banyak bermunculan, kondisi tersebut mestinya disambut baik oleh masyarakat maupun pemerintah. Salah satu solusi menyikapi kondisi tersebut adalah pemerintah menginisiasi pembentukan sentra industri kreatif. “kalau sentra industri kreatif tersebut bisa direalisasikan, maka fungsinya sebagai etalase kreatifitas akan tercapai. Selain itu, akan merangsang kalangan muda untuk membuka lapangan usaha baru yang berbasis kreatifitas”. Tambahnya.
             Saat ini, setelah 20 tahun berjuang di kesenian, Deden mengaku telah mengecap manisnya buah dari kerja kerasnya. “Hasil dari kerja keras selama ini, lumayan saya punya tabungan sedikit” akunya merendah. [ ] 

Trend Mobil Toko (MOKO) di Serang

12.53


Berdagang di mobil memang bukan hal baru. Namun, bukan berarti tak layak dicoba. Tak perlu gengsi memakai mobil sendiri karena terbukti lebih praktis dan untungnya juga tak sedikit.Di zaman serba susah ini, kita harus pintar mencari celah untuk bertahan hidup.


Sejalan dengan apa yang dikatakan orang bijak, "Banyak jalan menuju Roma", begitu pula dengan ragam peluang mereguk rezeki. Salah satunya adalah dengan berdagang. Kalau modal masih belum mencukupi untuk menyewa rumah toko (ruko) atau membuat kios (dari warung hingga kaki lima), mobil pribadi pun bisa dikaryakan.

Fenomena itu pun sampai di kota Serang, seperti halnya tampak di area alun-alun kota Serang, di sepanjang jalan diramaikan oleh moko yang menjual beragam produk, mulai dari penganan ringan sampai kaos dan sandal. Riuh ramai transaksi antara pedagang dan pembeli di mobil toko (moko), tak kalah serunya jika dibandingkan dengan yang terjadi di lapak-lapak lainnya.

Kalau ditelisik lebih jauh, orientasi pengguna Moko ini disebabkan karena mobilitas yang tinggi dan omzet yang besar dan untung optimal. Serta menyiasati mahalnya biaya sewa ruko ataupun lapak. Setidaknya jikalau mereka berjualan memakai Moko, mereka cukup bayar uang retribusi parkir.

Seperti diakui oleh Sofi, general reseller keripik Maicih yang sudah membuka mokonya di alun-alun sekitar 2 tahun lalu. Dia mengaku bahwa omzet perharinya rata-rata sekitar 1-1.5 juta.  Dipilihnya alun-alun  dengan pertimbangan disana adalah tempat beraktifitas banyak orang. Lain lagi dengan Andri, penjual sandal/sepatu Crocs yang memilih media usaha tersebut lebih karena ketiadaan modal untuk biaya sewa tempat.

Saat ini, jumlah pelaku Moko di alun-alun khususnya sudah mencapai sekitar 20 pengusaha, seperti Brownies Kukus, Crocs, Karuhun, bento Burger, Tutut Pak harto, Keripik Maicih. Bagi mereka, hari pasar adalah di akhir pekan. Biasanya omzet mereka meningkat sampai 2-3 jt perhari.

Ditemui di lokasi yang sama, Kasie Tata Pemerintahan Kota Baru, Fery Hendrayana, ST, M.Si menilai bahwa usaha-usaha yang dilakukan di atas Moko tersebut memiliki nilai positif bagi pelaku ataupun masyarakat. “Dengan adanya Moko, masyarakat diberikan pilihan wisata belanja. Tidak terbatas di mall atau pasar tradisional.” Ungkapnya. Diperbolehkannya para pengusaha Moko ini oleh pihak Kota Serang disertai dengan syarat agar para pelaku tidak merusak keindahan tata kota dan mengganggu kenyamanan masyarakat.
“kami mencoba memfungsikan alun-alun sebagai mana mestinya, yaitu tempat beraktifitas masyarakat, termasuk transaksi jual beli (usaha-red)” tambahnya. []

Triana Dewi Putranti : “Jadi pengusaha, jangan banyak pertimbangan”

12.43



Memasuki dunia usaha, memang tidaklah semudah meludah. Hal ini dikarenakan, dunia usaha juga memiliki tantangan, rintangan dan pantangan yang mesti dilalui. Seperti yang pernah dirasakan oleh Triana Dewi Putranti (Riri), sang pendiri La Pizza di Kaloran Kota Serang.

Bagi perempuan kelahiran tahun 1987 ini dunia entrepreneur bukan hanya soal modal, perencanaan dan pertimbangan, tetapi yang paling utama adalah tindakan nyata. Bagaimana ia berani membuka usaha Pizza ditengah persaingan di dunia kuliner yang cukup ketat?

Berikut petikan bincang-bincang BieM dengan jebolan FKIP Matematika Untirta di sela sesi pemotretan untuk Cover ;

BieM : Bagaimana ihwalnya terjun ke dunia kuliner ?
Riri: Awalnya saya hanya sekedar senang membuat penganan ringan (cup cake) untuk dikonsumsi sendiri, tak dinyana, seiring dengan banyak kerabat yang pernah mencicipi penganam tersebut, banyak dari mereka minta dibuatkan. Ya sudah, sedikit demi sedikit saya mulai menseriusi bidang ini.

BieM : Kenapa Pizza? Dan apa yang membuat La Pizza beda dengan pizza lainnya?
Riri : kenapa pizza? ya, karena saya doyan pizza…. Lebih tepatnya, saya memang tertarik dengan makanan Eropa dan Amerika. Di awal pendiriannya, saya hanya menemukan 2 penyedia pizza di kota Serang ini. Saya pun tertantang untuk ikut meramaikan bursa pizza di sini. Selain itu, bahan-bahan pembuatnya tidak mudah basi, dan konsumennya beragam. Khususnya saya targetkan konsumennya berasal dari pelajar atau mahasiswa. Kalau soal perbedaan, saya membuat pizza dengan resep saya sendiri. Maksud saya, saya tidak mau terpaku pada rasa-rasa standar bawaan dari sananya. Saya kerap mencari inovasi rasa yang lebih lokal. Nanti coba saja sendiri ya…hehe….

BieM: Strategi apa yang dipakai dalam menyiasati persaingan?
Riri: Selain soal rasa yang terus saya cari inovasinya, saya juga terus berupaya agar pizza kami Hot from the Oven dengan waktu menunggu yang tak lama. Kisaran 10-15 menit persajian. Selanjutnya soal harga, saya bisa pastikan harganya 3 kali lebih murah dari pasaran dengan tetap rasa terjaga. Saya pun menerapkan sistem paket 1-3 dengan 3 pilihan menu ; personal, medium dan large. Pokoknya disesuaikan dengan kekuatan kantong pelanggan deh…..

BieM: Bagaimana menurut Anda tentang dunia entrepreneurship di Banten? Dan apa harapan-harapan Anda ?
Riri : Sangat terbuka bagi siapa saja untuk terjun ke dunia ini. Di Banten sendiri, saya menilai para enterpeneurnya mulai bergeliat sesuai segmentasi pasarnya. Modal terbatas, ketiadaan sumber daya manusia (SDM), atau manajemen yang belum rapi selalu menjadi kendala awal bagi siapa saja yang memulai bisnis ini. Harapan saya tertuju pada komponen, pertama saya mengharapkan pemerintah bisa memberikan pembinaan pada para calon pengusaha muda, serta bisa membuat kebijakan mempermudah pinjaman ke Bank. Selain itu kalangan enterpeneur hendaknya harus berani ambil resiko untung ruginya, jangan banyak pertimbangan !. Dan masyarakat bisa memberikan kesempatan bagi anak-anak mudanya untuk eksis di bidang usaha dengan tidak menganggap remeh mereka. 

Forum OSIS se-Banten menggelar Latihan Kepemimpinan Siswa Provinsi Banten (LKSPB 2012)

00.46

UNTUK meningkatkan dan memantapkan mutu kepemimpinan dan kemampuan berorganisasi, Forum OSIS Provinsi Banten (FOB) menggelar Latihan Kepemimpinan Siswa Provinsi Banten (LKSPB 2012) pada hari Sabtu, 30 Juni 2012 dan Minggu, 1 Juli 2012 di Gedung Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Banten,

Mengambil tema “Dengan LKSPB 2012 mari kita ciptakan generasi muda penerus bangsa yang bersikap religius, dinamis, dan realistis demi terwujudnya jiwa sang pemimpin”, kegiatan ini diikuti 121 peserta dari berbagai sekolah di provinsi Banten.

Dikatakan oleh Ketua FOB periode I, Panji Aziz Pratama, panitia terpaksa membatasi peserta yang ingin ikut kegiatan ini agar semua materi yang akan disampaikan dapat terserap dengan baik. “Saya berharap kegiatan ini dapat meningkatkan dan mengembangkan serta memperluas wawasan dalam melaksanakan tugas-tugas kepemimpinan. Siswa-siswi sekarang banyak yang memiliki potensi menjadi pemimpin, ini perlu kita dorong, kita bimbing dan kita arahkan,” kata Panji.

Di hari pertama, berbagai Materi Kepemimpinan dan Materi Keorganisasian disampaikan dari berbagai narasumber. Para peserta mendapatkan bekal berkaitan dengan pola pikir, sikap dan perilaku, kepribadian, budi pekerti dan sopan santun. Kegiatan juga di isi oleh acara pentas seni dan mengaji bersama. 


Pada hari kedua acara lebih difokuskan kepada Laoran Pertanggung Jawaban Pengurus FOB periode pertama, Rapat Pleno, Interview dan pemaparan Visi dan Misi dari para calon ketua FOB periode berikutnya. Setelah itu diadakan Pemilu dan Perhitungan Suara untuk memilih Ketua FOB yang baru berikut jajaran pengurus FOB. Acara ditutup oleh serah terima jabatan dari pengurus lama ke pengurus yang baru. Dalam kesempatan itu yang terpilih Ketua FOB periode kedua adalah Aditia Fajar dari SMAN 1 Kramatwatu. ***

Twin Studio Photo : Membuka Peluang Ekonomi Lewat Photo Studio

21.54


Usianya barulah beranjak 23 tahun, tapi lelaki muda itu sudah menunjukkan bahwa hitungan usia bukan alasan, apalagi halangan untuk berkiprah di dunia usaha. Berbekal minat, tekad, dan sebongkah harapan, Ferbiansyah Selamat Pribadi atau yang biasa disapa Qoujou, memberanikan diri membuka usaha. Terletak di Jl. Yumaga-Benggala Kota Serang, di sanalah Febri mendirikan studio foto yang diberinya label Twin Photo Studio pada 2011 kemarin.



Dalam menjalankan usahanya, lelaki lulusan Untirta 2007 ini sudah menyiapkan strategi pengembangan usaha dan pemasaran yang cukup progressif. Saat ini, Qoujou menjadikan Twin ke 3 sub divisi usaha, yaitu; Kreatif Host, Wedding Organizer dan Photo Studio. Ia menjelaskan bahwa pemilahan tersebut dimaksudkan sebagai spesifikasi layanan konsumen yang memiliki beragam kebutuhan.

Dibidang pemasaran, dia sedang menjajaki online marketing, sehingga nantinya, para konsumen tidak terbatas di area Serang saja, tetapi juga dari luar kota, bahkan bukan tidak mungkin dari luar negeri. Selain itu, ia juga terus menyakinkan konsumen bahwa kualitas menjadi layanan yang utama. “Kami menjanjikan konsep dan disain yang berbeda dan dapat dipercaya oleh pelanggan kami” tuturnya.

Saat ini, Twin baru dikonsentrasikan pada pre/wedding fotografi, buku tahunan (year book) (sekolah), photo baby dan dokumentasi visual. Soal harga, Febri hanya menjelaskan bahwa harga yang dikenakan sebanding dengan kualitas yang didapat konsumen. Dia memberikan ilustrasi harga pre/wedding di photo studionya dikisaran 1,6 jt-9 jt. “Untuk kualitasnya, silakan dilihat sendiri. Saya jamin tidak akan mengecewakan” ungkapnya.
 
Menanggapai dunia enterpreuneurship di Banten, Qoujou melihat banyak sekali lahan yang bisa digarap atau para pelakunya. Hanya saja dia menyayangkan, sampai saat ini, para enterpreuneur muda itu masih berjalan sendiri-sendiri, sehingga tidak muncul ke permukaan. dia pun berharap, Twin Studio Photo bisa menjadi salah satu tempat yang bisa menstimulus sesama enterpreuneur di Serang untuk lebih eksis. ***





TIPS ENTERPREUNEUR (dari Febrianysah Selamat Pribadi)

1.      Harus memperbanyak referensi bidang usaha yang hendak digarap
2.      Jangan pernah minder dan takut gagal
3.      Tekun dan terus belajar

SEDEKAH NGGA HARUS IKHLAS !

21.16

Suatu hari seorang sahabat saya menunjukkan perilaku yang agak aneh, sambil menunggu pesanan mie ayam datang ia memegang-megang meja sambil melihat-lihat ke empat sudutnya. Ia menengok ke bawah dan memegang salah satu kaki meja dan sedikit menggoyangkannya. Penasaran dengan tingkahnya itu saya segera bertanya, ”Kenapa Bang?”. Dia hanya tersenyum dan bercerita bahwa sebentar lagi ia akan membuka usaha Bakso dan Jasa Cuci Motor. Kelihatannya rencananyapun sudah matang, sebuah ruko di dekat perumahan Safira, Ciracas-Serang sudah dikontraknya. Peralatan, gerobak, karyawan dan lain-lain sudah disiapkannya. “Wah hebat, diam-diam mau jadi pengusaha nih.”. Sambil melahap mie ayam dengan sedikit saus sambal, ia menjelaskan bahwa semua itu bermula dari istrinya yang tergerak untuk segera membuka usaha setelah membaca buku 7 Keajaiban Rezeki.



Obrolan itu kemudian terus membekas di kepala saya, apalagi hitung-hitungan biaya yang dia keluarkan relatif kecil, bagaimana buku itu dapat merubah atau membuka pola pikir istri sahabat saya itu dengan cepat, jasa Mbah Google pun saya gunakan untuk mencari tahu keberadaan buku itu, ternyata ada situs yang menyediakan ebooknya untuk didownload secara gratis. Hebatnya lagi memang si penulis mengijinkan untuk menyebarkan isi buku ini dengan segala cara. Sambil menunggu download buku itu selesai, saya membaca testimonial para pembaca yang sudah mempraktekan dan merasakan manfaat dari buku 7 Keajaiban Rezeki dan saya semakin tertarik untuk mengetahui lebih jauh mengenai buku setebal 190 halaman itu.

Lingkar Pengaruh itu ternyata mulai saya temukan di halaman 20, disana ada gambar 5 lingkaran  yang tertulis mulai dari lingkar yang terkecil yaitu Lingkar Diri, Lingkar Keluarga, Lingkar Sesama, Lingkar Semesta sampai lingkar yang terbesar yaitu Lingkar Pencipta. Untuk memahami apa lingkar pengaruh itu saya harus membaca satu per satu buku itu dan yang pasti kunci yang diberikan buku itu adalah apabila kita berhasil menggenggam erat-erat tiga lingkar yang pertama, maka dengan sendirinya kita akan berhasil menyentuh dua lingkar berikutnya, yang jauh lebih besar. Jadi kuncinya adalah bahwa semua itu memang bermula dari diri kita sendiri, faktor penentunya adalah kita, jadi jangan sampai kita sibuk melihat orang lain, tetapi lihatlah kedalam diri kita sendiri.

Secara keseluruhan buku ini membahas bagaimana mempercepat kesuksesan seseorang dengan memperhatikan aspek 7 keajaiban rezeki, dimana Ippho Santosa sebagai penulis buku tersebut menyebutnya sebagai Sidik Jari Kemenangan, Sepasang Bidadari, Golongan Kanan, Simpul Perdagangan, Perisai Langit, Pembeda Abadi, dan Pelangi Ikhtiar. Buku seharga 80 ribuan itu uraiannya cukup mudah dicerna dan seperti ada jaminan kita bisa segera merealisasikannya. Terbukti pada apa yang dirasakan oleh istri seorang sahabat saya yang telah menemukan kekuatannya di dalam buku itu dan membuatnya ingin segera bergerak secepatnya.

Setelah melahap sendok terakhirnya, sahabat saya itu juga menegaskan bahwa keinginannya membuka usaha itu dikarenakan buku yang dibacanya itu ternyata mampu membuka wawasan istrinya bahwa ada cara untuk menguasai pintu rezeki seperti memahami 19 amal yang melipatgandakan rezeki dan tentu saja dengan mengasah otak kanan, kreativitas, imajinasi dan menanamkan kebiasaan-kebiasaan positif sehingga berani mengambil keputusan lebih cepat, mengubah kelemahan menjadi kekuatan dan diberi kemudahan untuk selalu menemukan sesuatu yang menghasilkan. Dengan membaca buku ini kita tidak akan sempit dalam memahami makna sederhana, ikhlas, tawakal dan zuhud. Kita akan terpacu untuk terus berpacu menikmati indahnya pelangi ikhtiar. Salah satu kuncinya adalah dengan bersedekah, tidak perlu menunggu ikhlas untuk bersedekah. “Makin banyak memberi, makin banyak menerima... percaya deh sama aku.” katanya disambung suara seruputan teh botol dari mulutnya.

Ya Sob, bismillah aja. Saya yakin ada usaha pasti ada jalan, siapa lagi yang akan merubah nasib kita kalau bukan diri kita sendiri, tidak ada satu ayatpun dalam agama kita yang menganjurkan untuk miskin. Menjemput rezeki itu tak hanya berdo’a tapi perlu usaha, maka bertebaranlah dimuka bumi. Jadi jangan takut kehilangan pekerjaan karena Allah telah menjamin rezeki bagi seluruh mahluk-Nya, termasuk manusia. ***

(dari berbagai sumber)

ndzofar.com : Sang Vectoria Jenaka

20.27


Sahabat BieM yang satu ini berasal dari Nganjuk, di dunia maya namanya sudah tersohor terutama bagi para penggemar Vector. Berawal dari sekedar iseng, Muhammad Ali Mudzofar berhasil menekuni hobinya menjadi bisnis yang mampu mengeruk penghasilan lebih. Barbagai karya Vector baik real, kartun maupun lineart sudah tidak terhitung jumlahnya, pemesan gambar Vector ciptaannya tidak hanya dari Indonesia, tetapi banyak juga dari berbagai manca negara. Walaupun karyanya sudah mendunia bahkan menjadi salah satu bagian dari produk iklan di televisi, sosok Mas Ndop (begitu biasa BieM memanggilnya) tetap rendah hati dan humoris, berikut petikan obrolannya :

Bi-eM : Kok bisa-bisanya sih memilih bisnis Vector di dunia maya?
Ndop : Sebenarnya tidak sengaja sih. Dulu ya kayak yg lain, yaitu lebih suka photoshop. Tapi ketika itu ada job bikin layout tabloid, walhasil wajib belajar corel. Nah, karena software corel draw itu memang untuk drawing atau menggambar, ya ada semacam keharusan untuk bisa nggambar di corel. Gitu aja sih.  Aku pilih usaha vector pun awalnya iseng, dan sampe saat ini apa yg saya kerjakan itu iseng aja. Seneng aja nglakuinnya. Kebetulan aja ada yg order, yaudah dilayani aja. akhirnya keterusan sampe sekarang tanpa henti. Puji Tuhan..
Bi-eM : Menurut Mas Ndop sendiri gimana prospek ke depannya?
Mengenai prospeknya sih aku gak bisa ngasih ramalan. Cuman gini lo, apapun kerjaan kita, kalau kita ngejalaninya dengan seneng dan bergairah. Laku gak laku tetep hepi. Karena orientasi kita berkarya bukan duit. Duit itu buat saya ya resiko pekerjaan sih. Jadi harus diterima. Hahaha.. ., tapi gini, aku pernah ngobrol sama tukang kaos, ahli vector di Indonesia ini sedikit sekali (yang murah), jadi prospeknya lumayan buat yg mau bekerja keras. Ujung-ujungnya tetep kerja keras kok. Tidak mudah tapi pasti bisa!!!

BieM : Bagaimana kerja keras Mas Ndop membangun usaha ini?
Ndop : Hmm... akunya sih ngalir aja. Gak ngoyo kok. Tapi pada dasarnya aku suka pamer karya dan pamer kemampuan. Jadi selain ngaplod karya ke internet, aku juga suka ngasih tutorial juga dengan niat pamer kemampuan. Hahaha..., intinya kalau mau dikasih kita musti ngasih juga. Kayak hukum tarik menarik itu lo. Jadi jangan hanya mau menerima, tapi kita juga musti ngasih. Haha aku kok sok bijak begini ya.

BieM : Rahasianya apa sih sampai bisa seterkenal ini?
Ndop : Terkenal? Kebetulan aja sih. Dulu belum ada yang share tutorial vector corel draw. Mungkin aku yg pertama di Indonesia. Mungkin. Sebelumnya ada tapi pakai photoshop, bukan software vector. Karena yg pertama, walhasil dikira ahlinya, jadi terkenal deh. Semacam aji mumpung gitu. Hahaha..., padahal yg lebih ahli ya banyak banget tapi mereka diam aja, gak mau share ilmu (uhuk-uhuk). Tapi memang saya akui, ngeblog itu banyak manfaatnya lo. Dengan blog aku bisa dapat teman, koneksi, dan duit. Hehehe...

BieM : terakhir Mas Ndop, ceritain dong suka dukanya?
Ndop : Sukanya dapat temen banyak. Soalnya klienku justru jarang banget yg dari Nganjuk. Justru luar kota yg banyak. Jadi ada semacam keuntungan tersendiri kalau suatu saat aku nyasar gitu, tinggal kolling temen yg deket dg lokasi kesasarku. Hahaha..., aku juga bisa ketemu keluarga tiap hari. Jadi nggak dikangenin. Punya jam kerja sendiri yg saya atur semaunya. Bisa nolak kerjaan. Bisa liburan semauku. Soalnya aku kerjanya sendiri. Gak ada bosnya. Hahaha...

Dukanya ya kesepian! Karena kerja sendirian itu walhasil ya ngobrol sama komputer. Kurang sosialisasi. Kalo gak jaga makan, bisa gendut soalnya duduk melulu. Hahaha... terbukti, sejak jadi freelancer, berat badan naik 25 kilo! Huahaha... Alhamdulillah untuk mengatasi kesepian aku tiap sebulan sekali liburan ke luar kota ketemu fans. Hahaha... Ketemu teman facebook sembari mensyukuri nikmat Alloh berupa alam yg indah ini...